Profil instastories

Lahir 18 April, lulusan sarjana pendidikan sastra Indonesia, IKIP Surabaya. Menulis dalam genre puisi, cerpen, esai/opini/artikel bertema sejarah, sastra, budaya, pendidikan, dll. Telah menerbitkan beberapa buku baik buku puisi atau buku referensi. Pernah mendapat penghargaan di bidang penulisan di tahun 2010, 2013, 2016. Sekarang tinggal di Ngawi. Sambil sesekali menjadi guru di beberapa SMA.

TITIK BALIK GLOBALISASI

 

            Globalisasi merujuk pada sebuah fenomena sosiologi yaitu saat batas-batas teritorial sebuah negara mengkabur. Hal itu dipicu oleh pencapaian teknologi komunikasi dan informasi yang luar biasa bahkan radikal seperti internet yang memungkinkan informasi bisa diakses dalam hitungan detik dalam jumlah tak terbatas. Percepatan informasi itu menjadikan batas negara secara teritorial tidak lagi relevan .

            Globalisasi itu pun juga mengkibatkan hirarki sosial melebur cenderung tiada menampakkan perbedaan dan dianggap tidak penting lagi. Internet menghapuskan semua diferensiasi sosial yang mengkatagorikan umur, status sosial, agama, tingkat ekonomi, strata pendidikan dan profesi. Dalam ruang internet, baik itu melalui face book, blog, twitter atau yang lain, seseorang bisa mengakses, menginformasikan dan menyebarkan idenya secara merdeka. Segala macam informasi dan ide bersandingan. Baik yang ditulis dengan kaidah penalaran yang ketat maupun yang ditulis dalam bentuk makian dan keresahan menempati kesempatan yang sama untuk menyebar dan ditangkap publik. Internet pula yang meretas bingkai-bingkai pengetahuan menjadi berkeliaran di mana-mana. Segala pengetahuan menjadi global. Persoalan lingkungan hidup tidak hanya menjadi milik aktivis dan pakar lingkungan, namun menjadi konsumsi semua orang. Masalah terorisme di salah satu wilayah dunia akan segera menjadi perbincangan seluruh negara. 

Tak hanya hirarki sosial yang melebur, namun globalisasi juga mengakibatkan terlipatnya jarak dan waktu. Dalam hitungan detik peristiwa di kutub utara bisa dilihat setiap orang di seluruh dunia. Komunitas yang dahulu tersembunyi seolah-olah telah kehilangan tempatnya bersembunyi.

Dalam realita historika kebudayaan, gejala globalisasi bukanlah  gejala baru. Persinggungan dan peleburan kebudayaan seperti gejala globalisasi sudah lama terjadi, yang membedakannya adalah persoalan waktu saja. Persinggungan, pergeseran dan peleburan budaya dulu memerlukan waktu yang relatif lama sehingga bisa mengendap dalam lapisan kesadaran mentalitas. Sedangkan pada globalisasi, persinggungan, pergeseran dan peleburan budaya berjalan dalam waktu yang sangat cepat. Sedemikian cepatnya sehingga globalisasi tidak sempat memberi kesempatan mengendap dalam lapisan kesadaran manusia.

Nusantara (baca: Indonesia) adalah contoh yang tepat untuk menunjukkan bahwa gejala globilasisi bukan barang baru dalam historika kebudayaan. Globalisasi awal adalah pengaruh India merembes ke Nusantara pada abad-abad awal Masehi dan meninggalkan jejaknya pada berbagai prasasti, misalnya prasasti Kutai, prasasti Taruma Negara, kitab-kitab yang diprengaruhi Hindu misalnya Tantri Kamandaka, Lubdaka, dan bentuk-bentuk peninggalan kerajaan Hindu. Pada paruh waktu berikutnya, kebudayaan Budha (Budhisme) mempengaruhi kebudayaan Nusantara. Kerajaan Sriwijaya dan candi Borobudur menjadi saksi kehadiran Budhisme di Nusantara. Perdagangan dan bahari membuat Nusantara juga bersentuhan dengan Cina dengan menunjukkan bukti aksitektur, teknologi, tekstil dan sebagainya. Tak ketinggalan kebudayan Islam pun mewarnai Nusantara dengan bukti-bukti historis kerajaan-kerajaan Islam dan berbagai jenis produk budaya. Kemudian, kebudayaan Eropa menerabas pula ke Nusantara, melalui Portugal di sulan Inggris dan Belanda.

Yang terjadi akhirnya adalah Nusantara menjadi konfigurasi kebudayaan yang kaya dengan berbagai anasir budaya. Ada lapisan anasir budaya asli Nusantara, lapisan anasir budaya India, lapisan anasir budaya budhisme, lapisan anasir budaya Timur Tengah, lapisan anasir budaya Cina, dan lapisan anasir budaya Eropa. Lapisan anasir-anasir budaya inilah yang oleh Denys Lombard disebut sebagai lapisan-lapisan mentalitas dan lapisan kesadaran.

Jadilah, Nusantara merupakan puzle yang tersusun dari berbagai lapisan anasir  budaya yang melahirkan lapisan-lapisan kesadaran dan lapisan mentalitas. Ini sejalan dengan teori Foucault yang mengatakan bahwa tiap-tiap bangsa, tiap-tiap budaya selalu memiliki arkeologinya sendiri-sendiri.

          Gejala globalisasi yang sekarang juga menunjukkan kemiripan dengan globalisasi dulu, yaitu tidak membunuh kebudayaan lokal yang ada. Globalisisi sekarang bahkan lebih kuat menunjukkan kecenderungan merangsang dan memperkuat daya hidup lokalitas. Globalisasi menimbulkan kesadaran kepada yang lokal untuk mempertahankan eksistentesi identitasnya. Bahkan upaya mempertahankan eksistensi identitas lokalnya itu bisa mengeras menjadi sangat ekstrim dengan ditandai menguatnya kesadaran etnik. Muncullah gejala-gejala sektarian, primordial dan etnonasionalisme. Agaknya inilah titik balik globalisasi!*

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.