Profil instastories

Simpang Jalan

 

[Prolog]

Menjelang senja tenggelam di balik jendela, sebelum adzan maghrib berkumandang, kutatap cermin dalam-dalam. Sudah lima tahun aku hidup dalam kenangan yang tak kunjung menghilang. Terus hidup meski kisah itu tidak lagi pernah berkelanjutan. Wajahku telah banyak berubah. Sorot mata cerah telah lama memudar. Seiring waktu kian membunuh mimpi-mimpi indah. Dari banyak harapan yang pernah ada. Aku dan dia yang pernah bertemu di simpang jalan.

Dia kerap berkirim surat. Lipatan kertasnya kecil hingga menimbulkan jejak. Meski dia bisa mempermudah mengirim pesan melalui email, whatsapp, atau pun lainnya dia enggan untuk melakukan itu. Dia percaya setiap jari yang menulis himpunan kata adalah salah satu bentuk cinta. Jari yang tiap malam selalu sedia di atas meja, bertemu tinta-tinta yang akan merangkai satu kalimat sederhana.

"Apa kabar, Mila?"

Entahlah, sore ini aku rindu pada senyumnya. Lambaian tangan saat terakhir kali bertemu begitu terang dalam mataku. Dulu, aku sempat berpikir bahwa Allah telah menunjukkan jalan nyata. Dia adalah imam yang akan berdiri di depanku. Kemudian membentuk satu langkah yang sama. Menautkan hati dan berjanji di hadapan Allah. Kita akan menjalani misi untuk menebar kebermanfaatan bersama.

Tadi pagi telah terjadi sebuah pertemuan penting. Seseorang telah datang hendak meminangku. Bukan dia. Dia mungkin tidak akan pernah hadir lagi. Cinta itu telah lenyap tanpa pernah dihadirkan pucuk-pucuk surat kembali. Aku kehilangan dia. Aku pun merasa resah saat harus memilih, menerima lamaran itu atau tetap bertahan untuk menunggu waktu.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.