Profil instastories

SEPETAK SAWAH EMAK. Bag II

Andai kebahigaan seperti pelangi  maka tentulah seluruh isi dunia ini adalah pelangi saja yang dilihat emak dan Abdullah, ya, pelangi yang Dul suka pandang dimasa kecil di tengah sawah bila  sore menjelang. Tetapi masa kecil itu tidak akan pernah kembali dan sepetak sawah itu pun sudah tidak ada lagi, hasil penjualan sepetak sawah emak telah dipakai Dul untuk kuliah dan kekihlasan hati emak untuk menjual  sepetak sawah milikiknya itu mungkin yang telah membawanya terbang menuju mekkah almukarrama untuk melaksanakan ibadah haji.

Perjalanan menuju rumah Allah sebentar lagi terpijak oleh  emak dan Dul. Tak pernah terpintas dalam fikiran Dul kalau dia akan bisa membawa emak naik haji mengingat keadaan masa keclnya yang penuh dengan kekurangan, tetapi Allah Maha berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang hendak diberikannya kepada hamba yang  dipilihNya.
Dul tidak menyesali masa kecilnya! Penderitaan dan kepayahan bersama emak berjuang melawan kerasnya kehidupan tampa seorang ayah kini terhapus sudah,  segalah kepayahan itu hilang berganti kesyahduan, perjalanan ibadah haji bersama emak memompah berjuta rasa yang tak bisa digambarkan dengan sebait kata, semua terasa syahdu saat Dul menggandeng tangan mak memasuki masjid Nabawi, mesjid yang dibangun oleh Nabi dimasa berabad lampau, telah mampu menggambarkan keagungan seorang Nabi yang mulia, yang hingga akhir hidupnya memikirkan keselamatan ummatnya, disitu emak terisak menangis penuh kesyahduan, bukan karena merasa telah berhasil mendidik Dul hingga sukses, tetapi  kesyahduan ibadah haji yang dilaksanakannya bersama Dul yang tak pernah hadir dalam mimpi sekalipun kalau kakinya yang dulu selalu berlumpur di tengah sawah akan sampai menginjak  sebuah mesjid  megah yang begitu dimuliakan ummat manusia dibelahan bumi manapun.  Saat mereka berdua memasuki kawasan rawda emak menyempurnakan segola do,a untuk Dul,  untuk kebahagiaan Dul dan yang lebih penting dari itu semua adalah  Dul segera menemukan jodohnya, dan mak ingin perempuan yang  mendampingi Dul adalah seorang perempuan yang shaleh, dan Dul pun berdo,a dengan hal yang sama untuk semua kebahagiaan mak. Emak menyeka air matanya saat tangan Dul yang penuh bakti itu memberikan air zaam-zam untuk mak minum.
     "Minumlah, mak, dan niatkan dalam hati bahwa semua penyakit yang ada ditubuh mak akan hilang semua, karena air zam-zam itu bereaksi sesuai dengan niat yang meminumnya."
Selesai mak meminum air Zam-zam, perempuan yang begitu diagungkan Dul langsung memeluk Dul penuh haru.
    "Trimah kasih, nak."
    "Trimah kasih untuk apa, mak, apa yang Dul lakukan belum bisa menebus perjuangan mak melahirkan dan membesarka Dul, bahkan seandainya seluruh isi dunia kuberikan untuk mak, itu tidak bisa menebus upaya mak melahirkan Dul"
Mak kian terisak, saat Dul dengan tangnnya sendiri memakaikan pakaian ihram untuk mak,  setelah menyempurnakan niat ihram menuju makkah almukarramah untuk menyempurnakan ibadah haji yang mereka lakukan.
 
Dul tiada henti besyukur telah mampu memenuhi janjinya kepada mak  dan Dul pun memboyong mak ke Jakarta
 untuk menemani Dul di sana.
     "lho, mak apa yang mak lakukan?"
Dul menegur mak yang pagi-pagi sudah di halaman bersih-bersih. Kebiasaan di kampung samasekali tidak bisa mak tinggalkan,  meski sudah ada asisten rumah tangga yang khusus membersihkan halaman rumah.
    "Ini mak cuma nyapu."
    "Sudahlah, mak,  kan sudah Dul bilang, mak tidak noleh mengerjakan apapun."
Ucapan Dul membuat mak terdiam, terpaksa mak melepaskan sapu yang digenggam itu untuk Dul simpan. Mak membuang nafas, mak merasa canggung tinggal di kota tidak bisa ngapa-ngapain, sementara mak sudah terbiasa mengerjakan sendiri pekerjaan rumah, kalau sudah begini,  mak jadi  rindu kampung dimana mak bisa melakukan apa yang mak mau, mengerjakan berbagai hal yang membuat tubuhnya menjadi fit. Mak ingin mengutarakan keinginan  pulang kampung tapi kasihan Dul yang tinggal sendiri di rumah semegah istana ini. 
     "Maaf, ada bapak,  bu.?"
Mak rupanya dari tadi masih berdiri di halaman sampai suara gadis muda nan cantik itu datang menyapanya.
    "iya, nak, ada didalam."
tidak lama kemudian Dul keluar bersiap-siap ke kantor, setelah mencium tangan mak, Dul pun berlalu bersama gadis cantik itu setelah sebelumnya Dul memperkenalkan mak kepada gadis bermata bening itu.
"oo ..., jadi itu mak, kamu?"
Gadis itu manggut-manggut di samping Dul yang sementara menyetir mobil, tubuh gadis bermata bening itu terdorong kedepan dan wajahnya hampir menyentuh kaca mobil begitu mobil yang sedang melaju cepat Dul mendadak menginjak rem. Dul tidak suka mendengar suara Santi yang seolah merendahkan mak.
    "Apa-apaan sih kamu, Dul!"
Suara santi sedikit berteriak.
     "Apa kamu bilang barusan tadi? Kamu heran melihat kalau itu emakku."
Wajah Dul merah menahan marah membuat Santi takut.
    "maksud aku bukan seperti itu, Dul."
Dul memperbaiki posisi duduknya kemudian menatap tajam kearah Santi,
    'kamu harus tahu Santi, emakku adalah segalanya bagiku, karena dikakinya terdapat syurgaku, dan kamu tahu, wajah tua dan telah keriput itu karena terpanggang matahari demi membiayai sekolahku, tangan emakku kasar mencangkul sawah hanya agar aku bisa makan nasi! Dan kamu tahu Santi, setiap malam makku bangun shalat tahajud hanya untuk mendoa,akan aku! Jadi jangan coba-coba kamu memandang emakku dengan sebelah mata, emakku adalah perempuan yang luar biasa!"
    "Maaf, Dul,  maksudku tidak seperti itu."
Mata santi berair membuat Dul memelankan suaranya.
    "Santi, tampa restu emakku aku tidak akan pernah menikahi kamu."
Santi menelan ludah getir mendengar penuturan Dul.
 
 
Di ruang tengah emak  menghampiri Dul yang sementara menonton televisi dengan pelan,
    "Dul, mak ingin bicara, boleh, kan?"
    "Silahkan, mak."
Dul memperbaiki posisi duduknya dan mengecilkan sedikit suara televisi.
    "Apa tidak sebaiknya kamu menikah, dul? Kamu sudah punya segalahnya, nak, biar ada yang mengurus kamu, nak."
    Dul menarik nafas, 
    "Tapi dengan siapa, mak?"
Dul memicingkan mata.
    "Mak merasa gadis yang tadi pagi datang di sini itu cocok untukmu, kelihatannya dia gadis baik-baik, Dul."
Dul terkesima mendengar penuturan mak, dan biasanya pilihan mak tidak pernah salah.
 
Majene, 15 januari 2020
1579071144833784-0.png
 
 
 
 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani