Profil instastories

Terbagi

"Mau kamu apa sih, Mas? Aku sudah lelah hidup seperti ini!" bentakku pada Mas Arya——suamiku.

 

"Apa sih, Bun? Aku baru pulang kerja Sayang. Tolong kamu pahami sedikit." Mas Arya merebahkan tubuh di kasur.

 

Aku menarik kerah bajunya. "Aku butuh penjelasan, Mas. Penjelasan!" tekanku.

 

"Penjelasan apalagi? Bukankah sudah kubilang bahwa aku tidak memiliki hubungan dengannya. Anita hanya sekretarisku di kantor!" bentak Mas Arya padaku.

 

"Ah, sudahlah!" Aku melenggang meninggalkan Mas Arya di kamar.

 

Aku Alia, wanita berusia dua puluh tujuh tahun, istri Mas Arya. Usia pernikahan dengan Mas Arya sudah memasuki tahun ketiga, tetapi kami masih belum dikaruniai momongan. Mas Arya adalah seorang Manajer Marketing di kantor. Ia sangat sibuk, bahkan seringkali tugas luar kota. Baru kemarin Mas Arya pulang, lusa sudah akan pergi lagi.

 

"Bun, lusa aku ada tugas luar kota lagi," ucapnya seraya memegang tanganku. "ke Jogja," sambungnya.

 

Aku membuang muka, menarik telapak tangan yang digenggamnya. Kesal!

 

"Jangan marah, Sayang ... ini 'kan tugas kantor. Sudah selayaknya aku pulang pergi seperti ini."

 

Aku menatap kedua bola matanya, "Kenapa harus kamu lagi, Mas? Apa gunanya wanita itu?" tanyaku ketus.

 

"Anita? Tentu saja dia ikut. Dia 'kan sekretarisku. Jadi kemana pun aku pergi, dia akan ikut denganku," tegasnya. "eh, tetapi ini berlaku hanya untuk tugas kantor. Jadi kamu jangan risau ya, Sayang. I love you!" Mengecup kening lalu melenggang entah ke mana.

 

Pukul 22:00 WIB

 

Malam ini cuaca begitu dingin. Butiran air dari langit mulai turun beriringan, semakin menambah syahdunya malam. Kulirik Mas Arya sudah terlelap sedari tadi, pulas! Iseng kuraih gawai miliknya yang diletakkan di atas nakas di samping tempat tidur. Beruntung, aku mengetahui password gawai miliknya, jadi aku bisa membuka dengan cepat. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka aplikasi chatting whatsapp miliknya. Ada satu nama yang menarik perhatian.

 

'Anita'.

Penasaran apa yang mereka bicarakan, dengan segera jariku membuka chat milik Anita yang sebelumnya hanya bercentang biru. Astaghfirullah, hatiku sungguh tak karuan ketika melihat obrolan mereka. Tak terasa butiran air bening menetes di pelupuk netra.

 

Anita: Sayang, lusa jadi liburan ke Jogja, 'kan? 😍.

 

Mas Arya: Jadi dong, Sayang!😍. Mas sudah pesan tiket kereta untuk kita berdua😊 (Mengirim foto tiket kereta).

 

Anita: Oke, kamu jemput aku jam berapa?

 

Mas Arya: Nanti aku kabari ya, Sayang. Sekarang Mas masih berusaha meyakinkan istri Mas dulu agar dia tidak curiga dengan kepergianku nanti.

 

Anita: Aih, wanita itu lagi! Kapan aku jadi yang nomor satu? Aku lelah jadi yang kedua, Mas!😢

 

Mas Arya: Walaupun kamu yang kedua, tapi kamu 'kan selalu Mas nomor satukan.

(Hanya centang biru).

 

"Astaga, tega sekali kamu Mas!" batinku.

 

Aku menatap Mas Arya yang tengah tertidur pulas. Laki-laki sholeh yang kupikir begitu menyayangi diriku luar dalam, ternyata tega mendua dengan wanita lain.

Setelah tiga tahun kami menikah, kupikir rumah tangga kami akan baik-baik saja seperti kebanyakan orang di luar sana. Setahun ... dua tahun berlalu, rumah tangga kami begitu harmonis. Mas Arya sangat menyayangiku. Walaupun ia sibuk, ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon. Namun, setelah memasuki tahun ketiga, tepatnya tiga bulan lalu ketika Mas Arya diangkat menjadi manajer marketing di kantor, sikap Mas Arya mulai berubah. Walaupun di depanku dia masih bersikap semanis dulu, tetapi aku tahu benar letak perubahan suamiku. Perangainya berbeda, aku bisa merasakan. Biasanya dia selalu menelepon ketika jam istirahat dan menjelang jam pulang kerja karena dia meminta diriku untuk memasak menu yang dia inginkan, tetapi sekarang berbeda. Sama sekali dia tidak pernah menelepon lagi, bahkan dia sering pulang malam dengan beralasan lembur di kantor atau baru saja menemui klien di luar.

 

Mas Arya memang terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan, rumah yang kami tempati saat ini merupakan hadiah pernikahan dari orang tua Mas Arya. Ayah dan ibunya memang bukan orang biasa, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka jarang pulang ke rumah, sehingga dulu Mas Arya hanya memiliki sedikit waktu bermain dengan orang tuanya. Sejak kecil Mas Arya memang terbiasa tinggal berdua dengan asisten rumah tangga, Mbok Inem. Hanya Mbok Inem yang selalu mengerti keinginan Mas Arya. Sampai saat ini, Mas Arya menganggap Mbok Inem adalah ibu kedua baginya.

 

"Aku memang bukan wanita sholehah. Pun, aku belum memenuhi kewajiban sebagai istri, Mas. Aku belum mampu memberimu keturunan. Namun, apakah pantas kau melakukan itu padaku? Kau pergi berlibur dengan wanita yang bukan mahrammu, Mas. Apa sehina itu aku dihadapanmu? Sampai kau tega mengajak wanita lain berlibur bersamamu bukannya aku, istrimu ini." Aku menangis dalam sepertiga malam. Kuambil air wudhu dan melaksanakan shalat tahajud ditambah dengan shalat istiharah untuk meminta petunjuk dari-Nya. Sungguh lelah diriku menghadapi situasi ini. Tidak ada bahu untuk bersandar, tetapi aku yakin masih ada sajadah untuk bersujud.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani