Profil instastories

Tersesat

Hari minggu, tentunya hari yang selalu dinantikan oleh setiap orang yang bekerja ataupun sekolah tak terkecuali aku. Kami yang terdiri dari aku, adikku, dan empat temanku yaitu Deni, Indra, Imam dan Sani berencana untuk bermain bersama. Saat itu, Deni yang menjadi salah satu temanku yang paling dekat mengajak kami untuk bermain disungai. Letak sungai itu ada di hutan yang tak jauh dari rumahku
"Hey, gimana kalo kita main disungai aja. Kayaknya seru nih jam segini main basah-basahan," Ajak Deni padaku dan teman lainnya.
"Tapi, Den .. Kalo kita ke sungai tanggung, bentar lagi kan Ashar," saranku pada Deni.
"Iya sih, tapi gak papa Lam. Kan biar sekalian mandi sore juga, hehehee," jawab Deni.
"Yasudah terserah deh, gimana nih yang lain?" Tanyaku pada teman yang lainnya.
"Ayo-ayo aja kita mah," jawab teman yang lain.
"Yaudah, bentar. Aku mau ijin dulu ke mamah sekalian ijin bawa adekku juga," pintaku pada teman yang lain.
Aku pun bergegas pergi masuk ke dalam rumah dengan maksud untuk meminta ijin bermain di sungai.
"Nggak ah Lam, udah mau sore gini. Kalo mau main, selain kesitu mamah ijinin. Kalo kesana, nanti kesorean disana, ngeri ih." Jawab mamahku.
"Tapi, mah. Aku sama adek pengen renang sekalian nyari kerang-kerang sungai yang kecil. Ya mah yah, bentar kok. Gak bakal lama, beneran deh. Maaaahh," ucapku dengan nada lirih.
"Yaudahlah terserah. Tapi inget yah ashar langsung pada pulang." Ucap mamah.
"Oke mah, terima kasih," jawabku sambil berlari keluar rumah
"Gimana?diijinin?" Tanya teman-teman padaku.
"Beres, diijinin kok. Tpi ashar udah pulang yah kita," jawabku pada teman-teman.
"Oke", jawab teman-temanku serempak.
Kami pun bergegas pergi menuju sungai dengan beramai-ramai. Sesampainya disana, kami pun langsung menceburkan diri dan bermain air bersama. Tak sadar, ternyata kami sudah cukup lama di tempat itu. Hingga akupun berinisiatif untuk mengajak mereka pulang.
"Pulang yuk, udah sore nih," ajakku.
"Bentar lagi deh yah, 15 menitan lagi," jawab Deni
"Hmm, yaudah deh," ucapku pasrah.
Tak sengaja, sandal jepit adikku hilang dan sepertinya hanyut. Kamipun bersama-sama berusaha mencari sandal tersebut. Waktu semakin sore, teman-temanku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Udah, lam ayolah pulang aja. Udah sore banget nih." Ajak Indra padaku dan adikku.
"Ihh, bentar dulu dong. Sandal adekku gak ada. Nanti kena omel kalo hilang," ucapku sedih dan bingung.
"Kita udah berusaha nyari, tapi gak ada," tambah Imam.
"Yaudah kalian pulang duluan aja, bentar lagi kita nyusul pulang," jawabku dengan nada kecewa.
"Tapi, lam", ucap Sani padaku
"Udah, kalian duluan aja," ucapku lagi.
"Yaudah, tapi kamu tau jalan pulang kan?" Tanya Deni padaku.
"Iya, tahu kok," ucapku singkat.
"Yaudah kita duluan yah, kamu jangan lama-lama, bentar lagi maghrib." Ucap Deni mengingatkanku
Selepas mereka pergi, aku dan adikku berusaha kembali mencari sandal adikku yang hilang. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Akhirnya, kamipun menyerah dan memutuskan untuk pulang karena hari sudah sangat sore. Tiba-tiba saja aku dan adikku lupa jalan pulang. Saat itu hanya kami berdua. Kurang lebih 20 menit kami berputar-putar dengan perasaan yang panik. Adikku semakin khawatir, sehingga kepanikan yang tadinya tidak kutunjukkan pada adikku tak bisa kusembunyikan lagi.
Sebenarnya, saat itu ada satu orang laki-laki tua disekitar daerah kami tersesat. Tapi, kami tak berani bertanya padanya karena takut terjadi apa-apa berhubung pada saat itu hanya kami berdua di hutan.
Saat itu, aku hanya bisa berdo'a semoga ada yang menolong kami. Haripun mulai gelap, aku semakin panik. Aku tak kuasa melihat adikku. Aku semakin gencar berdo'a dan berjanji tidak akan main lagi ke sungai tengah hutan ini.
Saat kami mulai pasrah, tiba-tiba seorang pemuda memanggil dan menghampiri kami. Pemuda itu ternyata tetanggaku yang disuruh orang tuaku untuk mencari kami karena tidak pulang-pulang. Padahal mamah melihat teman-temanku yang lainnya sudah pulang melewati rumahku.
"Ilam sama adeknya mana?" Tanya mamah.
"Dia masih disana, nyari sandal adeknya yang hilang," jawab Deni.
"Kenapa gak kalian ajak pulang juga?" Tanya mamahku khawatir.
"Kita udah ajak, tapi katanya nanti dulu," jawab Deni lagi.
Setelah peristiwa itu, aku sangat bersyukur sekali karena masih diberikan kesempatan untuk pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga. Sejak saat itu juga, aku sudah kapok untuk bermain ke sungai dan berjanji untuk tidak kesana lagi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani