Profil instastories

Tugas Linguistik Umum

 

Nama : Irma Pratiwi

NIM : 11170130000092

 

1.      Mengapa orang yang profesinya berkenaan dengan bahasa perlu mempelajari dan mempunyai pengetahuan tentang linguistik, jelaskan!

 

Jawab :

Bahasa adalah satu-satunya alat komunikasi terbaik yang hanya dimiliki manusia. Maka orang yang profesinya berkenaan dengan bahasa perlu mempelajari dan memilki pengetahuan tentang linguistik, karena linguistik akan memberi pemahaman kepada kita mengenai hakikat dan seluk beluk bahasa dan bahasa yang menjadi alat interaksi sosial milik manusia.

 

2.      Jelaskan yang dimaksud dengan :

a.       Lingua                               d. Langue

b.      Linguistik                          e. Langage

c.       Linguis                              f. Parole

 

Jawab :

a.       Lingua di dalam bahasa-bahasa “Roman” yaitu bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa latin, terdapat kata yang serupa atau mirip dengan kata lingua itu, antara lain, lingua dalam bahasa italia, jadi lingua yang berarti “Bahasa”.

b.      Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Kata linguistik (berpadanan dengan linguistics dalam bahasa Inggris, linguistique dalam bahasa Prancis, dan linguistiek dalam bahasa Belanda.

c.       Linguis disebut orang yang ahli dalam ilmu linguistik atau pakar linguistik disebut linguis (Inggris linguist). Namun, perlu diperhatikan dalam bahasa Inggris kata linguist mempunyai dua buah pengertian.

d.      Langue berasal dari bahasa inggris, bahasa Jawa atau bahasa Perancis yang berarti bahasa secara umum. Langue mengacu pada suatu sistem bahasa tertentu, jadi sifatnya lebih abstrak.

e.       Langage dalam bahasa perancis mempunyai makna yang berbeda dengan langue, langage berarti bahasa secara umum, seperti tampak dalam ungkapan “Manusia punya bahasa sedangkan bahasa binatang tidak”. Langage adalah sistem bahasa manusia secara umum jadi, sifatnya paling abstrak.

f.       Parole adalah bahasa dalam wujudnya yang nyata, yang konkret, yaitu yang berupa ujaran. Karena itu bisa dikatakan ujaran atau parole itu adalah wujud bahasa yang konkret, yang diucapkan anggota masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.

 

 

3.      Mengapa ilmu linguistik lazim disebut dengan nama linguistik umum? Jelaskan!

 

Jawab :

Ilmu  linguistik sering juga disebut linguisrik umum (general linguistics). Artinya, ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, seperti bahasa Jawa atau bahasa Arab, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, bahasa yang menjadi alat interaksi sosial milik manusia, yang dalam peristilahan Prancis disebut langage.  Untuk jelasnya, perhatikan contoh berikut. Kata Bahasa Indonesia Perpanjang  dapat dianalisis menjadi dua buah morfem, yaitu morfem per- dan panjang (apakah morfem itu, akan dibicarakan pada Bab Morfologi). Morfem per- disebut sebagai mrofem kausatif karena memberi makna ‘sebabkan jadi’. Perpanjang berarti ‘sebabkan sesuatu menjadi panjang’, sekarang perhatikan bahasa inggris (to) befriend yang berarti “menjadi sahabat”. Di sini jelas ada morfem be-  dan morfem friend, dan morfem be- juga memberi makna kausatif. Perhatikan pula kata bahasa Belanda vergoot ‘perbesar’. Jelas di situ ada morfem kausatif ver-  dan morfem dasar groot yang berarti ‘besar’. Dengan membandingkan ketiga contoh itu, kita mengenali adanya mrofem pembawa makna kausatif baik dalam bahasa indonesia, bahasa Inggris, maupun bahasa Belanda. Ataupun bahasa lain lagi.

Begitulah bahasa-bahasa di dunia ini meskipun banyak sekali perbedaannya, tetapi ada pula persamaannya.Ada ciri-cirinya yang universal. Hal seperti itulah yang diteliti oleh linguistik. Maka karena itulah linguistik sering dikatakan bersifat umum, dan karena itu pula nama ilmu ini, linguistik, balas juga disebut linguistik umum.

4.      Sebutkan dan jelaskan ilmu-ilmu lain yang juga “mengambil” bahasa sebagai objek kajiannya!

Jawab :

A.    Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dab linguistik khusus

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoretis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa Jawa. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun atau subrumpun bahasa, misalnya, rumpun Bahasa Austronesia atau subrumpun Indo-German. Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada satu tataran dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi umum atau fonologi khusus, morfologi umum atau morfologi khusus, atau juga studi sintaksis umum dan sintaksis khusus.

B.     Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada masa sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan, bahasa Jawa dewasa ini, atau juga bahasa Inggris pada zaman William Shakespeare. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada suatu masa tertentu. Linguistik diankronik berupaya mengkaji bahasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas, bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut (kalau bahasa tersebut sudah punah, seperti bahasa Latin dan bahasa Sanskerta), atau sampai zaman sekarang (kalau bahasa itu masih tetap hidup, seperti bahasa Arab dan bahasa Jawa).

Kajian linguistik diankronik ini biasanya bersifat historis dan kompratif. Oleh karena itu dikenal juga adanya linguistik historis komparatif. Oleh karena itu dikenal juga adanya linguistik historis komparatif. Tujuan linguistik diankronik ini terutama adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya. Pernyataan seperti “kata batu berasal dari kata watu” adalah pernyataan yang bersifat diakronik. Begitu juga dengan pernyataan “kata pena dulu berarti ‘bulu angsa’, sekarang berarti alat tulis bertinta’. Hasil kajian diakronik seringkali diperlukan untuk menerangjelaskan deskripsi studi sinkronik.

C.    Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktural internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor –faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktural internal bahasa pada umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, maka dalam linguistik mikro ada subdisiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Ada juga yang menggabungkan morfologi dan sintaksis menjadi morfosintaksis, dan menggabungkan semantik dengan leksikologi menjadi leksikosemantik. Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahsa, cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satu ujaran. Morfologi dari sintaksis dalam peristilahan tata bahasa tradisional biasanya berada dalam satu bidang yaitu gramatika atau tata bahasa sunda. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, grammatikal, maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu. Sedangkan linguistik makro, yang menyelidiki bahasa dalam kaitan-kaitannya dengan faktor-faktor diluar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar-bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Karena banyaknya masalah yang terdapat di luar bahasa, maka subdisiplin linguistik makro itu pun menjadi sangat banyak.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Dalam sosiolinguistik ini, antara lain, dibicarakan pemakai dan pemakai bahasa, tempat pemakaian bahasa, tata tingkat bahasa, pelbagai akibat adanya kontak dua buah bahasa atau lebih, dan ragam serta waktu pemakaian ragam bahasa itu. Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisiplinear antara sosiologi dan linguistik. Psikolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimanapun kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Jadi, psikolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara psikologi dan linguistik. Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Bisa juga dikatakan penggunaan cara-cara linguistik dalam penyelidikan antropologi budaya. Antropolinguistik merupakan ilmu interdisipliner antara antropologi dan linguisik. Stilistika adalah subdisipin linguistik yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Bahan atau teks yang dikaji biasanya adalah naskah kuno atau naskah klasik yang dimiliki suatu bangsa. Filologi merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik, sejarah, dan kebudayaan. Filsafat bahasa merupakan subdisiplin linguistik yang mempelajari kondrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dialektologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas diaek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Dialektologi ini merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan geografi.

D.    Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoretis dan linguistik terapan

Linguistik teoretis berusaha megadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Jadi, kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka. Berbeda dengan linguistik teoretis, maka linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor diluar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat. Misalnya, penyelidikan penerjemahan buku, penyusunan kamus, pembinaan bahasa nasional, penelitian sejarah, pemahaman terhadap karya sastra, dan juga penyelesaian masalah politik.

E.     Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.

Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk belum ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain, dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat (seperti kepercayaan, adat istiadat, pendidikan dan sebagainya) terhadap linguistik sepanjang masa.

5.      Sebagai pemula dalam studi linguistik, mengapa kita cukup mempelajari bidang linguistik yang hanya berkenaan dengan struktural internal bahasa itu saja? Jelaskan!

 

Jawab :

Karena penyelidikan tentang bahasa dilakukan secara intensif, sehingga berkembang pesat, luas dan mendalam. Baiknya bagi pemula cukup mempelajari dasar-dasarnya saja. Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu. Sedangkan linguistik makro, yang menyelidiki bahasa dalam kaitan-kaitannya dengan faktor-faktor diluar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar-bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Karena banyaknya masalah yang terdapat di luar bahasa, maka subdisiplin linguistik makro itu pun menjadi sangat banyak.

 

6.      Ceritakan tahap-tahap perkembangan disiplin linguistik yang pernah terjadi sejak tahap spekulatif sampai tahap terakhir! Jelaskan tahap-tahap itu!

 

Jawab :

Tahap-tahap perkembangan disiplin linguistik meliputi :

Tahap pertama, yaitu spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Tindakan spekulatif ini kita lihat, misalnya, dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja. Kalau ditanya apa buktinya, atau bagaimana cara membuktikannya, tentu tidak dapat dijawab, atau walaupun dijawab akan secara spekulatif pula. Contoh lago, kalau kita duduk di dalam kereta api yang berjaan, lalu melihat ke luar melalui jendela, maka akan tampak pohon-pohon dan tiang listrik. Berjalan berlari-lari padahal tidak.

            Tahap kedua adalah tahap observasi, dan klasifikasi pada tahap ini, para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Kebanyakan ahli sebelum perang kemerdekaan barju bekerja sampai tahap ini. Bahasa-bahasa di Nusantara di daftarkan, di telaah ciri-cirinya, lalu dikelompokan-kelompokkan berdasarkan kesamaan-kesamaan ciri-ciri yang dimiliki bahasa-bahasa tersebut. Cara seperti ini belum dapat dikatakan “ilmiah” sebab belum sampai pada penarikan suatu teori. Pada saat ini cara kerja tahap kedua ini tampaknya masih diperlukan bagi kepentingan dokumentasi kebahasaan di negeri kita, sebab masih banyak sekali bahasa di Nusantara ini yang belum terdokumentasikan. Pada tahap berikut barangkali baru mungkin bahasa-bahasa nusantara yang terdokumentasikan itu dapat ditelaah dengan lebih serius secara mendalam.

            Tahap ketiga adalah tahap perumusan teori dalam tahap ini suatu disiplin berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah itu. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesa atau teori yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menyusun test untuk menguji hipotesa-hipotesa itu terhadap fakta-fakta yang ada. Linguistik dewasa ini sudah mengalami tahap ketiga.

 

7.      Apa yang dimaksud hipotesis dalam studi linguistik? Jelaskan secara singkat!

 

Jawab :

Hipotesis sendiri adalah penjelasan sementara tentang tingkah laku, gejala-gela, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Suatu hipotesis adalah pernyataan masalah yang spesifik. Dalam studi linguistik adalah tahap perumusan teori dalam tahap ini berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah itu. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesa atau teori yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menyusun test untuk menguji hipotesa-hipotesa itu terhadap fakta-fakta yang ada.

 

8.      Linguistik menggunakan metode induktif dan metode deduktif dalam melakukan penyelidikannya. Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan kedua metode itu, dan bagaimana cara kerjanya?

 

Jawab :

Dalam ilmu logika atau ilmu menalar selain adanya penalaran secara induktif ada juga secara deduktif. Secara Induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu, dari data-data khusus itu ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasakan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif itu.

 

9.      Apakah yang dimaksud dengan data empiris dalam penyelidikan bahasa? Jelaskan!

Jawab :

Data empiris yakni data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi. Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya , kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu.

 

 

 

 

10.  Mengapa linguistik disebut juga, atau termasuk, ilmu nomotetik? Jelaskan!

 

 

Jawab :

Sebagai ilmu empiris-linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut sebagai ilmu nomotetik. Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.

 

11.  Bagaimana pandangan dan pendekatan linguistik terhadap objek kajiannya, yaitu bahasa? Bandingkan dengan pendekatan ilmu lain, misalnya susastra, terhadap bahasa itu!

 

Jawab :

Dalam dunia keilmuan ternyata yang “mengambil” bahasa sebagai objeknya bukan hanya linguistik, tetapi ada pula ilmu atau disiplin lain misalnya, ilmu susastra, ilmu sosial, psikologi, dan fisika. Oleh karena itu, timbul pertanyaan, apa bedanya linguistik dengan ilmu-ilmu yang itu dalam “menangani” objek kajiannya, yaitu bahasa itu. Jawabannya adalah terletak pada perbedaan pendekatan ilmu-ilmu terhadap bahasa itu. Ilmu susastra mendekati bahasa atau memandang bahasa sebagai wadah seni, sebagai sarana atau alat sarana menciptakan keindahan, yang halnya sama dengan garis dan warna dalam seni lukis, atau bentuk-bentuk dalam seni patung atau bunyi dan nada dalam seni musik. Ilmu sosial atau sosiologi mendekati dan memandang bahasa sebagai alat interaksi sosial di dalam masyarakat. Psikologi mendekati dan memandang bahasa sebagai gejala pelahiran kejiwaan. Sedangkan fisika mendekati dan memandang bahasa sebagai fenomena alam, yakni sebagai glombang bunyi yang merambat dari mulut pembicara ke telinga si pendengar.

 

12.  Pernyataan seperti “Yang benar adalah kata mengubah, dan bukan merubah” menunjukkan sikap yang tidak deskriptif. Coba jelaskan apa sebabnya!

 

Jawab :

Telah dijelaskan sebelumnya,maksud dari mendekati pembelajaran linguistik melalui teori deskriptif, bukan berarti menganjurkan mahasiswa untuk mengatakan atau menuliskan sesuatu yang salah dengan alasan kelaziman pada masyarakat. Melainkan memberikan gambaran untuk perbandingan terhadap mahasiswa untuk memahami setiap materi pembelajaran yang sifatnya preskriptif di kelas, dan dengan secara deskriptif berkenaan pemakaiannya di masyarakat.

            Sebagai contoh, ketika dosen mengoreksi ujaran atau tulisan mahasiswa yang menyebutkan kata ‘Merubah’, dosen dapat menjelaskan bahwa pada kenyataannya sebagian masyarakat memang berujar dan menulis, serta menganggap kata yang baku adalah ‘merubah’ walaupun seharusnya ‘mengubah’. Hal tersebut dianggap sudah menjadi kelaziman, karena penerimaan antara kata ‘ mengubah’ dan ‘merubah’ dianggap memiliki makna yang sama. Salah satu penyebabnya, terjadi karena ada kekeliruan proses morfemisnya, ataupun penentuan kata dasarnya. Walaupun kata ‘merubah’ diterima oleh kebanyakan masyarakat sebagai kata yang maknanya dianggap sama dengan kata ‘mengubah’, namun sebagai seorang yang telah mengalami proses belajar, hendaknya kita mengetahui dan konsisten dengan menggunakan kata yang tepat sesuai proses morfemisnya yaitu ‘mengubah’. Dengan penjelasan seperti demikian, diharapkan mahasiswa lebih menerima bahasa secara preskriptif, dibandingkan jika hanya mengoreksi dengan memberikan penjelasan bahwa sebagian masyarakat salah, kata ‘merubah itu seharusnya ‘mengubah’.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS