Profil instastories

Sepiring Berdua

"Mas hari ini kita makan sepiring berdua ya," Ajak ku pada suami ku, Bisma.

 

"Yaudah hayuk sini duduknya deketan sama mas, biar makin sweet" Jawabnya.

 

Namaku Padmi, Aku sudah menikah dengan Mas Bisma kurang lebih lima tahun. Kami sudah dikaruniai seorang anak perempuan, Namanya Jelita. Kami hidup dengan sederhana dan tinggal di desa.

 

***

 

"Mas, Hari ini kita makan sepiring berdua lagi ya," Aku kembali mengajak Mas Bisma makan sepiring berdua. Ini sudah kesekian kalinya aku mengajak ia makan sepiring berdua. Semoga saja ia tidak curiga mengapa aku selalu mengajaknya makan sepiring berdua.

 

"Dek, kamu kok sering banget sih ngajakin mas makan sepiring berdua?" Kali ini ia bertanya. Mungkin merasa heran mengapa akhir-akhir ini aku selalu ingin makan sepiring berdua.

 

"Gak papa mas, Adek mau coba ikuti sunah Rosul. Kan katanya makan sepiring berdua dengan suami itu selain bikin tambah mesra jadi pahala juga." Jelas ku. 

 

"Yaudah sini, Sekalian mas suapin" Ajak mas Bisma. Ia menyuapiku makan dengan telaten, sambil beberapa kali mengusap ujung bibir ku saat ada nasi yang belepotan. 

 

Kami menikmati makan malam dengan penuh kehangatan. Apalagi anak ku sudah terlelap sejak tadi. Usianya yang baru menginjak sembilan bulan membuat ia terbiasa tidur selepas maghrib. Beruntung aku punya suami seperti mas Bisma. Ia pengertian dan tak ragu membantu ku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 

Aku bersyukur dimiliki olehnya.

 

***

 

Hari ini kami menginap dirumah kedua orang tua ku. Sejak tadi pagi Jelita terus menempel denganku. Ia tak membiarkan aku beranjak sedikitpun, ia juga tak mau melepaskan tangannya dari leherku dan membenamkan kepalanya dipundak ku.

 

"Jeje sama nini dulu ya, Kasian itu mama kamu belum sholat dzuhur lho. Nanti mama dimarahin tuhan lho" Rayu ibuku seraya mencoba mengambil Jelita dari gendonganku.

 

Menanggapi ucapan nini nya, Jelita justru menjerit histeris. Ia tidak mau lepas sama sekali. Mas Bisma yang melihat Jelita histeris segera menghampiriku. Ia mencoba merayu Jelita untuk digendong olehnya saja. Namun tetap Jelita tidak mau lepas dariku.

 

Ku tepuk-tepuk pantatnya sambil membaca sholawat supaya Jelita bisa lebih tenang. 

 

Karna kelelahan menangis akhirnya Jelita tidur. Segera ku baringkan badannya diranjang. Segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

 

Saat sedang sholat, ternyata Jelita kembali menangis. Ia histeris karna tidak mendapatiku didekatnya, Karna aku memang sholat diruang mushola rumah ibu dan bapak.

 

Selepas membaca salam. Segera ku taruh mukena dengan seadanya, ku hampiri Jelita yang masih sesegukan menangis dalam gendongan Mas Bisma.

 

Segera ku ambil Jelita. Dan dia langsung berhenti menangis dan sebagai gantinya ia mengeratkan rangkulannya pada leherku. Seolah begitu takut kehilanganku.

 

"Jelita anak sholehah kan?" Tanyaku pada Jelita.

 

Ia mengangkat kepalanya dari bahuku, dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.

 

"Chehhh... Cheehhh" Ocehnya menanggapi pertanyaanku.

 

"Karna Jelita anak sholeh, Jelita gak boleh nangis begitu ya saat tidak ada ibu. Kan ada Abi, Jelita harus jadi anak yang sholihah. Nurut sama Abi. Jangan nangis seperti tadi ya sholihahnya ibu" Pesanku padanya.

 

"Bibibi... buu" Jelita bergumam tidak jelas. Namun aku memaknai ocehannya sebagai Abi dan Ibu. Panggilannya kepada ku dan Mas Bisma memang cenderung tidak klop ya, Abi dan Ibu. Namun sejak dulu aku selalu ingin dipanggil Ibu oleh anak ku. Dan mas Bisma ku panggil Abi. 

 

"Pinternya anak ibu." Ku kecup pipi dan kening nya dengan penuh kasih sayang. Tidak terasa bayi yang ku kandung dengan penuh kepayahan tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar. Sebenarnya Jelita jarang sekali rewel, kecuali saat sedang sakit. Namun entahlah dengan hari ini. Mungkin dia sedang ingin menunjukkan kepintarannya.

 

Mas Bisma menghampiriku dengan membawa piring berisi nasi dan lauknya.

 

"Sini dek makan dulu, Mas tahu kamu belum makan siang karna Jelita yang nempel terus." 

 

"Anak siapa sih ini? Kok hari ini pinternya masyaallah sekali?" Mas Bisma menuntunku duduk di ranjang.

 

"Anak ibu dan abi dong, Jelita mau jadi anak sholihah abi. Makanya hari ini pinter banget." Jawab ku dengan suara yang seolah-olah menirukan suara Jelita.

 

Akhirnya kami makan bersama, Walaupun Mas Bisma sudah makan siang tadi bersama Ibu dan Bapak. Namun ia kembali menemaniku makan sepiring berdua.

 

Melihat kami makan sepiring berdua, Ibu yang kebetulan melintasi kamarku yang pintu nya tidak ditutup segera menghampiri kami.

 

"Aduuuh adek, Gak malu sama Jeje? Makan disuapi. Udah gitu sepiring berdua lagi" Ledeknya.

 

"Iya nih bu, Adek lagi ketularan Jelita. Maunya nempel terus. Sampai makan pun selalu mau sepiring berdua" Canda mas Bisma.

 

Mendengar ledekan mereka berdua aku hanya tertawa. Entahlah, beberapa hari ini aku ingin selalu makan sepiring berdua plus disuapi. Dulu padahal sebelum ada Jelita boro-boro mau makan sepiring berdua. 

 

***

 

"Mas mau gak menikah lagi?" Tanya ku secara tiba-tiba. Saat ini kami sedang berbaring diranjang, Siap untuk tidur. Dengan Jelita yang berada ditengah-tengah kami.

 

"Emang Adek Izinin mas nikah lagi?" Mas Bisma malah balik bertanya, disertai senyum jenaka.

 

"Ihhh kok nanya nya gitu sih. Ya gak mau lah adek di madu." Membayangkan aku di madu oleh suamiku membuat bulu kuduk ku berdiri, Merinding.

 

"Lho, adek yang tadi nanya nya gitu. Ya mas tanya adek dulu dong. Siap gitu kalau mas poligami? Poligami sunah lho dek. Pahalanya juga besar. Kali aja adek hilaf ijinin mas poligami." Candanya.

 

"Ishhh, Bunda Khadijah dulu gak dipoligami kok sama Rosul. Jadi mas jangan berani-berani nikah lagi selama adek masih hidup. Awas lho!" Ucapku dengan nada yang kubuat segalak mungkin.

 

"Iya iya. Mana berani mas nikah lagi. Adek aja gak habis-habis malah bikin nagih" 

Ucapan random nya membuat mata ku mendelik seketika. Dasar suami mesum, fikirku.

 

"Tapi Mas, kalo nanti adek dulu yang meninggal. Mas boleh kok nikah lagi. Cari wanita yang sayang sama Jelita ya mas. Jangan cuma sayang sama mas Bisma." Ucapku. Entah mengapa aku bisa berkata demikian. Padahal boro-boro menginjinkan nikah lagi, melihat ia berbicara dengan wanita lain saja membuat ku kepanasan.

 

"Dek dek, boro-boro nikah lagi. Mungkin saat kamu meninggal mas udah aki-aki dek. Bahkan mungkin bisa jadi mas dulu yang meninggal. Udah ah, kita tidur dulu. Besok sahur kan?"

Besok memang hari senin, Kami sedikit demi sedikit membiasakan puasa sunah. Walaupun belum rutin setiap senin kamis. Apalagi Jelita tidak ku ASIhi. Karna sejak ia lahir, Asi ku tidak keluar. 

 

"Selamat malam mas"

 

"Malam dek"

 

****

 

Kami Bangun jam tiga pagi, Lalu sholat tahajud bersama-sama. Kemudian kusiapkan makanan yang akan kami santap bersama. Jelita sudah kupindahkan ke kamar bapak dan ibu, Sehingga kami bisa makan dengan hidmat. Dan Tentu saja kami kembali makan sepiring berdua.

 

"Mas, Makasih ya. Mas sudah sabar membimbing adek. Mas juga menguatkan adek saat kita kesulitan untuk mendapatkan Jelita. Adek bersyukur bisa jadi bidadari dunia nya mas Bisma." Ucapku disela-sela suapan yang mas Bisma berikan.

 

"Justru mas yang harus nye berterima kasih sama Adek. Sudah setia mendampingi mas, dan tanpa lelah merawat Jelita. Mas tahu adek sering merasa kelelahan setelah seharian mengurus rumah dan Jelita. Namun adek tak pernah mengeluh." Mas Bisma menghentikan suapannya. Dan menggenggam telapak tanganku.

 

"Kita belajar sama-sama ya dek, kita didik jelita supaya jadi anak sholihah. Mas gak akan muluk muluk minta adik untuk Jelita. Bagi Mas, Jelita sudah cukup menjadi permata Mas dan Adek" Lanjut mas Bisma.

 

Mendengar ucapan mas Bisma, aku merasa terharu. Dan aku bersyukur memilikinya. 

Memiliki Jelita tidaklah mudah, Kami menanti hampir empat tahun lamanya. Dengan berbagai cemoohan yang tetangga lontarkan kepadaku, Mas Bisma lah yang selalu menguatkan.

Saat Jelita hadir dirahim ku, Hampir empat bulan aku tidak bisa turun dari ranjang karna morning sicknes yang membuatku kepayahan.

Dan Saat Jelita lahir, ternyata ujianku masih berlanjut. Aku tidak bisa MengASIhinya. Tak terhitung omongan-omongan yang tetangga lontarkan kepada ku.

 

Namun sekali lagi Mas Bisma dengan sabar dan penuh pengertian menguatkan ku. Ia mendampingku disela sela kesibukannya mengajar di sekolah dasar. 

Mas Bisma, Aku beruntung bisa menjadi Istrimu.

Aku beruntung bisa menghabiskan makanan sepiring berdua dengan mu.

 

***

 

Selepas sholat subuh aku merasa kepala ku sedikit pusing. Ku baringkan tubuhku diranjang.

Mas Bisma sedang mandi untuk bersiap-siap pergi kesekolah untuk mengajar. 

Ku tatap wajah putriku yang masih tertidur denga tenang.

 

"Jelita, Sholihahku." Lalu kupejamkan mataku untuk yang terakhir kalinya. Sebelum jiwa ku dijemput keabadian.

 

Terimakasih Mas Bisma, sudah mau berbagi makanan Sepiring berdua denganku.

 

Ku tunggu kamu di keabadian. Ya Habibi Qolbi💚

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani