Profil instastories

tidak untuk di kenang

TIDAK UNTUK DI KENANG (Atunkqodir)

(Prolog) Daun yang kemilau dengan segala garisnya memikat perhatian Danial. Ia sedang duduk di kursi, tepatnya di belakang warung langganannya. Dengan kopi yang sedang tertaruh di meja, kopi itu menatap segala keresahan yang dialami oleh Danial. Bagaimana tidak? Wajah murungnya tidak bisa menutupi kehancuran hatinya. Rokok yang telah dinyalakan pun hanya menghembuskan asap dari udara yang lewat. Tampaknya mulut Danial tak sanggup untuk menghisapnya, ia hanya sanggup menyalakan, tapi tidak untuk menikmatinya. Seperti kisah cinta yang ia alami, Ia hanya sanggup untuk memulai, namun tak sanggup untuk menikmati apalagi mengakhiri.

Enam bulan yang pernah terlewat.

Upacara pembukaan ospek sedang berlangsung. Danial bersama teman sekelompoknya sedang berbaris dengan rapi. Begitu pula dengan seluruh peserta ospek. Lapangan kampus yang cukup luas mampu untuk menampung mahasiswa baru yang mungkin berjumlah ribuan. Danial dengan rambut keriting yang menempel di kepalanya, di sertai kemeja putih dan celana hitam melongok lama ke arah samping. Di sebelahnya tampak seorang wanita dengan tubuh cukup datar, tingginya sepundak Danial. Mereka hanya berjarak dua orang. Danial menatapnya dengan pasti. Cantik sekali tuturnya dalam hati. Meski tidak dibalas tatapan oleh wanita tersebut. Danial merasa bahwa dirinya bakal bisa berkuasa atas hati wanita tersebut. Dengan kemantapan yang cukup kuat, serta niat dan tekad. Ia memutuskan untuk berkenalan dengannya seusai upacara ini selesai.

Matahari telah memutuskan akan terbenam di ujung barat sana. Langit pun berubah menjadi merah. Mungkin ini yang disebut senja. Setelah apel penutupan ospek, Danial berjalan keluar dari kampus. Namun ia tidak langsung bergegas untuk pulang ke rumahnya. Ia masih mencari-cari seseorang untuk menjalankan misinya. Orang tersebut ialah wanita yang tadi pagi menemani tatapannya sewaktu upacara. Danial hanya mempunyai semangat, tidak dengan rencana untuk bagaimana kelangsungan pendekatannya. Ia juga hanya punya tekad yang kuat, tidak dengan pembukaan untuk memulai perbincangan.

Setelah sekian batang rokok telah habis, wanita tersebut tidak munculmuncul di hadapannya. Penantian ini membuat Danial sedikit putus asa dan segera pergi pulang menuju rumah. Saat ia berdiri dan akan mengambil motor honda cempe c70 di tempat parkir, tiba-tiba kemilau cahaya muncul di antara gerbang kampus. Wajah Danial yang semula lusuh seolah luntur secara mendadak. Yang seharusnya ia akan berjalan ke Tempat parkir, kini ia malah berjalan kembali ke gerbang kampus untuk memetik kemilau cahaya tersebut. Sebelum ia memulai basa basi dengan wanita itu, ia mengacak-ngacak rambut keritingnya, dengan alih menghilangkan jejak keritingnya. Sesampainya di depan wanita tersebut, dengan percaya diri ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Danial. Boleh tahu namamu?" Senyumnya melengkapi kata katanya.

Wanita itu cukup kaget dengan kehadiran Danial yang tiba-tiba di depanya. Rambut terurai di bawah bahu, dan poni yang menutupi jidatnya pun sebenarnya tidak merestui datangnya Danial. Namun untuk menjaga perasaan Danial, wanita itu mencoba menyuguhkan senyum dan menjawab pertanyaan nama dari Danial. "Sukma" dengan berat hati, tangannya membalas salam dari Danial. Suasana yang seharusnya menyenangkan bagi Danial, malah berubah menjadi mencengang sewaktu tangan mereka saling lepas. Sebab bibir dari Danial berubah menjadi kelu, ia bingung harus berkata apa lagi. Ia berubah menjadi salah tingkah, mencoba mencari kata-kata untuk basa-basi perkenalannya. Mungkin karena ia hanya punya ambisi namun tidak punya persiapan untuk prosesnya. Sehingga ia harus terima kenyataan ini. "Sudah?" Tanya Sukma yang tampaknya bingung dengan Danial, karena ia bertingkah seperti orang kebingungan. Danial masih saja melongo dengan sesekali menatap mata dari Sukma. Dalam otaknya ia menggali seluruh kosa-kata yang ia punya. Ia ingin mengajak Sukma, namun ia juga tidak mau menerima tolakan darinya. Sehingga ia harus berpikir keras agar kata-kata yang terucap tidak berbalas dengan penolakan. "He he maaf” dengan tampang yang merasa bersalah, ia melanjutkan kata-katanya. “Kamu mau makan mie ayam di seberang sana bareng Aku??. Kata teman kelompokku tadi, mie ayamnya enak”. Hati Danial bersiap-siap menerima jawaban yang kemungkinan akan menolak. Danial kini merasa di bawah tekanan yang seolah menganggap ini adalah penentuan hidup dan matinya. Danial juga kembali mengacak-acak rambut serta menatap sepatunya. Padahal tak ada yang berubah dari sepatu itu.

Sukma yang mendengar perkataan dari Danial cukup tercengang. Ia kaget dengan keberanian dari Danial, belum lima menit mereka berkenalan namun sudah mengajak untuk makan bersama. Pikiran dari Sukma pun liar ke sana kemari. Mulai dari memikirkan keberanian Danial, menerima ajakannya atau menolak, serta memikirkan cara ia pulang nantinya. Ia ingin menolak ajakan dari Danial tapi ia merasa tidak enak meski Danial bukan seorang yang benar-benar ia kenal. Alasan lainya yang membuat Sukma ingin menolak adalah pacarnya yang sekarang masih berjuang di seberang kota. Tapi dua alasan tersebut tampaknya akan kalah dengan keadaan perut dan lidahnya. Perut Sukma kosong sedari tadi yang belum terisi apa pun. Di sisi lain, mie ayam adalah makanan kesukaannya. Mie ayam adalah kebetulan yang sangat menguntungkan untuk Danial. Ia dapat mengambil langkah pertamanya cukup sukses dengan mie ayam. Ternya makanan itu adalah yang nomer satu di lidah Wanita dengan wajah yang sangat sempurna bagi Danial. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sukma menerima tawaran dari Danial. Tapi hanya sebatas makan, tegasnya dalam hati. Sukma yang tidak membawa motor pun di bonceng menggunakan cempe berwarna putih milik Danial.

Sukma membonceng dengan menjaga jarak. Begitu pula hatinya, ia juga sedang menjaga dari jatuhnya perasaan kepada Danial. Ia sadar, di seberang kota sana ada yang sedang memperjuangkan dirinya. Tak sampai lima menit, mereka pun sampai di penjual mie ayam tersebut. Sukma cukup kaget dengan tempat dimana ia berdiri. Ia melihat begitu indahnya matahari yang akan terbenam pada ujung dunia paling barat. Ia tidak percaya bahwa ternyata ada tempat penjual mie ayam dengan backround senja dan pantai. Hatinya pun sungguh senang, karena hari ini ia akan memakan makanan paling ia suka, dan di dampingi tempat yang paling ia suka, pantai. Danial mengajaknya duduk di pojok, paling dekat dengan bibir pantai. Sebagai alasnya bukan kursi seperti biasanya, mereka duduk tikar yang telah disediakan penjual. Meski sederhana, dari raut muka Sukma tidak bisa di tutupi bahwa ia merasa bahagia. “Sepertinya ini bakal menjadi mie ayam terenak yang pernah aku makan” ucap Danial dengan percaya diri. Kali ini ia mengatur basa-basi agar tidak terlalu membosankan. Di temani kelapa muda yang ia minum menggunakan dua tangan, Danial juga kembali memandangi

pemandangan yang sangat indah ini, senja, pantai, dan paras Sukma. Sukma tidak sadar bahwa dirinya sedang dijadikan objek untuk Danial. Ia hanya konsentrasi menikmati langit sembari menunggu mie ayamnya datang. Ia seperti sedang melepas segala lelah kepada semesta, dengan cara duduk, meluruskan kaki, dan bersandar pada pohon yang bentuknya seperti cemara. “karena kamu makannya bareng aku?? Basi” ucapnya sambil tertawa. Ia menganggap gurauan seperti ini sudah basi di telinganya. Ia ingin mengatakan langsung pada Danial, tapi hatinya melarang akan hal itu. Danial cukup senang dengan tawa yang muncul di raut Sukma. Danial merasa mempunyai poin untuk kelanjutan pendekatan ini. “Bisa di bilang iya, bisa di bilang tidak. Jika nggak ada senja dan pantai belum tentu mie ayam ini jadi terenank”. Ucap Danial mencoba memainkan kosa katanya. Untung saja ia sering membaca novel punya kakaknya, sehingga ia cukup punya kata-kata yang menarik. Sukma hanya menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Kali ini ia merasa kalah dengan jawaban Danial. Tidak seperti laki-laki yang pernah ia temui, sekarang ia menemui jawaban yang berbeda. Ia kembali penasaran dengan jawaban yang akan di lontarkan oleh Danial nanti. “Dimana-mana mie ayam memang selalu is the best. Mau makannya nggak di pantai, nggak di temani senja, mie ayam selalu terbaik menurutku”. Bantah Sukma. Pandangannya kosong menuju pantai. “Karena makanan favorit mu memang mie ayam mungkin?” jawab

Danial dengan cepat. Mendengar jawaban itu, Sukma merasa kalah. Ia merasa sudah tidak punya pembelaan, karena mie ayam memang makanan yang paling ia suka. Sukma hanya tersenyum sambil menatap Danial. Saat itu pula tatapan mereka saling beradu. Danial yang sedari tadi menatapnya pun merasa senang, karena kini tatapanya telah berbalas. Jantung Danial berdegup cepat, hatinya pun bergetar hebat, seperti lirik lagu Hari Bersamanya milik Sheila on 7. Entah mengapa, mata dari Sukma sungguh menembus pertahanan hatinya. Paras cantiknya mampu meneduhkan hati Danial. Walau seharian tadi penuh dengan kegiatan, setelah adegan ini, Danial tidak merasakan sedikit pun lelah. Meskipun ini pertama kalinya mereka berjumpa, hati Danial sudah jatuh pada Sukma.

Terkadang cinta memang tumbuh semudah ini dan secepat ini.

*****

Hari ini Danial membuat janji pada Sukma. Danial mengajak ke sebuah tempat dimana ia akan menunjukan tempat makan mie ayam yang enak dengan view pegunungan. Karena hari ini hari libur, Sukma pun tak keberatan menerima ajakan tersebut. Ini adalah kesekian kali mereka jalan berdua. Mereka sering mengerjakan tugas bersama di tempat kos Sukma. Sehabis mengerjakan tugas tak jarang pula mereka menikmati mie ayam bersama di tempat pertama mereka saling tatap. Mereka juga sering menghabiskan waktu di malam hari untuk berbicara lewat telepon, dan Danial sering tertidur meski telepon mereka masih menyambung. Sekarang Sukma pun makin terbuka keppada Danial perihal beban hidupnya. Ia sering bercerita tentang idolanya, yaitu Fiersa Besari. Sukma adalah pembaca novel. Ia sangat suka literasi. Ia juga bercerita tentang bagaimana dirinya sampai di kampus ini. Namun ada satu hal yang tidak sanggup di katakan yaitu dirinya sudah milik dari orang lain. Sukma sadar bahwa yang ia lakukan ini adalah kesalahan yang besar. Ia melukai dua hati sekaligus. Ia juga sadar bahwa Danial cinta pada dirinya, dari cara Danial memperlakukan dirinya. Sebenarnya Sukma juga telah jatuh hati pada Danial, tapi di lain sisi Ia tidak sanggup meninggalkan pujaan hati yang jauh disana. Dalam perjalanan menuju tempat yang akan di tuju. Sukma memeluk tubuh Danial. Tubuh yang berbau minyak khas indomart. Dalam pelukan itu pula Sukma merasa hatinya tenang dan bahagia. Di kelilingi pepohonan yang hijau dengan udara masih sangat segar, ia benar-benar tak ingin kehilangan Danial dalam hidupnya. Namun Sekali lagi, Sukma sadar ia tidak mungkin meninggalkan pacarnya di kejauhan sana.

*****

Pria itu bernama Wahyu.. Wahyu sangat mencintai diriku. Aku ingat saat dia membawakan cincin pada hari kelulusan Sma waktu itu. Sungguh kejadian itu takkan pernah kulupa hingga mati nanti. Dengan perawakan yang besar, ia menggandeng orangtuanya lalu menghampiri diriku. Lalu ia berlutut bagai seorang pangeran yang memohon ke permaisuri untuk menyatakan sesuatu. Di depan oraang tuanya ia meminta restu dengan bersalaman. Sebelumnya aku tak tahu apa maksud darinya membawa orangtuanya. Aku yang sedang berfoto ria bersama teman-temanku pun berhenti, ketika ia memanggil namaku dengan keras. “Sukma Lestari”. Semua teman-temanku pun memandang Wahyu dengan penuh antusias. Namun hatiku sungguh berdebar-debar hampir copot dibuatnya. Jangan bilang dia akan..... belum hatiku selesai menebak, ia benar benar mengatakan apa yang aku pikirkan tadi. Ia mengatakan sesuatu, yang dapat di simpulkan mengajakku ke jenjang yang serius, untuk bertunangan lalu menikah dengannya. Cincin emas yang indah pun sekarang telah memasuki jariku. Semua pasang mata menuju ke arah kami berdua. Sorak sorai teman-temanku pun tidak bisa di hentikan, ketika aku hanya mengangguk seusai kata kata dari Wahyu berhenti. Seketika itu pula aku menangis. Sungguh aku sangat bahagia. Aku tak menyangka Wahyu bisa seberani ini.

*****

Lamunan Sukma tiba-tiba terhenti, ketika motor cempe berwana putih yang mereka tunggangi juga berhenti. Mereka berdua berada di depan sebuah warung sederhana yang di depannya terdappat gerobak berwarna biru. Yang membuat warung ini lebih spesial dari lainnya adalah lokasinya. Warung ini di kelilingi bukit-bukit serta persawahan. Di samping warung pun terdapat suara aliran sungai yang deras. Yang sukma lakukan setelag turun dari motor bukan langsung memesan mie ayam. Namun ia malah berlari mencari sumber suara aliran sungai tersebut.  Danial pun mengikuti langkah dari Sukma. Setelah berjalan tidak begitu jauh, mereka pun akhirnya tiba pada bibir sungai. Sukma yang memakai sepatu, langsung melepas alas kaki tersebut guna bermain air. Kala kakinya menapak pada air, raut muka Sukma berubah menjadi sangat ceria. Sukma pun bermain dengan air yang dingin itu. Danial yang baru pertama kali melihat wajah Sukma sebahagia ini. Ia pun turut senang. Dalam hatinya berkata ternyata bidadari dari surga itu nyata. Tetesan air jatuh dari atas kepala Danial. Sontak ia melebarkan tanganya dan menatap ke arah langit. Ia kira tetesan air itu adalah gerimis yang di tumpahkan oleh awan. Sukma pun tertawa lebar melihat respon tubuh dari Danial. Danial yang kebingungan dengan tawa yang tiba-tiba muncul di bibir merah Sukma, mulai sadar. Ternyata bidadari surganya mengajak bermain air di sungai ini. Tak pikir panjang Danial pun melepas sepatunya. Ia langsung turun ke sungai dan membalas kelakuan Sukma yang menyiratkan air kepadanya.  Mereka berdua tertawa lepas kala Danial jatuh terpeleset hingga membuat sekujur tubuhnya basah oleh air sungai. Mereka juga lebur dalam situasi yang di dalamnya di susupi asmara.

Seusai sekujur tubuh mereka basah, mereka menuju warung mie ayam untuk memesan sambil ber istirahat. Sewaktu akan duduk, Danial mrlihat sebuah gitar terggantung pada tembok warung. Saat itu pula ia meminta izin kepada pemilik warung untuk memtik gitar itu. Sementara Sukma menepuk tanganya ketika Danial perlahan mulai memetik gitar. Dalam keadaan basah kuyup, Danial meminta Sukma untuk memilih lagu apa yang dia inginkan. “Waktu Yang Salah – Fiersa Besari”. Ucapnya dengan air muka yang sedikit menunduk. Sukma kembali sadar dengan apa yang barusan ia lakukan bersama Danial. Jika Wahyu mengetahui apa yang terjadi barusan, pasti dia akan memarahi Sukma habishabisan. “Oke bosku. Duet yaaa!!” ucap Danial dengan bersemangat. Ia masih saja belum sadar bahwa sebenarnya hatinya sedang di bombardir oleh penghianatan.

Pergi saja engkau pergi dariku biar ku bunuh perasaan untukmu, meski berat melangkah hatiku tak siap untuk terluka. Sukma memang sengaja memilih lagu tersebut. Mungkin suatu saat dirinya harus siap memilih siapa yang akan menjadi laki-lakinya. Karena dirinya paham betul bagaimana cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah penyakit hati yang sungguh menderitakan. Sukma menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan. Ia membayangkan sebuah perpisahan. Ia juga membayangkan bahwa kelak dirinya akan dianggap wanita tak punya perasaan. Tanpa sadar tiba- tiba air menetes lewat kelopak matanya. Matanya berubah menjadi merah. Mungkin hatinya juga berdarah. Sebelum Danial melihat matanya menangis, ia pun langsung mengusapnya dengan tangan.

Alih-alih kena kotoran.

Dalam perjalanan pulang Danial ingin menyatakan cintanya pada Sukma. Ia ingin membawa Sukma ke sebuah bukit batu yang berjarak 1km dari warung mie ayam. Dengan segala tekad, ia yakin bahwa cintanya akan terbalas oleh Sukma. Bahkan sangat yakin. Sesampaimya di kawasan bukit. Sukma merasa bingung, untuk apa mereka ke tempat ini. Menjawab kebingungan Sukma, Danial hanya menarik tangan Sukma untuk menaiki puncak bukit ini.”Kalau sudah sampai puncak, kamu bakal tau jawabannya”. Ucapan itu membuat Sukma semakin penasaran.  Setelah beberapa anak tangga, dan berbagai rintangan mereka lewati. Akhirnya mereka sampai di puncak batu tersebut. Mereka menapaki puncak yang seluas lapangan, namun itu semua batu. Di ujung barat terdaapat matahari yang segera tenggelam. Senja itu membuat Sukma terharu dan langsung memeluk tubuh Danial. “Terimakasih telah membawaku ke tempat seindah ini” ucap Sukma setengah membisik. Danial pun merasa momen ini adalah kesempatan yang bagus untuk menyatakan cinta padanya. Danial langsung melakukan aksinya. Pertama ia menjauhkan pelukan Sukma dari tubuhnya. Lalu Danial berlari ke ujung puncak ini. Ia mengatakan dengan sekencang-kencangnya “Tuhan, tolong jangan pernah pisahin Aku dengan Sukma. Aku cinta padanya.”. Tak perduli meski ada orang di sekitar puncak tersebut. Lalu ia berlutut sambil memegang kedua tangannya. Melihat apa yang terjadi pada dirinya, Sukma langsung meneteskan air matanya kembali. Dirinya tidak bisa memungkiri bahwa ia sungguh senang. Tapi hatinya hancur berantakan.

*****

Sepulang wisuda aku membawa Wahyu kerumahku beserta orang tuanya. Orang tua kami berdua membincangkan masa depan diriku dengan Wahyu. Ayahku merestui hubungan kami, namun ibu menginginkanku untuk berkuliah dahulu. Umurku belum matang ujarnya. Mendengar jawaban orang tua ku, Wahyu mau menunggu diriku lulus kuliah. Wahyu malah akan membiayai seluruh biaya kuliahku nanti. Singkat cerita, terjadilah kesepakatan diantara kami semua. Aku dan Wahyu pun menjalani kisah ini dengan bahagia. Namun karena diriku mendapat beasiswa di kampus yang berbeda kota dengan Wahyu. Akhirnya kami tepisahkan dalam waktu yang cukup lama.. Wahyu adalah manusia yang selalu ada untukku.

*****

Hari ini Danial akan melakukan bimbingan dosen di kampus. Ia sudah membuat janji dengan pembimbingnya. Dengan menggunakan motor cempenya, ia sungguh tak bersemangat lagi jika harus menapakkan kaki di kampus. Ia merasa ada yang hilang dari kampusnya. Semangat yang dulu pernah membara, kini telah hilang di telan semesta. Langkah kakinya pun terasa berat. Apalagi hatinya. Hatinya merasa pecah berkeping-keping. Ia memantapkan niatnya, untuk melakukan cuti kuliah sampai hatinya kembali utuh. Danial berencana untuk pergi sejauh-jauhnya dan kembali lagi dengan keadaan hati yang baik. Sementara Sukma sedang menangis di kos tempat ia tinggal. sebenarnya Ia ingin meminta maaf sebesar-besarnya. Ia merasa sangat bersalah pada Danial. Bagi Danial Sukma telah menjelma menjadi seorang yang lebih kejam dari pembunuh. Saat Danial merasa Sukma adalah pilihan terbaiknya, ia malah menyeyet hatinya dengan pisau yang teramat tajam. Sukma telah memantapkan pilihannya yaitu pada Wahyu.

(EPILOG) Setelah kembali pulang dari kelananya, hari ini adalah hari kembalinya Danial ke kampus. Ia akan kembali melanjutkan kuliahnya. Masih dengan motor tuanya honda cempe c70, Danial mengendarai motor dengan membawa semangat baru. Dalam masa cutinya, Danial memilih untuk menghabiskan tabungannya dengan berkeliling Indonesia dengan motor tuanya. Dalam perjalanan itu, ia menemukan berbagai segudang pengalaman. Mulai dari menjamahi destinasi wisata, mendaki gunung, menolong korban bencana, dan masih banyak yang lain.. Namun ternyata usaha yang selama ini Ia lakukan terbuang sia-sia. Ketika langkah pertama menapak lagi ke lantai kampus, ingatannya kembali mengingat masa yang pernah membunuh hatinya. Segala asa yang di bawa dari kelananya hancur. Segudang pengalaman tersebut juga ikut lebur. Ia tak sanggup melupakannya. Kenangan yang pernah ia buat kembali menghantui pikirannya. Ia benar-benar kembali berantakan mengingat Sukma. Untuk merenungi apa yang telah terjadi 6 bulan yang lalu. Ia mencoba mengunjungi warung yang selalu ia kunjungi masa itu. Di belakang warung itu Danial memesan kopi lalu bersandar pada pohon dan menyalakan rokoknya. Ia kembali hancur.

Akhirnya ia mantap pada hatinya. Ia ingin keluar dari kampus untuk tidak melanjutkan kuliah dan melupakan Sukma untuk selamanya. Beranjak dari warung tersebut, Danial menyalakan motor tuanya, sekarang ia punya mimpi yang sangat besar. Yaitu mengelilingi dunia serta melupakan Sukma. Apapun yang terjadi, Danial harus pergi dan hilang dari ingatannya. Karena baginya, sebuah kisah yang pahit tidak pantas untuk di kenang. Orang-orang sering berkata bahwa masa lalu harus di lupakan, namun jangan lupa untuk di kenang. Danial termasuk orang yang sangat tidak setuju dengan pendapat itu. Baginya masa lalu adalah masa yang harus di lenyapkan dengan sukses. Maka mengenang adalah jalan yang salah. Dengan mengenang sama saja membuat dirinya kembali lebur dalam rasa sakit yang pernah ia alami. Mulai detik ini dirinya akan membuang segala ingatan sampai ke ujung dunia sana. Danial akan buktikan pada dunia, bahwa dirinya tidak akan kalah dengan seorang wanita. Karena bahagia juga tidak selamanya tunduk pada cinta. Suatu saat nanti akan ku katakan pada dunia, bahwa kau adalah pembunuh paling berbahaya. Yaitu lewat cinta. Gumam Danial dalam ambisinya.

Selesai..

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani