Profil instastories

Terimakasih Ari

Terima kasih, Ari

 

Jika boleh memutar waktu, dalam setiap doa akanku minta agar rasa ini hadir tepat pada waktunya. Tidak seperti sekarang, rasa ini hadir pada waktu yang salah. Memporak-porandakan hati yang semulanya tenang. Mengganggu konsentrasi hingga aku lupa segalanya. Ingin sekali rasanya aku menjerit agar rasa ini segera pudar. Aku tak bisa menahan gejolak hati yang terus meronta. Inginku berbagi pada orang lain, tapi pada siapa? Bukannya aku tak memiliki sahabat, hanya saja aku takut untuk berbagi. Berbagi sesuatu yang menurutku adalah privasi itu sangat berat rasanya. Aku ini pengecut. Takut dengan resiko yang akan terjadi jika aku membaginya pada orang lain.

"Na, kamu di panggil Ari" Lamunanku hilang begitu saja  kala Vira menyebut nama Ari.

Hatiku yang sedari tadi gusar semakin gusar saat aku melihat Ari berjalan ke arahku. Jantung ini kembali berdetak dua kali lebih cepat kala Ari mengulum senyum manisnya padaku. Ingin rasanya aku menghentikan detak jantung ini, agar rasa yang selama hampir 3 tahun bersarang di hatiku segera hilang.

"Kamu bisa kan Na ngajarin aku nanti" Tanya Ari saat ia sudah ada di hadapanku.

"Apa ya Ar?" Aku hanya menatap Ari sekilas dan kembali mengalihkan pandanganku ke depan. Entah kenapa aku tidak berani untuk bertatapan langsung dengan dirinya. Ada gejolak aneh dalam diri ini jikalau aku menatap Ari.

"Yaampun Na masa kamu lupa sih" Aku dapat melihat Ari yang tertawa sekilas melalui ekor mataku.

"Kemarin kamu kan bilang mau buat ngajarin aku fisika tentang jangka sorong" Seketika aku menoleh ke arah Ari yang menatapku dengan senyum simpulnya.

"Aku lupa loh Ar" Jawabku dengan sedikit tertawa. Sebenarnya aku tidak lupa sama sekali, hanya saja saat ini aku berusaha untuk menjaga jarak dengannya.

"Yaudah gimana kalau nanti aja kita belajarnya Na? Sepulang sekolah" aku yang memang masih menatap Ari dapat melihat dengan jelas wajah bahagia Ari, seakan ia begitu menginginkannya.

"Hmm, aku kayaknya gak bisa Ar. Aku udah janji pulang cepat karena di rumah lagi ada acara" Sahutku dengan senyum tipis pada Ari.

Bohong. Tentu saja aku berbohong. Aku sengaja melakukannya agar tidak begitu dekat lagi dengan Ari. Aku tidak ingin lagi larut dalam perasaan yang tidak menentu ini. Aku tidak ingin Ari kembali memberi perhatian lebih padaku. Ari itu cowok yang baik, ia ramah dan peduli pada semua orang. Tapi aku merasa kalau perhatian Ari pada ku itu berbeda, ia selalu memberiku perhatian lebih sejak awal kita bertemu. Bahkan hal sekecil apapun yang aku saja tidak peduli, Ari selalu mengingatkannya padaku. Awalnya aku hanya biasa saja. Aku menganggap bahwa ke pedulian Ari terhadapku itu adalah hal yang lumrah. Tapi setelah aku perhatikan hampir satu tahun ke dekatan kami, aku merasa kalau Ari punya perasaan lebih padaku. Terlebih lagi teman-temanku selalu menyoraki aku dan Ari kalau kami memiliki hubungan spesial. Aku hanya menanggapi hal itu dengan senyuman,  walau aku merasakan hatiku bergetar karenanya. Karena jujur aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Berbeda dengan Ari yang menanggapi hal itu seolah ia sangat bahagia karenanya.

Semakin hari aku dan Ari semakin dekat. Sering kali aku memergoki Ari menatap diriku dengan senyuman yang menampakkan behel merahnya itu. Tapi aku seolah olah tidak tau dan bersikap biasa saja setiap bersama Ari. Hingga dua tahun ke dekatan kami, aku merasakan Ari mulai berubah. Walaupun ia tetap memberi perhatiannya padaku, tapi ia sudah jarang menemui bahkan memintaku untuk mengajarinya pelajaran yang tidak dia mengerti. Aku lebih sering melihatnya dengan teman perempuan kelasnya, tertawa lepas seperti saat ia bersamaku dulu. Aku bingung dengan hatiku yang terasa tercubit karena hal itu. Aku tidak mengerti perasaan apa ini, bahkan aku merasakan mataku memanas setiap melihat pemandangan itu. Hampir satu tahun aku merasakan hal seperti itu, tapi aku tetap tidak sadar akan perasaanku ini, dan aku hanya beranggapan kalau ini hanya perasaan kagum semata.

Karena Ari begitu peduli padaku.

Sampai pada saat perpisahan kenaikan kelas XI pada Mei 2017, aku dan Ari kembali seperti setahun yang lalu.  Ari kembali memberikan perhatian kecil lagi padaku. Kami kembali dekat hingga perasaan yang selama ini takku sadari kembali hadir. Tapi dengan rasa yang berbeda, aku menyadari kalau ini bukan hanya perasaan kagum semata tapi lebih. Aku mulai merasakan hatiku goyah. Hati yang selama ini aku jaga dengan tembok yang kokoh mulai runtuh. Kunci hatiku telah berhasil di rampas, hingga aku merasa benar benar tersakiti kala Ari kembali menjauh dariku. Aku pernah beranggapan kalau Ari hanya memanfaat aku, tapi setelahnya aku sadar bahwa Ari tulus berteman denganku. Karena ia selalu ada saat aku butuhkan, bahkan ia kembali memberi perhatian lebih padaku.

"Nanti jangan lupa belajar ya Na, ujian kimianya susah bener. Aku aja banyak nyontek" Tutur Ari sambil cengengesan padaku. Aku hanya tersenyum mendegar penuturan Ari tersebut. Entah kenapa lidahku seakan kelu untuk membalas perkataannya.

Hatiku yang baru mulai bisa menerima kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan,  kembali bergetar karena perhatian kecil dari Ari. Ia selalu saja mengingatkan tentang hal ini padaku sejak 3 hari yang lalu saat aku mulai mengikuti UKK susulan karena sakit. Aku tidak berharap Ari membalas perasaanku, karena aku juga tidak pernah membaginya pada Ari atau pun sahabatku lainnya. Menurutku rasa pada Ari ini cukuplah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku tidak berani dengan resikonya jika orang lain atau pun Ari mengetahuinya. Menurutku perasaan itu adalah hal pribadi dan cukup hanya Tuhan yang tahu, dan aku hanya percaya pada-Nya sebagai tempat curhat paling aman.

Semenjak saat itu aku mulai berfikir. Dimana kesalahanku selama ini, sampai aku tidak bisa menjaga hatiku hingga Ari berhasil merampasnya. Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk mencari tahu dimana kesalahanku. Hingga akhirnya aku menemukan jawabannya. Semenjak saat itu pula lah aku mulai memperbaiki diri. Mulai memantapkan hatiku untuk istiqomah di jalan-Nya, karena-Nya dan hanya berharap pada-Nya.

Aku sadar, kalau selama ini hanya penampilanku yang hijrah. Sedangkan hatiku masih goyah, aku belum mampu mengendalikan diri ini. Aku belum bisa memantapkan imanku pada-Nya. Aku tidak bisa menjaga hati ini untuk orang yang tepat, hanya karena kepedulian Ari imanku goyah. Aku berharap lebih hingga lupa akan istiqomahku. Aku tidak bisa menjaga pandanganku hingga terbuai akan senyum manis Ari padaku. Tapi mulai sekarang, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan memantapkan istiqomahku pada-Nya. Aku juga mulai menjaga jarak dengan Ari, walaupun kami masih sering berinteraksi. Aku juga mulai menjaga pandanganku, agar istiqomahku tidak goyah lagi. Aku bersyukur Ari hadir dalam hidupku. Aku tidak menyesal karena Ari telah berhasil merampas kunci hatiku. Kunci yang aku jaga hingga waktunya tiba kelak. Awalnya aku memang menyalahkan Tuhan dalam hal ini, tapi aku sadar rasaku pada Ari itu juga ujian yang di berikan Allah padaku. Tapi ternyata, aku gagal dalam ujian itu. Aku tidak menyesal, karena ujian ini aku bisa memperbaiki diri. Aku bisa mengenali dimana kesalahanku selama ini.

 

Terima kasih Ari. Karenamu aku lahir sebagai pribadi yang baru. Aku tidak marah karena sikap mu yang berhasil merobohkan dinding hatiku. Aku bersyukur, karena rasa ini kamu memberi pengaruh positif dalam hidupku . Aku bisa lebih dekat dengan-Nya, dan memantapkan imanku pada-Nya. Sekarang aku mengerti bahwa rasa ini cukupalah di simpan dalam diamku saja. Hingga seiring berjalannya waktu, rasa ini akan pudar dengan sendirinya.  Di iringi dengan lantunan doa suci dan tawakkalku pada-Nya, aku percaya Tuhan akan mengembalikan kunci hatiku dan menjaganya sampai waktu yang tepat.

Terima kasih Ari.

 

Payakumbuh, 5 Mei 2018

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani