Profil instastories

TA'ARUFKU TERHALANG SOCIAL DISTANCING

Umi Khoiriyah, Rabu, 1 April 2020

Hay! Namaku Naima. Umurku 23 tahun, aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku tinggal didesa yang lumayan jauh dari kota. Mayoritas penduduk desaku bekerja sebagai petani. Hidup didesa itu menyenangkan karena penduduknya ramah, kehidupan sosial yang masih terjaga, dan saling gotong royong. Alamnya sejuk karena masih banyak pepohonan, jauh dari limbah pabrik dan juga polusi. 

Aku terbiasa membatu orang tuaku bekerja disawah ataupun kebun. Apalagi saat panen raya tiba, aku bisa seharian membantu orang tuaku. 

Akan tetapi penduduk banyak yang mengeluh, karena hasil panen dijual murah. Sementara kami membutuhkan bibit, obat- obatan pembasmi hama dengan harga yang mahal. Apalagi ditambah dengan kebutuhan hidup kami sehari- hari. 

Didesaku. Selepas lulus SMA, jarang ada orang yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Termasuk juga diriku. Karena keterbatasan ekonomi, akhirnya banyak warga yang pergi kekota untuk mencari kerja dan mengadu nasib disana. 

Dimalam hari yang sunyi dan sepi Naima duduk termenung dikamarnya. "Ternyata kebutuhan hidup keluarga itu banyak, sementara penghasilan bapak disawah dan dikebun hanya pas- pasan. Wajar saja jika teman- teman banyak yang merantau ke kota. Sepertinya kehidupan keluarga ini akan lebih baik jika aku ikut merantau kekota seperti teman- temanku." Batin Naima. 

Tiba- tiba terdengar bunyi dernyit pintu yang terbuka, lalu muncullah sesosok wanita paruh baya. Dia adalah adalah Ibu Sani. Ibunya Naima. 

"Kamu belum tidur nak?" Tanya Ibu Sani seraya berjalan menghampiri Naima. Naima hanya menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Ini sudah malam?." Tanya Ibu Sani lagi. "Naima belum mengantuk bu." Jawab Naima. "Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?." Tanya Ibu Sani lagi. "Tidak ada bu." Jawab Naima. "Kamu yakin? Tidak ada apa- apa?." Tanya Ibu Sani lagi. Naima hanya menggukkan kepalanya. "Yasudah, kalau begitu ibu mau lihat adik- adik kamu dulu. Kamu jangan tidur terlalu larut ya." Kata Ibu Sani. "Iya bu." Jawab Naima seraya menganggukkan kepalanya. Ibu Sani pun berlalu. 

Naima masih berada dalam renungannya, hingga akhirnya ia teringat bahwa ia memiliki seorang teman yang bekerja dikota. Namanya Nisa, dan Nisa sudah bekerja dikota sejak ia lulus dari SMA. Naima pun langsung meraih handphonenya dan langsung menghubungi Nisa. 

Nampaknya keberuntungan belum berpihak kepada Naima. "Maaf Naima, untuk sementara ini belum ada lowongan, tapi kamu tenang saja besok jika ada lowongan pekerjaaan aku pasti akan langsung menghubungi kamu." Jelas Nisa melalui telepon. "Jadi begitu ya Sa. Yasudah tidak apa- apa." Jawab Naima. 

*

Beberapa hari kemudian. 

Malam itu bulan bersinar lebih cerah dibanding malam- malam sebelumnya. Bintang- bintang pun ikut mengerlap- ngerlipkan sinarnya. Namun tidak dengan Naima. Hatinya masih bergelut dengan pikirannya. Pekerjaan dan hanya pekerjaan. Sebuah permasalahan yang belum bertemu dengan solusi. 

Tiba- tiba handphonenya berdering. "Hallo Naima?." Sapa Nisa. "Iya Nisa. Ada apa?" Tanya Naima. "Ada kabar baik buat kamu." Jawab Nisa. "Kabar baik? Soal apa?." Tanya Naima penasaran. "Aku ada lowongan pekerjaan buat kamu. Kebetulan salah satu karyawan direstaurant tempatku kerja ada yang mengundurkan diri karena mau pulang kampung. Barangkali lowongan ini cocok buat kamu? Apa kamu berminat?." Kata Nisa berbalik bertanya. "Iya. Aku berminat? Jadi kapan aku bisa mulai kerja?." Tanya Naima tidak sabar. "Kamu coba dulu datang kesini, untuk mengajukan surat lamaran kerja. Nanti kamu akan diwawacara. Mudah- mudahan kamu bisa diterima untuk bekerja disini." Jelas Nisa. "Aku akan membuat surat lamaran kerja itu sekarang." Jawab Naima dengan penuh semangat. "Bagus kalau begitu. Tapi, apakah orangtuamu akan mengizinkan kamu untuk kerja dikota?." Tanya Nisa. Mendengar pertanyaan itu semangat Naima yang tadi membara menjadi sedikit reda. Naima tahu betul, orangtuanya pasti tidak akan mengizinkannya untuk bekerja dikota. "Aku tidak tahu Sa. Tapi aku akan coba meminta izin baik- baik kepada orangtuaku. Dan mudah- mudahan mereka mau mengizinkan aku." Jawab Naima. "Iya Naima. Sudah dulu ya. Aku harus lanjut kerja lagi." Kata Nisa. "Iya Nisa." Jawab Naima. Telepon pun tertutup. 

*

Pagi ini matahari bersinar dengan cerahnya. Secerah hati Naima, karena sebentar lagi mimpinya untuk bekerja dikota akan segera terwujud. Burung- burung berkicauan. Suasana pedesaan yang asri sangat nampak terasa. Dedaunan basah karena embun pagi, mamantulkan semburat sinar matahari yang kemerah- merahan. 

Naima masih mengumpulkan keberaniannya, meminta izin kepada orangtuanya untuk bekerja dikota. Dan akhirnya Naima pun memberanikan diri mendekati orangtuanya yang sedang duduk dibale- bale rumah. 

"Pak. Bu. Apa boleh Naima minta izin?." Tanya Naima dengan sedikit gemetar. "Memangnya kamu mau pergi kemana nak?." Kata Pak Sani berbalik bertanya. "Naima mau minta izin untuk pergi kekota. Semalam Nisa memberitahu Naima, jika dikota ada pekerjaan yang cocok untuk Naima." Jelas Naima dengan suara gemetar. "Jadi kamu mau ikut- ikutan temen kamu, mau merantau ke kota?!." Tanya Pak Sani. Naima hanya mengangguk dengan gugup dan diam. Mendengar jawaban Pak Sani, Naima tahu pasti beliau akan marah besar. "Apa selama ini yang bapak dan ibu berikan kepadamu itu kurang? Jadi kamu mau merantau kekota?!." Tanya Pak Sani dengan nada yang meletup- letup. Naima hanya diam. Ia merasakan mulutnya seperti terkunci, tak bisa berkata sepatah katapun. Apa boleh buat? Hanya diam yang bisa ia lakukan. "Hidup dikota itu susah Naima. Semua itu tidak semudah apa yang ada dipikiran kamu! Bapak tidak tenang jika anak- anak Bapak jauh dari Bapak, makannya selama ini Bapak tidak pernah menyuruh kamu untuk bekerja jauh dari orang tua. Cukup membantu bapak dan ibu disawah ataupun dikebun, Bapak sudah senang." Kata Pak Sani dengan nada yang lebih tenang. Naima hanya diam dan menundukkan kepalanya. "Yasudahlah! Bapak mau kesawah!." Kata Pak Sani lalu pergi meninggalkan Naima. 

Naima baru berani mengangkat kepalanya ketika Pak Sani sudah keluar rumah. Naima menatap ibunya dengan tatapan yang sayu. "Sebenarnya apa yang mau kamu cari dikota nak?." Tanya Ibu Sani dengan nada lebih tenang. "Naima tidak akan cari yang aneh- aneh. Naima hanya ingin bekerja Bu." Jelas Naima seraya kembali menundukkan kepalanya. "Jadi benar apa yang selama ini Bapak dan Ibu berikan ke kamu itu kurang?." Tanya Ibu Sani. Naima kembali menatap ibunya dengan tatapan yang sayu, lalu kembali menundukkan kepalanya. "Bapak sama Ibu selama ini tak pernah kurang memenuhi kebutuhan Naima, dan bahkan selalu lebih. Tapi,  Naima hanya ingin perekonomian keluarga kita lebih baik. Naima hanya ingin mengurangi beban Bapak dan Ibu. Naima hanya ingin sedikit bisa membantu Bapak dan Ibu." Jelas Naima dengan mata yang sedikit berkaca- kaca. "Iya ibu paham dengan maksud kamu." Jawab Ibu Sani. "Ibu. Naima yakin. Dengan Naima pergi kekota dan bekerja disana, kehidupan kita bisa jauh lebih baik lagi. Naima hanya butuh do'a dan restu dari Bapak dan Ibu." Kata Naima. "Tanpa kamu minta, jika memang itu baik buat kamu. Ibu dan Bapak pasti akan selalu mendo'akan dan merestui kamu nak." Jawab Ibu Sani. Naima hanya diam, lalu menatap lagi wajah ibunya dengan sayu. "Yasudah, ibu akan menyusul bapak kamu kesawah. Nanti ibu coba bicarakan baik- baik dengan bapak kamu." Kata Ibu Sani. Naima pun hanya menganggukkan kepalanya.  Ibu Sani pun berlalu, ia bergegas menyusul suaminya pergi kesawah. 

Malam ini nampaknya bulan enggan untuk bersinar. Dan bintang pun tidak. Malam ini mendung dan gerimis, semendung hati Naima. Naima duduk termenung disudut bale- bale dekat jendela, memperhatikan air yang jatuh satu persatu dari pinggiran genting. Air itu seolah jatuh tanpa beban dan mengalir tanpa arah dan akan berhenti ditempat paling rendah. 

"Sebenarnya apa yang mau kamu cari dikota nak?." Pertanyaan itu mengagetkan Naima dari renungannya. Sontak ia pun mencari sumber suara, dan ternyata Pak Sani sudah berdiri dibelakang anaknya itu. "Bapak." Jawab Naima. Pak Sani hanya mengangguk seraya tersenyum tipis. "Apa yang mau kamu cari dikota?." Tanya Pak Sani Lagi. "Naima tidak akan cari yang aneh- aneh Pak. Naima hanya ingin bisa kerja. Supaya Naima bisa sedikit meringankan beban Bapak dan Ibu." Jelas Naima seraya menundukkan kepalanya. Mendengar jawaban Naima Pak Sani hanya diam, lalu ikut duduk disebelah anaknya. Mereka sama- sama memperhatikan tetesan air hujan yang turun. Sunyi, hanya gemercik air yang bersuara. 

"Yasudah, Bapak izinkan kamu pergi kekota." Kata Pak Sani. Naima terkejut mendengar perkataan Pak Sani itu. "Benar Pak? Jadi, Naima boleh pergi kekota?." Tanya Naima meyakinkan. Pak Sani hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Tanpa ragu Naima langsung memeluk Pak Sani. Naima benar- benar bahagia, karena akhirnya Pak Sani mengizinkannya untuk pergi kekota dan bekerja. 

Pagi ini mentari kembali bersinar dengan cerahnya. Sisa tetesan hujan semalam memantulkan kemialauan cahaya merah keemasan. Pagi- pagi sekali Naima sudah memberi kabar kepada Nisa, bahwasaanya hari ini Naima akan berangkat kekota. Nisa pun menyambut kabar itu dengan baik. 

"Pak. Bu. Naima pamit. Do'akan Naima terus ya." Kata Naima seraya memeluk kedua orang tuanya. "Tanpa Naima minta, kami disini akan senantiasa mendo'akan yang terbaik untuk Naima." Kata Ibu Sani. "Bapak dan Ibu jangan khawatir. Naima pasti disana bisa menjaga diri. Disana juga ada Nisa. Naima sama Nisa pasti akan selalu saling menjaga." Kata Naima. "Iya. Bapak percaya sama kamu. Yang terpenting disana kamu jangan sampai tinggalkan sholat." Kata Pak Sani. Naima hanya mengangguk dan tersenyum kepada kedua orang tuanya. 

Tanah yang becek dan licin karena hujan semalan, sama sekali tidak menghalangi langkah Naima. Seusai berpamitan dan meminta restu kepada orang tua dan adik- adiknya, Naima memantapkan langkahnya untuk pergi kekota. Dan Naima pun berangkat dengan diantar oleh tukang ojek kenalan Pak Sani. Perlahan namun pasti, Langkah Naima benar- benar menjauh dari rumah masa kecilnya dengan sejuta jejak yang penuh dengan kepastian. 

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Naima pun sampai dikota. Nisa berjanji kepada kepada Naima, jika ia akan menjemput Naima di halte bus. Sesampainya Naima dihalte bus, ternyata Nisa sudah berada disana. 

"Nisa!!!!." Panggil Naima seraya melambaikan tangannya. Nisa pun membalas lambaian tangan itu. "Akhirnya, kamu sampai juga. Bagaimana perjalanannya?." Tanya Nisa. "Ya lumayan. Lumayan melelahkan." Jawab Naima. "Iya. Aku tau kok. Kamu pasti lelah. Yasudah langsung ke kostan saja. Aku sudah siapkann tempat buat kamu istirahat." Kata Nisa. "Dari dulu kamu itu memang baik Sa." Jawab Naima. 

Sesuai dengan tujuan awal, hari ini Naima akan mencoba melamar kerja di restaurant tempat Nisa bekerja. Waktu masih menunjuk dipukul 06:30, saat udara didesa masih sejuk- sejuknya. Tapi dikota udara panas polusi dimana- mana, kota kembali sibuk dengan lalu lintas pekerjanya. 

Begitupun dengan Naima dan Nisa. Mereka berdua akan mencoba peruntungannya untuk hari ini. Sejak selesai sholat subuh Naima sudah mempersiapkan segala persyaratan untuk melamar pekerjaan. 

"Ayo Naima, kita berangkat." Ajak Nisa. Naima hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berangkat dengan menaiki sepeda motor milik Nisa. 

Ternyata restaurant itu tak jauh dari kostan Nisa. Hanya perlu waktu 15 menit mereka sampai ditempat kerja Nisa. Setelah memarkinkan motor ditempat biasa Nisa pun mengajak Naima untuk masuk ke restaurant itu. "Kamu tunggu disini dulu. Nanti kalau managernya sudah datang, kamu berikan saja surat lamaran itu ke manager. Kurang lebih 15 menit lagi managernya akan datang. Dan maaf lagi Nai, aku tidak bisa menemani kamu disini" Jelas Nisa. "Iya tidak apa- apa Nisa." Jawab Naima seraya mengangguk- anggukan kepalanya. Naima bingung harus jawab apa. Perasaannya yang campur aduk membuatnya sulit berkata- kata. 

15 menit kemudian.. 

"Maaf mbak? Ada yang bisa saya bantu?." Kata salah seorang karyawan direstaurant itu. "Oh iya mbak, saya mau bertemu dengan manager restaurant ini. Apakah beliau sudah datang?." Tanya Naima. "Kalau boleh saya tahu dengan mbak siapa? Ada perlu apa? Dan apakah sudah ada janji sebelumnya?." Kata karyawan restsurat itu berbalik bertanya. "Saya Naima, temannya Nisa yang kebetulan juga bekerja disini. Nisa bilang disini sedang membuka lowongan pekerjaaan." Jelas Naima. "Oh dengan mbak Naima. Iya mbak, disini memang sedang membuka lowongan pekerjaan. Manager sudah ada diruangan, silakan mbak langsung saja kesana." Kata karyawan restaurant itu. Setelah memberikan petunjuk, karyawan restaurant imtu pun berlalu. 

Naima pun bangkit dari duduknya, Naima berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan  oleh karyawan restaurant itu dengan mengecek persyaratan yang ia miliki tanpa melihat jalan yang ia tuju. Dan akhirnya... BRUK... Persyaratan yang Naima bawa berhamburan dan jatuh dilantai.

"Eh.. Sorry-sorry tidak sengaja." Kata laki- laki yang baru saja bertabrakan dengan Naima saat jalan. Orang itu pun membantu Naima membereskan kertas- kertas yang berserakan dilantai. "Tidak apa- apa Mas. Saya juga yang salah tidak memperhatikan jalan." Jawab Naima. "Tapi kamu tidak apa- apa kan? Apakah ada yang luka?." Tanya laki- laki itu. "Saya baik- baik saja kok Mas." Jawab Naima. "Syukur deh kalau gitu. Sekali lagi saya minta maaf ya." Kata laki- laki itu. Naima hanya mengangguk. Dan laki- laki itu pun berlalu dengan terburu- buru. 

Naima pun kembali melanjutkan perjalannya keruang manager. Perasaannya kembali tak karuan, saat ia memegang handel pintu lalu membukanya. 

Hampir satu jam didalam ruangan itu membuat keringatnya yang panas dingin keluar. Namun akhirnya Naima bisa berbafas lega karena ia bisa memulai kerja dihari esok. Yang artinya, ia telah diterima sebagai karyawan baru di restaurant itu. 

Kabar baik itu pun disambut baik oleh Nisa. "Oh iya. Kamu mau langsung pulang atau mau disini dulu?." Tanya Nisa. "Aku mau langsung pulang Sa. Rasanya pengen istirahat." Jawab Naima. "Duuhhhh.. gimana ya. Aku masih ada kerjaan. Jadi tidak bisa mengantar." Kata Nisa. "Aku bisa pulang sendiri kok Sa." Jawab Naima. "Jangan gitu dong Nai. Bahaya. Ini kota bukan desa. Nanti kalau kamu kenapa- kenapa bagaimana?" Kata Nisa. 

Tiba- tiba Doni datang. 

Doni adalah salah satu karyawan direstaurant itu, sebagai staf delivery. 

"Sa. Kata Dewi ada pesanan dari salah satu pelanggan didekat kostan kamu? Udah diantar belum?." Tanya Doni. "Nah! Pas banget kamu Don!!." Jawab Nisa. "Pas apanya?." Tanya Doni penasaran. "Pas pesanannya belum diantar. Terus sekalian aku mau minta tolong sama kamu." Kata Nisa. "Minta tolong apa?." Tanya Doni makin penasaran. "Anterin temenku pulang kekostan aku ya." Jawab Nisa. "Temen yang mana?." Tanya Doni lagi. Nisa menunjuk Naima yang duduk dikursi. "Lho? Itu bukannya......." Kata Doni. "Itu Naima, temenku dari desa. Dia baru saja melamar pekerjaan disini." Jelas Nisa. "Jadi namanya Naima. Nama yang indah." Batin Doni seraya mengangguk- anggukkan kepalanya. "Don? Kok diam saja. Kamu mau kan bantuin aku?." Tanya Nisa. "Yasudah. Iya." Jawab Doni. 

Nisa pun menghampiri Naima. Naima terlihat letih, karena semalam tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat. 

"Naima, kamu pulangnya biar diantar teman aku ya." Kata Nisa. "Siapa?." Tanya Naima dengan muka sayu. Nisa hanya mengarahkan jari telunjukkan ke Doni. "Apa? Laki- laki? Kalau gitu aku bisa kok pulang sendiri." Jawab Naima. "Ayolah Nai. Kamu jangan gitu. Maaf aku tidak bisa antar kamu pulang. Semua teman- temanku yang perempuan juga sibuk. Cuma Doni yang kebetulan ada delivery di dekat kostan aku, jadi bisa sekalian ngantar kamu pulang." Jelas Nisa. Naima hanya diam, ia bingung. "Kalau kamu diantar pulang sama Doni sudah pasti aman. Dan aku pun tenang disini." Kata Nisa mencoba meyakinkan Naima. 

Segala kebaikan Doni Nisa ceritakan kepada Naima. Hingga akhirnya Naima pun luluh, Naima mau diantar pulang sama Doni. 

Sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Naima ataupun Doni. Sebetulnya Doni ingin mengajak Naima berbicara meski hanya untuk sekedar basa- basi. Tapi melihat kondisi Naima yang letih Doni mengurungkan niatnya. Hanya suara mesin motor yang mengiringi perjalanan mereka, sampai akhirnya mereka pun sampai dikostan Nisa. 

"Terimakasih ya Mas, sudah diantar pulang." Ucap Naima. "Jangan panggil Mas, panggil saja Doni." Kata Doni seraya mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Sebetulnya Doni sudah tahu,  nama orang yang sekarang berada dihadapannya adalah Naima. Semua itu hanya untuk basa- basi agar bisa terlihat lebih akrab. Mereka pun berjabat dan saling berkenalan. 

"Sekali lagi aku minta maaf ya untuk soal yang tadi." Kata Doni. "Soal apa?." Tanya Naima. "Soal tadi, aku tidak sengaja menabrak kamu." Jelas Doni. "Oh, Soal itu. Yaudahlah lupakan saja." Jawab Naima. "Oh iya. Kata Nisa kamu kerja juga direstaurant tempatku dan Nisa kerja?." Tanya Doni. "Iya. Baru mau masuk besok. Ini pun harus training dulu selama tiga bulan." Jawab Naima. "Prosedurnya memang seperti itu. Setiap calon karyawan baru, memang harus ditraining dulu." Jelas Doni. "Oh.. jadi gitu ya.." Jawab Naima seraya mengangguk- anggukkan kepalanya. "Iya. Yasudah ya, kelihatannya kamu butuh istirahat. Aku  mau lanjut mengantar pesanan." Kata Doni. "Iya. Sekali lagi terimakasih ya, sudah mau mengantar aku pulang." Kata Naima. "Iya. Sama- sama." Jawab Doni seraya tersenyum. Naima pun membalas senyum itu. 

Pagi ini adalah hari pertama Naima kerja. Matahari bersinar cerah, secerah hati Naima, yang mengiringinya berjalan menuju tempat kerjanya. 

Naima berangkat bersama Nisa, dengan mengendarai sepeda motor milik Nisa. Sesampainya disana, Nisa memarkirkan motornya ditempat seperti biasanya. 

Naima sangat menikmati pekerjaannya. Hingga tak terasa hampir satu bulan ia bekerja sebagai karyawan direstaurant itu. 

Malam ini hujan turun begitu deras. Saat- saat seperti inilah Naima merindukan kampung halamannya. Untuk mengobati rasa rindunya, Naima memilih duduk diteras kost, seraya menikmati tetesan hujan yang turun. 

"Nai. Masuk yuk. Sudah malam. Dingin. Nanti kamu masuk angin." Kata Nisa. "Iya. Kamu duluan saja. Aku masih mau disini." Jawab Naima. "Nai. Kamu merasa aneh tidak?." Tanya Nisa. "Apanya yang aneh?." Kata Naima balik bertanya. "Soal Doni." Jawab Nisa. "Memang ada apa dengan Doni?." Tanya Naima. "Kalau aku lihat. Sepertinya Doni itu suka sama kamu." Jawab Nisa. Naima yang sedari tadi hanya memperhatikan tetesan hujan yang turun, sontak langsung mengalihkan pandangannya ke Nisa. "Maksud kamu?." Tanya Naima. "Iya. Soalnya Doni itu akhir- akhir ini sering banget lihatin kamu kalau kerja." Jawab Nisa. "Ah! Mungkin itu cuma perasaan kamu saja." Kata Naima. "Tidak Naima, aku sudah lama kenal Doni. Jadi aku bisa merasakan itu." Jawab Nisa. "Yasudahlah jangan terlalu dipikirkan. Ayo masuk aku sudah mengantuk." Kata Naima seraya beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan masuk kekostan. 

Sejujurnya Naima juga merasakan seperti apa yang dirasakan Nisa. Akhir- akhir ini sikap Doni memang aneh, tidak seperti biasanya. Tapi Naima tidak terlalu memikirkan itu, karena Naima hanya ingin fokus dengan tujuan awal saat ia berangkat kekota. Naima hanya ingin tidak mengecewakan kedua orang tuanya. 

Saat jam makan siang, restaurant ramai. Karena memang letaknya yang strategis dan memiliki menu spesial yang disukai banyak orang. Jadi wajar jika banyak orang yang berbondong- bondong mengunjungi restaurant tersebut. Semua karyawan sibuk melayani para pelanggan yang berduyung- duyung datang dan pergi. 

"Kalau kerja itu yang fokus. Nanti kalau bos tahu, kamu pasti akan kena marah" Kata Nisa seraya meledek Doni. "Nisa! Apaan sih." Jawab Doni sedikit bingung. "Kamu kenapa Don? Dari tadi liatin Naima terus. Kamu suka sama dia?." Kata Nisa seraya meledek Doni lagi. Awalnya Doni hanya diam, tetapi lama kelamaan dia salah tingkah dan senyum- senyum tidak jelas. "Kalau naksir itu bilang. Jangan diem- diem terus. Nanti diambil orang loh."  Kata Nisa dengan nada masih meledek Doni. "Aku tidak tahu Nis. Aku juga masih bingung dengan perasaan aku sendiri. Sepertinya Naima itu adalah tipe wanita yang susah untuk didekati. Aku saja jarang mengobrol dengannya. Bisanya cuma seperti ini, memperhatikan dia dari jauh." Kata Doni. "Itu artinya kamu memang naksir sama Naima." Jawab Nisa. Mendengar perkataan itu, sontak Doni langsung memperhatikan Nisa dengan muka serius. "Iya. Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama." Kata Nisa. Doni pun memalingkan pandangannya. "Apa Naima sudah punya pacar?." Tanya Doni masih dengan nada serius. "Setauku Naima belum punya pacar." Jawab Nisa. "Dan itu artinya kamu masih punya kesempatan untuk mendekati Naima." Lanjut Nisa. "Serius kamu Nis?." Tanya Doni. Nisa hanya menganggukkan kepalanya. "Yasudah kalau begitu do'akan aku ya." Kata Doni. "Iya." Jawab Nisa seraya tersenyum. 

Sejak percakapan hari itu Doni semakin giat untuk mendekati Naima. Dan ternyata benar, Naima adalah tipe wanita yang sulit didekati. 

"Nai, sepulang kerja nanti, kamu bisa tidak ikut denganku?." Tanya Doni yang menghampiri Naima saat sedang beristirahat dijam istirahat makan siang. "Tidak bisa Doni, rasanya hari ini aku sangat letih, jadi aku mau beristirahat saja dikostan." Jawab Naima. "Kalau begitu, nanti aku antar kamu pulang ya?." Kata Doni mencoba peruntungan lainnya. "Maaf Doni, sepertinya juga tidak bisa. Aku akan pulang dengan Nisa." Jawab Naima. "Oh begitu ya. Yasudah kalau begitu aku mau lanjut kerja lagi. Ada pesanan yang harus diantar." Kata Doni seraya tersenyum, berharap akan mendapat jawaban yang menyenangkan dari Naima. Namun, harapan itu langsumg pupus begitu saja saat Naima hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis. 

Memang sungguh mengecewakan. Tapi Doni tidak menyerah begitu saja. Doni terus mencoba dan terus mencoba hingga berkali- kali. Hingga suatu hari, akhirnya Naima mau ia ajak jalan. Doni mengajak Naima pergi ketempat fovoritnya, yaitu pinggir Danau, tempat yang paling cocok untuk menikmati udara disore hari. 

"Nai? Terimakasih ya." Kata Doni memulai pembicaraan. "Terimakasih untuk apa?." Tanya Naima. "Terimakasih karena kamu akhirnya mau aku ajak jalan. Ya mungkin aku termasuk menjadi orang yang beruntung." Jawab Doni. "Kenapa seperti itu?." Tanya Naima lagi. "Karena aku sudah berkali- kali mengajak kamu untuk jalan. Tapi selalu kamu tolak. Dan baru kali ini kamu mau aku ajak jalan. Bukankah itu termasuk beruntung?." Kata Doni. "Sejujurnya bukan itu yang membuatku merasa beruntung. Bisa mengobrol seperti ini denganmu itu adalah keberuntungan yang tepat buatku." Batin Doni.  "Sebenarnya aku memang tidak terlalu suka jalan- jalan seperti ini. Aku lebih suka memanfaatkan waktu senggangku untuk beristirahat dan melakukan hal positif lainnya." Jelas Naima. "Pantas saja kamu selalu menolakku." Jawab Doni. "Oh iya Nai. Sebenarnya apa sih alasan kamu merantau ke kota?." Tanya Doni. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin membantu kedua orang tuaku dikampung." Jawab Naima. "Nai? Kalau aku suka sama kamu bagaimana?." Tanya Doni. Naima yang sedari tadi memandang Danau yang luas, langsung berpaling memperhatikan Doni lekat- lekat. "Iya. Aku suka sama kamu. Kalau kata orang aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa kamu mau menjalin hubungan lebih denganku? Misalnya seperti pacaran?." Tanya Doni dengan nada gemetar, namun puas karena akhirnya ia bisa mengeluarkan apa yang mengganjal dihatinya. Naima hanya diam, ia masih bingung dengan apa yang dikatakan Doni. "Disini aku tidak akan main- main. Aku sedang mencari seorang wanita yang kelak akan menjadi istriku. Akupun berhasil menemukannya. Dan orang itu adalah kamu." Jelas Doni. Naima masih saja diam, dan ia kembali memalingkan pandangannya kearah danau luas yang ada dihadapannya. "Iya aku tahu mungkin aku memang bukan lelaki baik buat kamu. Akupun tidak akan memaksa kamu. Setidaknya sekarang aku merasa jauh lebih baik karena sudah berani mengungkapkan semua ini kekamu." Kata Doni lagi. "Sejujurnya aku juga bingung dengan apa yang aku rasakan selama ini. Dan aku pun masih ragu. Karena tujuan awalku pergi kekota memang bukan untuk hal ini." Jawab Naima. "Iya. Dan akupun akan menerima apapun keputusan kamu." Kata Doni. "Aku ragu." Jawab Naima. Doni menundukkan kepalanya. Ia berusaha menyiapkan dirinya untuk penolakan yang mungkin saja akan keluar dari mulut  Naima. "Kita berdua belum lama kenal. Aku belum tahu sepenuhnya kamu. Dan kamu pun belum tahu sepenuhnya aku. Mungkin akan lebih baik jika kita melakukan pendekatan terlebih dahulu, supaya kita bisa lebih memgenal satu sama lain. Mungkin itu akan jauh lebih baik." Jelas Naima. "Maksud kamu kita ta'aruf?." Tanya Doni. Naima menganggukkan kepalanya. "Iya. Mungkin itu jauh lebih baik." Kata Doni seraya mengangguk- anggukkan kepalanya. Naima hanya tersenyum melihat reaksi Doni. Begitupun dengan Doni. 

Semenjak sore itu, antara Naima dan Doni masih terlihat seperti biasa. Hanya saja mereka tidak secanggung dulu saat mengobrol. Mereka berdua benar- benar memanfaatkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain. 

 

Hingga tak terasa sudah satu tahun mereka berta'ruf. Saling mengenal dan saling memperbaiki diri. 

Namun tiba- tiba kabar buruk datang. Saat itu kota diserang dengan wabah virus yang sangat menular. Penyebarannya begitu cepat. Hingga akhirnya pemerintah mengisyaratkan warganya untuk menjaga jarak antara satu dengan yang lain atau masyarakat biasa mengenalnya dengan istilah social distancing. Sebenarnya ta'aruf yang Naima dan Doni lakukan tidak ada hubungannya dengan social distancing. Akan tetapi social distancing berpengaruh terhadap ta'aruf mereka. Karena selain meminta warga untuk menjaga jarak antar sesama,  pemerintah juga meminta warganya untuk tidak keluar rumah. Dan akhirnya restaurant pun ikut tutup. Naima kehilangan pekerjaannya. Mengingat wabah yang kian hari semakin menjadi dan tidak ada lagi uang untuk mencukupi kehidupannya dikota, akhirnya Naima memutuskan untuk pulang kampung. Sedangkan Doni sebagai warga asli kota, dia masih bisa untuk bertahan. 

*

Sore itu matahari masih bersinar cerah. Cahayanya membiaskan warna merah keemasan ketika akan tenggelam diufuk barat. Akan tetapi suasana cerah disore itu tidak secerah suasana kota. Segala aktivitas lumpuh. Hanya ada beberapa orang yang beraktivitas diluar rumah. Itupun hanya untuk pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Sedangkan Naima memutuskan untuk tetap tinggal dikostan, untuk mengemasi barang- barang yang akan ia bawa pulang. Saat Naima sedang asyik mengemasi barang- barangnya, tiba- tiba handphonenya berbunyi. "Hallo? Assalamu'alaikum? ." Ucap Naima. "Wa'alaikumsalam Nai." Jawab Doni. "Ada apa Don?." Tanya Naima. "Tidak ada apa- apa. Aku cuma akan memastikan saja. Apa benar? Kata Nisa kamu akan pulang kekampung?." Tanya Doni. "Iya. Aku akan kembali kekampung. Situasi dan kondisi disini sangat tidak memungkinkan. Kerja diliburkan. Jika aku tidak bekerja bagaimana caraku untuk memenuhi kebutuhan hidupku disini." Jelas Naima. "Terus bagaimana denganku? Kalau kamu pulang kekampung, bagaimana dengan ta'aruf kita?." Tanya Doni. "Kita tidak bisa mencegah segala sesuatu yang akan terjadi, jika itu adalah kehendak-Nya. Termasuk wabah virus ini yang menyebabkan semua masyarakat harus social distancing. Tidak boleh keluar rumah. Dan akhirnya warga pendatang seperti aku kehilangan pekerjaanku. Kita tidak bisa apa- apa, selain kita harus pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, yakinlah kita pasti akan dipertemukan kembali." Kata Naima. "Iya Nai. Kamu benar. Mungkin memang aku yang terlalu egois. Hanya memikirkan diriku sendiri. Dan tidak seharusnya aku seperti itu." Jawab Doni. "Tidak apa- apa Don." Kata Naima. "Lalu? Kapan rencana kamu akan pulang?." Tanya Doni. "Besok pagi. Do'akan ya, supaya lancar selamat sampai tujuan." Jawab Naima. "Iya Nai. Besok aku antar ya." Kata Doni. "Akan lebih baik jika kamu tetap berada dirumah. Besok aku akan pulang naik travel yang akan menjemputku langsung didepan kostan." Jawab Naima. "Padahal sudah satu tahun aku mengenal kamu. Tapi waktu memisahkan kita begitu saja." Kata Doni dengan nada penuh kekecewaan. "Tidak ada gunanya menyalahkan waktu Doni. Karena semua itu digerakkan oleh waktu." Jawab Naima. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Nai. Semua ini benar- benar menyudutkan aku. Aku berniat baik sama kamu. Dan rencananya dalam waktu dekat ini aku akan mengenalkan kamu dengan orang tuaku. Tapi rencana itu hanya wacana. Dan akan terus menjadi wacana." Kata Doni. "Percaya dengan takdir Doni. Baik itu takdir baik ataupun takdir buruk. Kamu harus tetap yakin. Baik aku ataupun kamu pasti akan bisa melewati masa ini." Jawab Naima. "Iya Nai. Maafkan aku. Jika suatu saat nanti aku belum bisa mewujudkan niat baikku ke kamu." Kata Doni. "Iya Doni tidak apa-apa. Yasudah kalau begitu aku mau lanjut mengemas barang- barangku dulu. Kapan- kapan kita bisa sambung lagi obrolan ini." Kata Naima. Telepon pun ditutup. 

Tak ada yang tahu bagaimana nasib ta'aruf antara Naima dan Doni. Karena social distancing ta'aruf mereka terhalang. Doni hanya bisa pasrah. Seraya meyakinkam hatinya jika memang dia ditakdirkan untuk bersama dengan Naima, pasti mereka akan dipertemukan kembali. Dan sejak saat itu mereka hanya bisa saling memberi kabar lewat telepon. 

 

Selesai..... 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS