Profil instastories

Penyuka Sastra dan Pecinta Budaya Lokal

Yang 'Bertanya' dan Yang 'Menjawab' Hasilnya Imbang

Salah satu finalis Puteri Indonesia 2020 yang berhasil lolos babak enam besar adalah 'Kalista Iskandar'. Namanya semakin viral di media sosial melalui salah satu pertanyaan yang dilontar oleh Ketua MPR RI 'Bambang Soesatyo'.

Menurut hasil pengamatan saya di layar televisi “SCTV” (Jumat, 6/3/2020) terkait dengan kesalahan melafalkan Pancasila adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi. Mengapa? Karena yang menjawab 'Kalista Iskandar' terlihat gugup saat mendengar pertanyaan tersebut. Mungkin saja suasananya yang berhadapan langsung dengan banyak orang, bahkan secara langsung di saksikan oleh ribuan kasat mata di televisi.

Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh yang bertanya 'Bambang Soesatyo'. Tempat dan suasananya berbeda yakni saat pengambilan sumpah jabatan Ketua DPR tahun 2018. Ketika itu 'Bambang Soesatyo' melakukan kesalahan dalam pembacaan sumpahnya yang dituntun oleh Ketua Mahkamah Agung (Hatta Ali). Bahkan kesalahan tersebut berulang dua kali hingga mendapatkan teriakan yang sama seperti yang dialami oleh 'Kalista Iskandar' (KOMPAS.com).

Setiap orang pasti akan menghadapi kesalahan-kesalahannya dalam waktu dan tempat yang berbeda. Mungkin ini adalah tempat kesalahan bagi 'Kalista Iskandar'. Dari kesalahan tersebut bisa menjadi sebuah pembelajaran untuk menjadi lebih hebat. Dan bisa saja kesalahan ini untuk memulai lagi dengan lebih cerdas.

Kita “masyarakat” terlalu menindak sebuah kesalahan dengan konsep abstrak yang berlebihan. Seolah-olah langsung memvonisnya bahwa ia memang dilabeli “salah”. Ini mengarah pada konsep membully yang sedang viral di bangsa ini. Kita terlalu takut menyaksikan kesalahan bahkan kegagalan sekaligus. Lebih banyak mengambil risiko terhadap citra diri untuk mengejar arti sebuah nama.

Kita belum memaknai secara mendalam apa yang dikatakan oleh Eleanor Roosevelt (1884-1962) bahwa “belajarlah dari kesalahan orang lain”. Kita belum saling memberitahukan bahwa kita harus menghormati sebuah kesalahan.

Jadi, bagaimana kita mengembangkan budaya belajar dari sebuah kesalahan? Tentunya dengan belajar untuk memastikan apa yang telah dilakukan. Di mana kita memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong pembelajaran dari yang salah di suatu waktu dengan mengikuti paradigma behavioristik yang fokus utamanya pada perilaku yang diamati dan penyebab yang memicu.

----

Atambua, 08 Maret 2020

Silivester Kiik

Sumber Pic: KOMPAS.com; Instagram @kalistaiskandar

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jun 7, 2020, 3:29 PM - Hanifah khairunnisa
Jun 3, 2020, 12:46 PM - Nurhuda mas'ud tanjung
Mei 24, 2020, 8:09 PM - Nurhuda mas'ud tanjung
Mei 20, 2020, 5:13 PM - Tjahjono widarmanto