Profil instastories

Published Books: 1. REVENANT (May 2019) - Penerbit Atma Jaya 2. We are Just Breaking Up / Spin off REVENANT (Sep 2019) - Guepedia 3. Devdas: The Mind Reader Vol. 1 (Jan 2020) - Guepedia 4. Devdas: The Mind Reader Vol. 2 (Mar 2020) - Guepedia *・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:  :*゚:.。..。.:*・゚゚・* 𝔒𝔫𝔤𝔬𝔦𝔫𝔤 𝔖𝔱𝔬𝔯𝔦𝔢𝔰: 1. The Cursed Lineage: Forbidden Relationship, Forbidden Love (Vampire) 2. Kisai & Mai: Ini Belum Berakhir (Mystery/thriller) 3. The Leap of Faith (Paranormal) 4. Minah: A Nosy Woman (Mystery/thriller) 5. Devdas: The Mind Reader Vol. 3 (Mystery/thriller) 𓂃𓊝𓄹𓂃𓆝𓆟 𓄹 𓂃𓊝𓄹𓂃𓆝𓆟 𓄹 เɳรтαɠ૨αɱ > kurisuakaba_ ─━━⊱⊰━━─ ƒα૮εɓσσҡ > Kurisu Akaba

We are Just Breaking Up - 2

“Se-seriusan?!” Semua orang di lobby tercengo. Tak terkecuali Trixie. Ia tidak menyangka tawarannya diterima semudah dan secepat itu.

“Lu—lu yakin?” Trixie bertanya balik.

Lha, kan lu yang nembak. Gua terima,” jawab Kavin polos. Trixie semakin tidak yakin.

“Kita pacaran, lho! Pa-ca-ran!” Trixie mempertegas perkataannya.

“Iya, gua nggak budek, Mbak. Nggak usah ngulang berkali-kali juga,” sahut Kavin ketus. Bisikan-bisikan aneh semakin terdengar.

“Eh, Kavin kesamber apaan?”

“Dia terima? Astaga, Trixie pake pelet apaan?!”

Trixie yang merasa suasana semakin ricuh akhirnya menarik tangan Kavin. Terdengar sekali suara jantung Trixie. Wajahnya semakin memerah, keringatnya semakin banyak.

Ah, sial, Trixie menutup wajahnya, kenapa gue rasanya mau terbang ke langit tertinggi?

 

☣☣☣

 

Berita tentang hubungan antara Kavin dan Trixie menyebar luas. Jelas saja, laki-laki yang terkenal cuek dengan percintaan dan gila mengelab tiba-tiba menerima pernyataan cinta Trixie semudah itu.

“Illa!” Fela berteriak menghampiri Illa. “Eh lu tahu nggak, Kavin—” Wajah Illa yang temaram membuat Fela yakin kalau Illa sudah tahu kabarnya.

“Eh, Illa. Lu nggak pa-pa?” Mia mendekati Illa. Illa segera tersenyum, “Ah, itu kan hak dia. Lagi pula, aku cuma sahabatnya. Nggak lebih.” Illa berjalan pergi.

“Ketahuan banget dia nggak suka,” gumam Mia, “tapi Kavin buta apa?”

“Iya, gue curiga Kavin kena pelet atau guna-guna,” timpal Fela, “padahal semua cewek yang nembak dia ditolak—gue herannya para cewek itu berani bener ya nembak cowok duluan... tapi sialnya nggak berbalas. Giliran Trixie yang nembak, dia terima semudah itu?!” Fela mulai geram. “Padahal apa bagusnya bitch kayak gitu?”

“A-atau jangan-jangan...,” Fela terkesiap. Di kepalanya sekonyong-konyong menyeruak sebuah kesimpulan gila, “Tipe kesukaan Kavin yang kayak gitu?!”

“Ck, cowok ganteng dibicarain terus ya.” Luiz tiba-tiba menyerobot ke dalam percakapan mereka.

“Apaan sih lu,” sahut Fela sinis.

“Itu Illa gimana, tuh?” Luiz melihat Illa dari kejauhan. Gadis yang hobi merusuh itu seakan-akan menarik diri. Illa tahu, pasti ia juga ikut menjadi buah bibir. Memejamkan mata sembari menggenggam erat lengan ranselnya. Dalam hati, ia ikut terbakar api cemburu. Heran dan tidak habis pikir, mengapa Kavin mau-mau saja berpacaran dengan gadis tidak benar?

Illa yang sedari tadi berada di lift menyandarkan badan di pojok. Earphone putih terpasang di telinganya, suara lagu keras seperti lagu game dipasang dengan volume maksimal. Diamati angka di atas pintu lift. Baginya, lebih baik menyendiri di tempat rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Ia selalu begitu. Lebih suka menarik diri dan bersembunyi dalam kesendirian.

Lift terbuka di lantai tujuh. Saat pintu terbuka, matanya terbeliak. Pemandangan yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Trixie dengan mesra dan genit menempel dengan Kavin. Angin yang kencang membuat rambut Trixie yang berkilau semakin bersinar.

Mengulum bibirnya, Illa segera memasukkan kedua tangannya ke masing-masing saku celana panjangnya, berjalan dengan langkah lebar dan cepat, tidak sedikit pun menoleh atau bertatap mata dengan mereka. Kavin segera menengok ke belakang, melihat Illa dengan earphone putih yang meliak-liuk berjalan sangat cepat.

“Kavinn~~” panggil Trixie dengan nada manja, “cepetan masuk!”

“Ah, iya,” Kavin segera masuk ke dalam lift. Wajahnya dingin. Namun, dalam hatinya, ia masih kepikiran dengan sikap Illa. Sikap Illa yang dingin seperti es muncul lagi. Padahal terakhir kali Illa bersikap dingin padanya saat awal bertemu.

Nggak, batin Kavin, pas awal kenalan juga dia bukan cuek, tapi pemalu.

“Kavin!” tegur Trixie. Wajahnya tampak kesal. “Lu mikirin apa, sih?!”

Huh?” Kavin sadar dari lamunannya. “Mikirin? Mikirin nanti lab bakalan gimana.”

“Lu kenapa, sih, hobinya nge-lab mulu?!” Trixie marah-marah.

“Bukan hobi, tapi emang udah tanggung jawab gua sebagai ketua Aslab (Asisten laboratorium)!” ketus Kavin. “Gua bisa dibunuh dosen kalo gua lepasin tanggung jawab begitu aja.”

Trixie menyibak rambutnya, lalu membuka ritsleting jaketnya. Terlihat sekali kaus ketat dengan lipatan dada yang sedikit terlihat. Dada yang besar dengan kain yang berkerut-kerut sungguh menggoda iman pria. Lalu ditempelkan dadanya di badan Kavin, “Lu milih mana? Gue atau lab?” Trixie semakin menempel di badan Kavin. Kavin memperhatikan betapa agresifnya wanita di hadapannya.

Diangkat bridge kacamata dengan jari tengahnya. Wajah yang cuek dan dingin sama sekali tidak memberikan reaksi luar biasa. Trixie yang kesal mengerucutkan bibirnya. Membuang muka, disilangkan tangannya, “Dasar Kavin si muka rata kayak es! Pasti lu nggak pernah pacaran, kan?! Cowok dingin yang nggak peka kayak lu itu harusnya bersyukur bisa jadi pacar gue—”

“Pernah,” sela Kavin. Trixie mendelik.

“Gua pernah pacaran,” Kavin menegaskan kembali perkataannya, “pas SD.”

Huh?! Seriusan lu pernah?!” Trixie tidak percaya. “Emang cewek lu dulu matanya picek atau apa?”

“Heh,” Kavin merasa tersinggung, “dulu gua sama dia pacaran satu tahun, terus putus.”

“Yang putusin siapa? Cewek lu, kan?”

“Bukan, gua yang putusin dia.” Trixie membeliak.

Huh, gue kira dia yang mutusin lu gara-gara lu nggak peka,” cibir Trixie.

“Nyindir bener ya lu,” Kavin mulai sinis, “dia punya pacar dan gua nggak tahu. Pas gua tahu, gua bilang ke dia, ‘Kita putus aja’.” Trixie menahan tawa. “Napa lu?” juteknya Kavin kambuh.

“A-abisnya lucu!” Trixie sampai mengelap air matanya. “Terus, setelah itu lu pacaran lagi, kah, sama orang lain?”

“Nggak,” jawab Kavin terus terang, “malas, cewek itu makhluk yang nggak ilmiah dan susah dimengerti.”

Astaga, pekik Trixie dalam hati, nggak nyangka cowok setampan dia ini udik banget sama ginian?! Trixie mendesau. Memang nasib kalau berpacaran dengan maniak belajar yang nerd dan kutu buku seperti Kavin cuek dengan urusan percintaan. Padahal dalam hatinya, ia ingin sekali hubungan mereka lebih dekat dibandingkan sebelumnya.

Trixie memeluk Kavin. Menjinjit, lalu melingkarkan lengan di pundak Kavin. Wangi parfum mahal menyeruak dari badannya yang halus dan mulus itu. Bibirnya berusaha menyentuh bibir Kavin. Kavin lantas mendorong Trixie. Wajahnya memerah, membuat Trixie shock.

Di-dia masih polos banget! jeritnya dalam hati. OMG, mukanya merah banget. Rasanya ia ingin memukul kepalanya berkali-kali di dinding.

“Ki-kita pacaran ngga-nggak usah tukeran amilase!” ucap Kavin terbata-bata dengan wajah sangat merah.

Huh? Maksudnya?” mengernyitkan kening. “Amilase? Apaan?”

“Ma-maksudnya ciuman!” Kavin menjelaskan dengan menahan rasa malu. “Amilase, kan, enzim di ludah manusia! Ma-masa lu nggak tahu, sih?!”

“Ck, gue nggak suka belajar, mana gue tahu istilah begituan?!” sahut Trixie yang merasa tersinggung. Tiba-tiba ia tersenyum licik, “Oohh... jadi belum pernah ciuman, ya?” Kavin tersentak.

Ketahuan banget, padahal kesannya cool boy tapi dia masih polos banget.

“Ng-nggak pernah!” Kavin menutup wajahnya. “Ke-kenapa? Mau ketawain?!” Trixie beneran tertawa.

Pintu lift terbuka. Mereka sampai di lantai dasar. Trixie menggandeng tangan Kavin. “Ya udah,” ucap Trixie sembari memegang tangan Kavin erat-erat, “gue ajarin lu pelan-pelan, deh. Gue tahu lu bego sama ginian, maka itu lu jangan belajar terus, dong!”

Tiba-tiba Kavin menarik tangan Trixie. Berjalan dengan langkah cepat hingga mereka berhenti di ujung koridor yang sepi. Sepatu yang berhak tinggi membuat Trixie tersandung dan jatuh.

Bukannya menolong, Kavin malah merangkak seperti anjing. Trixie yang berada di bawahnya terhenyak. Kavin menyiratkan mimik yang berbeda dengan biasanya.

Wajah yang penuh gairah, seperti makhluk buas yang kelaparan. Dibuka ritsleting jaket Trixie dengan mulutnya, membuat Trixie berdebar-debar. Kaget dan tidak menyangka kalau anjing pemalu di hadapannya tiba-tiba berubah menjadi serigala ganas.

“Ka-Kavin...,” Trixie terengah-engah. Napasnya memburu, dadanya yang condong ikut maju mundur karena mengikuti perbesaran dan pengecilan tulang rusuknya. Kali ini, gantian wajah Trixie yang merah padam. Ia belum siap diserang tiba-tiba.

“Lu—lu curang!” ucap Trixie sembari memejamkan mata dan membuang muka, tidak sanggup melihat wajah Kavin.

“Curang?” Kavin menyeringai. “Yang curang duluan siapa?”

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani