Profil instastories

Virus Avian Influenza

VirusAvian Influenza

By : Widia Purnamasari

 

Virus influenza A subtipe H7 telah mengakibatkan lebih dari 100 kasus infeksi pada manusia sejak tahun 2002 di Belanda, Italia, Kanada, Amerika Serikat dan Inggris. Gejala klinis penyakit dari infeksi subtipe H7 antara lain adalah konjungtivitis, penyakit pernapasan ringan dan pneumonia. Infeksi subtipe H7 telah menghasilkan proporsi penyakit yang lebih kecil pada manusia (sakit rawat inap dan kematian) dibandingkan dengan yang disebabkan oleh subtipe H5N1. Akan tetapi, beberapa subtipe H7 lebih beradaptasi pada manusia berdasarkan sifat virus dan tingkat penyakit di kalangan orang-orang yang terinfeksi. Selain itu terjadi peningkatan isolasi virus influenza subtipe H7 dari unggas dan kemampuan subtipe ini dalam menyebabkan penyakit pada manusia. Sehingga perlunya pengawasan lanjutan dan karakterisasi virus ini.

Pada akhir Maret 2013, otoritas China mengumumkan telah mengidentifikasi virus influenza A novel H7N9 pada tiga orang dari Provinsi Anhui dan Shanghai (Chinese CDC 2013; WHO 2013). Dunia menjadi waspada akan penyebaran virus H7N9 ke luar China, sehingga dibutuhkan kewaspadaan untuk dapat mengantisipasi penyakit ini termasuk Indonesia. Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan harus melakukan koordinasi dalam melakukan aktif surveilans. Pada makalah ini akan dibahas tentang karakter virus influenza pada umumnya dan mengenal virus Avian Influenza subtipe H7 serta mewaspadai masuknya virus novel H7N9 ke Indonesia.

Virus Avian Influenza (AI) merupakan famili Orthomyxoviridae, mempunyai RNA bersegmen dan berorientasi negatif. Virus AI terbagi menjadi lima genera yaitu tipe A, B, C, Isavirus dan Thogotovirus. Virus influenza tipe A merupakan virus terpenting dan penyebarannya paling luas serta mampu menginfeksi berbagai spesies unggas dan mamalia. Virus influenza tipe B dan C adalah virus patogen pada manusia dan jarang menginfeksi spesies lainnya (Palese dan Shaw, 2007).

Kelompok Isavirus adalah patogen yang penting pada ikan seperti virus infeksius salmon anemia (Kibenge et al. 2004) sedangkan Thogotovirus adalah tick-borne arbovirus yang diisolasi dari manusia dan hewan ternak (Kuno et al. 2001). Virus influenza terdiri dari delapan segmen yang berbeda dan mengkode sedikitnya sepuluh protein virus. Protein struktural dalam virion yang matang (mature) dapat dibagi menjadi protein permukaan yaitu Hemagglutinin (HA), Neuraminidase (NA), protein membran ion channel (M2) dan protein internal yang terdiri dari Nukleoprotein (NP), protein Matrix 1 (M1), proteinPolymerase Complex yaitu protein Polymerase Basic (PB1), Polymerase Basic 2 (PB2), Polymerase Acidic (PA) (Palese dan Shaw 2007). Dua protein lainnya adalah protein nonstruktural 1 (NS1) dan nonstruktural 2 (NS2), yang juga disebut dengan Nuclear Export Protein (NEP) (O’Neill et al. 1998). Protein NS1 adalah protein yang tidak ditemukan pada partikel virus tetapi diproduksi dalam jumlah besar di sel inang (Birch-Machin et al. 1997; Tumpey et al. 2005). Protein NS2 umumnya ditemukan pada sel inang, namun dapat juga ditemukan pada virion (Palese dan Shaw 2007). Satu protein yang tidak ditemukan pada semua virus influenza tipe A yaitu protein PB1-F2, yang memiliki 87 asam amino yang ditranskripsi dari open reading frame alternatif dari protein PB1. Protein ini terlibat pada apoptosis dalam sel inang dan peran patogenesitasnya masih diteliti (Chen et al. 2001). Penentuan subtipe virus influenza A berdasarkan pada dua permukaan protein yaitu hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N) yang mengendalikan siklus hidup virus pada saat masuk dan keluarnya virus dari atau keluar sel. Semua subtipe virus influenza A dari H1- H16 dan N1-N9 dapat ditemukan pada unggas air, sedangkan H17N10 ditemukan pada kelelawar (Tong et al. 2012).

Virus AI H7N9 sangat berbeda dengan virus H5N1, karena virus H7N9 ataupun sebagian besar virus influenza subtipe H7 biasanya hanya menimbulkan gejala klinis yang ringan baik itu pada manusia ataupun hewan, hal ini sangat berbeda dengan virus H5N1 yang menimbulkan banyak kematian dan kerugian pada unggas yang terinfeksi virus H5N1 sehingga virus H5N1 dapat teridentifikasi dengan cepat. Kemandirian lembaga penelitian China dalam mengidentifikasi virus baru AI H7N9 dengan metode yang diterima oleh dunia internasional dan keterbukaan pemerintah China dalam mengumumkan virus baru ini ke dunia internasional menjadi pembelajaran dan menginspirasi banyak negara termasuk Indonesia. Lembaga penelitian sangat berperan penting dalam mendeteksi new emerging diseases, seperti virus influenza H7N9 dan virus-virus atau patogen lainnya yang masih merupakan penyakit eksotik di Indonesia. Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga penelitian serta sumber daya manusia menjadi hal penting yang harus dilakukan dan harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi terkini.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.