Profil instastories

Sweet but psycho : Red

Title : 'Red'

Cast :
Yuki Clark
Alano Zaliandre
Melissa

 

Lovin her is red.

 

----


Aku benci pertengkaran, apa lagi kalau itu terjadi karena orang ketiga.

Nasib sial, itulah yang terjadi pada hubunganku sekarang.

Semua bermula saat aku menerima sekretaris baru, Melissa namanya. Dia cantik, seksi, tapi tentu pesonanya tak mampu mengalahkan pesona kekasihku.

Tapi Yuki--kekasihku--tampaknya tak sepakat. Dia selalu merasa kalau Melissa bisa menjadi ancaman bagi hubungan kami.

Dia selalu mengeluh, kenapa aku harus memilih Melissa dan bukan yang lain? Jawabannya, karena aku membutuhkan sekretaris. Itu saja.

Tapi Yuki bersikeras tak menginginkan Melissa.

"Dia itu menyukaimu, Alan!"

"Bagaimana kau tahu?"

"Semua mata bisa melihatnya."

Ya aku memang merasa Melissa menyukaiku. Tak heran, aku ini tampan, mapan.

Ups, maaf jika aku sedikit narsis, tapi itu faktanya.

-----


Aku terkejut saat Melissa masuk ke ruanganku, padahal aku tidak menyuruhnya. Wanita itu mengungkapkan perasaannya dan bilang kalau ia menginginkanku.

Langsung saja aku menolaknya, karena aku sangat mencintai Yuki. Aku tak mau yang lain. Tapi Melissa malah membuka bajunya, gila!

Aku mengusirnya, tapi dia memelukku, dan saat itu Yuki masuk, membuatku kaget. Ternyata Melissa sudah merencanakan ini semua.

Yuki menangis dan menamparku, dia bahkan tak mau mendengarkan penjelasanku. Dia berlari setelah mencaci maki aku dan melempar cincin pertunangan kami ke wajahku. Itu sakit, tapi aku lebih sakit melihatnya menangis.

"Kau.." Aku menatap Melissa tajam, aku yakin wajah marahku terlihat seperti monster hingga dia ketakutan. "DASAR JALANG, PERGI DARI SINI DAN JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN WAJAH MENJIJIKANMU ITU DI DEPANKU. KAU DIPECAT!"

Melissa kemudian pergi dengan tubuh gemetar, mungkin dia takut. Tapi aku tak peduli.

Aku mencoba menghubungi Yuki tapi tak ada respon apa pun. Dan itu terjadi selama beberapa minggu hingga membuatku frustasi.

Saat aku mendatangi rumahnya, dia tak ada. Pembantunya bilang dia ke luar negeri.

Aku kesepian, merindukannya. Tak tahukah dia jika saat ini aku membutuhkan seseorang untuk meluapkan perasaanku?

Terdiam di kursi kebesaranku, tiba-tiba aku teringat Melissa. Akhirnya kuputuskan untuk mengajaknya bertemu.

Dia sangat senang saat aku menghubunginya, terlebih saat aku mengajaknya ke apartemenku.

Sudah kubilang aku butuh pelampiasan atas rasa frustasiku karena ditinggal Yuki.

Maaf, Yuki. Maafkan aku.

-----


Tiga hari kemudian.

Malam ini aku sibuk membereskan makanan serta hiasan di atas meja.

Saat aku mendengar kabar kalau Yuki pulang, saat itu juga aku membuatkannya kejutan, sekaligus meminta maaf. Bagaimana pun aku harus menjelaskan semuanya.

Yuki tak mau menatapku saat kami duduk berhadapan.

"Sayang." Aku memanggilnya dengan nada lembut. Dia terus memalingkan wajahnya, membuatku ingin menangkup wajah itu dan mencium bibirnya dengan membabi buta.

Aku sangat merindukannya, kat tahu?

"Sayang," panggilku lagi, dia tetap tak bergeming. "Maaf.."

"Kau meminta maaf untuk apa? Karena telah berselingkuh dengan sekretarismu itu?" Akhirnya dia membuka suara, walau itu sekedar menuduhku.

"Sayang, dengar. Aku, tidak selingkuh dengannya. Saat itu hanya sebuah kesalah pahaman."

"Salah paham? Aku melihatnya memelukmu dengan tubuh setengah telanjang!"

"Yuki.." Aku tau dia emosi, tapi aku tak ingin ikut berapi-api. "Aku berani sumpah, itu semua rencananya. Aku punya buktinya, CCTV di ruanganku merekam semuanya."

Aku menunjukkan rekaman CCTV di ruanganku padanya. Dia awalnya malas, tapi kemudian wajah judesnya berubah menjadi marah, kemudian dia melemahkan ekspresi wajahnya, seperti rasa bersalah.

"Alan.." Aku rasa dia akan meminta maaf. "Maafkan aku." Tuh kan benar kataku.

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku justru senang jika kau secemburu itu. Itu berarti kau mencintaiku."

Dia tersenyum, senyum yang selalu aku suka. "Sangat."

Akhirnya aku bisa bernapas lega saat Yuki kembali ke pelukanku. Dengan bahagia aku memasangkan kembali cincin pertunangan kami di jarinya. Aku harus mengingatkannya agar dia tidak melepas cincin ini lagi barang sedetik.

"Aku punya hadiah untukmu."

"Hadiah?" Dia menahan senyum.

Aku bangkit dan berjalan ke arah tiga lukisan yang telah kubuat, yang ditutupi kain putih, lalu membawanya satu persatu ke depan Yuki.

Dia mengernyitkan keningnya, bingung. "Apa ini?"

"Hasil karyaku."

Dia tersenyum lagi, senyum yang tak pernah membosankan di mataku.

Aku membuka lukisan pertama, gambar hati yang utuh.

"Ini adalah hatiku saat kau di sampingku."

Lalu aku beralih ke lukisan yang kedua. Gambar hati yang retak.

"Ini hatiku saat kau pergi."

Kemudian kubuka lukisan terakhir, gambar hati yang membara.

"Dan ini hatiku saat pemiliknya kembali."

Yuki tersenyum haru. Dia kemudian bangkit dan memelukku.

"Maaf.. Maafkan aku.." Dia menangis, mungkin masih merasa bersalah padaku.

Dia pasti menyesal karena telah salah paham. Tapi aku cukup mengerti. Aku justru senang karena itu artinya dia tak mau kehilangan aku. Sama seperti aku yang sangat takut kehilangannya.

-----


"Alan, lukisanmu bagus sekali."

"Lain kali akan kulukis dirimu."

"Benarkah?"

"Tentu."

Dia menyentuh lukisanku. "Aku suka warna merahnya, nyata sekali."

Yuki memang sangat menyukai warna merah, dan semua yang dia suka otomatis menjadi apa yang kusuka.

Senyum adalah caraku menanggapi ucapannya. Aku memeluk Yuki dari belakang, dan mengecup pipi chubby-nya.

Setelah ini, akan kukurung dia di kamar apartemenku, dia harus menuntaskan rasa rinduku karena ulah ngambeknya kemarin.

"Kau tau, Sayang? Itu cat yang langka," kataku memberi tahu.

"Oh ya?"

Ya.

Diambil langsung dari tubuh Melissa.

Ya, itu darah Melissa. Yang kuambil dan kujadikan pengganti cat merah tepat setelah aku membunuhnya di apartemen.

Saat dia datang ke apartemenku, saat itulah aku menebas kepalanya dengan kapak.

Dia pantas menerima itu. Lagi pula, dunia tidak butuh wanita pengganggu seperti itu, bukan?

Dan lagi, bukankah aku sudah bilang kalau aku butuh pelampiasan untuk menyalurkan perasaanku? Perasaan marahku.

The end

 

------

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani