Profil instastories

Tanaman Keladi Tikus

Tanaman Keladi Tikus

By : Widia Purnamasari

 

Keladi Tikus (Typhonium sp.) merupakan tumbuhan sejenis talas setinggi 25-30cm, tergolong dalam tumbuhan semak yang menyukai tempat lembab dan tidak terkena sinar matahari langsung. Biasa ditemukan di Pulau Jawa, Kalimantan, sebagian kecil Sumatera dan Pulau Papua baik pada dataran tinggi ataupun rendah. Tumbuhan ini berbatang basah, tergolong tumbuhan herba dan tumbuh di tempat yang berada pada ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Keladi tikus termasuk dalam Famili Araceae dengan Genus Typhonium (Syahid, 2007). Berikut adalah klasifikasi dari Keladi tikus (Typhonium sp.)

Kingdom    : Plantae

Divisi          : Spermatophyta

Subdivisi    : Gymnospermae

Kelas          : Dicotyledoneae

Ordo           : Arales

Famili         : Araceae

Genus         : Typhonium

Spesies        : Typhonium sp.                                                           (Syahid, 2007)

       Tumbuhan ini  memiliki tinggi 10-20 cm dengan berat 10-20 gram setiap rumpun. Bentuk daun bulat dengan ujung runcing berbentuk jantung, berwarna hijau. Struktur daunnya kasap dan bertulang daun menyirip berwarna putih. Batangnya berwarna hijau dan tergolong dalam batang basah. Tumbuhan ini berbunga putih kekuningan dengan wujud mahkota seperti ekor tikus. Akar Keladi tikus berwarna putih membesar membentuk umbi. Umbi berbentuk bulat lonjong berwarna putih (Surachman, 2009).

       Tanaman ini tumbuh liar dan diperbanyak melalui pemisahan bonggol secara vegetatif. Namun memiliki daya reproduksi yang rendah sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang biak (Kristina dan Syahid, 2007). Keladi tikus memiliki kandungan zat pengaktif fungsi sel darah dengan merangsang dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu juga terdapat senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin dan steroid yang berpotensi sebagai tanaman obat penghambat pertumbuhan dan membunuh sel kanker. Tumbuhan ini juga mengandung zat antioksidan yang berpotensi untuk mencegah penyakit kanker. Zat antioksidan ini terdapat di bagian daun dan umbi, sedangkan di bagian yang lainnya menyebabkan rasa gatal (Yayat, 2008). Oleh karena dampaknya yang sangat positif tersebut banyak yang menggunakan tumbuhan ini sebagai obat dan bahan penelitian maka jumlah pemakaiannya semakin meningkat. Mengingat daya reproduksi tumbuhan Keladi tikus yang rendah dengan meningkatnya jumlah pemakaian terdapat ketidak seimbangan, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan daya perbanyakan tanaman Keladi tikus yaitu dengan menggunakan metode kultur jaringan.

B. Kultur Jaringan (Culture tissue)

       Kultur jaringan (culture tissue) merupakan suatu teknik pengisolasian bagian-bagian tanaman (sel, sekelompok sel, jaringan, organ, protoplasma, tepung sari, ovari dan sebagainya) sebagai upaya untuk memperbanyak tumbuhan yang memiliki daya reproduksi yang rendah. Kultur jaringan dapat meregenerasi bagian-bagian kecil dari tumbuhan untuk menjadi satu tanaman utuh dan lengkap yang mempunyai sifat sama seperti induknya. Teknik ini juga dikenal dengan nama kultur jaringan in vitro (in vitro culture) (Wattimena dkk, 1992). Prinsip dasar dari teknik kultur jaringan ini adalah totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan tumbuhan untuk melakukan regenerasi sel-selnya untuk berkembang dan tumbuh menjadi tumbuhan baru yang lengkap bila ditempatkan pada kondisi yang sesuai dan optimum (Kumar dkk, 2011).

       Tahapan-tahapan dalam kultur jaringan terdiri dari inisiasi, multiplikasi, perpanjangan dan induksi akar (pengakaran) dan aklimatisasi. Tahapan inisiasi berupa persiapan eksplan, sterilisasi eksplan hingga mendapat eksplan yang tidak kontam dengan mikroorganisme manapun. Multiplikasi adalah tahap perbanyakan eksplan dengan pemindahan eksplan dalam media baru yang berisi zat pengatur tumbuh (ZPT) secara berulang-ulang untuk persediaan nutrisi eksplan. Perpanjangan dan induksi akar (pengakaran) adalah tahap akhir dari kultur jaringan, yaitu dipindahnya planlet menuju ke kondisi luar dari wadah kultur (Handoyowati, 2016).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS