Profil instastories

Surat Cinta Vero

PATAH HATI PERTAMA

 

Sebagai generasi 90-an. Gue cukup berbangga hati karena bisa menjadi saksi bagaimana teknologi berkembang. Tahun demi tahun. Gawai demi gawai diciptakan untuk mempermudah manusia berkomunikasi.

 

Semasa gue SMP, waktu itu sebelum dekade milenial. Dua tahun sebelum masa reformasi. Generasi kami mengandalkan kertas surat untuk menyampaikan kabar dan isi hati. Zaman dimana memiliki tulisan jelek adalah akhir dari segala-galanya. Tulisan jelek adalah alasan kejombloan, karena minder membuat surat cinta.

 

Tentang surat cinta, membuat gue ingin bernostalgia sebentar. Menyusuri lorong waktu. Membuka kembali lembaran kisah lama. Kenangan pada saat Patah Hati pertama gue terjadi. Waktu itu gue kelas 3 SMP.

 

Keterbatasan sarana komunikasi membentuk karakter generasi 90-an terlihat lebih gentle ketimbang generasi sekarang. Jika cinta katakan cinta, jika tidak katakan tidak, dan semua dilakukan secara lisan, atau dengan perantara surat. Berbeda dengan cowok zaman sekarang yang ngakunya milenial. Minta putus saja cuma berani lewat Chat, cemen!

 

Hanya saja, di zaman dulu itu. Mencari pasangan agak sedikit ribet. Memilih gebetan paling mentok, klo ngga teman sebangku, paling jauh teman dari kelas sebelah. Dan untuk mengatakan cinta, kami mengandalkan surat cinta bergambar bunga sebagai perantara. Surat cinta yang telah punah tergerus zaman. Namun kenangannya bisa membuat kita demam tiga hari tiga malam.

 

Surat cinta bergambar bunga itu, gue terima pertama kali di dalam hidup gue, waktu gue masih duduk di kelas 1 SMP. Zaman dimana gue masih lugu  banget. Masa-masa dimana semuanya terasa mudah. Beban fikiran gue waktu itu, cuma satu. Kapan tuxedo bertopeng membuka identitas aslinya kepada Sailormoon.

 

Hidup anak SMP zaman gue dulu, ngga pernah seribet sekarang. Uang jajan murni untuk membeli bakso bakar atau Es Mambo. Kami belum dipusingkan dengan beban berhemat uang jajan untuk membeli kuota internet. Atau pusing karena konten IG story yang belum Update.

 

Di saat gw kelas satu SMP. Surat cinta pertama, gue terima. Seorang cowok yang tidak terlalu gue kenal, mengirimi gue surat. Surat cinta itu ditaruh dilaci meja gue di kelas. Semerbak bau melati menyeruak dari surat cinta yang gue terima itu. Bau melati yang bukannya memberi kesan romantis, malah memberi kesan horor bagi gue. Gue berasa ditemani Suzana yang lagi pakai daster putih, waktu membuka amplop wangi melati itu. Untung saja kebahagian gue lebih besar dibandingkan dengan rasa takut yang gue rasa. Dengan hati girang, gue membaca isi surat.

 

Isinya simple, kalimatnya tidak terlalu panjang. Sangat to the point dan mudah dimengerti. Malahan pantun penutup surat itu lebih panjang dari isinya. Yaiyalah, yang menulis surat adalah bocah SMP. Bulu keteknya saja belum tumbuh. Literasi sastra yang dikuasai baru sebatas kalimat ‘ini ibu Budi’.

 

Aku menyukaimu, apakah kamu juga menyukai ku?

 

Empat kali empat sama dengan enam belas.

Sempat tidak sempat tolong surat ini dibalas.

 

TTD.

BAMBANG

 

Singkat, padat dan jelas. Pantun legendaris menambah keromantisan isi surat.

 

Bambang anak kelas tiga SMP. Gw masih kelas satu SMP. Tetapi, Kalau gw berdiri berdampingan dengan Bambang. Bambang cuma sampai sebahu gue. Itupun sudah mentok pakai jinjit kaki segala. Bambang memang body-nya bontet, tapi soal kepercayaan diri. Bambang memiliki PeDe setinggi tiang bendera sekolah kami. 

 

Pada hari itu juga gue mendengar kabar. Surat cinta Bambang bukan untuk gue seorang. Surat cintanya bertebaran ke seluruh penjuru sekolah. Bambang menulis surat secara acak. Gue juga ngga tau Bambang memakai sistem apa dalam memilih cewek untuk disuratinya.

 

Pada jam pelaran ke tiga, setelah jam istirahat, di saat matahari sedang gahar-gaharnya. Gue melihat Bambang berlari mengelilingi lapangan bola basket sendirian. Bambang sedang dihukum. Bukan karena surat cinta yang bertebaran. Dia dihukum karena tidak mengerjakan PR PPKN. Mungkin waktu Bambang tersita habis untuk membuat surat cinta yang banyak ini semalaman. Andai Bambang hidup di zaman sekarang, mungkin Bambang hanya perlu memencet tombol Broadcast Massage, dan tidak perlu lupa membuat PR.

 

Beruntung waktu kelas 1 SMP. Gue belum mengerti cinta-cintaan. Waktu itu gue masih mentok dengan obsesi mulia untuk menjadi Power Ranger Pink. Atau minimal menjadi Sailor Saturnus, bersama Sailormoon menumpas kejahatan. Surat cinta dari Bambang, tidak terlalu gue anggap serius.

 

Dua tahun berselang, gw sudah menjadi anak kelas tiga SMP. Sudah mulai tahu apa itu kata naksir. Dan saat itulah gue kembali menerima surat cinta. Kali ini surat cinta beneran. Cuma gue yang menerima. Pengirimnya adalah cowok kelas sebelah. Namanya Vero. Kata teman nya yang menjadi kurir. Vero menunggu gue di samping tiang lapangan basket setelah pulang sekolah. Hati gue berdebar tak karuan. 

 

Vero itu, anaknya biasa saja. Jelek ngga dan culun juga ngga, ada gantengnya sedikit. Pas lah untuk menjadi pacar gue yang juga punya muka standar.

 

Sebelumnya, gue dan Vero tidak terlalu saling kenal. Kami jarang bertemu di sekolah. Kami tidak pernah sekelas. Dan kamipun berbelanja di kantin yang berbeda. 

 

Di sekolah gue. Anak cowok dan anak cewek menghabiskan waktu jam istirahat sekolah di kantin yang berbeda. Bukan peraturan sekolah, tetapi sudah menjadi adat istiadat saja.

 

Anak cowok lebih suka berbelanja di kantin yang berada diluar pagar sekolah. Kalau anak cewek, memilih kantin yang ada di dalam pekarangan sekolah. Adapun anak cowok yang ikut berbelanja di kantin tempat cewek. Paling juga cowok yang kecewek-cewekan. Atau cowok cemen yang sudah kelas tiga, tapi masih ditemanin Mamanya diluar kelas sampai jam pulang sekolah.

 

Kelas tiga SMP. Wujud gue masih berbentuk cewek lugu yang culun-culun unyu. Tapi cita-cita untuk menjadi Power Ranger Pink sudah gue gugurkan. Seiring bertambah umur, nalar dan kewarasan gue mulai berfungsi dengan baik.

 

Kembali ke Vero. 

 

Gue membalas surat cinta Vero. Pantun legendaris mewakili rasa deg-degan hati gue yang kasmaran. Singkat kata, gue menerima Vero sebagai pacar. Cinta anak SMP memang se-simple itu.

 

Waktu itu sepulang sekolah, di samping tiang lapangan Basket, tempat yang dijanjikan. Gue menunggu Vero sambil ngemil bakso kuah kacang. Dan seperti biasa, kuah kacang selalu belepotan di baju sekolah gue. Vero datang menghampiri. Mengajak gue pulang bareng. Waktu itu anak sekolah gemar berjalan kaki, karena belum ada aplikasi ojek online.

 

Kencan pertama dengan Vero, gue masih belum peduli dengan penampilan. kuah kacang yang belepotan tidak menjadi perhatian gue. Dan gue yakin Vero juga tidak memperhatikan itu. Namanya juga anak ingusan. Baju berkerak adalah hal yang paling dimaklumi.

 

Di bawah terik matahari kita berjalan. Vero malu-malu membuka obrolan. Gue masih ingat kalimat Vero saat ingin memecah kebisuan.

 

“Bagi duit 100 perak dong, haus.” Zaman dulu, cowok minta duit sama cewek adalah tanda ingin mencari perhatian. Tapi cara memintanya dengan baik-baik, bukan dengan membentak-bentak, kalau itu mah Begal.

 

Gue menyerahkan uang 100 perak. Dengan uang segitu, kami bisa membeli dua potong Es Mambo. Kami berjalan berdampingan, saling diam dan hanya fokus menikmati Es Mambo sampai habis.

 

Di depan gerbang komplek rumah gue. Vero baru memperjelas maksud isi suratnya. Vero resmi nembak gue menjadi pacar.

 

“Hari ini aku nembak kamu jadi pacar. kamu mau ngga jadi pacar aku?” Tanyanya kaku banget. Kayak robot yang lagi konslet.

 

Gue menangguk mantap. Dan ngga kalah kikuk dibanding Vero. 

 

Hari itu juga kami resmi menjadi anak SMP yang berpacaran. Vero dengan gagah berani mengutarakan cintanya tanpa ragu-ragu. Ngga se-cemen cowok zaman sekarang, beraninya cuma gombal di chat. Pas ditantang ketemuan, malah menciut kayak anak kucing kesiram kuah soto.

 

Gerbang kompleks rumah gue menjadi saksi bisu kisah cinta kami berdua. Vero mengeluarkan spidol hitam dari tasnya. Pada tembok gerbang, dia menuliskan “Vero love Alya” 29 Juni 1996. Nama kami berdua dan tanggal hari ini, hari jadian kami, terukir di sana. Bersebelahan dengan tulisan “Dilarang kencing disini! Kami berdua menatap ukiran nama kami berdua, antara merasa miris dan ingin tertawa.

 

 

***

Ke esokan harinya. Di bawah terik matahari yang sama. Kami berdua berjalan kaki, pulang bareng lagi. Jarak antara sekolah dengan rumah gue sekitar 2 kilometer. Rumah Vero lebih jauh lagi, ditambah dia harus berjalan memutar. Demi cintanya pada gue, Vero rela melakukan itu setiap hari, setiap kami pulang sekolah.

 

Sebenarnya gue bingung. Anak SMP kalau pacaran bahasannya apa yah? Sangat tidak mungkin kami membahas “Kapan kita nikah?” Daripada terlihat bego, gue memilih diam. Kami berdua diam. Sampai akhirnya tiba di gerbang kompleks rumah gue. 

 

“Sampai ketemu besok Alya.” Vero berpamitan, masih dengan gayanya yang kikuk.

 

Meski kami berdua banyak diam. Hati kami sama-sama senang. Hari-hari yang gue lewati di sekolah terasa lebih ringan. Padahal pelajaran matematika masih sesusah biasa. Guru PPKn masih segalak biasa. Tapi semua berubah menjadi luar biasa. Setiap malam menjelang tidur, gue ingin cepat-cepat pagi menjelang. Agar bisa secepatnya berangkat ke sekolah. Bertemu Vero.

 

Sejak punya pacar, penampilan gue lebih rapi. Gue sudah mulai mengenal  bedak dan hand body. Gue sudah tidak mau lagi memakai kaus kaki bau. sepatu gue semir mengkilap setiap hari, yang sebelum-sebelumnya, gue semir seminggu sekali saat hari Senin mau upacara bendera. 

 

Jatuh cinta adalah motivasi terhebat.

 

Sebulan, dua bulan, bahkan tiga bulan berlalu, gue dan Vero sudah menemukan chemistry. Hubungan kami berdua mencair. Kami tidak malu-malu lagi. Vero tidak bertingkah seperti robot kikuk yang sedang konslet lagi. Kami banyak mengobrol sekarang. Isi obrolan kami biasa-biasa saja, ngga bahas politik atau bahas masalah negara juga. Obrolan normal se-khas obrolan anak SMP.

 

Vero adalah anak yang luwes. Kepribadiannya mulai terlihat. Dia suka bercanda. Gue juga tidak malu-malu menunjukan sisi asli gue. Kata Vero, gue lucu dan unyu. Walau kenyataan sebenarnya gue hanya gadis belia yang cupu.

 

Status pacaran kami berdua, mulai diketahui oleh manusia-manusia se-isi sekolah. Hubungan kami menjadi pusat perhatian. Bukan karena kami pasangan yang serasi. Tetapi karena kisah cinta kami terlalu dini. Dua bocah yang belum mahir ngelap ingus sudah terikat di dalam sebuah komitmen. Di mana orang dewasa saja masih belum punya nyali dibebani oleh hal itu.

 

Kami berdua tidak peduli. Cinta pertama yang berjuta rasanya ini. Membuat kami merasa memiliki dunia. Dunia hanya milik kami berdua, yang lain cuma ngontrak. Banyak teman-teman yang syirik. Tapi banyak juga teman-teman yang ngebet ingin punya pacar juga.

 

Seiring waktu berjalan. Gue sama Vero semakin klop. Di sekolah, kami sering bareng. Ke pustaka bareng. Bikin tugas bareng. Ke toilet bareng. Vero selalu mampir ke kelas gue pada jam istirahat. 

 

Demi selalu dekat dengan gue, Vero tidak merasa gengsi berbelanja di kantin anak cewek yang terkenal sebagai kantin cewek dan cowok cemen. Vero berlagak santai, dan kesan cemen jauh dari Vero. Dia malah semakin terlihat jantan dan ganteng, di mata gue.

 

Seluruh civitas sekolah, Tukang kebun, Satpam sekolah, Wali kelas, Guru PPkn sampai Kepala sekolah. Semua orang tahu tentang hubungan kami. Hubungan percintaan Vero dan Alya, yang melegenda. Semoga kami bisa mengalahkan pasangan Rangga dan Cinta atau Dilan dan Milea.

 

***

 

Kisah cinta mana yang jalan ceritanya selalu manis? Tidak akan ada.

 

Romeo and juliet harus mati demi cinta. Kisah cinta Rangga dan cinta harus membuat Cinta lari-larian dan menangis kejer di Bandara. Kemudian di PHP sampai ribuan purnama oleh Rangga. Tidak ada satupun kisah cinta yang mulus. 

 

Begitu juga kisah cinta gue dan Vero. Di awal terasa manis. Namun akhir-akhir ini terasa hambar. Vero berubah.

 

“Jadi satria Baja Hitam?” tanya Rame. Teman semeja gue. Waktu itu jam istirahat. Kami menghabiskan sate ayam di meja kelas.

 

“ …. “ Gue diam, dan menggeleng lemah.

 

Anak SMP seperti gue belum paham betul cara menyampaikan curhatan hati. Tapi Rame mengerti kondisi gue yang sedang sedih. Di dalam kehampaan gue pada jam istirahat itu. Gue memandang keluar kelas. Melihat ke arah tempat duduk di bawah pohon kayu di samping Mushala. Tempat favorit gue dan Vero menghabiskan jam istirahat bersama. 

 

“Okey, gue akan cari tahu.” Rame berujar mantap.

 

Ke esokan harinya. Ketika pulang sekolah. Rame mengajak gue ke kantin anak cowok yang ada diluar pagar.

 

Saat itu juga gue mendapatkan jawaban. Kenapa Vero berubah.

 

Di kantin yang sudah lengang. Vero duduk berdua dengan seorang cewek. Gue memandang mereka dari jauh. Cewek itu bukan siswa sekolah ini. Dia tidak memakai baju seragam sekolah. Cewek itu seusia kami. 

 

Mereka berdua duduk dengan mesra saling bercanda. Cubit-cubitan. Senggol-senggolan. Suap-suapan bakwan. Gue berharap setelah adegan ini mereka saling bunuh-bunuhan.

 

Gue terbakar cemburu. Muka gue mengerut menahan pilu. Rame mengajak gue pulang. Mentraktir gue Es Mambo dan coklat choki-choki. Rame berharap cemilan anak SMP ini bisa membuat gue tidak terlalu bersedih.

 

***

 

Kesedihan gue memuncak, ketika Rame membeberkan identitas gadis misterius yang menjadi selingkuhan Vero.

 

Namanya Niken. Cantik tapi badung. Dia dari ibukota, Jakarta. Putus sekolah karena nakal. Orang tua Niken sengaja mengungsikannya ke kampung. Di Jakarta, Niken sering membuat onar. Dan pernah kedapatan memakai narkoba. Sadiskan? Pergaulan zaman dulu ….

 

Semenjak kehadirannya di Kota kecil ini. Niken berpetualang mencari mangsa. Vero gue yang lugu menjadi mangsa ke-enamnya. Setelah Niken berhasil memacari Satpam sekolah walau hanya satu malam. Garin mesjid. Kusir Bendi (Andong) dan dua orang sopir angkot. 

 

Vero menjadi petualangan terakhir. Niken beneran jatuh cinta dengan Vero. Niken tidak peduli kalau Vero adalah pacar gue. Dia malah semakin tertantang untuk merebut pacar orang.

 

Gue dan Niken akhirnya berkenalan. Kami berkenalan, tidak dengan cara baik-baik. Saat pulang sekolah, Niken menunggu gue di persimpangan jalan, di jalur menuju rumah gue. Waktu itu gue pulang sendirian.

 

Tanpa basa basi. Niken berseru.

“Ooo … jadi ini yang namanya Alya?” Niken dengan bar-bar melayangkan pukulan ke wajah gue secara tiba-tiba. Gue menangkis dengan cepat.  Tamparan Niken meleset. 

 

Gue ngga mau kalah memasang kuda-kuda. 

“Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu” teriak gue. Sebuah jambakan dan cakaran berhasil mendarat di wajah mulus Niken. Pipi sebelah kanannya koyak. 

 

Pertarungan kami berhenti setelah di lerai oleh warga yang melintas. Orang tua Niken kembali memulangkannya ke Jakarta.

 

Sudahlah jatuh, tertimpa tangga dan gue masuk got pula. Begitulah nasib gue waktu itu. Patah hati bercampur malu. 

 

Gue mendadak berubah menjadi pendiam. Vero menghilang. Dia tidak masuk sekolah beberapa hari. Dan gue tidak peduli. 

 

Gue dan Vero masih belia untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak ada niat kami berdua untuk duduk bersama berbicara dari hati ke hati. Vero pun seperti pengecut untuk datang meminta maaf ke gue. Kisah cinta kami menggantung begitu saja. Gue diam, Vero pun diam.

 

Patah hati pertama membuat gue mengurung diri di dalam kamar. Gue juga sering absen dan bolos sekolah. 

 

Ke dua orang tua gue menyadari hal itu. Memaklumi jika putrinya sedang patah hati. Papa dan Mama menghibur gue dengan cara mereka sendiri. Mereka mengajak gue liburan ke kebun binatang. Mengajak gue ke pasar malam naik komedi putar. Di mata mereka, gue masih gadis kecil yang akan menyukai tema liburan seperti itu. Pada bulan pertama patah hati, orang tua gue setiap malam mentraktir gue makan di luar. Lama kelamaan, gue berubah menjadi gadis cupu patah hati yang gempal. 

 

Mama membelikan gue beberapa Album kaset lagu untuk menghibur hati gue yang luka. Album Celine Dion. Album Padi. Album Slank, Iwan Fals. Dari semua Album kaset yang dibelikan mama. Satu buah Album yang paling membuat gue berkesan. Album “Gerimis Mengundang” penyanyinya Group Musik SLAM asal Malaysia. Yang sampai sekarang kalau gue dengar lagu itu. Patah hati semasa SMP ini kembali terasa.

 

***

 

Di hari kelulusan gue waktu SMP. Saat gerimis menitik di atas genteng sekolah. Vero akhirnya menemukan keberanian mengajak gue berbicara empat mata.

 

“Maafin aku Al. Kita masih bisa balikan?” tanya Vero setelah lama bungkam.

 

Gue menatap Vero dengan tatapan tajam setajam silet. Seandainya tidak ada penjara di dunia ini. Mungkin gue akan menyayat dan mencabik-cabik muka Vero hingga nyawanya melayang. Dendam gue membara.

 

“Kita Putus!!!” seru gue kencang. Petir menggelegar. Hujan turun deras, menyapu halaman sekolah, juga menyapu bersih kisah cinta gue dan Vero. Kita berdua benar-benar tamat.

 

Setelah hari kelulusan gue dari SMP. Gue berharap tidak melihat muka Vero lagi. Tapi apa dikata. Gue dan Vero ternyata memilih SMA yang sama.

 

Dan sialnya, dari kelas satu hingga kelas tiga. Kami selalu sekelas semasa SMA. Menyebalkan. Dan masa-masa di SMA itu lah masa-masa paling menyebalkan di dalam hidup gue. Di SMA, gue tidak pernah pacaran lagi.

 

Patah hati semasa SMP. Meninggalkan bekas yang mendalam. Gue benci setengah mati kepada Vero. Semasa SMA, kami berdua tidak sekalipun bertegur sapa. Gue mengganggap Vero hantu. Dan mungkin Vero juga menganggap gue begitu.

 

Sempat beberapa kali Vero berpacaran. Gue sedikitpun tidak pernah merasa cemburu. Awalnya dia berpacaran dengan cewek yang satu kelas dengan gue. Seminggu pacaran mereka bubar. 

 

Sebulan kemudian Vero berpacaran lagi. Masih dengan cewek satu kelas. Kali ini cewek yang dipilihnya, bertempat duduk persis di depan tempat duduk gue. Dan gue masih tidak bergeming. Hubungan pacarannya tetap berakhir bubar, dalam sekejap mata.

 

Gue tahu, Vero hanya ingin mencari perhatian. Dia hanya ingin membuat gue cemburu. Dan gue tetap tak acuh. Vero frustasi sendiri.

 

Di hari kelulusan SMA. Lagi-lagi Vero melontarkan pertanyaan yang sama, persis seperti pertanyaannya tiga tahun lalu.

 

“Aku minta maaf Al. Aku tidak bisa melupakanmu. Mau kah kamu balikan denganku?” tanya Vero ketika itu. 

 

Kami berdiri di samping gerbang sekolah. Dan hari itu adalah hari terakhir gue berada di kota kecil ini. Gue akan pindah ke kota lain, melanjutkan study, berkuliah.

 

Gue masih menggeleng. Meninggalkan Vero yang tertunduk lesu, Gue berlalu tanpa ada rasa bersalah. Mungkin gue masih mendendam.

 

Itu adalah hari terakhir gue dan Vero bertemu. Takdir membawa nasib gue ke selatan. Dan Vero di bawa takdir ke arah Utara. Kami berpisah. Melanjutkan hidup masing-masing. Di kota Baru tempat tujuan kami. Tempat baru yang menjadi tempat kami bertumbuh menjadi manusia dewasa. Gue memilih tempat kuliah di Kota padang. Vero merantau ke Ibukota, Jakarta.

 

***

 

8 tahun kemudian. 

 

Gue sudah menjadi wanita dewasa. Gue sudah bisa membedakan yang mana kuas untuk Blush On dan yang mana kuas untuk meng-cat tembok. Hidup gue berjalan lancar, tanpa jatuh cinta. Setelah tamat kuliah, gue lansung mendapat kerja. Meski bukan karir yang tinggi-tinggi sekali. Minimal, gue sekarang sudah menjadi manusia mandiri. Bahkan bisa menabung untuk masa depan gue.

 

Di hari yang tidak begitu mendung. Gue masih berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk di kantor. Waktu sudah menunjukan jam enam sore. Gue ngga mau buru-buru pulang ke rumah. Menyibukkan diri dengan bekerja, adalah cara gue untuk menghindari sepi. Gue masih sendiri hingga detik ini.

 

Dering ponsel menggetarkan meja. Gue melihat ke layar ponsel. Nomor yang tidak dikenal tertera disana. Gue meletakkan kembali ponsel yang meraung-raung itu. Tidak berminat membalas telpon.

 

Hari demi hari. Nomor yang tidak dikenal mulai membuat gue gusar. Nomor yang tidak dikenal tetap kekeuh menggetarkan ponsel gue. Saat gue sarapan. Saat gue sedang Meeting. Saat gue makan siang. Dan yang paling membuat gue kesal, saat malam hari sebelum gue beristirahat. Nomor itu semakin gencar menelpon. Terhitung 100x panggilan tidak terjawab.

 

Gue putuskan, malam ini. Telpon itu gue tanggapi. Pada deringan kesekian. Gue menerima panggilan. Gue berencana untuk menghardik pemilik nomor iseng yang sudah mengganggu mood gue seharian.

 

Dan niat gue urung. Suara Vero terdengar dari balik sambungan telpon. Dia menyapa gue ramah. Suaranya sudah berubah menjadi suara pria dewasa. Iya, Vero, cinta pertama dan patah hati pertama gue sedang berada di ujung telpon. Saat ini kami sama-sama sudah dewasa.

 

Malam itu. Diujung telpon. Vero membuka suara. Obrolan kami menjadi panjang. Bernostalgia dari masa SMP hingga masa SMA. Pada akhir obrolan, nada suara Vero mulai terdengar serius. Bisa jadi, dia ingin menyampaikan inti dari maksud hatinya menelpon.

 

“Aku bertemu seseorang. Aku berhutang budi banyak dengan keluarganya selama aku dirantau.” tarikan Nafas Vero merambat dari ujung telpon. Dan gue mulai deg-degan. Vero masih berada di Jakarta, dan gue masih berada di kota Padang.

 

“Aku mau menikah. Tapi …. Kalau kamu mau menerima aku kembali, aku akan batalkan rencana pernikahan ini.” Vero menyambung kalimatnya lagi.

 

Hening yang panjang di antara kami berdua. Gue terdiam, benar-benar terdiam.

 

“Hallo … Alya. Masih disana?” tanya Vero membubarkan lamunan gue.

 

Gue mengumpulkan tenaga. Merangkai kalimat dengan sangat hati-hati. Dan jawaban gw masih sama dengan jawaban delapan tahun lalu. Tapi kali ini tanpa ada rasa dendam.

 

Seandainya gue dan Vero berada di kota yang sama, mungkin jawaban yang gue berikan akan lain.

 

Vero menutup telpon. Kami mengucapkan salam perpisahan. Dan ini menjadi komunikasi kami yang terakhir.

 

Vero akhirnya menikah. Gue melepasnya dengan ihklas. Hati gue waktu itu benar-benar terasa sembuh. Patah Hati Pertama itu sebenarnya masih bersemayam di dalam alam bawah sadar gue. Membuat gue menutup hati rapat-rapat seolah kapok untuk terluka lagi. Tetapi kini, gue ingin jatuh cinta dengan SEGERA!!! Membuka lembaran baru. Jatuh cinta lagi atau mungkin patah hati lagi. Entahlah …. Gue akan mencoba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Shira Aldila - Apr 22, 2020, 10:24 AM - Add Reply

Thx sudah diterbitkan.

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani