Profil instastories

SEPETAK SAWAH EMAK Bag.I

     "Mak, buat apa Dul sekolah tinggi-tinggi, kalau itu akan semakin memiskinkan, mak."

Abdul kian mempertegas ketidak inginannya agar mak tidak menjual sawah yang hanya sepetak dan merupakan sumber penghasilan mak, sekaligus satu-satunya peninggalan bapak yang menghidupi mereka berdua selamah ini.
    "Mak tahu dan mak ngerti, Dul, tapi mak mau menjual sawah itu untuk mssa depan kamu, nak, mak tidak ingin kamu mewarisi sepetak sawah itu sekaligus mewarisi kemiskinan, mak."
Mak mulai terisak, air matanya meleleh, walau perempuan paroh baya itu berusaha menyembunyikan air matanya dengan buru-buru menghapusnya dengan ujung kerudng yang mulai lusuh.  Abdullah menarik nafas berat, tidak tega rasanya melihat emaknya menangis hanya karena memikirkan masa depannya.
     "Dul tahu, mak, tapi dengan apa mak bisa mendapatkan penghasilan, sawah itu satu-satunya sumber penghidupan kita, apalagi kalau Dul sudah meninggalkan mak disini pergi melanjutkan sekolah di kota seperti harapan, mak"
Abdullah jadi ikut sedih, pemuda yang baru saja lulus sekolah menengah itu menerawang, dia pun sebenarnya punya cita-cita tinggi, setinggi bintang di langit untuk membahagiakan mak, tetapi Dul sadar telapak kakinya berpijak di bumi kenyataan, lulus sekolah menengah saja sudah sangat bersyukur , dan mak sudah membanting tulang menanami sepetak sawah miliknya untuk membiayai sekolahnya. Terkadang Dul merasa iri dengan teman-temannya yang mendapatkan bantuan pendidikan dari sekolah, tapi Dul mana pernah menerima bantuan,  ah! mungkin belum kena sasaran ... Dul berusaha berbaik sangkah saja.
     "Kita punya gusti Allah, nak, Allah yang akan memberi makan, mak, kamu jangan khawatir."
Kata-kata mak membuat hati Dul seperti tersengat kekuatan seratus fuul, ya ada Allah yang akan menjaga emaknya jika dia sudah meninggalkan kampung melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tingi.
     "Aku menurut saja apa kata, mak, tapi Dul janji mak, sepetak sawah mak akan Dul ganti dengan pakaian ihram,"
Abdullah memeluk emak dengan sangat erat, air matanya membasahi baju emak, sementara emak berusaha tegar tidak memperlihatkan kesedihan. Tetapi Dul tahu mak berusaha menyembunyikan kesedihannya didalam hati, mak tidak ingin melihat anak satu-satunya, sibiran hati belahan jiwanya itu bertambah sedih sehingga memberatkan langkahnya untuk meninggalkan maknya di kampung untuk ke kota melanjutkan pendidikannya.
Dul menyeka air matanya berusaha kuat dan tegar menghadapi kenyataan hidup, angannya menerawang jauh di sana, di masa kecilnya yang penuh perjuangan bersama emaknya, sebab sejak kecil Dul sudah yatim ditinggal mati oleh bapak sejak masih dalam kandungan.
 
Dul kecil berlari-lari menapaki jalan-jalan yang licin untuk membantu mak menanam padi dan membantu mak memanennya, semua Dul lakukan sepulang sekolah. Dan masih segar dalam ingatannya bagaimana mak berjuang dengan gigih, dengan tenaga yang ada mak membajak sawah, sering kali Dul melihat peluh mak bercucuran terpanggang matahari di tengah sawah, setiap kali menyaksikan itu Dul selalu berjanji dalam hati akan membahagiakan mak suatu hari nanti, ya suatu hari nanti jika Dul sudah besar dan menjadi orang sukses.
    "Kenapa Dul kamu ngeliatin mak seperti itu?"
Mak menegur dengan senyuman, samasekali mak tidak menampakkan rasa lelahnya.
    "Dul kasihan melihat, mak, biar Dul saja yang menggantikan mak membajak sawah."
Dul mengambil cangkul yang di pegang mak untuk melanjutkan pekerjaannya.
    "Sudahlah, Dul, tugas kamu hanyalah belajar,  sudah sana! mak mau melanjutkan pekerjaan"
Mak mendorong sedikit tubuh Dul dan melanjutkan pekerjaannya, Dul kecil pun mengalah tetapi tidak sedetik pun terlewatkan matanya mengawasi mak bekerja. Mak memang perempuan tangguh dan pekerja keras, sekaligus mak juga seorang perempuan teguh memegang prinsip "lahir sekali, mati sekali dan menikah pun cuma sekali" mak tidak pernah sedikit pun punya keinginan untuk menikah lagi padahal usia mak belum terlalu tua seandainya mak mau menikah lagi, walau wajah mak kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Dul kecil menarik nafas, kapan ya dirinya bisa besar agar bisa menggantikan posisi bapak sebagai tulang punggung keluarga, diamatinya tubuhnya, kemudian melayangkan pandangannya kearah sawah milik pak jun yang sudah hampir panen, padi yang menguning dan merunduk seperti sedang mengakui penciptaNya,  semakin berisi semakin merunduk, Tuhan seperti memberikan contoh kepada manusia agar besifat seperti padi, burung-burung pipit kecil tiada bosan hinggap dan terbang kembali, mereka begitu gembira menikmati persawahan yang sejuk. Tiba-tiba Dul kecil berlari-lari menyusuri pematang sawah karena mendengar suara kapal terbang di atas awan.
    "Hai kapal terbang! bawah aku pergi! dan bawa aku kembali setelah aku besar! aku ingin membahagiakan emakku!"
Dul kecil terus berlari mengejar kapal terbang yang tidak mungkin mendengar suaranya, Tapi Allah Maha mendengar! suara iDul kecil itu menembus langit karena berteriak hendak membahagiakan emaknya, sementara anak-anak lain yang ikut mengejar kapal terbang itu hanya bertetiak minta duit.
    "Dul, kenapa senyum-senyum?"
Teguran mak menghentikan lamunannya. 
    "Sawah itu mengingatkan aku pada masa kecilku dulu, mak, dan  sekarang mak mau jual untuk melanjutkan sekolahku."
    "Dul, pendidikan itu penting dan ilmu itu mahal."
    "Kalau memang mak menganggap hanya pendidikan satu-satunya yang bisa memutus rantai kemiskinan, ya Dul mau sekolah setinggi mungkin untuk membahagiakan, mak."
Dul beringsut dari tempat duduknya, sementara lampu minyak yang menemani mereka ngobrol mulai meredup menandakan minyaknya mulai berkurang, emakpun memasuki biliknya untuk istirahat.
 
Pesawat terbang yang membawa Dul ke Jakarta  bersama do,a-do,a yang tiada henti mak panjatkan dalam setiap ibadahnya kembali mengingatkannya terhadap sepetak sawah emak yang kini sudah tidak ada, uang hasil penjualan sepetak sawah itu telah membawa Dul terbang bersama mimpi-mimpinya untuk membahagiakan emak. Dengan hasil penjualan sepetak sawah emak Dul menyewa kos kecil dekat kampusnya dan biaya selanjutnya selamah menempuh pendidikan Dul cari sendiri, dari mulai mengajar mengaji, les frifat , angkat-angkat barang di pasar semua Dul kerjakan untuk membiayai kuliahnya bahkan terkadang Dul rela makan seadanya untuk mencukupi kebutuhannya, Dul semangat melalui hari-harinya dengan belajar sungguh-sungguh dan tekad cepat menyelesaikan kuliah dan Dul tidak pernah memikirkan yang lain, apalagi memikirkan perempuan seperti teman-teman kuliahnya yang masing-masing sudah punya pacar, kalaupun Dul memikirkan perempuan,  perempuan itu hanya emak. Emak adalah satu-satunya perempuan yang bertahta di hatinya dan menjadi tujuan hidup serta menjadi pemompah semangat untuk meraih keberhasilan.
    Soal cinta ...? Godaan itu juga ternyata tidak luput dari perjuangannya,  Santi, gadis cantik dan seksi di kampusnya itu ternyata menaruh harapan besar kepada Dul. Sebagai seorang putri tunggal anak pengusaha besar yang kaya raya Santi tak canggung mengungkapkan rasa cintanya kepada Dul,
    "Maaf, San, cintamu padaku membuatku begitu berharga, tapi cintaku belum bisa kubagi terhadap perempuan lain"
Mulut Santi mengerucut tiga centi.
    "Jadi kamu sudah ... siapa perempuan itu?"
    "Emakku di kampung, dia adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai dan sampai saat ini aku belum bisa membagi cinta itu."
Dul menarik nafas membayangkan wajah emaknya yang teduh dan bersinar karena wudhunya.
    "Dul, emak kamu hebat ya, pantas beliau pinya putra gagah dan pintar seperti, kamu"
Santi yang semula kecewa berubah bangga terhadap keputusan Dul. Gadis cantik bermata bening itu bisa memahami keputusan, Dul, dan dia pun semakin kagum dan bertambah cinta meskipun itu harus disimpannya dalam hati.
Begitula Dul menghadapi hari-harinya, petuah-petuah emak sebelum berangkat dipegangnya kuat-kuat, petuah -petuah emak yang begitu menghujam sampai kedasar hatinya dan itu pula yang membawanya sukses meraih prestasi tertinggi dan lulus lebih awal dengan predikat Sarjana tehnik yang terbaik se Asia dan langsung terangkat jadi dosen termuda di fakultas di mana Dul kuliah. Hanya saja Dul merasa sedih karena emak tidak bisa datang menghadiri wisudanya sebab emak lagi sakit.
  Dan hari ini setelah tiga tahun Dul jauh dari emak, Dul ingin pulang memenuhi janjinya kepada emak, segalah sesuatu sudah Dul persiapkan dia ingin menjemput mak dengan segalah keberhasilan yang sudah Dul raih.
Pesawat yang membawa Dul terbang kembali ke kampung mengingatkan lagi kepada sepetak sawah emak yang  kini sudah tidak ada lagi.
Sampai di kampung Dul di arak anak-anak sampai di rumahnya, dijumpainya mak yang nampak kurus dan mulai terlihat tua.
     "Mak ini Abdul, mak, aku kembali untuk membahagiakan, mak."
Dul memeluk emak dengan sangat erat, emak pun memeluk anaknya dengan lingan air mata bahagia, emak merasa tidak sia-sia menjual sepetak sawah itu.
     "Mak, aku akan memenuhi janjiku untuk mengganti sepetak sawah mak yang mak jual untuk sekolahku dengan pakaian ihram."
Dengan air mata penuh keharuan Dul membuka koper dan memberikan sebuah pakaian putih lengkap dengan segalah perlengkapannya kepada emak beserta paspor untuk berangkat haji.
    "Kita akan berangkat bersama, mak untuk mengunjungi rumah Allah sebagai tanda terima kasih kita kepadaNya"
Emak tersenyum bahagia.
 
 
Majene, 14 januari 2020
1578984601225724-0.png

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani