Profil instastories

Hai:)

Topeng

  1.  

 

"Jangan lupa, ya! Nanti malam loh!" seru Bintang, sahabatku saat aku turun dari mobilnya. 

 

Bintang adalah sahabatku satu-satunya, tidak ada yang lain karena aku dari dulu memang sendirian. 

 

Aku mengangguk dan melambaikan tangan pada mobil yang menjauh. 

 

Memperbaiki rambut, lantas masuk ke dalam rumah. Menyapa Ibu selintas dan berusaha tersenyum. 

 

"Senja," ucap Ibu tersenyum. 

 

Aku mengangguk. 

 

"Kamu mau kemana nanti?" tanya Ibu yang rupanya, mendengar perckapanku dengan Bintang tadi. 

 

"Pestanya Bintang, Bu," jawabku. 

 

Ibu mengangguk mengerti. "Jangan lupa minum obat ya," ujar Ibu. 

 

Aku mengangguk. 

 

Aku sudah setahun lalu tinggal bersama Ibu saat mulai bersekolah di SMA. Sebelumnya, keluargaku utuh, walau psikisku tidak utuh.

Hancur lebur seiring aku yang dikenal pemurung di kotaku. Cantik dan pemurung tepatnya. 

 

Saat sekolah, aku selalu dibully siswi,entah karena apa.

 

"Eh, itu kan Senja," ucap  Kelly–si ratu bully–sinis. Dia bersama dua temannya yang berkelakuan sama. 

 

Aku menoleh untuk merespon. 

 

"Sok misterius banget dia," timpal temannya yang berambut pendek.

 

"Sok cantik!" ucap teman satunya yang berambut sebahu. 

 

"Tau gak? Katanya Ayahnya suka mabuk, keluarganya hancur," ucapnya sang leader memburu. 

 

"Dia bawa sial kan? Kalau aku jadi orang tuanya mungkin sudah kubuang dia," ucap salah si rambut pendek dengan wajah sok serius. 

 

"Iya! Dia harusnya pergi!" timpal si rambut sebahu. 

 

Lantas tertawa. 

Tertawa diatas penderitaan orang lain. Sial. 

Rasanya, saat itu aku ingin cepat pulang agar bisa menenangkan diri.

 

Dan sisa hari itu kuhabiskan dengan mendengarkan cacian demi cacian. Jika ada yang ingin membantuku, pasti saja akan terkena imbasnya. 

 

Saat pulang, aku berjalan dengan menahan sakit di kepalaku karena tadi sempat tertimpuk bola basket, dan tentunya dilakukan oleh orang yang menindasku. 

 

Saat sampai rumah .... 

Aku menyentuh gagang pintu dan membuka pintu. Aku mendengar pertengkaran Orang tuaku lagi. Masalahnya sama, ayah meminta uang dan Ibu menolak memberi. 

 

"Uang cepat!" bentak ayah. 

 

"Tidak ada uang untukmu," sahut Ibu ketus. 

 

Ayah mendesis geram. 

 

Aku yang sudah tidak tahan karena lelah berjalan ke tengah mereka. 

 

"Berhentilah, apa kalian tidak lelah?" geramku. 

 

Aku lelah, ingin beristirahat sejenak pun tidak bisa. Aku merindukan pulang yang sesungguhnya, pulang dengan nyaman. 

 

Ayah yang terlanjur marah malah menampar wajahku dengan kerasnya. Kepalaku menghantam tembok dan darah mengalir di keningku. Saat kesadaranku makin tipis, aku mendengar Ibu menjerit histeris. 

 

Setelah kejadian itu, Ibu mengajakku pergi satu tahun lalu. Membuka usaha di tempat yang baru. Ibu mengaku bahwa dia mulai menabung uang saat tahu sifat asli ayah. Jadi, kami tidak terlalu kesulitan. 

 

Sejak itu, aku mulai berkarakter ceria. Berteman dengan siapa saja. Dan menjadikan Bintang sahabatku. Tapi, aku selalu menolak keluar rumah kecuali sekolah. 

 

Tapi, kali ini Bintang mendesakku untuk hadir di ulang tahunnya. Dia bahkan mengancam, jika aku tidak hadir, dia akan menjauhiku. Karena tidak mau kehilangan, aku pun menyanggupinya. 

 

Saat aku sampai di kamar, aku pun menyiapkan semua keperluan untuk nanti malam. Menyiapkan pakaian dan mencocokkan di depan cermin.

 

Mematut di depan cermin. Aku mengangguk-angguk, mulai berpikir. Wajahku, apakah harus kupoles? Mengamati wajah lamat lamat, dan ....

 

Bayangan wajahku sangat lain. Kantung mata hitam, mata merah, dan darah menetes di kening. Aku mengernyit. Bayangan itu tersenyum seram. 

 

"Bukalah topengmu, itu bukan kau yang sebenarnya ...."

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani