Profil instastories

Tawu Moyitomo

 

Dahulu kala di daerah Gorontalo ada seorang laki-laki yang seluruh tubuh dan wajahnya hitam pekat seperti arang. Orang-orang sering menyebut dirinya Tawu Moyitomo atau orang yang hitam. Pada suatu waktu, warga desa diresahkan dengan kehadiran Tawu Moyitomo yang menampakkan dirinya di malam hari. Karena seluruh tubuh dan wajahnya yang hitam disaat malam tidak akan terlihat, hanya dua bola matanya yang terlihat terang seperti senter semakin membuat warga ketakutan. Ditambah lagi ia yang suka masuk ke rumah warga-warga yang tertidur pulas. Dia suka memandangi satu kelurga yang tertidur, itu membuatnya mengingat keluarganya. Namun ada beberapa warga yang terbangun dan kaget melihat kehadiran Tawu Moyitomo di tengah malam dalam rumahnya dan mereka berteriak minta tolong. Ia memang tidak melakukan apa-apa, hanya suka memandangi wajah satu keluarga yang tertidur. Namun, tabiatnya yang seperti itu semakin membuat warga ketakutan padanya. Karena menyadari keresahan dan ketakutan warga padanya, ia pun menghilang dengan sendirinya. Tawu Moyitomo memang seperti itu, selalu menghilang dan menampakkan diri sesukanya. Setelah berhari-hari warga tak nampak kehadiran Tawu Moyitomo, mereka pun merasa tentram kembali. Namun, tak satu pun di antara mereka yang mengetahui bagaimana perasaan di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia hanya merindukan berkumpul bersama keluarganya lagi.

Dula nama laki-laki yang hitam itu sebelumnya. Di rumah yang besar Dula tinggal bersama Ayah, Ibu dan Adik perempuannya. Hidup mereka memang terbilang kaya, Ayah Dula semasa itu adalah pedagang yang sukses. Waktu kecil anak-anak itu sering dimanjakan oleh orang tuanya, hingga apapun yang anak-anaknya inginkan selalu terpenuhi. Saat dewasa Dula tumbuh menjadi laki-laki yang rupawan. Sedangkan adik perempuannya tumbuh menjadi gadis ayu yang cantik jelita. Namun naas setelah bertahun-tahun hidup dengan kekayaan, kini keluarganya ditimpah musibah. Ayahnya jatuh sakit dan kelurganya jatuh miskin. Kemiskinan itu disebabkan Ayahnya yang sakit keras tidak bisa lagi memberikan nafkah untuk keluarganya. Semua harta dan perabotan di dalam rumahnya ludes untuk mengobati penyakit Ayahnya dan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Perubahan dalam hidupnya membuat Dula menjadi tak bersemangat, sifatnya pun berubah. Ia menjadi pembangkang pada orang tuanya. Selalu menyalahkan Ayahnya yang jatuh sakit dan menjadi miskin. Keinginan Dula untuk menjadi kaya kembali membuatnya berpikir pendek. Ia telah tergoda dengan kehidupan dunia yang membuatnya terjerumus dalam kesesatan. Setiap malam ia pergi ke rumah dukun dan melakukan hal-hal yang melanggar aturan Tuhan. Ia memiliki perjanjian dengan dukun tersebut. Yakni, jika ia menjadi kaya raya akan membagi rata hartanya dengan dukun itu dan memenuhi segala permintaan dukun tersebut. Jika melanggarnya ia akan kehilangan segalanya. Dula bersedia akan menepati janji itu. Maka pada hari yang telah disepakati, dukun tua memberikan Dula sebotol air yang telah dibumbuhi dengan mantra yang dikomat-kamit dari mulutnya. Dukun itu sempat berpesan kepada Dula. “Siramkanlah air botol itu pada sebidang tanah di dalam rumahmu, kemudian buatlah lubang yang cukup dalam pada tanah yang telah disirami air tersebut dan jangan ada siapapun yang tahu apa yang terdapat dalam lubang tersebut”. 

Segera Dula bergegas pulang ke rumahnya, ia sudah tidak sabar ingin melaksanakan apa yang diperintahkan oleh dukun itu. Saat tengah malam setelah semua orang tertidur pulas, ia segera melancarkan aksinya. Dula diam-diam pergi ke dapur dan menyirami sebidang tanah dengan air dalam botol seperti perintah dukun itu sebelumnya. Kemudian ia menggali tanah yang telah disirami untuk membuat lubang yang sangat dalam. Setelah merasa tanah yang digalinya sudah menjadi sebuah lubang yang cukup dalam, Dula pun berhenti menggali dan menunggu apa yang akan terjadi sesudahnya. Tiba-tiba keluar mata air dari dalam lubang yang digali Dula. Ia terkejut dan merasa heran. “Kenapa hanya air yang keluar? Diendus-enduskan hidungnya, rupanya Dula mencium bau yang lain. “Ini bukan air tapi minyak tanah”. Ujar Dula yang menyadari air tersebut adalah minyak tanah. Dula cepat-cepat naik ke atas karena minyak tanah itu semakin memenuhi lubang tersebut. Maka, terpenuhilah keinginan si Dula. Ia sukses dan menjadi kaya raya. Pedagang minyak tanah yang tersohor membuatnya menjadi sangat sombong. Dula selalu membanggakan dirinya sendiri pada orang tuanya. “Lihatlah! “Aku menjadi orang yang kaya raya, semua menjadi milikku”. “Tak ada yang tak bisa ku miliki di dunia ini”. Melihat hal itu orang tua Dula juga senang bahwa anaknya menjadi pedagang yang sukses seperti Ayahnya dulu. Hanya saja, yang membuat kesedihan di wajah mereka adalah sifat dan perilaku Dula yang telah berubah. Ia bukan lagi Dula yang dulu, Dula yang sekarang begitu angkuh dan congkak. 

Dula dengan segan mengancam dan melarang Ibu, Ayah dan Adik perempuannya membuka lubang yang telah ditutupinya. Tidak satu pun dari mereka yang dibiarkan untuk mendekati lubang itu. Tentu saja ia melarang siapa pun mendekati lubang itu. Karena di dalam lubang itulah sumber kekayaan Dula dan jika ada orang selain Dula yang melihat ke dalam lubang itu maka akan menipislah apa yang telah diperolehnya. Orang tua dan adiknya tidak tahu bahwa minyak tanah yang diperoleh Dula berasal dari dalam rumahnya sendiri. Mereka pun patuh pada Dula dan tidak pernah sama sekali ingin mendekati lubang itu. 

Untuk merayakan kesuksesannya, Dula akan mengadakan pesta besar dengan mengundang kerabat kaya dan juga dukun saktinya. Pesta itu pun berlangsung pada malam hari, para tamu yang datang benar-benar terkesan dengan Dula. Banyak para tamu yang memuji keberhasilan dan kesuksesannya. Tidak jauh dari tempat Dula berdiri, dukun saktinya senyum-senyum sendiri mendengar pujian demi pujian yang di berikan pada Dula. Ia merasa bangga diri juga, karena ia menganggap semua yang telah dimiliki dulu adalah berkat dirinya. Dukun itu tidak terlihat seperti kesehariannya, ia mengenakan pakaian yang rapi dan nampak membuatnya terlihat seperti kerabat kaya lainnya. Ia sangat menikmati pestanya, tapi tiba-tiba matanya terperanjat pada seorang gadis ayu yang menyapa para tamu dengan senyumannya. Itu adalah Adik perempuan Dula. Dukun itu telah jatuh cinta pada Adik perempuan Dula. Terbesit juga niat di dalam hatinya ingin mempersunting gadis itu, padahal ia telah beristri dan mempunyai lima orang anak. “Bagaimana jika Adikmu kau berikan juga padaku? Pinta dukun itu pada Dula. “Bukankah harta adalah segalanya bagimu dan adikmu bukanlah apa-apa”. Mendengar perkataan dukun itu, Dula hanya tersenyum sinis. Ia menyadari bahwa dukun tersebut ternyata sangat tamak. Ia pun berjanji akan mengirimkan adiknya untuk dinikahi oleh dukun itu. 

Pada waktu yang telah dijanjikan, Dula mengirim seorang gadis ke tempat dukun itu. Namun, yang dikirim Dula bukanlah adiknya melainkan gadis desa lainnya. Dukun itu pun menyadari dan merasa telah dibodohi oleh Dula, ia pun menjadi murka. Secepatnya ia mengajak Dula untuk bertemu di malam harinya. Dengan akal bulusnya Dukun itu akan mencelakai Dula. Namun apa yang direncanakan oleh dukun itu telah sampai di telinga Dula. Gadis yang dikirim Dula ke rumah itu diam-diam memata-matai dukun tersebut dan segera ia memberikan kabar kepada Dula. Dula pun menyusun rencananya. Akhirnya niat jahat dukun itu gagal, karena Dula telah lebih dulu membinasakan dirinya. Sebelum dukun itu menemui ajalnya, ia masih sempat menyumpahi Dula. “Aku bersumpah kau akan kehilangan segalanya!” Sumpah dukun itu terasa seperti petir yang menyambar telinga Dula, angin pun bertiup begitu kencang menerpa tubuhnya namun ia tak menjadi goyah sama sekali. Kemudian Dula teringat dengan orang tua dan adiknya di rumah, ia tidak mahu terjadi apa-apa pada mereka. Secepat mungkin ia berlari pulang ke rumahnya. Di dalam rumahnya, Ibu Dula merasa gelisah, ia khawatir pada Dula yang pergi entah kemana. Semua pelita yang telah dinyalakan oleh Ibu Dula selalu saja mati diterpa angin. Maka Ibu Dula pergi ke dapur hendak menyalahkan kembali pelita ditangannya. Setelah menyalahkan pelita terbesit niat di dalam hatinya, ia penasaran ingin membuka tutup lubang itu dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ibunya menerangi lubang itu dengan pelita di tangannya. Ia semakin mencondongkan kepalanya ke dalam lubang karena ingin melihat lebih jelas lagi. Namun Ibu Dula kehilangan keseimbangan sehingga pelita yang dipegangnya jatuh ke dalam lubang. Langsung saja dari lubang itu keluar percikan api yang membesar dan membuat lubang itu meledak serta membakar Ibunya, seisi rumah pun ikut terbakar beserta Ayah dan juga Adiknya. 

Ketika Dula sampai di rumahnya, Apinya pun telah padam. Ia tak melihat lagi rumah besarnya yang berdiri kokoh. Rumahnya telah hangus terbakar dan menjadi abu begitu pun dengan Ayah, Ibu, dan Adiknya. Mereka ikut terbakar di dalamnya. Apinya yang besar tidak bisa segera dipadamkan warga, hingga melahap seisi rumah itu termasuk Ayah, Ibu dan Adiknya yang terjebak di dalamnya. Dula menyesali semua perbuatannya. Namun tak ada gunanya penyesalannya saat itu. Nasi telah menjadi bubur. Sekarang Dula meratapi nasibnya, ia baru menyadari bahwa keluargalah harta yang paling berharga di dunia ini. Dula merasa semakin terpuruk. Semua perbuatannya dulu terlintas dalam kepalanya, membuat ia hanya bisa tertunduk meneteskan air mata. Terbayang kembali wajah Ayah, Ibu dan Adiknya membuat Dula tak dapat lagi membendung air matanya, ia menangis sejadi-jadinya, berteriak-teriak seperti orang yang kehilangan kesadarannya. Lalu dengan sadar ia membaringkan dan mengosok-gosokkan tubuhnya ke abu hitam sisa-sisa rumahnya yang terbakar. “Bakar juga aku!”. Teriak Dula pada api yang telah lama padam. Berhari-hari Dula tak beranjak dari tempat itu. Seluruh tubuhnya menjadi sehitam arang, ia tak mahu mandi dan tidak perduli lagi dengan keadaannya. Hidupnya benar-benar tidak terurus. Setelah berbulan-bulan barulah ia bangkit dari tempat itu, terus berjalan seperti orang yang kehilangan arah. Ia tak tahu kemana tujuannya. Karena wajah dan tubuhnya yang menjadi sangat hitam membuat warga sudah tidak lagi mengenali dirinya. Orang-orang kaget dan merasa ketakutan tiap kali berpapasan dengannya. “Tawu Moyitomo!”. Seru warga yang melihatnya. Kini, nama Dula telah dilupakan. Tawu Moyitomo, atau orang yang hitam begitulah sebutan yang telah melekat pada dirinya karena seluruh tubuhnya yang hitam pekat. Konon tersebar kabar bahwa Dula telah tinggal dan bersembunyi di gunung. Ia akan kembali mengunjungi desa jika merasa rindu pada mendiang keluarganya. Seperti biasa ia senang masuk ke dalam rumah warga dan melihat mereka tertidur pulas. Jika hasrat dalam hatinya telah terpenuhi maka ia akan kembali lagi ke tempat persembunyiannya.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani