Profil instastories

THE QUEEN OF WHITE: DARAH ATAU AIR

“Tapi, untuk mengormati keinginan mendiang ayahku. Kau akan tetap diterima di dalam kerajaan ini. Namun, bukan sebagai seorang ratu, melainkan seorang selir.”

Flashback On

“Yang Mulia, tidak seharusnya anda memutuskan hubungan dengan Kerajaan Lavendaire. Jika kita tiba-tiba memutuskan hubungan dengan mereka, justru kita lah yang akan merasakan kerugian besar!”ucap Tuan Albert

Saat ini Pangeran bersama Tuan Lass, Tuan Henry, Tuan Albert, dan Duke John sedang berunding di dekat kamar baginda raja. Sambil menunggu kabar mengenai kondisi baginda raja, para aristokrat bangsawan mengusulkan agar mempersiapkan penobatan pangeran mahkota.

“Anda tidak bisa memutuskan hubungan tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya, Yang Mulia.”protes Albert untuk yang kedua kalinya.

“Yang Mulia, paceklik sudah tiba. Hujan turun pun tak kunjung tiba. Jika kita memutuskan hubungan dengan mereka, darimana kita bisa mendapatkan sumber makanan?”ujar Tuan Henry.

“Hanya ada satu cara.”ucap seseorang, yaitu Duke John

“Apakah itu, Duke John?”tanya pangeran.

“Tentu saja dengan menikah, Yang Mulia.”jawabnya

“Apakah kau ingin aku menganut paham Yin dan Yang?!”

“Tentu saja, Yang Mulia.”jawab Duke John.

“Kalau begitu, kita harus segera mempersiapkan pernikahan pangeran dan putri Tatiana.”ucap Tuan Lass.

“Maafkan aku, Yang Mulia. Tapi, sayangnya pihak gereja telah meragukan kebenaran ramalan itu.”ujar Duke John.

“Apa maksudmu?!”tanya pangeraan.

“Tuan Putri Tatiana bukanlah gadis yang ada dalam ramalan itu!”ucap Duke John.

“Duke John, jaga bicaramu!! Baginda Raja sendiri yang menjamin kebenaran ramalan itu. Kau tidak bisa menyebarkan berita bohong seperti itu.”protes Tuan Henry.

Terdengar bisik-bisik dari para bangsawan. Mereka juga ragu akan hal itu.  Kebanyakan para aristokrat bangsawan, mereka adalah pihak yang mewakili rakyat. Sehingga banyak dari mereka yang menjadikan Duke John sebagai pemimpin mereka. Duke John sendiri dikenal sangat ahli dalam bidang politik, namun siapa sangka ia memiliki hati yang licik.

“Saya telah memanggil seorang imam kesini. Nyonya, masuklah.”ujar Duke John.

Tiba-tiba seorang pendeta gereja kerajaan yang merupakan wanita itu menghampiri perkumpulam para bangsawan itu.

“Salam untukmu, Matahari Masa Depan Winston.”

“Ibu Pendeta, katakan yang sebenarnya. Apakah Tuan Putri Tatiana adalah sebenar-benarnya calon istriku?!”tanya Pangeran.

“Saya ragu akan kebenaran itu, Yang Mulia.”jawabnya.

“Kami telah melakukan penyelidikan, bahwa gadis dalam ramalan itu merupakan murni seorang bangsawan. Namun, Putri Tatiana merupakan darah campuran.”

“Apa maksud anda?!”tanya Pangeran

“Ibu dari nona Tatiana adalah orang biasa. Ia adalah pelayan dari Kerajaan Lavendaire yang dibuang dari sana karena dituduh berusaha meracuni raja. Ia dibuang ke tempat pelacuran, hingga akhirnya bertemu dengan Carl Alice.”

Mendengar penuturan pendeta itu, pangeran mulai ragu untuk menikahi Tatiana.

“Lalu, jika penafsiran pihak gereja dan ayahku selama ini salah, lalu siapa gadis yang sebenarnya ada dalam ramalan itu?!”tanya pangeran

“Adelicia Bethany, putri dari Duke John Bethnany. Adalah permaisuri sebenarnya, Yang Mulia.”jawab pendeta

“Diam, kau pendeta. Aku yakin kau pasti telah dihasut atau diancam, kan?! Baginda Raja sendiri yang mengakui bahwa Tuan Putri Tatiana adalah Ratu selanjutnya!!”prores Tuan Henry.

“Keluarga Bethany memiliki silisilah keturunan yang murni bangsawan. selain itu, ketika menyelidiki putri dari kerajaan lain. Saya melihat Nona Bethany adalah yang paling cocok bersama Yang Mulia Pangeran.”

“Kau yakin tidak terpengaruh oleh pihak lain, pendeta. Katakan padaku.”bisik pangeram.

“Yang saya katakan saat ini tidak berdasarkan asumsi saya sendiri. Melainkan juga dari pertimbangan imam yang lain.”jawabnya.

“Sebaiknya anda segera menikahi Nona Bethany, Yang Mulia.”

Flashback Off

Kamar Tatiana, Kerajaan Winston

“Aku tidak percaya bisa-bisanya keluarga kerajaan mempermainkan kita.”ucap kakak Tatiana yang saat itu berkunjung.

“Itu bukan salah mereka, kak. Sejak awal, ramalan itu salah ditafsirkan. Bukankah kesalahan itu kodrati?!”ujar Tatiana.

“Lalu bagaimana denganmu, Tatiana. Apa kau bersedia menjadi selir?! Kau tidak akan diperlakukan adil di kerajaan ini?!”

“Masih ada waktu untuk mundur, kita bisa lari dari urusan kerajaan dan tinggal di istana cabang.”ucap Robert sambil menggenggam tangan Tatiana.

“Aku tidak bisa menjadikan usahaku selama 8 tahun sia-sia, kak.”ucap Tatiana.

“Kau bisa melakukannya dengan cara lain.”ucap Robert

“Tapi…..Baginda Raja telah menitipkan tanggung jawab kerajaan ini padaku, kak.”ujar Tatiana.

“Tatiana, kakak melakukan ini demi kebaikanmu. Tapi, pria brengsek itu bahkan mengambil keputusan tanpa memikirkan dirimu. Mengapa kau tidak mengerti?! Pria itu tidak mencintaimu, Tatiana. Dengarkan….”

“TAPI AKU MENCINTAINYA, KAK!!!”teriak Tatiana.

Air mata bening terjun dari kelopak matanya. Sungguh dilemma dan rasa sakit berat yang dirasakan Tatiana.

“Aku terlanjur mencintainya, aku ingin mendapatkan hatinya, kak!”ujarnya.

“Kau bodoh, Tatiana. Bisa-bisanya kau buta oleh cinta?!”batinnya.

“Hanya itu yang kuinginkan, kak!”ucap Tatiana.

Robert tak mampu berkata-lata lagi. Jika adiknya telah memutuskan sesuatu, ia tidak akan mengelak lagi. Pria itu berjongkok dan duduk menatap wajah Tatiana.

“Jika itu yang kau inginkan, baiklah.”ujar Robert.

“Tapi Tatiana, kakak akan terus menunggumu. Masih ada waktu bagimu untuk mundur. Kau bisa menemukan hati pria lain yang lebih baik dari dirinya. Kakak akan selalu mendukungmu.”

Tatiana menangis dan berlari ke dalam pelukan kakaknya. Gadis itu sendiri takut apabila keputusan yang diambilnya salah. Ia sendiri yang memulai hubungan dengan pangeran mahkota. Hidup sebagai keluarga kerajaaan , bahkan masuk ke dalam tahap mencintai pangeran mahkota. Tatiana telah sampai hingga sejauh ini, ia tidak ingin semua yang ia usahakan hilang begitu saja.

Tok Tok Tok….

“Yang Mulia Pangeran ingin menemui anda, tuan putri.”ucap seorang pelayan.

Tatiana berdiri melihat pria bermata sapphire yang sangat ia cintai. Pria yang menobatkannya sebagai seorang selir.

“Salam untukmu, Yang Mulia. Ada urusan apa pangeran menuju ke sini?!”tanya Tatiana.

Pangeran memandang Abigail dan Robert yang juga di dalam sana dan berkata,

“Aku hanya ingim berbicara empat mata dengan Nona Tatiana.”ujar pangeran.

Abigail dan Robert mentaati perintahnya. Walaupun mereka marah dengan keputusan pangeran, sudah merupakan hak pangeran agar perintahnya dipatuhi.

Setelah keluar, Abigail menutup pintu kamar Tatiana. Agar pembicaan antara keduanya berjalan dengan nyaman dan tidak ada gangguan.

“Aku akan segera menikah dengan wanita itu, ku harap kau tidak memiliki perasaan khusus dan ikhlas untuk menyerahkanku kepadanya.”ujar pangeran.

Tatiana terdiam dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Di dalamnya, ia melihat pedang berwarna perak dengan ukiran keluarga Alice di sekitar pegangannya. Gadis itu mengambilnya dan menyerahkannya kepada pangeran.

“Apa maksudmu?!”

“Kalau begitu, maka bunuh saja saya sekarang, Yang Mulia. Karena saya terlanjur mencintai anda.”ujar Tatiana.

“Lagipula, aku juga bukan murni seorang bangsawan. Untuk pertama kalinya aku mengetahui kebenaran ibu ku. Lebih baik saya mati di tangan anda, Yang Mulia!”

“Tatiana…..”

“Saya mencintai anda, Yang Mulia. Oleh karena itu, bunuh saya sekarang juga!”

“Aku tidak bisa melakukannya, aku melakukan ini demi ayahanda.”ujar pangeran.

“Kalau begitu, nikahi saya, Yang Mulia. Darah memang kental daripada air, tapi….”ujar Tatiana.

Tatiana menghentikan ucapannya, keheningan mendominasi sejenak. Hingga gadis itu berbicara kembali.

“Yang Mulia, apakah….anda mencintai saya?!”

“Katakan dengan jujur! Apakah anda mencintai saya?! Pasti ada alasan anda menyetujui perjodohan dengan saya, bukan?!”

“Jawab aku, Philip Winstom!!!”ujar Tatiana.

Pangeran hanya terdiam. Rasa kalut menyelimuti hatinya. Di sisi lain, ia tida ingin Tatiana tersakiti. Tapi, di sisi lain ia tidak ingin janji ayahnya diingkari. Dengan pelan, pangeran itu menjawab,

“Aku,,,, mencintainya.”jawabnya dengan lirih.

“Mencintai(nya)??!!”

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.