Profil instastories

Takdir Cinta

      Detik ini malam sangatlah indah. Ditambah sorotan Sinar Purnama yang menunjukkan tanggal tengah bulan dengan bangganya mengeluarkan aura kesucian .Sorotannya dengan lancang menerobos celah-celah rimbunnya dedaunan rimba. Cukup memberi penerangan akan gelapnya malam. Ia menyajikan tiupan udara yang sangat sepoi dipadu dengan hawa dingin yang sangat menyejukkan. Komposisi suasana yang nyaman untuk meraih mimpi. Entah sudah berapa kali mulutnya menguap, mengisyaratkan tulangnya butuh istirahat karena telah lama sekali menjelajahi terjalnya hutan.

     Tak heran jika Caroline tanpa peduli membaringkan tubuhnya di tanah kering dan kasar itu. Kerasnya gumpalan tanah kering itu sedikit tak nyaman. Tapi yang terpenting sekarang baginya adalah merebahkan punggung memberi waktu tubuhnya untuk istirahat, karna seharian penuh tenaganya dihabiskan . Namun sirih emas masih belum ditemukannya. Kala matanya terpejam, tiba-tiba terdengar gesekan kaki yang beradu dengan dedaunan kering. Ia merasa terusik dan memilih membuka matanya kembali, melirik ke segala penjuru hutan. Namun nihil, tak ada seorangpun di sekitarnya. Ia memfokuskan pendengarannya lalu memejamkan mata dengan mulut komat-kamit membaca mantra yang diberikan oleh sang maha guru sihirnya.

“Hentikan mantra mu sayang…”suara lembut seorang pria tepat di samping telinganya.

Belum sempat Ia membuka mata, bibirnya terasa disentuh oleh benda kenyal yang kian melumat. Kini mata mereka beradu pandang . Lumatan itu terhenti. Caroline sangat mengenal bola mata itu. Ya, itu adalah bola mata Jery. Tanpa aba-aba, dengan sigap ia  mendorong tubuh Jery agar menjauh darinya.  Carolyne memang bukan wanita biasa.  Dengan sekali dorongan, tubuh Jery terpental sejauh 10 M. Bahkan jika bukan karena pohon besar yang membentur tubuhnya, pria itu bisa lebih jauh dari itu. 

     Ia benci pria itu. Serasa tangannya menggenggam ingin mengeluarkan kapak Naga Sakti untuk memenggal leher pria di depannya. Namun ia sadar itu bukanlah pilihan yang terbaik.

“Mau apa kau?? kita sudah selesai!!” katanya tegas dengan mendongakkan dagunya. Susah payah pria bersisik itu berdiri. 

Dengan tersenyum sinis, pria itu menjawab “Selesai Sayang???  Bahkan kita belum mengatakan putus..” sambil melangkahkan kaki ke arahCaroline.

“Bulshiit!!” geram Carolyne.

     “aaaaaakkkhhhh!!!!”teriak Caroline secara tiba sambil kedua tangan memegang kepalanya. Heningnya malam membuat teriakannya menggema di segala penjuru arah hutan. Kepalanya sakit, nyeri sekali. Seperti ada yang menghantamnya dengan bogem mentah. Jery berlari ke arah Caroline yang diakhiri dengan pelukan hangat . Caroline merasakan itu. Logikanya ingin menolak. Namun ia tidak bisa membohongi hatinya. Faktanya ia masih punya rasa pada pria itu.

     Tiba-tiba otaknya memutar kembali peristiwa kala itu. Peristiwa dimana Darko, sang Ayahanda yang sangat disayangi lumpuh total sebab racun yang diberikan oleh ratu ular, yang notabenenya adalah ibunya Jery sendiri. Carolyne akui kesalahan Darko memang sangat fatal. Pembakaran hutan untuk membangun istana cabang itu banyak memusnahkan pasukan ular bersama kerajaannya sekaligus. Tak hanya itu, Ayahanda Jery beserta warga ular ikut menjadi korban dalam peristiwa naas itu. Semua keturunan ular mati hangus, hanya ratu ular dan Jery  yang selamat. Mungkin Jika mereka berdua tidak lagi mencari santapan di luar istana, bisa dipastikan Carolyne tidak bisa melihat Jery saat ini. Carolyne  bersyukur atas itu. Namun ia baru menyadari bahwa itulah yang dapat membahayakan marganya sendiri. Marga pepenyihir. Bukan hanya itu, kebencian turun temurun antara marga penyihir dan marga ular semakin memuncak dan itu mempengaruhi kisah cintanya dengan Jery. Sangat tragis.

      Tubuh Carolyne lemas. Kali ini ia sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Matanya mulai terpejam.  Jery semakin mengeratkan pelukannya. Alam pun masih bisa merasakan betapa kuat rasa cinta antara keduanya. Heningnya hutan dengan sorotan sinar rembulan seolah-olah menjadi saksi kemunafikan antara lisan dengan hati yang berselisih. 

(Pagi hari)

    Terlihat sosok  yang masih merangkai mimpi dengan balutan jubah hitam. Pancaran sinar sang surya menerobos celah rimbunnya dedaunan pohon besar rimba, mengusik pejaman matanya. Lima detik kemudian matanya mulai bergerak lalu kelopak matanya membuka. Aura khas bangun tidur terlihat jelas pada saat kerutan sekitar mata.

“Syukurlah,, kau sudah bangan.. Tenanglah tubuh perlu istirahat Sayang. Jangan menyiksa diri sendiri begitu..”pandangan Carolyne beralih pada sosok pria berjubah hitam yang membelakanginya.

“Ini, minumlah!! Para penyihir sangat menyukai darah segar anjing..” ucap Jery seraya membalikan badan. Dilihatnya sebuah batok kelapa yang berisi cairan warna merah. Carolyne bisa menebak aroma itu. Aroha harum darah anjing kesukaannya. Tangan Jery yang masih berlumuran darah basanh dengan bangkai anjing yang tergeletak, mengisyaratkan bahwa Jeryah yang mencabik-cabik dengan kukunya. Tak heran memang, kekuatan Pangeran ular selalu lebih hebat dibanding manusia biasa .

      Kini tangan kiri Jery mendekap dan mengangkat punggung Caroline, mempermudah Caroline untuk bangun. Dan tangan kanannya menyuapkan batok kelapa itu. Hanya dengan 3 tegukan, darah segar habis diminum oleh Caroline.  Terlihat belepotan darah di bibir Caroline. Jery melihat itu dan dengan cepat ia membersihkannya. Namun bukan tanganyang digunakan untuk menghapus bekas darah Itu melainkan bibir. Sekilas Jerymerasakan bibir Carolyne dengan rasa darah anjing, lalu menjauhkan bibirnya. Karena ini bukanlah saat yang romantis.

    Batok kelapa itu dilemparkannya dengan sembarang. Kedua tangannya memegang pundak Carolyne. Mata mereka bertemu satu sama lain . Yang masing-masing merasakan perubahan detak jantung yang semakin cepat.

“Bawa aku ke kerajaan ayahmu!!” ucap Jery engan binar mata memohon.

“ Jangan gila kamu!!” balas Carolyne dengan tatapan bingung.

Jery melepaskan pegangannya. Ia menunduk , tangannya meraih dada sebelah kirinya.

“Ini adalah obat yang sebenarnya untuk tuan Darko..”

 “Apa maksudmu Jery???” tanya Carolyne seraya menggenggam tangan Jery. Jery melepaskannya, lalu bangkit dan memutar tubuhnya. Berjalan beberapa langkah lalu terhenti membelakangi Carolyne. Tangannya dilipat di depan dada dengan mata yang menatap lurus jauh ke dasar hutan. Carolyne menunggu jawaban.

“Tabib iitu berbohong. Ia adalah orang bayaran Ibuku. Sirih emas itu tidak ada. Racun yang mengendap di tubuh tuan Darko adalah racun ular dari diriku. Ibuuku berbohong, dia bilang akan membuat ramuan mujarab agar bisa memperbanyak keturunan marga ular. Dengan antusias aku memberikan racun abadi yang ada di tubuhku. Hanya aku yang bisa mengambilnya, dan hanya ginjalku yang bisa mengobati nya. Ginjal siluman ular ada 3, berada di balik tulang rusuk bagian dada. Oleh karena itu obat ayahmu di sini.” Jery menunjuk dada bagian kirinya.

     Carolyne dengan sesama mendengarkan penjelasan Jery. Ia menenggelamkan kepala tidak percaya. Buliran matanya jatuh tanpa diminta. Bibirnya kelu. Ia mencoba menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk tenang. Dilihatnya Jery masih dalam posisi yang sama namun kepalanya tertunduk dan kedua tangannya mengepal. Carolyne melipat lututnya. Kedua tangannya saling mengait untuk mendekap kedua lututnya.

“ Kenapa bukan racun abadi milik ibu mu??? Kenapa harus kamu?? Apa alasannya?? Bukan kah ibumu lebih licik, sehingga untuk membunuh dan mendapatkan ginjalnya lebih sulit??” Nada tinggi dan sinis daei Carolyne sekarang ini menandakan bahwa ia benar-benar marah. Air mata yang sempat mereda, kini kembali mengalir dengan derasnya.

     Jery menatap dan berjalan menuju Caroline. Ia berlutut, tangannya menggenggam tangan Carolyne. Mencoba memberi kekuatan pada Gadis itu dan menatap mata Gadis itu. Namun Carolyne menghindari tatapan itu dengan menghadapkan wajahnya pada bumi.

“Kamu salah sayang.. Ilmu ibuku memang lebing tinggi.. Namun racun keturunan wanita dari marga ular bisa ditemukan penawarnya dengan mudah. Apalagi para penyihir yang sangat dengan mudahnya menerawang keberadaan penawar itu.Sedang aku, keturunan laki-laki marga ular. Punya racun uang penawarntya tidak bisa ditemukan di luar tubuh pemilik racun. Karena ginjal dari ular laki-laki dilindungi kabut anti sihir yang diberikan oleh Dewa ular.” jemarinya semakin erat menggenggam jemari Carolyne.  

“Bawa aku ke kerajaan ayahmu ya..”ucap Jery memohon.

“ Maafkan aku sayang.. Ini demi keselamatan Ayahku.” Dengan membahas tatapan Jery. Yang dibalas dengan anggukan. Jery tahu, Carolyne bukan egois. Tapi ia memang berada pada pilihan yang sangat sangat sulit. Tapi Jery bahagia, sebab panggilan sayang sudah lama menghilang kini kembali terdengar dari bibir manis gadisnya itu. Jery memeluk tubuh Carolyne. Ia menyelimutkan jubahnya membalut tubuhnya dengan tubuh Carolyne. Tak lama setelah membaca mantra, ia membuka kembali jubahnya. Maka keduanya melihat sekeliling, dan didapatinya mereka berada pada puing-puing runtuhan bangunan seperti kerajaan yang baru saja hangus terbakar. Keduanya tersontak, lalu berdiri. Pikiran mereka sama. Lalu memastikan bahwa dinding runtuh beraroma asap benar-benar kerajaan milik tuan Darko.Tubuh Carolyne lemas. Jery yang sadar akan hal itu langsung meraih tubuh Carolyne dan menahan agar tidak jatuh. Dibantunya Carolyne untuk duduk. Ia duduk di sebelah Carolyne.

“Sebentar,,” ucap Jery memejamkan mata, menggali keindigoannya dan menyentuh runtuhan dinding yang ada di sebelahnya. Dilihatnya dalam mata batin, Tuan Darko yang sedang diserang ibunya dengan kekuatan Apiliur. Tubub tuan Darko terbakar. Namun tanpa disangka, ada pengawal yang meluncurkan anak panah tepat pada bagian jantung Ratu ular. Dalam hitungan detik tubuh ratu ular ambruk. Namun kekuatan naas, kekuatan apiliur masih memancar dan mengenai semua dinding kamar tuan Darko. Dalam sekejap apiliur dapat melahap semua bangunan yang ada di kerajaan. Tak satupun yang dapat selamat dari kobaran api mengerikan itu. 

     Mata Jery terbuka, ia terlihat terengah-engah. Tangannya melepas puing tembok yang sejak tadi ddipegangnya dengan kasar. Carolyne yang melihat keadaan Jery pun langsung kaget.

“Sayang..Sayang tenang..kamu Kenapa??” dengan menggoyang-giyankan tubuh Jery.

     Jery mulai tenang dan napasnya kembali teratur.Ia menoleh kearah Carolyne dan memeluknya erat. Menangkupkan kedua tangannya untuk menghadapkan wajah Carolyne kepadanya.

 “Kita mulai dari nol bersama-sama ya sayang..Relakan Ayahmu yang telah pergi selamanya. Aku tidak berjanji untuk memenuhi semua yang kamu mau. Tapi aku janji selalu mencurahkan dengan ikhlas cinta beserta kasih sayang penuh dengan kebahagiaan sehidup semati.” Belum sempat membalas ucapan Jery,  tubuhnya serasa dipeluk lebih erat dan hangat. Carolyne membiarkan itu terjadi. Ia yakin Jery akan menjelaskan semuanya padanya nanti. Hatinya mengatakan bahwa ini adalah awal dari kisah mereka yang dirajut kembali oleh sang waktu setelah jeda menghentikannya sementara. Ia percaya bahwa takdir tetap akan menyatukan keduanya meski berada di ujung dunia yang berbeda sekalipun.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani