Profil instastories

Si Mbok 3

 

Si mbok adalah seorang pekerja keras.Hampir tiap malam mesin jahitnya selalu berbunyi. Berjalan berkilo-kilo meter untuk berjualan baju, seperti tidak ada capeknya. Si mbok sangat ingin naik haji.
Aku memanggilnya "mbok"  karena mangikuti ibu dan pamanku.
Selepas maghrib, seperti biasa aku kerumah si mbok.
"La, ayo ngaji dulu"
"Iya, mbok"
Aku membuka al-Qur'an dengan mengangkat tali penanda. Sekali saja langsung ketemu halamannya.
Aku membuka surat yang ke 57,tinggal setengah bagian lagi untuk khatam.
"Besok kamu libur dulu ngajinya ya, aku capek" ujar si mbok.
"Iya" aku mengiyakan, ini biasa terjadi.
"Sekarang ibumu sudah punya rumah, itu karena si mbok tau"celetuk si mbok.
" Emang biayanya dari si mbok ya"batinku
"Dulu, kalau kamu sekeluarga ngga aku usir pasti sampai sekarang belum punya rumah" tambahnya.
Degg... Aku hanya terdiam, masih kuingat waktu itu. Saat aku masih kecil, kami sekeluarga pernah menginap dirumah bu De sebulan. Dan aku tidak tahu kenapa sampai menginap.
Pada akhirnya kami kembali juga kerumah si mbok.
Setahun terakhir dirumah si mbok ibu menderita penyakit yang aku sendiri tidak paham. Ibu suka berdiam diri dikamar. Jendela tertutup rapat, gelap. Ibu yang tadinya gendut, sampai kurus kering. Kata orang depresi.Ayahku berusaha keras untuk membangun rumah.
"Mbok, paman ngga diusir juga biar bisa hidup mandiri cari istri"
"Huss, bapak pamanmu sama ibumu itu kan lain. Bapak pamanmu itu punya banyak warisan, kalau mau bikin rumah ya tinggal jual warisan saja.Selain itu, dia pensiunan guru. Kalau aku sudah tua, ngga bingung, tiap bulan tetep dapat gaji. Bapak dari ibu kamu tuh cuma nyusahin"
"Oh,jadi mbok nikah sama bapakku karena itu ya" pamanku tiba-tiba merasa tidak terima.
"Ya iyalah, biar hidupnya enak. Kan itu buat kamu juga"
"Aku apanya, uang gaji kan ga pernah dikasih"paman agak emosi
"Yang tiap hari buat makan itu apa"
"Ya udah, sekarang aku minta dimodalin, masa mau nganggur terus"pinta paman
"Uang dari mana buat modal, gaji aja kecil"
Paman terus meminta, hingga akhirnya warisanpun menjadi perkara.
Aku hanya mendengar kebisingan itu dan beranjak pulang.
* * *
Selepas maghrib, aku tidak mampir kerumah si mbok. Hanya numpang lewat saja. Tapi terdengar jelas, suara si mbok sedang mengaji. Sekian lama aku mengaji tak pernah sekalipun khatam. Jika sudah sampai dibagian tengah al-Qur'an atau juz 30,si mbok akan meliburkan ngaji. Dia melanjutkannya sendiri sampai khatam.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.