Profil instastories

Tidak Lagi Lelucon

“Hey ...  hey ... apa ini?” ujar seorang anak berseragam merah putih, ketika merebut sebuah ‘buku’ dari tangan seorang gadis kecil berkacamata dan memakai seragam yang sama dengannya.

“Kembalikan bukuku!” gadis kecil itu berusaha mengambil buku miliknya, buku yang dianggapnya sebagai ‘teman’. Namun, apa daya yang bisa dia lakukan, anak nakal itu berlari dan menaiki salah satu meja di dalam kelas tersebut, sehingga gadis kecil itu hanya bisa pasrah, karena dia juga sudah terbiasa dengan ‘posisi’ seperti ini, bahkan  lebih parah.

 “Ayo sini ambil, anak payah!” Ouh, sungguh, kata ‘anak payah’ sudah tidak asing lagi bagi gadis kecil ini. Sekarang, dia hanya bisa diam, dia lelah, biarkan saja anak nakal itu membawa bukunya, dan lihatlah apa yang terjadi selanjutnya.

“Waw, hey, teman-teman! Lihat dan dengarlah ini! Buku Dairy Via, wah ... wah wah ....” buku itu ternyata buku diary, milik Via, gadis kecil itu. Bagi Via, buku itu benar-benar sangat penting, ya ... karena itu curahan hatinya, benar-benar tidak baik anak nakal itu membacanya, bahkan sampai terdengar oleh satu kelas. Ibunya saja tidak diizinkan Via untuk membacanya, tetapi ini ... sungguh keterlaluan.

“Okay temen-temen kita lanjut ....”

“Ini Buku Milik Via. Gak boleh ada yang baca!!! Di sini ada impian Via, jangan direnggut! Via sayang sama buku ini, kalau ada yang baca, awas saja Via gak rela.”

“Ohh ... Via gak rela ....” 

“Maaf, Via, udah terlanjur, hahaha.” 

“Anak payah beraninya ngomong di buku.”

“Huhh ... dasar anak cupu.”

 “Wah ... jangan-jangan si payah ngomongin di belakang. Dasar lemah!” lontaran-lontaran kalimat ejekan pun mulai menghujanni Via, dan dia hanya bisa menunduk, dia sudah biasa dan kini terbiasa. Memang benar, semua teman kelasnya membenci Via, tidak ada yang ingin berteman dengannya, karena alasan yang sudah lumrah di ranah masyarakat yang memandang derajat, ya ... Via seorang gadis kecil yang hidup serba cukup atau dalam kata lain ‘miskin’.

“Hai, buku! Via hari sangat sedih, tapi ... untung saja ada kamu, karena kamu menyimpan impian-impian Via dengan aman, bukankah begitu? Iya, Via tahu, impian itu cukup mustahil, tapi Via yakin jika Via berdo’a sama Allah dan Via berusaha serta pantang menyerah, impian Via untuk menjadi seorang seniman akan terwujud, ya kan? Via akan buktikan, lukisan Via akan terkenal dan gak akan ada yang ngerendahin ibu sama Via lagi, dan Via gak bakal miskin lagi, itu impian Via.” Ini adalah isi dari halaman kedua buku diary milik Via yang dibacakan anak nakal itu, sehingga mengundang anak-anak yang lain untuk mengejek Via.

“Ehh ... miskin ya miskin aja,”

“Idih, ikut lomba aja gak pernah.”

“Gambar buatan kamu jelek, jangan ngimpi!”

“Ah, apaan ini? Buku isinya yang hanya impian yang mustahil. Gak guna!” ucap anak nakal itu, sembari melempar buku diary milik Via ke lantai, dan semua anak yang tadi mendengar bacaan isi buku itu pun mulai berbisik-bisik menyindir dan mengejek Via. Namun, gadis malang itu hanya bisa menahan tangis, dan kembali membawa bukunya yang sekarang tergeletak di lantai.

 Semenjak kejadian itu, di sekolah hari-hari Via dipenuhi dengan cacian, makian, ejekan dan ledekan dari teman-teman sekelasnya, semuanya menggunakan impian Via sebagai bahan lelucon untuk menghina Via, banyak yang menyindirnya, karena memang sebelum ini pun, Via adalah korban bullying teman-temannya, mereka sering menyiksa secara mental maupun fisik, dan Via tidak bisa melawan karena dia berpasrah diri, dia tidak ingin ibunya mengetahui apa yang terjadi dengan Via. Seorang gadis kecil nan malang ini, hanya bisa menuliskan kesakitannya dalam buku dan hanya menangis pada saat dia berada di kamar mandi. 

Suatu hari teman-temannya mengerjai Via dengan membakar buku diary-nya dan kemudian menyiram Via dengan air di belakang sekolah. Hari itu membuat Via sangat marah, dia benar-benar marah karena buku kesayangannya mereka bakar, di sana Via melawan dengan suara yang lantang, tapi itu sia-sia, mereka malah menertawainya kemudian mendorong Via.

Baiklah, di sini Via sudah benar-benar lelah dengan sikap dan perilaku mereka, sehingga Via pergi membawa kembali buku yang sudah hampir hangus terbakar itu dan meninggalkan mereka semua, tidak lupa sebelum dia pergi, Via menambahkan kalimat terakhir untuk mereka.

“Baiklah, aku tahu kalian benci sama Via, maka dari itu Via akan pergi. Maaf, jika kehadiran Via membuat kalian tidak suka. Satu hal lagi, berbahagialah kalian tidak akan melihat wajah miskin Via lagi. Selamat tinggal!” Via pun meninggalkan mereka, dan anehnya anak-anak nakal itu tidak merespon perkataan Via, mereka hanya menunjukan wajah tidak percaya, karena seperti biasa, mereka anggap itu hanya lelucon. Mereka tahu kalau memang sebenarnya, mulai detik itu Via akan pergi dari mereka. PERGI JAUH.

***

“Apa maksudnya dengan pergi jauh? Apa dia mengakhiri hidupnya?” tanya gadis kecil di hadapanku ini. Anak ini sama seperti Via, bahkan hampir sama. 

“Via memang seorang anak yang lemah, tapi bukan berarti dia akan menyerah dengan mengakhiri hidupnya sendiri. Memang benar Via yang lemah dan yang menjadi bahan cacian orang itu ... sudah tidak ada di dunia ini, dia hi—“

“Ah, benarkah itu? Kau bilang dia tidak akan mengakhiri hidup, tapi kenapa dia tidak ada di dunia ini?” sial, gadis kecil ini memotong ucapanku.

“Bukan seperti itu. Dia hilang, hilang dari pandangan anak-anak nakal itu. Dan dia pergi jauh, dengan pindah ke kota lain dan sekolah di sana, serta memulai hidupnya lagi yang baru. Via menjadi orang yang berbeda, Via yang memegang prinsip bahwa impiannya bukan lelucon tapi nyata.” Jelasku, dengan penuh penghayatan.

“Oh ... dia masih hidup, syukurlah. Sekarang, dia di mana? Apa dia sudah besar? Dan impiannya?” gadis kecil ini membuatku tersenyum, dia sangat manis, dia benar-benar penasaran dengan sosok Via. Akan segera kuungkap.

“Via. Gadis malang itu ... kini, ada dihadapanmu.” Gadis terkejut dengan mulut ternganga. Kemudian aku mengambil sesuatu di dalam tas, sebuah buku. Buku yang hampir lenyap. Buku diary Via. Langsung saja aku berikan kepada gadis kecil itu, hingga membuatnya lebih terkejut, namun sesaat kemudian dia tersenyum. Oh ya, aku juga memberikannya secarik kertas yang isinya ... ‘rahasia’.

Gadis kecil itu kemudian berucap, “Aku baru ingat, bukankah kau pelukis terkenal itu? Javin?” aku kemudian mengangguk, lalu pergi. Gadis kecil itu kemudian berteriak, mengucap “Terima Kasih” yang kubalas dengan senyum. Via sekarang Javin.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani