Profil instastories

Stalker X Yandere

Stalker x Yandere

Karya : syalqadri

 

Pertengahan musim dingin, dimana pohon hanya menyisakan rantingnya saja. Udara dingin telah mendominasi, dan jika beruntung, salju tahun ini akan turun dan menyelimuti sekitar dengan warna lembut putih salju.

Gadis itu, Catris, berjalan sendirian, menelusuri trotoar. Syal rajut tebal merah melilit lehernya, dengan tujuan untuk menghangatkan diri dari udara dingin musim dingin. Udara semakin dingin seiring berjalannya waktu. Catris tidak mau mengambil resiko jika dirinya terkena flu dan tidak bisa masuk sekolah. Maka dari itu, Catris sebisa mungkin menghangatkan dirinya.

Ini adalah tahun ketiga sekaligus tahun terakhir Catris di sekolah menengah atas. Di semester kedua ini, Catris berharap bisa meninggalkan kesan yang cukup baik, barang sedikit.

Di persimpangan jalan, muncul seorang lelaki dengan pakaian casual putih dengan kemeja hitam yang sengaja tak ia kaitkan kancingnya. Kedua ujung bibir lelaki itu tertarik ke atas, tatkala manik hitam cemerlangnya menangkap sosok Catris dari kejauhan.

Dengan penuh semangat, lelaki itu mengangkat tinggi-tinggi tangannya, melambai. "Catris!" sahutnya memanggil.

Catris menatap ke sumber suara. Dia tersenyum begitu ia mengenali pemilik wajah dari lelaki itu. "Fay-senpai?" Gadis itu berlari kecil mendekat, membiarkan semilir angin menerbangkan anak rambutnya.

Lelaki itu Fayyadh, atau biasa Catris memanggilnya Fay, tersenyum lebar. "Yo, Catris. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."

"Iya!" Catris mengangguk. Persekian detik setelah melihat penampilan Fay, senyum Catris memudar. Gadis itu menatap baju yang Fay kenakkan lamat-lamat. "Lho, Fay-senpai tidak memakai seragam?"

Alih-alih menjawab, Fay justru balik bertanya, "Seragam?"

Catris mengangguk. "Iya, hari ini 'kan sekolah!"

Fay menatap datar. "Catris, hari ini hari Minggu."

"Eh?" Catris terperanjat. "EEEEEHHH?! SEKARANG HARI MINGGU?! B-Bukannya hari ini hari Sabtu, ya?"

"Kamu mengigau?" Fay memijat keningnya. "Aduh, sepertinya penyakit pikunmu itu bertambah parah."

"Ehe," Catris menjitak kecil kepalanya sendiri, dengan lidah yang sedikit dijulurkan. "Habisnya aku terlalu semangat untuk pergi ke sekolah, sih. Aku tidak sabar ingin bersekolah seperti biasa!"

"Semangat sekolahmu itu luar biasa, ya?" Fay tertawa, menepuk puncuk kepala Catris. "Ya sudah, kamu pulang lagi saja, sana. Jangan terlalu sering di luar, udara semakin dingin."

Mendengar kata "pulang", Catris memaksakan seulas senyum, lalu mengangguk. "Baiklah."

"Ya sudah, aku ada kerja part time. Sampai jumpa lagi!"

"Sampai jumpa lagi ...," Catris melambaikan tangan, menatap punggung Fay yang kini sudah hilang di persimpangan jalan. Gadis itu menghela napas panjang. Sebenarnya, bukan tanpa alasan Catris begitu menyukai sekolah atau berada di luar rumah.

Jika di rumah, Catris berasa menjadi boneka hidup yang harus taat akan peraturan. Kedua orangtuanya begitu keras mendidiknya, bahkan mereka tak segan untuk bermain tangan dengan Catris.

Gadis itu menunduk, menatap lebam di legan yang tertutup oleh kain seragamnya. Tatapannya berubah kosong. Dia tidak mau pulang. Dia benar-benar muak tinggal di sangkar mewah dan terjebak di sana.

Dunia ini tak adil. Bahkan, meskipun Catris memiliki segalanya, dia merasa hampa. Semua orang menjauhinya, entah apa alasannya. Ditindas, dicaci maki, dan disakiti telah menjadi makanan sehari-hari baginya. Satu-satunya orang yang mau berteman dengan Catris hanyalah senpai-nya, yang tak lain adalah Fay.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.