Profil instastories

Si Mbok

Pagi-pagi ada yang teriak.

"La, itu baju pamanmu dicuciin. Dah numpuk segunung. Baunya dah apek" perintah si mbok.
Paman belum menikah, cucian plus strikaan bajunya seperti menjadi tugas dan kewajiban yang tidak bisa ditolak.
Si mbok adalah panggilan untuk nenekku, aku sudah terbiasa memanggil begitu.
"Iya mbok, sebentar lagi mau kesana. Ini mau ngangkatin bju yang kering dulu".
"Cepetan!!! Sama buatin kopi tuh, ada tamu yang datang tadi" pintanya.
Setengah berlari aku menuju kerumah paman. Ada tamu beberapa orang teman paman. Aku melihat dari samping rumah. Akan lebih baik lewat belakang rumah.Kalaupun pintunya dikunci, lebih baik lagi lewat jendela. Jika bertemu dengan lawan jenis apalagi orang asing rasanya dag dig dug jederrr dan tak sanggup menatap wajahnya. Ternyata jendela belum dibuka. Hatiku makin berdebat, tidak ada jalan lain harus lewat depan rumah. Terlihat gagang pintu depan rumah kutarik dan kubuka dengan salam yang nyaris tak terdengar. Aku hanya menunduk, melihat lantai serta sekilas melihat arah jalan dengan cepat.
Dari belakang paman menyapa.
"Kopinya habis, beli dulu kewarung ya?" jelas paman
"Iya".
Ketika aku mau beli kopi kewarung, ternyata si mbok lagi didapur dengan spatulanya membolak balik daging ayam yang bumbunya mulai harum menyengat.
Kopi segera dibuat, kemudian siap disajikan. Asli gemeter, saat membawa nampan. Sedikit bunyi kletek-kletek. Aku pemalu sekali dan tak ingin memalukan. Ditaruhnya cangkir kopi satu per satu dengan pelan dan pasti.Kata teman-teman yang kulakukan selalu penuh dengan perasaan.
"La, mau makan ga?? Tadi masak ayam dikit"tawaran si mbok.
Aku tidak bisa menolak sebuah tawaran seperti itu.
"Iya bolehlah".
Si mbok mulai memijit ayam itu satu per satu. Kalau empuk berarti daging klo keras berarti tulang. Yang keras melulu ya, yang bnyak tulangnya. Setelah beberapa pijit, tibalah pada satu pilihan. Hemm, suka tidak suka ya harus dimakan. Porsi yang dipiring itulah yang dimakan. Setelah menepikan bawang merah, cabe, kecambah disisi piring. Barulah makan dimulai.
"Makannya cepatan itu rendaman cucian sudah nunggu.Cucian kemarin yang sudah kering sudah ngantri disetrika tuh" tatar si mbok.
Entahlah, aku makan dengan banyak perasaan dan pikiran.
Setelah mencuci piring, lanjut cuci baju, dijemur dan tinggalah nonton tv sambil nyetrika baju. Lelah mencuci celana jeans ada 10 potong, ngucekna beraaattt, belum baju atasan dan pakaian dalam juga. Njemurnyapun dengan penuh tenaga.
Nyetrika sambil nonton tv, terasa santai ada hiburan.
Beberapa menit kemudian.
"Matiin tv nya boros listrik tuh, nyetrika aja ngga usah sambil nonton tv"sambil pencet tv.
Sepi akhirnya hufffhh. Beberapa puluh menit kemudian...
" Nyetrikanya lama banget sih, ngga beres-beres" olok si mbok.
Aku cuma diam dan menghela napas yang panjang.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jun 27, 2020, 3:05 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jun 25, 2020, 3:02 PM - Lilis Puji Astuti
Jun 25, 2020, 2:09 PM - Erbin Simanjuntak
Jun 24, 2020, 1:54 PM - Lilis Puji Astuti