Profil instastories

Published Books: 1. REVENANT (May 2019) - Penerbit Atma Jaya 2. We are Just Breaking Up / Spin off REVENANT (Sep 2019) - Guepedia 3. Devdas: The Mind Reader Vol. 1 (Jan 2020) - Guepedia 4. Devdas: The Mind Reader Vol. 2 (Mar 2020) - Guepedia *・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:  :*゚:.。..。.:*・゚゚・* 𝔒𝔫𝔤𝔬𝔦𝔫𝔤 𝔖𝔱𝔬𝔯𝔦𝔢𝔰: 1. The Cursed Lineage: Forbidden Relationship, Forbidden Love (Vampire) 2. Kisai & Mai: Ini Belum Berakhir (Mystery/thriller) 3. The Leap of Faith (Paranormal) 4. Minah: A Nosy Woman (Mystery/thriller) 5. Devdas: The Mind Reader Vol. 3 (Mystery/thriller) 𓂃𓊝𓄹𓂃𓆝𓆟 𓄹 𓂃𓊝𓄹𓂃𓆝𓆟 𓄹 เɳรтαɠ૨αɱ > kurisuakaba_ ─━━⊱⊰━━─ ƒα૮εɓσσҡ > Kurisu Akaba

We are Just Breaking Up - 1

Mata yang indah, dengan bulu mata lentik seperti bulu merak. Bibir yang tebal, dilapisi lipstick berwarna matte. Kulit sawo matang, mulus dan cerah. berjalan dengan lenggak-lenggok. Rambut yang bergelombang meliak-liuk mengikuti aliran angin. Aroma sampo yang sangat wangi semerbak membuat perhatian orang-orang tertuju padanya semata. Siapa pun yang melihatnya sudah terpesona. Apalagi bagi lawan jenis, ia bagaikan bunga yang menghipnotis siapa pun yang melihatnya.

Adalah Trixie La Rheina, usia 25 tahun—selisih empat tahun dengan teman-teman seangkatannya. Wajahnya yang elok dan gayanya yang sangat fashionable—dikarenakan ia seorang model. Statusnya tidak jelas, karena penampilannya dan kemampuannya menggaet hati kaum Adam, ia kerap kali dicap sebagai seorang playgirl. Sering bergonta-ganti pacar, tetapi tetap saja banyak pria yang bermimpi menjadi pacarnya. Ia juga sering disebut penggoda pria, karena para pria dengan mudah terpikat olehnya. Namanya terkenal hampir sepenjuru kampus, dari berbagai fakultas.

Ia selalu menang dalam hal menaklukan pria. Pria memang makhluk yang kuat secara fisik, tetapi mudah terpancing hawa nafsu. Tidak pernah satu kali pun ia gagal mencuri hati pria. Padahal ia sama sekali tidak tertarik dengan kaum Adam.

Hanya hari ini. Ia menemukan laki-laki yang membuat hatinya berdebar-debar. Kebetulan laki-laki itu satu fakultas dengannya, hanya saja ia tidak tahu karena jarang masuk kuliah.

Kavin Naja. Mahasiswa tingkat dua Fakultas Bioteknologi. Terkenal karena menangani berbagai urusan laboratorium dan disayangi dosen karena ia mahasiswa berprestasi.

Sekilas, Trixie tidak tertarik dengan laki-laki culun. Laki-laki biasa saja lemah, apalagi laki-laki nerd yang hanya tahu pelajaran. Membuat pria tampan tergila-gila padanya saja adalah hal mudah, apalagi memancing laki-laki jelek?

Namun semua berubah tatkala tanpa sengaja ia menabrak Kavin yang mengenakan jas laboratorium putih lengkap dengan name tag asisten. Kavin yang terburu-buru memegang tumpukan buku bersampul koran tidak melihat Trixie sehingga kacamata dan buku yang dipegangnya berhamburan.

“Duh, jalan itu lihat-lihat dulu, dong!” Trixie marah-marah.

“Maaf,” Kavin memungut buku-buku di lantai. Tidak lupa memungut kacamatanya. Setelah selesai menyusun buku, ia segera bangkit berdiri dengan poni tersibak ke samping. Betapa terkejutnya Trixie melihat wajah Kavin. Laki-laki bertampang culun itu memiliki wajah yang sangat tampan.

“Permisi,” Kavin segera berjalan pergi dan memakai kacamatanya. Wajah Trixie yang memerah berpadu dengan suara jantung yang berisik.

Ga-ganteng banget! teriak Trixie dalam hati. Gila, tadi gue nggak salah lihat, kan? Masa cowok culun punya wajah kayak gitu?!

Sejak saat itu, ia selalu mencari tahu tentang Kavin. Betapa terkejutnya ia tatkala mengetahui anak sejenius Kavin ternyata sembilan tahun lebih muda darinya.

Nggak nyangka dia masih daun muda banget, gumam Trixie, genius pula. IPK-nya selalu empat. Tumpukkan kertas lantas membuat lamunannya buyar. Kertas ujian bercoreng tinta merah memberikan variasi angka yang luar biasa. Tujuh, sebelas, dua puluh empat, lima puluh satu, dan tiga puluh tujuh.

Trixie tercengang. Karena keasyikan bermain dengan para pacarnya, acapkali ia bolos kelas dan tidak belajar. Mengerjakan tugas saja ia enggan. Tetapi, kalau nilainya terlalu parah, bisa-bisa ia di-drop out.

“Dasar cewek modal tampang sama badan aja,” cibir mahasiswi-mahasiswi lain. Trixie meremas kertas ujiannya dengan wajah geram. Tiba-tiba ia menyeringai, mendekati para mahasiswi yang mengejeknya. Tanktop ketat menonjolkan bentuk tubuhnya. Tak dipungkiri badannya sangat ideal layaknya gitar Spanyol. Wedges setinggi tujuh sentimeter membuatnya semakin tinggi. “Bilang aja kalian sirik sama kecantikan gue,” cibir Trixie sembari terkekeh pelan. Lalu ia membuang muka dan berjalan pergi.

Di depan kelas, ia melihat seorang mahasiswi sedang menyatakan cinta. Sungguh nekat, berani sekali seorang perempuan menembak lebih dahulu, Trixie membatin.

Setiap hari, ia melihat pemandangan yang sama. Gadis-gadis menyatakan cinta di hadapan seorang laki-laki berkacamata. Tentunya mereka ditolak, namun para gadis itu tersenyum dan malah mengucapkan terima kasih.

Trixie mendecakkan lidah. Laki-laki seperti apa yang bisa membuat para gadis menyatakan cinta? Selama ini, Trixie hanya mengamati dari kejauhan.

Tidak menyangka, ternyata laki-laki itu adalah Kavin. Ia terlalu terkenal. Teman seangkatan, adik kelas, dan kakak kelas pada berebut untuk mencuri hatinya. Memang wajahnya sangat tampan, tetapi berani juga laki-laki yang hobinya belajar itu menolak mentah-mentah para gadis-bahkan mereka sampai susah payah berdandan demi menarik perhatian Kavin. Tetapi Kavin selalu menolak mereka. Ekspresinya biasa saja, seperti tidak mempedulikan hal yang berhubungan dengan cinta.

Trixie semakin gemas. Ia sudah meremehkan laki-laki yang akan menjadi targetnya nanti. Ia menjatuhkan pilihannya pada Kavin demi memperbaiki nilai-nilainya.

Gue harus bikin dia klepak-klepek, gumam Trixie sembari mengumpat di balik tiang. Lantas Trixie segera membuka jaketnya. Dadanya terlihat besar dengan kalung berbentuk hati yang menjuntai. Jaket kulit berbulu di leher menutupi lengannya. Tidak lupa hot pants berwarna hitam legam dengan rantai sebagai hiasan di pinggang dan sepatu boots bertali yang berhak. Penampilannya sangat mencolok dan seksi. Semua orang langsung melihatnya. Lalu ditepuk pundak Kavin yang sedang memegang buku kecil.

“Kavin~” Trixie menempelkan dadanya di badan Kavin. “Ternyata semakin dilihat dari dekat, lu ganteng banget ya.”

Kavin menaikkan bridge kacamatanya dengan wajah datar, “Ada urusan apa?” Trixie kaget karena Kavin sama sekali tidak tertarik atau melihat ke badannya.

“Nggak, gue cuma penasaran. Katanya ada cowok yang terkenal tukang nolak cewek? Dan gue kagetnya malah cowok culun kayak lu yang ditaksir cewek-cewek,” Trixie beralasan. Ia semakin mendekatkan badannya ke Kavin.

“Jadi urusan lu cuma itu?” tanya Kavin dengan wajah dingin. “Kalau cuma ngoceh itu, pergi aja. Ganggu.” Trixie tersentak. Ja-jadi dia tipe cool boy?! jeritnya dalam hati. Gue harus cari cara biar bisa menarik perhatiannya!

“Aaah, tunggu!” Trixie menarik tangan Kavin. Kavin mendecakkan lidah. “Emang lu nggak tertarik sama cewek tercantik sekampus ini?” Kavin diam. Ia langsung melepaskan tangannya dan berjalan pergi.

Trixie tidak menyerah. Ia mengejar Kavin dan langsung memeluknya dari depan. Sontak semua orang di lobby tersentak kaget. Dengan napas memburu, terlihat embusan uap air dari mulutnya. Cuaca hari ini memang sangat dingin karena langit mendung dan berangin. Bibirnya terlihat sangat merah dan menggoda. “Lu… lu mau, nggak, jadi pacar gue?” tanya Trixie dengan wajah sangat merah. Semua orang terkaget-kaget, kontras dengan mimik Kavin yang datar seperti habis diamplas. Pantas saja ia dijuluki “kulkas berjalan”, ia tidak mudah kaget dengan situasi yang mendadak berubah.

“Gila, Trixie udah sinting ya?!”

“Sekarang dia mau mangsa Kavin yang masih polos-polos gitu?!”

“Aku aja ditolak gara-gara dia bilang kalo dia mau fokus ke kuliah aja,” gerutu mahasiswi yang lain.

“Ya udah,” sahut Kavin santai, “boleh aja.”

HUUUHH?!” Semuanya pada berteriak.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.