Profil instastories

Serpihan Kasih

SERPIHAN KASIH

 

Namanya adalah kejora. Seperti bintang kejora yang bersinar di langit malam dan memandanginya dalam kegelapan. Terlihat indah namun sangat sulit untuk ku gapai. Yah, itulah gambaran tentang dirimu. Seorang pria ciptaan Tuhan yang ku kagumi dalam diam. Memandangimu dari kejauhan, itulah yang selalu ku lakukan tanpa bisa menggapai. Dan menyapamu lewat senyum singkat lebih dari cukup.

            Arfan Pradita Kusuma.

            Sebuah nama yang selalu berkesan dihatiku. Bersemayam, tinggal dan enggan untuk pergi. Aku tidak bisa melepaskan nama itu. Setia, layaknya perekat yang sulit dilepaskan.

            Dia tinggi dengan bola mata bulat, berhidung mancung serta berkulit putih bersih berhasil memalingkanku dari dunia. Namun, sosokmu tak pernah bisa aku raih. Kau terlalu jauh seperti bintang di langit sana.

            Kamu tahu? Kamu sosok cinta pertama seorang gadis berumur 7 tahun. Bisa dibilang kita adalah teman masa kecil. Aku mengenalmu, mengaggumimu dan menginginkanmu. Tapi, apa kamu tahu disini ada seseorang yang selalu menunggumu? Emmm, aku rasa tidak.

            Tahun berganti tahun, dan semuanya terasa sama saja. Tidak ada yang berubah, sama seperti perasaanku terhadapmu. Mengagumi tanpa dikagumi. Kau mungkin tahu diriku hanya sebatas tetangga yang setiap saat melewati pekarangan rumahmu.

            Aku tidak tahu apakah kamu masih mengenalku? Apa kamu tahu aku ada di sekitarmu? Apa kamu menyadari kehadiranku? Seorang gadis pemalu yang pernah mengirimu sebuah surat. Pertanyaan demi pertanyaan itu selalu menghantui pikiranku.

            “Hahaha…… kalau dipikir-pikir rasanya memalukan. Ka, Arfan bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak melihatmu. Meskipun setiap hari melewati rumahnya tapi tetap saja aku tidak pernah melihatmu. Apa ka Arfan masih tinggal di rumahnya yah? Apa dia pergi dan bekerja di luar kota? Ahh masa iya sih..” Celotehku seraya menatap senja.

            Sudah hampir 2 tahun lamanya, aku memiliki kebiasaan ini. Menatap senja, menikmatinya seorang diri di jendela kamar. Si penikmat senja yang berusaha untuk melupkan perasaannya. Tapi tetap saja aku tidak bisa.

            Aku dan ka Arfan hanya terpaut 2 tahun. Dia seperti penyemangat dalam kehidupan. Aku mengangguminya sampai tidak memikirkan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana kehidupannya saat ini, meskipun rumah kami hanya berjarak beberapa meter saja.

            Setiap pagi aku sering melihat ke arah rumahnya. Terlihat sepi dan tidak ada siapa pun. Ketika hendak pergi bekerja aku sering melewati rumahnya dengan perasaan berdebar. Kalang kabut, takut, cemas, serta berharap bisa melihat sosoknya walaupun hanya beberapa detik saja.

            Hingga suatu hari tiba-tiba saja kau datang dan menyapaku lewat pesan singkat melaui media sosial. Bak bunga bermekar, rasanya campur aduk. Perasaanku terhadapnya semakin merekah sempurna. Ada sebuah harapan yang bisa ku raih.

            Apa dia menyadari perasaanku?

            Sejak hari itu kami sering bertukar pesan. Menanyakan kabar dan lain sebagainya. Banyak yang ingin ku tanyakan, namun ku coba untuk menahan. Berharap dan terus berharap ka Arfan memiliki perasaan yang sama.

            Langit terlalu bersinar terang hari ini. Angin berhembus menemani setiap langkah kakiku. Aku menengadah ke atas melihat awan berarak dengan tenang. “Kau tidak pernah tahu bagaimana rasa ini berlabuh padamu.” Gumamku menghentikan langkah.

            Detik demi detik pikiranku penuh tentangnya. Terus berharap dia mengerti tentang rasa ini. Rasa yang ku miliki tetapi salah ku tafsirkan. Ternyata bulan tidak bisa mendekati matahari.

            Dia pria yang baik bahkan mungkin terlalu baik buatku. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah titik. Kita tidak lagi saling sapa, entah itu lewat pesan singkat atau pun saat berpapasan di jalan. Entahlah aku pun tidak mengerti.

            Hari demi hari ku lewati dengan cemas. Ada sesuatu yang menyapa hatiku. Berbisik lirih bahwa apa yang ku rasakan ini adalah sebuah kesalahan.

            ‘Kembalilah, Aku merindukanmu’ Angin berbisik dikedua indra pendengaranku. Tanpa ku sadari air mata mengalir tak tertahankan. Ternyata cara yang selama ini ku lakukan adalah salah. Allah menyapaku lewat bahasa kalbu keindahan-Nya. Ayat cinta dari-Nya telah menyadarkanku.

            “Ya Allah, hamba malu. Selama ini hamba terlalu mencintai dan berharap pada hamba-Mu. Ampuni hamba ya Allah…” Malam itu air mata tidak bisa aku bendung. Tumpah ruah membasahi mukena putih yang ku kenakan. Kesunyian telah membuka mata hatiku. Cara yang ku lakukan untuk mendapatkan hatinya benar-benar salah.

Tidak seharusnya aku terlalu mencintai dan berharap padanya. Pada sosok yang ku kagumi dalam diam. Aku tahu dia tidak pernah melirikku sedikit pun. Mungkin waktu itu hanyalah sebuah keberuntungan sementara. Nyatanya, dia terlalu sulit untuk ku gapai.

.

Setahun berlalu. Setelah memutuskan untuk tidak terlalu berharap, tidak peduli apapun yang ia lakukan, sekarang aku hanya ingin fokus beribadah, memperbaiki hidupku, mencintai lebih dalam kepada Sang Pencipta dan memperbaiki hubunganku dengan-Nya.

Cahaya hangat menembus sanubari, angan-angan semu terbang menembus cakrawala. Kau telah tiada dihatiku. Kau pergi bersama dengan perasaan yang ku kubur dalam-dalam.

Namun, tidak ada angin, tidak ada badai…………….

Hari minggu ini ku manfaatkan untuk mengistirahatkan diri setelah beberapa hari disibukan dengan pekerjaan yang selama ini ku geluti. Tiada nikmat yang paling nikmat selain kasih sayang yang telah Allah berikan untuk setiap hamba-Nya. Nikmat hidup, nikmat sehat wal’afiat dan juga nikmat iman.

Terutama tentang nikmat sebuah perasaan bernama “cinta”

Assalamu’alaikum” Suara seorang pria mengusik kenyamananku yang tengah fokus membaca sebuah novel. Tidak berapa lama ibu datang ke kamar, senyumnya merekah bak bunga mawar merah yang mekar tadi pagi.

“Ada apa mah?” tanyaku penasaran seraya menutup buku. Kini eksistensiku tertuju padanya, “Sekarang kamu siap-siap dan temui tamu di depan. Ayo cepat.” Ucap ibu sibuk menyiapkan pakianku.

Tidak mengerti apa yang tengah terjadi aku hanya menurut saja apa yang diperintah oleh ibu.

Aku semakin bingung saat ibu mendandani wajahku. Apa hari ini hari spesial? Pikirku.

“Ayo, An ‘dia’ sudah menunggumu di ruang tamu.” Aku mengerutkan dahi bingung. Siapa dia? Pikirku tidak tahu siapa yang datang ke rumah kami.

Ibu menggandengku menuju ruang tamu. Senyumnya masih setia membingkai wajahnya yang ayu, aku terheran-heran dengan ibu hari ini. Tidak lama berselang kami tiba di ruangan itu dan tatapanku jatuh pada sosok pria yang tengah duduk disofa diapit oleh orang tuanya.

Seperti bongkahan es, aku terdiam menatap langsung ke arahnya. Lidahku kelu, bunga yang telah layu dan sudah ku buang itu kembali disiram berharap bunga lain tumbuh dengan sempurna.

Apa aku mampu? Aku terlalu takut.

Aku duduk disamping kanan ibu, menunduk menyembunyikan keterkejutan.

“Alam menunjukan keindahannya. Begitu juga dirimu. Indahnya wajahmu membuatku tertunduk. Setahun ini aku mencoba mencari jati diriku, mencari kebenaran tentang sebuah perasaan dihatiku. Layaknya Ali Bin Abu Thalib yang memendam cinta kepada Fatimah Az Zahra, beliau hanya mampu memendamnya merasa tidak pantas bersanding dengan Fatimah. Kemudian, Ali memasrahkan semua perasaan itu kepada Allah semata. Aku sadar perasaan yang selama ini hadir adalah sebuah perasaan suci dan aku sangat menghargainya. Karna itulah aku memutuskan untuk tidak menghubungimu lagi. Hari berganti hari, aku menyadari perasaan ini mulai menguasaiku………..”

Okay, sampai sini dadaku mulai terasa sesak. Ku rasakan pipiku memanas. Bolehkah aku berharap kembali? Ya Allah aku terlalu takut.

“Aku tidak ingin menjemput rasa itu dengan cara yang salah. Akhirnya ku putuskan untuk mendekatkan diri pada Allah. Mencintai Allah sedalam-dalamnya dan melakukan sholat istikharah beberapa kali. Jawaban yang kudapatkan selalu sama. Dirimu, Aina. Sosokmu sering hadir dalam mimpiku. Ternyata jawaban yang Allah berikan sudah ku dapatkan. Aina, aku ingin menikahimu.”

Kau datang tanpa angin berbisik indah padaku. Semerbak bunga kembali bermekaran. Layaknya hamparan ladang dengan berbagai jenis bunga tumbuh subur dan memiliki aroma menenangkan.

Kau adalah sosok pria yang sudah lama ku kubur dalam-dalam dihatiku. Kini kau datang menawarkan ikatan suci pernikahan. Wanita mana yang akan menolak pinangan dari seorang pria sebaik dirimu? Tentu saja jawabanku……….

“Layaknya kisah Zulaikha dan nabi Yusuf begitu pula dengan kisahku. Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, Allah jauhkan Yusuf darinya. Tapi saat Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah hadirkan Yusuf untuknya. Dan saat ini aku merasakan hal yang sama………… Insya Allah dengan izin Allah, bismillahirrahmanirrahim aku menerima lamaranmu.”

Sejak hari itu aku sadar bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya sungguh luar biasa.

.

Semerbak harum bunga katsuri menyeruak memenuhi rongga oksigen. Kau hadir melengkapi separuh kehidupanku. Kau adalah nafas terpanjang yang ku butuhkan. Alunan suaramu saat melantunkan ayat suci Al-Qur’an surah Ar-Rahman menjadi obat candu bagiku.

Sejarah telah terukir, saat semua saksi mengucapkan kata “sah” untuk kita. Kini aku telah menemukan seseorang yang membersamaiku menuju janah-Nya. Yah, kau adalah ketidakmungkinan yang telah Allah hadirkan sebagai pelengkap kehidupanku.

Kau serpihan kasih yang menjadi kisah perjalanan hidupku. Pelengkap separuh nafasku dan menjadi titik akhir sebuah penantian.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani