Profil instastories

Perempuan yang berprofesi sebagai perawat ingatan untuk dirinya sendiri agar tidak mudah lupa pada sesuatu apa pun itu. Termasuk kamu.

Tidak Ada Tempat Untuk Perempuan Berselangkang Hitam

Tidak ada tempat untuk perempuan berselangkang hitam, begitulah orang-orang bilang. Hari ini, hampir setiap orang berlomba-lomba meninggikan kriterianya masing-masing. Mulai dari warna kulit, postur tubuh, bentuk bibir, aroma tubuh, sorot mata, bahkan sampai pada warna selangkangan. Sudah jutaan detik kuhabiskan waktu untuk mencari jawaban dari semua ini, tidak pernah kah mereka berpikir bahwa isi kepala jauh lebih berharga daripada sekadar warna selangkangan? Tidak pernah kah mereka berpikir bahwa hati nurani jauh lebih berharga daripada sekadar warna selangkangan? Ah, entahlah. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran mereka, terutama kaum laki-laki.

 

Dengan beralaskan sandal jepit seadanya, aku berjalan menyusuri setiap jengkal jalanan yang dipenuhi sedu sedan debu dan polusi kota. Tidak ada lagi yang peduli kepadaku, bahkan suamiku sekali pun sudah pergi meninggalkanku di malam pertama sesaat setelah kami melihat postur tubuh satu sama lain. Sungguh, sebagai perempuan yang mengharapkan mendapat suami yang setia dan penuh cinta kasih, akan tetapi suamiku sangat jauh dari itu. Belum saja menyentuhku, ia sudah langsung bergegas pergi setelah melihat warna selangkanganku. Bagaimana tidak menyakitkan? Rasanya seperti tertimpa langit yang retak. Sangat memilukan.

 

Tidak cukup sampai di situ. Saat keluargaku bertanya kepadaku mengapa suamiku bisa meninggalkanku, maka kujawab seadanya, "Karena warna selangkanganku hitam". Sesaat setelah menjawab pertanyaannya, bukan pembelaan yang kudapatkan dari keluargaku sendiri, akan tetapi berupa hinaan bahkan tindakan berupa pengusiran paksa dari rumah. Apakah orang-orang mengira bahwa perempuan berselangkang hitam adalah sebuah kekurangan? Atau bahkan sebuah aib? Otakku sudah kehabisan ide untuk memikirkan hal tersebut. 

 

Terkadang sesekali sembari melihat daun yang berjatuhan di jalanan, aku berpikir dan bertanya-tanya pada angin dan beberapa ekor burung yang terlihat di atas langit sana, "Lalu, di mana kah tempat untuk perempuan berselangkang hitam? Apakah tidak ada keadilan bagiku untuk bahagia?" Namun, sayangnya aku sama sekali tidak mendapat jawaban apa pun. Yang hanya singgah di kepalaku hanyalah penderitaan dan segala kesedihan yang tak pernah sudah.

 

Seringkali aku berpikir, jika seandainya tanah yang kupijaki ini dapat berbicara, mungkinkah mereka mengatakan hal yang sama kepadaku? Mungkinkah mereka tidak sudi diinjak oleh perempuan berselangkang hitam sepertiku? Ah, untung saja tanah-tanah itu tidak dapat berbicara. Jadi, masih ada tempat untukku beristirahat dan membaringkan diri dari segala ketidakadilan yang kudapatkan. Meskipun hanya beralaskan tanah, aku tidak peduli. Setidaknya tanah-tanah itu masih mengizinkanku untuk berbaring di atas nya daripada keluargaku dan suamiku yang malah meninggalkanku seorang diri.

 

Teriknya mentari kuhabiskan dengan berjemur diri, bahkan sekarang tidak hanya selangkanganku saja yang hitam, wajahku dan tanganku mulai menghitam juga. Bagaimana ini? Akan lebih sulit lagi bagiku untuk mencari tempat bernaung. Untungnya, aku adalah seorang perempuan yang tidak suka menetap di satu tempat. Jika menurutku itu tidaklah nyaman, maka aku akan mencari tempat lain yang akan membuatku nyaman.

 

Pohon yang rindang, itulah tempat bernaungku. Aku bisa berlindung dari teriknya mentari agar warna kulitku tidak terlalu hitam dan untungnya selangkanganku juga tertutup. Selain itu, tidak ada lagi tempat bagiku. 

 

Pernah suatu hari aku bertanya kepada bapak-bapak yang sedang bersantai ria di depan sebuah toko sembari menyantap segelas kopi hitam dan sepiring gorengan yang terlihat begitu menggiurkan di mataku. Namun, belum saja aku bertanya, mereka sudah mengusirku jauh-jauh bahkan melempariku dengan batu. Apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini? Mungkinkah mereka telah mengetahui juga bahwa warna selangkanganku hitam? Ah, tidak mungkin. Selangkanganku tertutup rapi, bagaimana bisa mereka mengetahuinya? Sangat tidak mungkin.

 

Padahal niatku hanya ingin bertanya, "Apakah bagi seorang laki-laki warna selangkangan begitu penting?" Itu saja. Tidak lebih. Namun, dari perlakuan mereka kepadaku rasanya aku sudah mengetahui jawabannya. Mungkin mereka juga tidak menyukai perempuan yang memiliki selangkangan hitam. Bahkan, mungkin semua laki-laki di dunia ini tidak menyukainya. Ah, persetan dengan warna selangkangan!

 

Tidak hanya sampai di bapak-bapak yang mengobrol di depan toko, aku juga sempat bertanya pada seorang nenek tua yang sedang duduk di sebuah kursi kecil di sudut kota. 

 

"Nek, bolehkah aku bertanya?" tanyaku dengan sangat sopan.

 

Nenek itu tidak menjawab, akan tetapi ia hanya melihatku dan menatapku dengan sangat tajam. 

 

"Apakah di dunia ini tidak ada tempat untuk perempuan yang berselangkang hitam?" tanyaku lanjut.

 

Setidaknya nenek itu tidak melempariku dengan batu layaknya yang dilakukan oleh bapak-bapak di depan toko itu.

 

Lagi-lagi nenek itu tidak menjawab pertanyaanku, akan tetapi ia menganggukkan kepalanya. Jawaban macam apa ini? Bahkan, seorang perempuan pun menyetujui bahwa di dunia ini tidak ada tempat untuk perempuan berselangkang hitam. Apa yang harus aku lakukan? Sementara untuk mati pun aku belum siap. Rasanya tidak lucu jika harus bunuh diri karena memiliki selangkangan warna hitam. Nanti namaku akan dikenal banyak orang dan menjadi trending topik. Ah, jangan sampai itu terjadi. Aku harus menyembunyikan selangkangan hitamku ini. Cukup suamiku dan keluargaku yang tahu, orang lain jangan sampai.

 

"Dosa apa yang telah aku lakukan Tuhan? Mengapa tidak ada keadilan bagiku?" 

 

Entah negeri macam apa ini. Tidak ada kah satu orang saja yang bersedia menerima perempuan sepertiku? Aku memiliki otak yang cerdas, postur tubuh yang tinggi, bibir yang seksi, hanya saja selangkanganku berwarna hitam. Sungguh, terlahir seperti ini rasanya begitu menyakitkan bagiku.

 

Terlahir di tempat yang lebih mengedepankan kriteria dan kepuasan nafsu semata membuatku rasanya ingin pergi saja, tetapi harus ke mana aku pergi? Di mana tempat untuk perempuan sepertiku? Bahkan, mereka sampai rela mengenyampingkan rasa kemanusiaannya demi mengedepankan nafsunya semata.

 

Sesekali, aku sempat berpikir, "Apakah di dunia ini hanya aku sendiri yang memiliki selangkangan warna hitam? Sepertinya tidak. Milyaran manusia di dunia ini, apakah tidak ada seorang pun yang memiliki selangkangan warna hitam sepertiku? Mustahil. Tapi aku sama sekali tidak mendapati perempuan-perempuan yang luntang-lantung sepertiku ini. Sungguh, berbahagia lah mereka yang memiliki selangkangan mulus dan bersih, pasti hidupnya begitu bahagia.

 

Sampai malam ini sudah jutaan air mata kuhabiskan menangisi semua yang terjadi padaku. Aku tidak kuat lagi menghadapi ini seorang diri. Apakah tidak ada seorang pun yang ingin mendengarkan penjelasanku? Ah, sepertinya tidak ada lagi harapan bagiku. Untuk malam yang ke sekian kalinya, aku tidur di bawah pohon rindang ini. Rasanya begitu hangat, tidak seperti biasanya. Aku tertidur sangat lelap sesaat setelah membuang bagian selangkanganku yang warna hitam itu dengan sebuah pisau tajam. Rasanya memang sangat perih dan menyakitkan, akan tetapi setelah melakukannya aku mendapati orang-orang yang memperlakukanku dengan begitu baik. Namun, di dunia yang berbeda.

(*)

 

- Sukabumi, 20 April 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani