Profil instastories

Tiba-Tiba Jodoh

 

"Kamu itu jangan pemilih, Imah. Nikah saja dulu, kalo nggak cocok kan bisa pisah. Coba dulu gimana rasanya nikah." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ibuku.

 

Ahh... Ibu terlalu banyak makan omongan emak-emak rempong nih. Makanya males banget nongkrong dekat emak-emak, takut dosa. Nikah kok coba-coba. Ada-ada saja ibu ini. Hanya geleng-geleng kepala aku mendengarnya. Tak ku tanggapi ocehan ibu. Aku tetap asyik dengan dokumenku untuk persipan lamaran kerja.

 

Menikah bukan hal yang bisa dilakukan dalam sehari lalu selesai. Menikah adalah ibadah seumur hidup. Alangkah indahnya menikah dengan seseorang yang dapat membimbing ku mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Keluarga ku bukan bukan keturunan orang yang berpengetahuan tentang ilmu agama. Kami masih sangatlah awam. 

 

"Sudah banyak lamaran berdatangan dari kampung ini. Kenapa satu pun lelaki tidak kamu terima, Imah. Heran ibu... Emangnya kamu tidak mau menikah Imah?" Ibu lanjut ngoceh sambil lipat jemuran yang sudah kering. Cuaca hari ini sangat panas. Gerah rasanya mendengar kata ibu barusan. Aku tau ibu malu dengan tetangga karena aku belum menikah. Wajar saja di kampung ku umur belasan tahun sudah menikah dan punya anak. Kedua kakak perempuanku pun sudah menikah diusia dua puluhan tahun.

 

"Bukannya Imah tidak mau menikah, Bu. Hanya saja Imah belum menemukan lelaki yang cocok. Lelaki yang mampu membimbing Imah dan bersamanya syurga akan lebih dekat dengan Imah. Tuh, Imah juga baru 23 tahun. Masih banyak yang ingin Imah capai. Membahagiakan ayah, ibu dan adik-adik." Aku berusaha menjelaskan pada ibu. 

 

Menurut ku memang belum ada yang cocok. Aku yakin kalau jodoh tak kan kemana. Jadi kenapa harus buru-buru. Jodoh tidak akan lari kok. Kalau pun lari, paling lari untuk mendekat...hehe. Jodoh itu bukan tentang siapa cepat ia dapat. Melaiankan, siapa dapat yang tepat ia akan selamat. 

 

Hari ini sangat cerah. Secerah hatiku, hehe... Berkas sudah lengkap. Rencananya hari ini akan mengajukan lamaran ke kantor desa tempat ku tinggal. Kurang lebih 10 menit aku tiba di kantor desa dengan motor matic kesayangan ku. Sesuai yang tertera pada pengumuman yang di share teman ku beberapa hari lalu bahwa ada penambahan aparat di setiap desa. Rezeki tidak ada yang tahu kalau tidak coba. Ikhtiar saja dulu.

 

Lega rasanya setelah menyerahkan berkas pendaftaran. Staf yang menerima berkas bilang bahwa tidak ada tes tertulis cuma ada tes wawancara saja. Nanti akan dihubungi menggenai kelulusan administrasi berkas dan kapan tes wawancara tambahnya. 

 

Setibanya dirumah aku mendapat telpon dari Pak Bambang bagian seksi sosial. Beliau  memintaku untuk mengikuti pelatihan pendataan lapangan besok. Tepatnya 3 hari kedepan. Ini sangat mendadak. Pendataan ini sudah pernah ku ikuti sebelumnya. Seperti biasa pendataan atau survie tentang pengeluran rumah tangga. Tanpa pikir panjang langsung ku iyakan tawaran Pak Bambang.

 

Tiga hari pelatihan diluar kota sudah ku lalui. Lelah mendera disekujur tubuhku. Padahal yang kukerjakan cuma duduk manis dan mendengarkan instruktur daerah menjelaskan materi. Dan sesekali bertanya mengenai koesioner-koesioner  yang belum ku mengerti atau ada perubahan dari tahun sebelumnya.

 

Enak sekali rebahan dikasur sendiri. Meski di kamar hotel jauh lebih empuk kasurnya. Tetap saja beda rasanya. Lebih nyaman dan leluasa kalau berada dikamar sendiri. Asyik menikmati pulau pribadi tetiba di kagetkan bunyi pesan masuk. 

 

"Assalamu'alaikum" Pesan WA dari nomor yang tidak ku kenal. Profilnya pun tidak ada. Mungkin di setting privasi.

 

"Wa'alaikumsalam" Ku balas. Penasaran juga siapa orang misterius ini. Detik kemudian masuk lagi pesan baru.

 

"Kenapa kemaren tidak datang ke kantor desa saat tes wawancara?" Dari pesannya aku yakin dia salah satu aparat desa. Aku jelaskan alasan sebenarnya karena terbentur dengan kegiatan lain. Dari situ akhirnya kami berbalas pesan. Pak Rahman namanya.  Tak perlu tanya dari mana dia dapat nomor ku. Berkas yang ku serahkan lengkap dengan pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak empat lembar. Sudah jelas dia tahu aku dan alamat rumahku.

 

Asyik juga orangnya. Hampir seminggu kami saling mengirim pesan. Aku menganggapnya hanya seru-seruan. Chatingan ringan, biasa. Yang kami bahas pun sekitar pekerjaan tidak lebih. Tak jarang kami  bercanda tentang hal yang lagi viral. Tapi kali ini Pak Rahman menanyakan kehidupan pribadiku.

 

"Apa Adek sudah punya kekasih" Pertanyaan aneh itu ia kirim padaku.

 

"Belum Pak. Saya maunya kekasih halal saja,,,hehe" Balasku sambil bercanda. Bapak satu ini ada-ada saja pikirku.

 

"Kalau saya ingin jadi kekasih halal adek, gimana? Hehe" Wah pesanya makin menjadi-jadi. Diumurnya yang ku tau menginjak 28 tahun ternyata belum punya kekasih. 

 

"Silahkan saja datang kerumah. Temui Ayah, Ibu saya. Berani ngak Pak...wkwkwk" Ku tantang saja sekalian Bapak satu ini. Dia tahu aku dari pas foto ku sedang aku belum pernah melihatnya. Curang, gumamku. 

 

"Siapa takut. Kalau jodoh pasti bertemu" Pesanya Pak Rahman membuat bulu roma ku berdiri. Jodoh? Melihat saja aku belum pernah. Terus tiba-tiba jodoh gitu. Ahh... Paling juga iseng, lirihku. 

 

Itu pesan terakhir dari Pak Rahman. Sudah tiga hari ini ia tidak menghubungiku. Benarkan Imah, ia cuma iseng. Dasar lelaki ditantang dikit langsung kabur. Aku jarang ke kantor desa. Wajar saja aku tidak tau siapa Pak Rahman. 

***

Semilir angin berhembus lembut. Mentari pagi sedikit mengitipku. Alam seolah menyapaku. Sehabis ngepel teras aku menyiram tanaman bunga dihalaman depan. Sambil bersenandung riang ku siram tanaman sampai tanpa sadar ada seseorang didepanku. Sontak aku berucap.

"Astaghfirullah" Hampir saja kena siram lelaki tampan di depanku ini. Siapa dia?

"Maaf, apa benar  ini rumah Siti Fatimah Azzahra?" Katanya dengan sopan bertanya. 

"I iiyaa benar..." Jawabku terbata. Aduhh kenpa kelu lidah ku.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak" Tambahku lagi.

"Saya ingin bertemu Ayah kamu, boleh??"

"Boleh, silahkan masuk Pak"

 

Ku persilahkan lelaki tampan ini masuk. Entah hal apa yang ingin dia sampaikan pada ayahku. Ku panggil ayah dan ibu. Ku sunguhkan teh panas dan kue kering seadanya diruang tamu. Apa maksud dan tujuan kedatangannya hanya dia yang tau. Setelah mempersilahkan minum, akhirnya ayah buka suara.

 

"Ada perlu apa Bapak jadi menacari saya" Ayah memulai percakapan, penasaran juga rupanya.

"Maaf sebelumnya Pak. Perkenalkan nama saya Aulia Ar- Rahman. Kedatangan saya kesini ingin melamar putri Bapak yang bernama Siti Fatimah Azzahra" Degg... Sekujur tubuhku bergetar. Seolah alarm ditubuhku berbunyi. Lelaki tampan dan berwibawa ini Pak Rahman. Dia datang ingin melamarku. Inikah sinyal yang diberikan Allah padaku. Diakah jodohku. Sesuatu yang indah membuncah didada. Tak pernah terlintas dibenakku saat pertama kali bertemu. Sungguh tak terbayangkan melihatnya bahkan bertemu dengannya.

 

Lelaki gagah ini datang seorang diri melamarku didepan ayah ibu ku. Tidak seperti sebelumnya tidak ada tanda apapun. Kali ini hatiku dengan ringan dan terbuka menerimanya. Dia benar-benar menepati kata-katanya. Dengan kesungguhan ia mengatakan akan datang berama keluarganya melamarkau secara resmi. Tak berselang lama pertemuan itu pun berlangsung. Tanggal pernilahanku sudah ditetapkan. Namun aku masih memnaggilnya sengan dengan sebutan "Pak Rahman" Hehe. 

 

Tepat hari Jum'at awan bulan November pernikahanku digelar. Kata Sah tedengar dibalik kamarku. Masyaa Allah indahnya kata-kata itu. Tak ku sadari butiran bening menetes haru membasahi pipiku. Ibu, Ayah dan keluarga ku nampak bahagia. Aku tidak menyangka jodohku akan datang secepat ini. Ku pikir usia 25 tahun  keatas baru menemukan tambatan hati. Namun rencana Allah jauh lebih indah. Siapa sangka jodoh ku tiba-tiba datang bermula dari berkas lamaran. Dan Alhamdulillah beneran dilamar. Ternyata benar kata orang jodoh datang disaat yang tak terduga. Ini sudah menjadi skenario indahNya. Sungguh indah menikah tanpa pacaran. Karena pacaran sesungguhnya setelah menikah.

 

End

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani