Teriak Nakes Honorer Bergemuruh di Patung Kuda: ASN Harga Mati!

Trending 1 week ago 10
ARTICLE AD BOX

Kelompok honorer tenaga kesehatan (nakes) dan non-nakes menggelar demo untuk mendesak pemerintah segera mengangkat mereka menjadi ASN. Massa honorer tenaga kesehatan (nakes) dan nonnakes menggelar demo di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (22/9). (Instastori)

Jakarta, Instastori Indonesia --

Kelompok honorer tenaga kesehatan (nakes) dan non-nakes menggelar demo di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (22/9).

Massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Honorer Nakes dan Non-Nakes (FKHN) itu menuntut pemerintah agar segera mengangkat mereka menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Pantauan Instastori.com di lokasi, massa tiba di kawasan Patung Kuda sekeliling pukul 08.45 WIB. Mereka kompak mengenakan pakaian berwarna putih sembari membawa berbagai atribut.

Beberapa di antaranya seperti bendera, slayer, spanduk, hingga poster. Berbagai atribut itu bertuliskan protes hingga tuntutan kepada pemerintah.

Sebagian besar menyuarakan tuntutan utama yang disuarakan dalam aktivitas hari ini, merupakan agar diangkat menjadi ASN. Massa juga menyinggung pengorbanan selama menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

"ASN harga mati! ASN harga mati! ASN harga mati!" teriak massa saat melangkah menuju Patung Kuda.

Massa aktivitas juga menuntut Presiden Joko Widodo segera menerbitkan peraturan presiden yang spesifik mengatur honorer nakes dan non-nakes agar dapat diangkat menjadi ASN.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya telah menjanjikan pemerintah akan mengangkat tenaga kerja honorer di bidang kesehatan sebagai ASN atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Budi menyebut pengangkatan honorer nakes jadi PNS dilatarbelakangi kondisi sektor kesehatan yang kekurangan sumber daya manusia. Sebagai gambaran, kata Budi, tetap ada 586 dari total 10.373 puskesmas yang tak punya dokter.

Selain itu, 5.498 dari 10.373 puskesmas atau 53 persen Puskesmas belum mempunyai sembilan jenis tenaga kesehatan sesuai standar. Ditambah hanya 302 dari 608 atau sekeliling separuh RSUD kelas C dan D saja yang sudah mempunyai tujuh dokter spesialis komplit alias yang memenuhi standar nasional. Sedangkan sisanya tetap kompromi.