Taylor Swift Punya 3 'Pena' kala Menulis Lirik Lagu

Trending 1 week ago 14
ARTICLE AD BOX

CNN Indonesia

Kamis, 22 Sep 2022 20:36 WIB

Bagikan :  

Taylor Swift memberikan pidato 13 menit yang berisi pendekatannya terhadap menulis lagu. Taylor Swift memberikan pidato 13 menit yang berisi pendekatannya terhadap menulis lagu. (AFP/VALERIE MACON)

Jakarta, Instastori Indonesia --

Taylor Swift ungkap metode uniknya saat menulis lagu. Hal ini ia ungkapkan saat menerima penghargaan Songwriter-Artist of the Decade dari lembaga Nashville Songwriters Association International.

Saat menerima penghargaan di Auditorium Ryman di Nashville pada Selasa (20/9), Swift memberikan pidato 13 menit yang berisi pendekatannya terhadap menulis lagu selama merekam ulang enam album pertamanya.

"Saya di sini menerima penghargaan yang bagus ini setelah satu dasawarsa bekerja, dan saya tak dapat mendeskripsikan betapa senang rasanya. Karena menurut saya, ini ialah penghargaan yang merayakan puncak kumpulan momen-momen," ujar Swift sembari memegang piala.

Pelantun All Too Well itu menjelaskan pola pikir spesifik yang ia terapkan saat menulis lagu. Ia menempatkan lagu-lagunya menjadi tiga kategori genre berdasarkan langkah menulisnya, merupakan quill alias pena bulu, fountain pen alias pena tinta, dan glitter gel alias pena gel kelap-kelip.

Lirik-lirik lagu quill menggunakan rangkaian diksi dan frasa yang memberikan kesan 'kuno'. Sebab, Taylor Swift terinspirasi menulis lagu-lagu model itu setelah membaca buku-buku klasik atau menonton film berlatar era dahulu kala.

"[Saya] terinspirasi untuk menulisnya setelah membaca [buku] Charlotte Bronte atau setelah menonton film di mana seluruh orang mengenakan kemeja dan korset," kata Swift.

Salah satu lagu yang Swift sebut masuk kategori quill ialah Ivy dari albumnya bertajuk evermore yang rilis pada 2020.

[Gambas:Video CNN]

Kemudian, ada lagu-lagu yang ia tulis dengan gaya fountain pen, merupakan lagu-lagu yang mempunyai alur cerita modern atau unsur-unsur yang berhubungan dengan era sekarang tetapi dikemas dengan bahasa puitis. Dalam menulis lagu seperti itu, Swift seringkali mengambil peribahasa yang cukup umum, tapi ia putar balik artinya.

Selain itu, lagu-lagu yang ditulis bagaikan surat berisi tuangan hati yang akhirnya tak jadi dikirim ke seseorang juga masuk ke dalam kategori fountain pen. Contoh lagu yang ia maksud ialah lagu populernya All Too Well yang kemudian ia rilis ulang menjadi All Too Well (10 minute version),

"[Saya] mencoba memberi gambaran jelas tentang suatu situasi, mulai dari cat yang mulai terkelupas di kusen pintu dan debu di rak vinil. [Dengan] menempatkan diri Anda dan siapa pun yang mendengarkan di ruangan tempat seluruh itu terjadi," jelas Swift.

Terakhir, lirik yang ditulis dengan gaya glitter gel pen yang mempunyai nuansa ceria, asyik, riang dan cocok dengan irama upbeat. Lirik-lirik seperti itu, menurut Swift, 'tidak menganggap diri mereka terlalu serius jadi orang juga jangan beranggap mereka serius'.

"[Lirik-lirik itu] bagaikan seorang wanita mabuk di pesta yang memberitahumu bahwa anda terlihat seperti malaikat di kamar mandi," ungkap Swift.

Ia kemudian menyebut lagu hitsnya Shake It Off dari albumnya 1989 yang rilis 2014 sebagai contoh lirik glitter gel pen.

Gif banner Allo Bank

Sebelumnya, Taylor Swift mengunggah pengumuman formal soal album Midnights. Unggahan di akun Instagram tersebut berupa kover album dan secarik prakata yang ia tulis soal album ke-10 itu.

"Midnights, cerita 13 malam tanpa tidur yang tersebar sepanjang hidupku, akan keluar 21 Oktober. Temui saya kala tengah malam," tulis Swift.

"Kita terbaring terjaga dalam cinta dan ketakutan, dalam kekacauan dan air mata. Kita menatap tembok dan minum hingga mereka kembali bicara," tulis Taylor Swift.

Taylor Swift bakal merilis album kesepuluhnya Midnights pada 21 Oktober mendatang.

(tdh/end)

Bagikan :