Profil instastories

THE QUEEN OF WHITE: SENJA

 

Hujan deras mengguyur langit Winston. Pemakaman yang biasanya sepi dan jarang dikunjungi itu tiba-tiba dikerumuni oleh ribuan orang berbaju hitam. Winston telah kehilangan mataharinya. Hujan pun turut berduka, seakan-akan memberi tanda sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

Tatiana dan Pangeran disampingnya hanya terdiam melihat kuburan baginda raja, tempat dimana Yang Mulia telah dikebumikan. Sesekali Tatiana memandang wajah pangeran. Tidak ada binar di mata sapphire nya. Mata pangeran yang biasa menyala ketika memandangnya saat marah menjadi sendu tak bernyawa.

“Pangeran, sudah saatnya kita kembali ke istana.”ucap Tuan Lass dibelakangnya.

“Yang Mulia…..”panggil Tatiana.

Sayangnya Philip sama sekali tidak ingin melihat ke belakang. Pangeran itu tahu bahwa Tatiana masih ingin menyinggung masalah bercerainya hubungan Kerajaan Winston dan Kerajaan Lavendaire. Sebagai calon permaisuri, tentu saja sudah merupakan tanggung jawab Tatiana untuk mendampingi dan membenarkan apabila ada kesalahan yang calon suaminya lakukan.

Pikirannya teringat pada percakapannya dengan baginda raja sebelum orang tua itu menemui ajalnya.

Flashback On

“Nona Tatiana, mendekatlah.”panggil Baginda Raja.

“Kumohon, jangan pergi dari sisiku.”

“Saya selalu bersama anda, Yang Mulia.”jawab Tatiana.

“Pegang tanganku, nona.”perintah baginda.

Tatiana pun menggenggam tangan baginda raja yang keriput dan lemah. Wajahnya semakin pucat, suhu tubuhnya juga dingin.

“Aku tidak percaya Philip memutuskan sesuatu dengan seenaknya. Dasar anak itu, bisa-bisanya ia memutuskan hubungan dengan Kerajaaan Lavendaire tanpa mengetahui lebih lanjut.”ucap Baginda.

“Maafkan saya karena tidak bisa menasihati pangeran, Yang Mulia.”ucap Tatiana.

“Ah..Jangan menyalahkan diri seperti itu, nak. Ini adalah salahku.”ucap baginda.

Tatiana terkejut ketika tangan baginda raja berpindah ke atas kepalanya, dan mengelus-elusnya sedikit.

“Aku seharusnya yang minta maaf. Aku yang telah merancang skenario hidupmu, padahal aku bukanlah Tuhan. Karena diriku, kau harus menikah dengan orang yang tidak bisa mencintaimu, namun kau berusaha untuk mencintainya. Karena diriku, kau kehilangan ayahmu dan sampai saat ini tidak tahu dimana ia berada.”ucap Yang Mulia.

“Ayah saya pasti akan baik-baik saja, Yang Mulia. Beliau akan segera kembali. Saya adalah putrinya, saya merasakan naluri keberadaanya. Saya yakin beliau masih hidup.”ucap Tatiana.

Air mata terjun dari kelopak mata baginda raja. Untuk pertama kalinya, Matahari Winston itu menunjukkan sisi lemahnya kepada seorang wanita.

“Pasti sulit untuk meyakinkan dirimu seperti itu. Dan kurang ajar nya lagi aku menginginkan satu permintaan lagi kepadamu. Permintaan terakhirku.”ucap baginda raja.

“Jangan seperti ini, Yang Mulia. Anda harus kuat, anda masih memiliki kesempatan banyak untuk hidup. Negara ini masih mengharapkan anda.”ucap Tatiana.

“Domba yang lama harus mundur untuk domba yang baru. tahta kerajaan semakin berat dan panas untuk kududuki, saatnya menyerahkannya kepada putraku, nona.”ucap baginda raja.

Tangan yang tadinya mengelus-elus kepala berpindah ke wajah mungil Tatiana.

“Yang Mulia Ratu, Tatiana Winston. Rawatlah negeri ini bersama putraku. Ibunda Winston, sebarkan cinta dan kasih sayang bagi rakyat negeri ini.”ujar Baginda.

Tatiana tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan mendengar permintaan terakhir baginda raja kepadanya. Jika saja ia punya wewenang untuk menolak, tentu saja dia akan memilih untuk menolak.

“Maafkan aku, kau harus tetap mencintai dan mendampingi putraku yang arogan itu. Kau harus tahu, negeri ini membutuhkan seorang ibu.”

“Maafkan aku…nak, maafkan aku….”

Tangan keriput itu tiba-tiba melepaskan genggaman nya dari wajah Tatiana. Mata Baginda Raja mulai tertutup. Tatiana panik dan segera memeriksa nadi mertua nya itu.

“Yang Mulia, kumohon jangan seperti ini Yang Mulia, kumohon bertahanlah, YANG MULIA!!!!”teriak Tatiana.

“KUMOHON, BUKA MATA ANDA FELIPE WINSTON,,,YANG MULIA!!!”

Teriakan Tatiana terdengar hingga ke telinga pangeran. Pemuda itu berlari menuju ruangan ayahnya dan melihat Tatiana menjerit disana sambil memegang tangan ayahnya. Tatiana bahkan mengecek nadi dan detak jantung ayahnya membuktikan bahwa asumsinya salah.

“Tidak,,, anda masih hidup, Yang Mulia. Anda harus tetap hidup. YANG MULIA!!”teriak lagi gadis itu.

Pangeran yang melihat pemandangan suram itu hanya terdiam. Ia bahkan belum sempat berbicara dengan ayahnya sebelum meninggalkan. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan sisi lemahnya. Ia mendekati ranjang ayahnya dan duduk di samping Tatiana. Sesekali ia memandang wanita di sampingnya, wanita yang akan menjadi teman hidupnya. Tangan kekarnya menarik tubuh Tatiana, dan menenggelamkan wajah gadis itu ke dalam pelukan dada bidangnya. Siapa sangka pangeran arogan itu memiliki perasaan padanya, walaupun hanya secuil.

“Semoga anda tenang disana, Yang Mulia.”ucapnya lirih.

Flashback Off

Kamar Tatiana, 5 Juni 1612

“Abigail??”panggil Tatiana

“Ya, Nona?”jawab Abigail.

“Apakah masih belum ada kabar dari Tuan Alvin??”tanya Tatiana.

“Belum ada, nona.”ucap Abigail.

“Anda terlihat tidak sehat, haruskah aku meracikkanmu teh dan obat?”tanya Abigail.

“Tidak perlu, aku baik-baik saja.”

“Apakah ada yang menganggu dalam pikiran anda, Nona?”

“Pangeran. Aku hanya memikirkannya. Dan terus-terusan memikirkannya.”jawab Tatiana.

“Rasanya seperti berada di dalam neraka. Apakah menurutmu aku bisa menjadi istri yang baik baginya??”tanya Tatiana.

“Anda adalah putri ibu anda, kalian memiliki pribadi yang sama. Kau tahu, nona? Satu-satunya wanita yang kukenal paling hebat di dunia ini adalah ibu anda sendiri, dan anda mewarisi itu.”jawab Abigail.

“Anda memiliki kekuatan untuk merasakan penderitaan orang lain, dan membantu mereka keluar dari penderitaan itu. Bukankah itu adalah hal yang paling dibutuhkan dalam hubungan? Saling berbagi penderitaan.”

“Anda adalah ratu yang telah diramalkan, anda dilahirkan untuk menjadi ibunda negeri ini. Jadi, saya yakin…..”

“Menurutku itu tidak sepenuhnya benar.”ucap seseorang.

Tatiana menoleh pemilik suara itu. Di depan kamar mereka, seorang gadis bersurai hitam tiba-tiba datang begitu saja. Matanya menatap sinis Tatiana.

“Siapakah anda?? Berani-beraninya anda masuk ke ruangan Tuan Puteri tanpa meminta izin??!”ucap Abigail.

“Meminta izin?? Aku tidak perlu melakukan hal serendah itu.”ucap gadis itu sinis.

“Apa?!!”

“Tunggu, Abigail. Tahan amarahmu, siapakah anda? Dan ada urusan apa anda kemari?”tanya Tatiana.

“Adelicia Bethany, keponakan dari Duke John Bethany, calon istri Pangeran Mahkota Philip Winston.”

Petir menyambar bersamaan dengan Guntur yang menggelegar. Tatiana membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tidak mungkin posisi itu bisa diserahkan kepada orang lain secara cuma-cuma.

“Apa?! Apa yang baru saja terjadi?! Pangeran, apa yang terjadi dengan anda?!” Batin Tatiana

“Berani-beraninya anda mengatakan hal yang tidak benar seperti itu, Tuan Putri Tatiana lah yang akan menjadi permaisuri Winston.”bela Abigail.

“Sepertinya kalian belum mengetahui apa-apa…”ucap Adelicia.

Gadis bersurai hitam itu tiba-tiba membungkuk melihat seseorang datang mendekatinya. Orang itu adalah pangeran mahkota. Melihat kedatangan pemuda itu, Tatiana dan Abigail juga ikut membungkuk kepadanya.

“Yang Mulia, apa maksud anda?! Siapa wanita ini, Yang Mulia?! Katakan kepada saya bahwa ini semua tidaklah benar.”ucap Tatiana.

Pangeran hanya terdiam, dan mengenggam tangan Adelicia. Tatiana terkejut bukan main. Pria yang dicintainya menggengam tangan wanita selain dirinya.

“Ikut denganku.”ucapnya.

Pemuda bermata sapphire dan gadis bersurai hitam itu meninggalkan Tatiana di belakang. Pangeran itu mengajaknya ke dalam ruang sidang kerajaan. Dimana singgasana Baginda Raja berdiri dengan gagah.

Pangeran melepaskan tautan tangannya dengan Adelicia dan menuju singgasana.

“Mulai hari ini, aku adalah Baginda Raja kalian semua. Dan pernikahanku dengan Tuan Putri Adelicia dari keluarga Bethany akan dilaksanakan besok lusa, sehari setelah penobatanku sebagai raja.”titah Pangeran.

“Yang Mulia, apa maksud anda?! Bukankah yang seharusnya menikah anda adalah saya. Lalu, tuan Henry dan Tuan Albert, mengapa kalian hanya diam saja?! Kenapa kalian tiba-tiba memutuskan hal seperti itu tanpa sepengetahuan saya. Saya adalah gadis dari ramalan itu.”ucap Tatiana menolak.

“Tuan Puteri, sebenarnya…”ucap Tuan Albert.

“Kau bukanlah gadis dari ramalan itu!”ucap pangeran

“Apa?!”

“Pihak gereja mengakui bahwa mereka salah penafsiran dengan ramalan itu. Wanita yang sebenarnya ada dalam ramalan itu…… bukanlah anda tuan puteri.”

Tatiana terdiam, ia merasakan hatinya hancur berkeping-keping dan sakit.

“Lalu…Bagaimana denganku, Yang Mulia?!”

Tapi, untuk mengormati keinginan mendiang ayahku. Kau akan tetap diterima di dalam kerajaan ini. Namun, bukan sebagai seorang ratu, melainkan seorang selir.

“Mimpi mengerikan itu….sekarang terpampang di depan mata.”

“Jika boleh, bisakah aku memilih untuk mati saja, Yang Mulia?!”

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.