Profil instastories

Untuk Ibu

Memang sangat menjenuhkan bila dalam bekerja pikiran kita terbagi menjadi dua. Satu sisi fokus pada pekerjaan, di sisi lain kepala kita terisi sekelumit masalah pribadi.

Tak bisa dipungkiri kalau aku memang jenuh dan bingung memikirkan hal ini. Aku hanya duduk berdiam diri berhadapan dengan mesin fotokopi yang tertutup bagian atas. Seolah mesin ini mengerti akan kesedihanku.

"Din!" Tomi menegurku. "Aku perhatiin dari tadi kamu melamun aja, ada apa?"

"Aku enggak apa-apa," jawabku sambil menoleh ke arahnya.

"Enggak apa-apa gimana? Kamu tuh dari tadi mantengin mesin fotokopi terus," Tomi menepuk pinggir mesin fotokopi agak keras.

Aku hanya diam memperhatikan.

Derit suara pintu ruang Bu Mila, pemilik fotokopi terbuka. Bu Mila menghampiri kami berdua.

"Ada apa kalian ribut-ribut!" tegurnya Bu Mila sambil bersedikap. Kedua mata yang tajamnya menghardik kami berdua.

"Ngggg ... enggak ada apa-apa, Bu," jawab Tomi gugup, telunjuknya mencolek lenganku.

"Iya, Bu. Enggak ada apa-apa," timpalku.

Tatapan tajam itu memudar. Bu Mila kembali lagi ke ruangannya. Aku hanya menatap biasa. Sementara Tomi memandang takut sambil bergidik.

Bu Mila dibilang memang galak. Mata tajamnya selalu menyerang siapa saja yang memandangnya. Wanita setengah baya itu orang paling disiplin dan tegas. Selalu detail mengoreksi setiap pekerjaan yang ada. Termasuk mengawasi kami. Hentakkan tangan Tomi pada mesin fotokopi tadi membuat Bu Mila keluar dari ruangannya dan menatap tajam kepada kami.

Aku kembali melamun. Kali ini aku berdiri sambil menatap jalanan. Banyak berseliweran kendaraan yang melintas. Aku tak bisa berpikir, menghitung kendaraan yang berlalu saja aku tidak sanggup. Pikiranku sangat kacau. Aku memikirkan ibu.

¤¤¤¤

Sore saatnya pulang kerja. Aku jalan kaki dari toko sampai rumah. Jarak toko ke rumah sekitar 10 km. Lumayan jauh, aku tetap memutuskan untuk jalan kaki. Aku bisa saja naik angkot, tapi aku lebih suka jalan kaki. Menurutku jalan kaki itu menyenangkan. Aku bisa menikmati kejadian tiap kejadian di jalan. Entah memandangi orang pacaran, memandangi beberapa orang makan di warung bersama keluarga, atau cewek dan cewek bertengkar saling berebut cowok di pinggir jalan. Banyak kejadian itu berulang-ulang.

Aku mampir ke warung angkringan dekat rumah. Hendak membeli sesuatu. Di sana terdapat banyak makanan. Seperti nasi bungkus berukuran kecil, kita sering sebut "nasi kucing" karena lauk dan nasinya sedikit. Selain itu ada gorengan, ceker, dan kepala ayam.

"Mas, kepala ayam satu. Dibakar ya." pesanku.

"Siap, Din," Mas Tejo mengambil kepala ayam pada keranjang lalu menjepitkan pada panggangan. "Baru pulang, Din?"

"Iya, Mas."

"Kamu udah putus ya sama Inggrit?"

Aku mengkerutkan kening ketika Mas Tejo menanyakan itu. Sejujurnya aku bingung dan kaget dengan pertanyaan itu.

"Hmmm ... emang kenapa?" tanyaku balik. Sedikit ada rasa penasaran.

Sambil mengipas-ngipas kepala ayam yang dipanggang Mas Tejo berkata, "kemarin Inggrit sama cowok barunya mampir ke sini ... Aku tanyain dia. Bilangnya udah putus sama kamu. Cowok barunya tampan banget. Kayaknya orang kaya."

"Kita belum putus loh mas?" kataku coba tenang. Aku mulai gelisah.

"Coba deh kamu temuin dia. Minta penjelasan," Mas Tejo memberi saran kepadaku, sambil menangkat panggangan.

"Nih," Mas Tejo menyerahkan plastik hitam berisi kepala ayam yang sudah dipanggang.

Aku merogoh uang dalam saku jaketku lalu menyerahkan pada Mas Tejo.

Langkahku menjadi berat mengingat percakapan Mas Tejo tadi. Apa benar Inggrit punya cowok baru. Padahal dia masih kekasihku dan kita belum putus. Dari perkataan mas Tejo, aku yakin Mas Tejo tidak membohongiku. Aku tahu betul watak Mas Tejo. Dia bukan orang yang suka iseng, apalagi berbohong.

¤¤¤¤

Aku memasuki rumah sederhana bercat hijau-putih. Ini rumahku yang sederhana. Rumah yang terbuat dari kayu. Ada satu tembok di dalam, itu pun pemisah antara rumahku dengan rumah tetangga.

Aku menuju kamar ibu. Beliau sedang lelap tertidur. Sangat tenang aku melihatnya. Hendak aku keluar kamar, ibu memanggilku.

"Adin."

Aku berbalik lalu mendekatinya. Aku duduk di pinggir ranjang. Ibu setengah duduk, membetulkan bantal. Dia bersandar pada bantal.

"Gimana kerjaanmu?"

"Lancar, Bu."

"Alhamdulillah."

"Ibu udah minum obat?"

Ibu hanya bisa menggeleng, "Ibu nunggu kamu pulang. Ibu susah berdiri. Susah nyiapin obat sendiri."

Aku menatap prihatin. Merasa kasihan kepada ibu. Selama aku tinggal bekerja, ibu merasa susah untuk minum obat sendiri. Penyakit asam urat yang sudah parah membuatnya sulit berjalan. Jangankan berjalan, berdiri saja tidak sanggup.

Sudah 2 tahun ibu sakit. Sudah berbagai cara aku lakukan supaya ibu sembuh, tapi hasilnya sama. Belum ada perubahan yang signifikan.

"Ya sudah. Ibu makan lalu minum obat."

Aku menyiapkan makanan untuk ibu dan obat asam urat. Melihat ibu makan dengan lahap, aku tersenyum campur haru. Senang melihat ibu masih doyan makan. Anak mana yang tidak senang melihat ibunya sedang sakit parah, masih doyan makan hingga habis tak tersisa.

Setelah makan, aku membantu ibu minum obat. Aku membukakan kemasan obat lalu kuberikan padanya. Sebelum meminumnya, Ibu berdoa kepada Allah, meminta penyakitnya segera di angkat, diberi kesembuhan.

Aku juga ikut berdoa dalam hati supaya ibu berkurang sakitnya, bila perlu bisa sembuh total. Kata dokter, kecil kemungkinan ibu untuk sembuh. Apalagi Ibu sudah lansia, ditambah banyak pikiran yang terus melanda.

¤¤¤¤

Pukul 03.00 WIB aku terbangun. Tidak seperti biasanya aku bangun sepagi ini. Aku tak bisa tidur. Sekelumit masalah menerpa isi otakku. Salah satunya kesehatan ibu. Lamban laun aku mulai memikirkan kesehatan ibu yang tak kunjung membaik. Aku bingung apa yang harus kulakukan supaya ibu cepat sembuh.

 

Pagi, ketika aku mau berangkat kerja ibu mengeluh sakit kepala. Sepertinya pusing. Aku segera keluar pergi ke warung untuk beli obat.

Seketika kembali ke rumah. Segera aku mengambil gelas, menuangkan air putih di dalamnya lalu memberikan kepada ibu, ibu kemudian meminumnya. Ibu meringis menahan sakit di kepala. Aku sangat sedih dengan kondisi ibu seperti ini. Kalau terus begini, aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa terus menjaga ibu.

Aku berangkat kerja. Setelah sampai di sana aku minta waktu sebentar kepada Bu Mila. Aku mengundurkan diri sebagai tukang fotokopi. Bu Mila sempat bertanya. Aku kemudian menjelaskan tentang keadaan ibu. Bu Mila tidak bisa menghalangi jika ini sudah menjadi keputusanku. Sementara Tomi sangat berat meninggalkanku. Tomi kawan yang baik untukku, selalu menjadi tempat curhatku, selalu membantuku dikala sedang kesusahan. Dia teman terbaikku saat ini. Sebelum berpisah, kami sempat berpelukkan. Aku berjanji akan bermain ke tempat ini. Aku lihat Bu Mila sesaat, matanya berkaca - kaca. Dari yang aku tangkap raut wajahnya tidak rela aku pergi. 

Ini sudah menjadi keputusanku untuk tidak bekerja. Aku melakukan ini demi ibu. Untuk menjaga ibu selama 24 jam. Aku ingin ibu segera sembuh. Aku akan memberi perhatian lebih kepadanya.

Aku ingin balas budi kepada ibu yang dari kecil dengan sabar merawatku. Aku yang nakal, aku yang cengeng, aku yang sering tidak nurut kepadanya. Tapi ibu dengan sabar merawatku tanpa pernah memarahiku. Namun katika aku dewasa, aku pernah membentaknya, pernah marah kepadanya. Aku orang yang tidak tahu diri.

Dengan merawat Ibu, itu bisa membuatku balas jasa kepadanya dan menghapus dosa-dosaku kepadanya. Hanya ibu yang aku punya, disaat kadua kakakku sedang merantau diluar kota. Jarang pulang. Mereka hanya mengirimkan barang berupa uang namun tidak dengan tubuh mereka. Aku mengerti mereka sibuk, tapi ibu tidak. Ibu mengharapkan mereka pulang. Berkumpul bersama kami secara utuh.

¤¤¤¤

Sewaktu aku belanja di minimarket, aku bertemu dengan Inggrit. Dia sedang belanja bersama seorang cowok. Entah siapa itu. Aku tidak mengenalnya. Aku menghampirinya, memasang wajah senyum terpaksa. Inggrit terkejut melihatku. Dia tampak gugup.

"Hai," sapaku.

"Ha ... hai," balas Inggrit.

"Cowok baru nih," sindirku halus. "Kenalin, aku Adin. Sahabatnya Inggrit." Aku mengulurkan tangan pada cowok itu.

"Yoga."

Kami berjabat tangan. Aku melirik Inggrit yang wajahnya tampak memerah. Dia berkomat-kamit.

"Kamu beli apaan?" tanyaku pada Inggrit.

"Hmm ... beli keperluan rumah tangga," jawabnya sambil menggigit bibir.

"Iya, Din. Kita beli perlengkapan rumah tangga dan beli cincin juga," Yoga menimpali.

"Cincin?" aku mengulangi.

"Iya, bro. Kita minggu depan mau menikah," ucap Yoga lagi.

Hatiku terasa sakit ketika Yoga bilang kalau mau menikah dengan Inggrit. Aku sangat kaget tapi aku harus tenang. Tidak menanggapi secara berlebihan.

"Wah selamat ya," aku kembali menjabat tangan Yoga. Kemudian beralih menjabat tangan Inggrit. Inggrit nampak ragu tapi tangannya menggapai tanganku, "selamat ya, Inggrit. Aku juga ikut senang. Aku tunggu undangannya. Semoga bahagia."

"Makasih bro," malah Yoga yang menjawab.

"Duluan ya," aku pamit. Yoga mengangguk, sementara Inggrit menunduk. 

Aku berpaling pada mereka. Raut wajahku berubah penuh amarah. Mataku berubah tajam, sambil berjalan tangan kiriku mengepal kuat. Aku tidak bisa menerima ini semua. Inggrit benar-benar selingkuh dan sangat tega mengkhianatiku. Dia menikah dengan Yoga minggu depan. Padahal dia masih kekasihku.

Tidak ada pernyataan sama sekali dari Inggrit. Sedari tadi dia hanya diam. Sesekali menjawab kalau ditanya. Selain itu dia hanya menunduk, tidak berani menatapku.

Aku menghembuskan napas pelan. Merefleksikan diriku, menetralkan emosi yang sempat naik. Tak tahu harus berbuat apa. Semua ini berjalan dengan cepat, tidak bisa kumenghentikannya. Bila waktu bisa dipukul mundur, aku tidak akan pernah berpacaran dengannya. Kisah kami terlalu rumit, restu orang tua yang menghalangi kami.

¤¤¤¤

Ibu menangis ketika aku baru sampai pintu. Aku menghampirinya di ruang tengah. Ibu duduk di kursi panjang. Berjongkok di hadapannya, kedua tanganku menyentuh lututnya.

"Kenapa Ibu nangis?" tanyaku.

 

Ibu tak menjawab. Masih dalam tangisnya. Aku tak mengerti apa yang ibu tangiskan. Apa yang mengganggu pikirannya hingga seperti ini.

"Ibu kenapa?" aku bertanya sekali lagi.

"Kapan kedua kakakmu pulang?" Ibu berbalik bertanya dalam tangisnya.

Aku tidak bisa menjawab. Aku bahkan tidak tahu kedua kakakku kerja apa di Jakarta. Aku juga bingung harus menjawab bagaimana.

"Kenapa Ibu nanya gitu? Ibu butuh uang? Adin ada uang kok sisa kiriman Mas Raka dan Mbak Yuna kemarin."

Aku mengeluarkan dompet, tapi ketika hendak aku membuka, Ibu menahan. "Ibu enggak butuh uang itu. Ibu butuh kedua pulang. Ibu pengen kalian berkumpul bersama. Sebesar uang yang kedua kakakmu kirim itu percuma, kalau mereka tidak pulang. Ibu pengen melihat Raka dan Yuna berdiri di hadalan Ibu."

Aku lemas mendengar ungkapan hati Ibu. Selama ini Ibu memikirkan Mas Raka dan Mbak Yuna yang tidak pernah pulang. Sudah 4 tahun mereka tidak pulang. Hanya mengirimi uang saja. Namun itu belum cukup membuat Ibu bahagia. Bukan uang yang membuat Ibu bahagia tapi kepulangan Mas Raka dan Mbak Yuna. Bagi Ibu, uang bukan segalanya. Keberadaan mereka lebih mahal dari besar uang yang mereka kirim.

Setelah kejadian Ibu menangis itu, aku sering menelepon kedua kakakku, menyakan kapan bisa pulang. Jawaban mereka sama "tidak tahu". Aku mengerti, aku bilang kepada mereka kalau Ibu ingin mereka pulang. Mereka bilang akan mengusahakan. Ketika sampai waktu yang dijanjikan, mereka berdua memberi kabar kalau mereka tidak bisa pulang. Aku merasa kesal dengan kedua kakakku. Lebih mementingkan pekerjaan dari pada orang tua. Aku saja rela tidak bekerja demi merawat Ibu, demi bisa membalas jasa Ibu selama ini. 

Aku menelepon Mas Raka dan Mbak Yuna bergantian. Ibu ingin berbicara dengan mereka. Aku miris ketika Ibu menangis ketika berbicara dengan kedua kakakku melalui sambungan telepon. Ibu mengeluarkan semua beban yang selama ini di kepalanya. Dan lagi, mereka berjanji akan pulang. Dan sekali lagi mereka mengingkari.

Aku terus merawat Ibu sampai akhir hayatnya. Sebelum meninggal, Ibu berpesan kepadaku untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab, lelaki kuat, selalu mengutamakan keluarga dari apapun. Aku berjanji kepada Ibu akan melakukan itu.

Mas Raka dan Mbak Yuna akhirnya pulang. Wajah mereka begitu menyesal karena tidak bisa memenuhi permintaan Ibu. Mereka juga meminta maaf kepadaku. Awalnya aku keberatan, karena mereka lah Ibu sering sakit. Tapi setelah dibujuk oleh Pak RT, akhirnya aku luluh.

"Kalian harusnya sadar dari dulu. Sekarang sudab terlambat," ucapku. Mereka memelukku sebagai tanda penyesalan. Aku menatap kosong dalam tangisku. Aku juga menyesal, belum bisa membahagiakan Ibu. Amanah yang Ibu berikan, akan aku laksanakan. Aku terpukul dengan ini semua tapi aku harus tetap tegak. Menatap hidup yang baru. Tak larut dalam kesedihan. Mungkin di sana Ibu memandang kami senang bila kami mengikhlaskannya.

 

TAMAT

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani