Profil instastories

Why Does Love Make Me Happy? -- Kala Pertama Melihatmu --

[Reza's Pov]

  Aku menatap wajah gadis yang ada di hadapanku. Sesekali aku terkekeh ketika melihatnya ketahuan mencuri pandang ke arahku. Wajahnya memerah layaknya tomat yang sudah masak.

"Jadi...", kataku sambil tetap memperhatikan sosok yang berdiri di hadapanku. "Kau menyukaiku", kataku yang lebih tepat disebut pernyataan ketimbang pertanyaan.

  Gadis itu mengangguk dengan kaku. Dan lagi - lagi aku terkekeh kala melihat tingkahnya.

"Bagaimana ya dek? Kakak itu udah punya pacar sayangnya", kataku dengan wajah dibuat memelas. Gadis itu menatapku dengan wajah kecewa.

"Ta-tapi aku nggak masalah kalau jadi yang ke-kedua kak", ia membuka suara dengan nada gugup.

"Masalahnya kakak nggak suka selingkuh", balasku santai.

"K-kalau begitu, kakak tinggal putus dengan Kak Widya", kata gadis itu lagi.

"Nggak semudah itu dek", sanggahku kala mendengar ucapan gadis tersebut.

"A-apa aku nggak bisa jadi pacar ka-kakak?", tanya gadis itu terbata - bata. Matanya sudah mulai berkaca - kaca. Dan aku tahu ia sebetar lagi pasti akan menangis. "Aku benar - benar cinta sama kakak", gumam gadis itu yang terdengar teramat lirih. Tapi aku masih bisa mendengarnya.

"Maaf dek. Bukannya kamu bisa atau nggak bisa jadi pacarku. Aku sih mau - mau saja jadi pacar kamu. Tapi aku nggak suka main curang seperti itu. Apalagi dengan berselingkuh di belakang Widya. Dan nggak semudah itu kakak putus sama Widya, kakak harus siapin alasan yang tepat buat putus", kataku mencoba menjelaskan.

"A-apa kakak nggak bisa mempertimbangkan?", tubuh gadis itu mulai bergetar.

  Aku menggeleng sebagai balasan 'tidak bisa'.

"KAKAK NGGAK BOLEH SEENAKNYA MEMPERLAKUKAN PERASAANKU SEPERTI INI", teriak gadis itu tiba - tiba. Aku langsung terperanjat ketika mendengar teriakan gadis itu. 

"H-hei dek de-", dia berlari mengabaikan penjelasanku. Sebelum ia berbelik di tikungan jalan ia tiba - tiba berhenti. Berbalik dan menatapku tajam.

"Lihat aja kak. Aku akan balas dendam atas perbuatan kakak ini. Gegara kakak terbar pesona kepadaku, aku jadi jatuh cinta. Dan dengan seenaknya kakak tolak perasaanku. Lihat kak aku akan buat perhitungan pada kakak!", kata gadis itu sambil menunjuk ke arahku. Usai mengucapkan kalimat super panjang itu, ia kembali berlari dan meninggalkanku yang masih cengo mendengar ucapan gadis itu.

  Aku heran, siapa yang tebar pesona? Siapa yang buat dia jatuh cinta? Dan malah sekarang marah - marah kepadaku. Haduh... mungkin gadis itu udah gila kali. Maksudku tadi kan cuman mau nolak dia secara halus. Eh kenapa dia pakai main ancam - ancaman segala lagi. Hah... sudahlah.

  Tapi kalau aku boleh jujur, sebenarnya gadis tadi lumayan cantik dan imut. Dari pada Widya, pacarku yang sekarang. Gadis itu jauh ada di atasnya. Tapi sesuai apa yang aku katakan tadi. Aku tak suka suka bermain curang dalam menjalin sebuah hubungan dan itu merupakan prinsip yang aku pegang teguh hungga kini sebagai seorang playboy. Aku tak akan menjalin hubungan dengan gadis lain sebelum aku resmi putus dengan kekasihku. Karena itu adalah sebuah prinsip seorang playboy sejati.

  Hah... sudahlah. Daripada mikirin gadis tadi  lebih baik aku segera menjemput adikku. Kulihat jam yang terpasang cantik di pergelangan tangan kananku. Sudah pukul lima sore dan sebaiknya aku bergegas, sebelum ia selesai dalam acara ekskul-nya.

  Aku berjalan melewati jalan yang dilalui gadis tadi. Sesekali melirik senja yang menghiasi langit. Warna oren yang diriasi garis - garis kemerahan yang membuat senja kali ini tampak sangat menarik. Ditambah lagi hari ini tidak ada hujan sehingga senja kali ini merupakan senja yang amat ku rindukan karena beberapa hari terakhir aku tak pernah melihat senja.

  Ketika aku menyusuri jalanan yang ada di tepi lapangan. Aku melihat seorang gadis yang tengah berdiri tepat di tengah - tengah lapangan. Aku cukup terpaku saat itu juga. Bila kuperhatikan wajah gadis itu bukanlah gadis Asia. Bisa kulihat dari garis wajahny yang amat tegas dengan hidung mancung serta kulit putih yang terkesan ke arah pucat. Hal itu, didukung dengan rambut pirangnya yang lebat dan kini tengah ditiup angin sore yang membuat penampakan gadia itu nampak anggun.

  Tapi jauh dari semua penampakan fisik gadis itu yang amat mepesona. Ada satu hal yang membuatku tertarik. Dan hal itu adalah sesuatu yang kini tengah dilakukan gadis itu sekarang. Ia tengah berdiri dengan wajah menengadah ke arah langit yang berhiaskan senja. Matanya tengah terkatup dengan bibir sedikit melengkung seperti tengah menampilkan sebuah senyuman. Entah apa yang dilakukan gadis itu, akupun tak paham. Apa mungkin ia tengah menikmati senja? Sudahlah itu mungkin urusan pribadinya. 

  Tapi tunggu dulu. Kenapa aku jadi liatin dia? Dan lagi seingatku di sekolah ini tidak ada orang bule kecuali itu Mr. Hans, guru bahasa Inggris asal Australia. Terlebih lagi Mr. Hans itu seorang pria dan yang ada di hadapanku adalah seorang wanita. Aku menelan ludahku dengan kasar. Kembali kulayanhkan pandanganku. Atau jangan - jangan gadis ini adalah noni - noni Belanda yang jadi penunggu sekolahan ini. Kan seingatku beberapa orang pernah cerita kalau mereka pernah melihat noni - noni itu. Tapi kalau dilihat dari gaya berpakaiannya sih, gadis itu tak berpenampilan seperti noni - noni Belanda yang biasa mengenakan gaun. Bisa kulihat gadis itu mengenakan dress warna jingga dengan flatshoes yang berwarna senada dengan dress-nya.

  Tiba - tiba gadis itu merunduk. Matanya yang tadi sempat terkatup kini telah terbuka. Tak selang beberapa lama tiba - tiba gadis itu menoleh ke arahku. 

 

Deg!

 

 Aku terpaku ketika mataku tak sengaja bersitatap dengan matanya yang berwarna biru. Tubuhkupun ikut kaku. Gadis itu menatap kearahku dengan tatapan kosong dan itu cukup membuat bulu romaku ikut meremang. Aku benar - benar takut melihat sosok gadis yang tengah menatpku itu.

  Aku menelan kasar ludahku untuk kesekian kalinya. Memaksakan diriku untuk mundur beberapa langkah dan mengambil ancang - ancang untuk berlari.

'Satu...

 

Dua...

 

Tiga... LARI!!!', otakku mengomandani. Aku segera berlari sekuat mungkin, menjauhi sosok gadis tadi tanpa menoleh ke belakang. Ketika aku sampai di area dekat parkiran, aku menghentikan acara lariku. Menghirup udara dengan rakus untuk mengisi kantung paru - paruku yang kini mungkin tengah mengkerut karena kekurangan pasokan udara.

"KAK REZA!"

"GYAAAH", teriakku sepontan ketika mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh kaku kearah belakang dan aku langsung bernapas lega ketika mengetahui siapa sosok yang kini berdiri di belakangku.

"Ada apa Tia?", tanyaku setelah aku berhasil mengusir rasa takut beserta rasa kagetku. Gadis itu diam sambil matanya menatapku dengan muka kesal.

"Lho! Kok kamu belum pulang?", tanyaku lagi ketika aku tak mendapat balasan akan pertanyaanku tadi.

"Mana aku tega pulang toh kak. Kasian si Ega sejak tadi nungguin kakak", kata gadis itu masih dengan muka yang merengut. Mendengar nama 'Ega' desebutkan tadi, aku langsung menepuk jidatku. Kulirik jam tangan yang nangkring di pergelangan tangan kananku dan kulihat sudah pukul lima lebih tiga puluh lima menit. Mataku melotot, ketika sadar bahwa aku cukup lama melihat gadis yang ada di tengah lapangan tadi.

"L-lalu kemana Ega sekarang?", tanyaku dengan gugup, ketika aku ingat telah terlambat menjemput Ega.

"Tadi ia sama Kak Farhan nyariin kakak. Mereka pikir terjadi apa - apa sama kakak. Soalnya saat ditelpon tadi handphone kakak nggak bisa dihubungi terlebih lagi motor kakak masih terparkir cantik di parkiran", jelas gadis itu panjang lebar. Aku ingat handphoneku tadi lowbat karena keasyikan buat main game online. Dan sepulang sekolah ia tak sempat mengecash-nya karena ia diajak adik kelas tadi. Ia benar - benar menyesal karena hal itu.

"Nah! Kak itu mereka", kata Tia sambil menunjuk ke arah Farhan sama Ega. Kulihat wajah adikku yang tampak lesu dan muram. Mungkin karena efek kelelahan setelah ekstra ditambah kelelahan mencariku.

"Kakak dari mana?", katanya lesu.

"Maaf, tadi kakak diajak adik kelas sebentar ke belakang sekolah", maafku. Aku benar - benar menyesal akan hal ini.

"Tapi kenapa nggak bilang dulu ke Ega. Kakak kan bisa telepon atau SMS dulu buat kasih tau"

"Maaf, tadi handphone kakak lowbat dan kakak nggak sempat cash", kataku penuh dengan penyesalan.

"Hah...", Ega menghela napas. Melirikku sekilas, lalu tersenyum pahit. Ketika melihat hal itu, sumpah aku tak bisa untuk memaafkan atas keteledoranku. Aku tak pernah buat adikku sampai sekecewa ini.

"Yaudah Ga. Maafin aja kakakmu. Lagian dia nggak papa kan? Jadi kamu nggak usah terlalu khawatir", itu suara Farhan yang sedari tadi berdiri di dekat Ega. Aku sedikit tersenyum lega ketika mendengar ucapan cowok itu. Ega hanya mengangguk sambil tersenyum sekilas.

"Yaudah kak, ayo kita pulang! Sebentar lagi magrib", ajak Tia yang sedari tadi diam. Aku mengangguk lalu menuntun Ega menuju ke arah motorku terparkir. Mengambil helm dan memasangkannya ke Ega. Kemudian, naik ke atas motor. Menyalakannya dan menstaternya menuju ke gerbang sekolah yang masih terbuka.

 

***

 

  Sejak kejadian tadi aku jadi terus kepikiran sama sosok gadis tadi. Masih segar di ingatanku bagaimana rupa gadis itu. Bagaimana bentuk dress yang dipakainya. Dan bahkan apa yang tengah ia lakukan. Tapi dari semua itu, yang paling tertanam erat di benakku adalah tatapan kosong gadis itu. Ia seperti sosok yang tidak memiliki semangat hidupnya. Tapi karena tatapan itu juga, jantungku mulai berreaksi tak karuan. 

  Lihatlah! Bahkan hanya dengan modal mengingat tatapan gadis tadi, jantungmu mulai berdetak dengan tidak normal. Refleks aku segera menyentuh dadaku dan meletakkannya tepat di mana jantungku berada. 

 

Degg...

 

Deg...

 

Deg...

 

  Dan begitulah bunyi dentumannya. Dan itu cukup membuatku mengukirkan sebuah senyum tipis. Perasaan konyol apakah ini?

"Kak...", sebuah suara menginterupsi gendang telingaku. Aku menoleh ke arah sumber suara. Dan kulihat di sana, adikku-Ega- tengah menatapku dengan pandangan khawatir.

"Kenapa sejak tadi melamun? Apa, apa kakak lagi mikirin kejadian tadi?", tanya Ega dengan nada khawatir ke arahku.

"Eng-enggak kok, Ga", balasku sambil tersenyum ketika mengetahui kekhawatirannya.

"Beneran kak?", matanya menampilkan binaran keceriaan. Aku hanya bisa mengangguk ketika melihat tingkah menggemaskannya itu.

"Tadi Ega minta maaf ya kak. Nggak nanggepin kakak saat minta maaf karena tadi Ega udah terlalu lelah. Kakak tahu sendiri kan tadi Ega langsung tidur saat sampai ke rumah"

"Iya...", aku mengangguk. "Seharusnya kakak yang minta maaf ke kamu karena telat njemput kamu", maafku, karena aku masih merasa bersalah atas kejadian tadi.

"It's okay, kak. Ega tahu kok. Kakak pasti juga ada urusan. Tapi lain kali kalau ada apa - apa kakak bilang ke Ega dulu, soalnya tadi Ega sama Kak Farhan khawatir, karena handphone kakak nggak bisa dihubungi", jelasnya panjang lebar.

"Iya... tapi kakak benar - benar minta maaf, karena nggak beri tahu kamu dulu"

"Aku maafkan", katanya sambil mengangguk - angguk lucu. Aku terkekeh melihat tingkah adikku yang tampak masih kekanak - kanakkan ini.

"Ga, jangan gitu mulu. Kakak jadi gemes liatin keimutan kamu", kataku sambil mencibiti dengan gamas pipi cubby milik adikku ini. Aku heran meski usianya sudah menginjak enambelas tahun, tapi wajah adikku ini lebih mirip anak TK. Masih imut dan awet muda.

"Kak...", rengeknya. Aku melirik pipi putihnya yang kini sudah memerah karena aku terlalu semangat mencubiti pipi tembam itu. Aku terkekeh kala melihat bibirnya mengerucut karena itu lebih mirip wajah bebek.

"Bibirnya nggak usah dimoyong - moyongi kayak gitu, nanti kakak gunting lho...", ia malah menatap ku tajam sambil memelototkan kedua bola matanya dan kedua tangannya yang tengah bertengger di sisi kiri dan kanan pinggangnya. Aku tertawa sejadi - jadinya melihat tingkah adikku ini.

"Hump... aku nggak mau dekat - dekat sama kakak lagi. Kakak nyebelin!", marahnya masih dengan matanya yang melotot ke arahku. Ia beranjak dari duduknya dan pergi dari hadapanku sambil menghentak - hentakkan kakinya dengan kesal. Aku hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah adikku itu.

  Sepeninggalan adikku. Aku hanya bisa diam, berusahaa meredakkan tawaku tadi. Mengela napas. Lalu tiba - tiba wajah gadis di lapangan tadi muncul ke dalam ingatanku. Aku segera menggeleng keras. Mungkin ini efek karena aku kelelahan, jadi wajah gadis tadi masih terngiang jelas di ingatanku. Lebih baik aku bergegas ke ranjang kesayanganku. Tidur. Dan mecoba menetralkan deru jantungku yang berdetak tidak normal karena mengingat wajah gadis tadi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani