Profil instastories

Tangis Dalam Sumur

 

 

Berawal dari seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang mendapat tugas dari kampusnya untuk melaksanakan kegiatan penelitian  di kampung Rimbun. Ia bernama Mirna. Mirna berasal dari kota. Kampung Rimbun adalah sebuah kampung kecil yang keberadaannya jauh dari perkotaan. Lokasinya terpelosok sehingga jauh dari bisingnnya keramaian seperti di perkotaan. Sunyi dan sepi sudah tak menjadi suatu hal yang di herankan lagi di kampung ini. Maka tak heran ketika jalan kesana kemari jarang ditemui adanya orang lewat.  

Hari ini pertama kalinya Mirna menginjakkan kaki di kampung Rimbun untuk melaksanakan penelitiannya. Perjalanan dari kota ke kampung Rimbun cukup memakan waktu. Belum lagi Mirna yang belum tau persis lokasinya harus datang seorang diri ke kampung terpencil itu. Perasaannya ragu, namun apa boleh buat ia harus secepatnya menyelesaikan tugas itu agar tidak lagi terbebani. 

Ditengah perjalanannya hampir sampai ke kampung Rimbun tiba-tiba, 

“Kenapa yah perasaanku ko ga enak banget, kumuh banget lagi lingkungannya. Tapi tak apalah mungkin ini cuma perasaanku ajah yang baru kali ini datang ke tempat yang asing kek beginih..” gumamnya dalam hati sambil memandang yang ada disekitar.

Dia berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang negative, positif thinking tidak akan terjadi apa-apa. Lalu ia melanjutkan perjalanan menuju rumah yang akan ditempatinya untuk sementara waktu selama ia melaksanakan penelitian. 

Saat itu ditemui nya seorang wanita parubaya berpakaian kebaya yang sedang berjalan ke arah sungai dengan membawa benda tajam. Wanita itu melihat ke arah Mirna dan tersenyum. Sontak Mirna heran dan langsung memalingkan wajahnya.

“ Siapa ya dia? ko bawanya benda tajam gituh, atau jangan-jangan dia orang jahat.. ih serem banget dah “ celoteh Mirna yang kemudian menengok lagi ke arah wanita parubaya tadi, namun begitu Mirna menengok ke arah wanita yang ditemuinya tadi, wanita itu sudah menghilang. Padahal baru sekejap saja Mirna memalingkan pandangan darinya. Sontak Mirna pun kaget dan langsung berlari untuk mencari rumah yang sedang dicarinya.

Dengan perasaan khawatir Mirna memberanikan diri untuk terus melanjutkan perjalanannya. Ia bertekad untuk bisa menyelesaikan penelitiannya tepat waktu. Apapun yang terjadi dia akan hadapi. Tekad yang kuat untuk cepat menyelesaikan penelitiannya itu membuat dia akan terus mencoba. Karena bagi dia ini belum ada apa-apanya. Mungkin perasaannya saja yang salah, karena baru pertama kali menginjakkan kaki di kampung rimbun itu, jadi serasa ada yang mengganjal.  

Setelah seharian Mirna melakukan perjalanan, akhirnya Mirna menemukan rumah yang akan di huni untuk sementara waktu ini. Kondisi rumahnya masih layak di huni, namun sangat di sayangkan rumah sebagus itu tidak ada yang merawat. 

Ketika sedang mengistirahatkan diri di kursi depan rumah, ada kakek tua berambut putih dengan membawa tongkat menghampiri Mirna. Bisa dikatakan ia sesepuh kampung rimbun itu. 

“ Permisi nak.. kamu ini siapa..? kenapa kamu ada disini..?” sapa kakek tua itu yang menghampiri Mirna dengan suara yang sudah tidak begitu jelas lagi. 

Mirna langsung terbangun dari tempat duduk dan mendekat kepada kakek tua berambut putih itu,

”eee Mohon maaf kek sebelumnya, saya Mirna mahasiswa dari kota, saya mendapat tugas dari kampus untuk melakukan penelitian di kampung ini. Silahkan kek duduk dulu..” ujar Mirna seraya mempersilahkan kakek tua itu untuk duduk.

“Ohh jadi kamu mahasiswa yang dari kota itu?” Ujar si kakek tua

“Iyaa kek, darimana kakek tau saya akan datang kemari?” tanya Mirna 

“Ya sudah nak, pesan kakek kamu hati-hati yah di kampung ini jangan pernah berbuat sesuatu yang dapat mengganggu ketenangan warga kampung sini dan sekitarnya, dan jangan pernah kamu ke sumur yang berada tepat di belakang rumah ini.. ingat ituu..!!” pesan kakek tua pada Mirna.

“Tapi kek, memangnya ada apa dengan sumur yang ada di belakang rumah ini? “ tanya Mirna heran.

Namun si kakek berambut putih itu langsung beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Mirna. Mirna semakin heran apa maksud dari si kakek tadi. 

“ih dasar kakek-kakek aneh, ditanya kok malah pergi gitu aja.” ujarnya sebel sama kakek berambut putih itu yang tiba-tiba saja meninggalkannya.

Tanpa rasa ragu dan khawatir lagi Mirna kemudian memasuki rumah itu, namun kondisi rumahnya masih berantakan karena sudah lama tak dihuni. Benda-benda berharga tertutup rapi oleh kain putih yang sontak baru diliat Mirna membuatnya kaget. Mirna kemudian menengok kamarnya, dan ternyata masih layak untuk di tempati. Kondisi kamarnya bersih seperti ada yang menempati kamar itu, karena rasa lelahnya Mirna pun mengistirahatkan diri dikamar tersebut. Memejamkan matanya baru 10 menit,

Wushhhhhhhh….

Tiba-tiba terasa ada angin lewat di sekitar dia begitu kencang, sontak Mirna kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. 

“Apa ya tadi, ko cepet banget lewatnya..” ucap Mirna dalam hati sambil memegang lehernya yang mulai terasa panas, merinding.

Perasaan was-was mulai mengintai Mirna yang berada di rumah itu seorang diri, keberadaan kampungnya yang jauh keramaian membuat dia semakin takut. Fikirannya mulai tak menentu, namun dia mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak baik akan terjadi. dia mengalihkan rasa takutnya dengan memikirkan hal-hal yang ia sukai.

Pukul 10.00 malam Mirna merasa lapar dan ia pergi ke dapur untuk memasak mie instan yang dibawanya dari rumah. Perasaan takut masih saja menyelinap pada dirinya, tengok kanan kiri memastikan tidak ada sesuatu yang akan mengganggu dirinya, dan ternyata aman-aman saja. Akhirnya Mirna pun bisa memasak dengan tenang. 

Selesai sudah Mirna memasak dan dibawanya mie instan yang telah matang ke meja makan, sedang asyik menyantap masakannya terdengar suara aneh dari belakang rumah. Suara itu terdengar seperti rintihan orang yang menangis karena kesakitan.

“Uhukk uhukk…” Mirna kaget dan tersedak, diambil nya segelas air. 

“Siapa disana..?” teriak Mirna, namun tidak ada jawaban apapun. 

Kemudian Mirna tanya lagi “ Apakah ada orang disitu..?” 

Namun lagi-lagi tidak ada respon dari siapapun. Mirna penasaran dengan suara rintihan yang di dengarnya tadi. Karena rasa penasarannya itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk mendatangi asal suara itu. Perlahan Mirna mulai melangkahkan kakinya menuju ke belakang rumah. Namun, di tengah-tengah melangkahkan kakinya dia teringat akan ucapan si kakek tua berambut putih tadi pagi untuk tidak mendekati sumur di belakang rumah. 

Suara rintihan itu terdengar semakin jelas, dan Mirna tidak berfikir panjang lagi, fikirnya ada seseorang yang terjebak di belakang rumah. Dicarinya suara itu namun tak jua ditemui seseorang olehnya.

“Permisiiiii.. siapa ituuu, ada yang bisa saya bantuu.??..” teriak Mirna 

Suara rintihan itu semakin mendekat pada dirinya, namun Mirna tidak melihat apapun. Bulu kuduknya mulai berdiri semua, dia mulai merasa ada yang kurang beres pada sumur tersebut. Mirna membuka pintu belakang dan melihat kearah sumur. Namun ia tak mendapati siapapun didekat sumur tersebut. Dan suara yang didengarnya tadi menghilang. 

Karena Mirna takut, ia membalikan badannya, berniat kembali ke kamar. Baru satu langkah Mirna berjalan, tiba-tiba suara rintihan itu kembali muncul bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Suara tangisan itu terdengar meminta tolong “TOLONGGGG,,, dingin,,,tolongggg”.

Sontak Mirna langsung kaget dan tubuhnya memaku. Pikirannya sudah tak menentu. Ia ingin lari namun kakinya begitu lemas hingga ia tak mampu bergerak. Mirna berusaha menggerakkan kakinya, namun terasa semakin berat seperti ada yang memegangi. Mirna menengok ke kakinya. Dilihatnya tangan hitam menjijikkan menggenggam kedua kakinya.

“hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,,tolong….!!!!!!!!!!!” Mirna histeris dan spontan berteriak meminta tolong namun tak ada yang datang. Genggaman tangan itu terasa semakin kuat dan menarik Mirna hingga Mirna terjatuh tersungkur. Mirna terseret hingga samping sumur. Dilihatnya seorang wanita berambut panjang dengan gaun putih lusuh berlumuran darah serta wajah yang hancur di hadapannya. Wanita itu terus menangis merintih dan meminta tolong kepada Mirna sembari menunjuk ke arah sumur.

“Apa maksudnya.” batin Mirna. Lalu Mirna menengok ke sumur tersebut.

“Hah… Astaga!” Mirna yang masih dalam kondisi takut dan kaget langsung berlari keluar rumah dan berteriak semampunya. Warga yang mendengar teriakan tersebut berlari mengerumuni Mirna dan bertanya

“Ada apa neng, kenapa teriak malam-malam begini” tanya salah satu warga.

Mirna pun dibawa ke rumah kakek tua sesepuh kampung Rimbun. Setelah tenang, Mirna menceritakan kejadian yang baru dialaminya di belakang rumah yang baru saja ditempatinya. Si Kakek tua memahami cerita Mirna.

Keesokan harinya Mirna, kakek tua dan beberapa warga melihat sumur dibelakang rumah tersebut. dan mengangkat tubuh wanita yang telah membusuk didalam sumur, kemudian dimakamkan dengan layak.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani