Profil instastories

Inspirasi Cerdas Insan Cendikia

WANITA TABARRUJ DAN BERTINGKAH LAKU JAHILIYAH

Dalil Pelarangan Tabarruj

Allah Ta'ala berfirman:

وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

Artinya: "Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu". (QS. Al-Ahzab: 33).

Makna Tabarruj dan Bertingkah Laku Jahiliyah

Berikut penjelasan makna wanita tabarruj dan bertingkah laku jahiliyah menurut para ulama ahli tafsir:

  1. Imam Jalaluddin As-Suyuti Asy-Syafii rahimahullah berkata: Firman Allah "Sebagaimana orang-orang jahiliyah yang dahulu" (QS. Al-Ahzab: 33) yaitu sebagaimana berhiasnya orang-orang sebelum Islam, yaitu kaum wanita selalu menampakkan kecantikan mereka kepada kaum lelaki.
  2. Imam Mujahid rahimahullah mengatakan, bahwa dahulu di masa Jahiliyah wanita bila keluar berjalan di depan kaum pria, maka itulah yang dinamakan tingkah laku Jahiliah.
  3. Imam Qatadah rahimahullah mengatakan, sehubungan dengan makna firman-Nya: "Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu". (QS. Al-Ahzab: 33) Yakni bila kalian keluar dari rumah. Dahulu wanita bila berjalan berlenggak-lenggok dengan langkah yang manja dan memikat, lalu Allah Ta'ala melarang hal tersebut".
  4. Imam Muqatil rahimahullah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS. Al-Ahzab: 33), At-Tabarruj artinya mengenakan kain kerudung tanpa mengikatnya (merapatkan), kalau diikat dapat menutupi kalung dan anting-antingnya serta lehernya. Jika tidak diikat, maka semuanya itu dapat kelihatan, yang demikian itulah yang dinamakan tabarruj. Kemudian khitab (seruan ayat) yang berupa larangan ini berlaku menyeluruh untuk semua kaum wanita mukmin.

Awal Munculnya Tabarruj dan Petaka Merajalelanya Alat Musik

Ibnu Jarir menyebutkan, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, disebutkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: "Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (QS. Al-Ahzab: 33) Ibnu Abbas mengatakan bahwa munculnya tabarruj adalah di masa antara masa Nabi Nuh dan Nabi Idris, lamanya kurang lebih seribu tahun; itulah permulaannya. Sesungguhnya salah satu dari dua kabilah keturunan Adam bertempat tinggal di daerah dataran rendah, sedangkan yang lainnya tinggal di daerah perbukitan. Tersebutlah bahwa kaum pria orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan terkenal dengan ketampanannya, sedangkan kaum wanitanya tidak cantik. Lain halnya dengan mereka yang tinggal di daerah perbukitan; kaum prianya bertampang jelek-jelek, sedangkan kaum wanitanya cantik-cantik.

Lalu iblis laknatullah mendatangi seorang lelaki dari kalangan penduduk dataran rendah dalam rupa seorang pelayan, lalu ia menawarkan jasa pelayanan kepadanya, akhirnya si iblis menjadi pelayan lelaki itu. Kemudian iblis membuat suatu alat musik yang semisal dengan apa yang biasa dipakai oleh para penggembala. Alat tersebut dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat merdu dan belum pernah orang-orang di masa itu mendengarkan suara seindah itu. Ketika suara musik iblis itu sampai terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, maka berdatanganlah mereka untuk mendengarkan suara musiknya. Lalu mereka membuat suatu hari raya setiap tahunnya, yang pada hari itu mereka berkumpul. Pada saat itu kaum wanita mereka menampakkan dirinya kepada kaum prianya dengan memakai perhiasan dan tingkah laku Jahiliyah.

Begitu pula sebaliknya, kaum pria mereka berhias diri untuk kaum wanitanya pada hari raya itu. Lalu ada seorang lelaki dari kalangan penduduk daerah pegunungan mendatangi hari raya mereka itu, dan ia melihat kaum wanita daerah dataran rendah cantik-cantik. Ia memberitahukan hal itu kepada teman-temannya di daerah pegunungan. Akhirnya mereka turun dari gunung dan bergaul dengan wanita daerah dataran rendah. Maka timbullah fahisyah (zina) di kalangan mereka. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu. (QS. Al-Ahzab: 33)

Inilah diantara sebab besar rusaknya tatanan kehidupan masyarakat yaitu ketika para wanita sudah mulai banyak keluar dari rumahnya dan memamerkan kecantikannya serta bergaul bebas dengan para lelaki yang bukan mahram. 

Oleh sebab itu Rasulullah mewanti-wanti akan buruknya wanita yang keluar rumah dengan memakai wewangian yang dengan itu bisa memfitnah lelaki.

Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Artinya: “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An- Nasa’i no. 5129)

Wanita pun diperintahkan bepergian dengan mahramnya. Rasulullah bersabda: “Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahramnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahramnya. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. (HR. Muslim)

Dan dengan tegas Allah berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

Artinya: "Dan hendaklah kalian (wanita) tetap di rumahmu". (QS. Al-Ahzab: 33).

Rasulullah juga mewanti-wanti akan buruknya dan petaka alat-alat musik ketika sudah merajalela, lebih-lebih ketika dimainkan oleh para musisi dan penyanyi disertai campur baur lelaki dan perempuan dan berjoget bersama.

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

يكون في آخر الزمان خسف وقذف ومسخ قيل: ومتى ذلك يا رسول الله؟ قال: إذا ظهرت المعازف والقينات

Artinya: “Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) dimana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah rupanya.” Beliau ditanya, “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulallah?” Beliau menjawab, “ Ketika alat-alat musik dan para penyanyi telah merajalela.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya ( II/1350), tahqiq Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi).

Semoga Allah menjaga generasi muda dan mudi umat Islam dari kerusakan moral dan pergaulan.

Referensi:

  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir Jalalain
  • Hari Kiamat Sudah Dekat karya Syaikh Yusuf bin ‘Abdillah bin Yusuf Al-Wabil Pustaka Ibnu Katsir Hal. 146-147.
  • Disampaikan dalam tulisan Ustadz Abul Fata Murod, Lc.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS