Profil instastories

Seperti Ikan di Laut

Terik matahari mulai mengenai tubuh-

tubuh yang berbaris memanjang. Seorang

lelaki paruh baya berdiri tegak di dekat

tiang bendera, memegang mic dan siap

angkat bicara saat orang di depannya

memberi komando pada orang-orang di

belakangnya.

 

"Seperti laut," bisik seorang teman padaku.

 

Aku tersenyum geli, mengangguk pelan

seraya mendengarkan dengan saksama.

Setelah mengucapkan kalimat pembukaan,

mengoreksi prilaku murid satu minggu

belakangan ini, kepala sekolah yang

menjadi pembina upacara itu pun berkata:

"Dunia itu seperti laut." Aku dan temanku

saling bertatapan. "Laut, terlihat indah

dipandang mata, namun tak ada yang tahu

apa yang ada di dalamnya. Entah

pemandangan bawah laut yang indah atau

terumbu karang yang pecah serta binatang

yang hampir punah. Maka, berpikirlah dan

jadilah seperti ikan di laut, meskipun air

laut terasa asin, namun ikan tidak

terkontaminasi rasa asin itu, padahal ia

berenang bebas dalam lautan, sesekali

melihat ke atas laut," lanjut kepala sekolah

memberikan amanat.

 

"Aku juga ingin bebas, tapi gak kayak ikan

karena aku gak bisa berenang," bisik

temanku.

 

Upacara hari senin pun selesai, seluruh

pasukan dibubarkan.

 

"Bosen banget amanat itu terus, saya

sampe hapal," kata temanku.

 

"Sama," kataku sambil mengajaknya

memasuki ruangan kelas.

 

"Saya punya ide." Dia menarik tanganku,

berlari menghampiri kepala sekolah yang

hendak memasuki kantor.

 

"Pagi, Pak," sapa temanku, basa-basi.

Kepala sekolah menoleh, kami pun

mencium punggung tangannya.

 

"Pagi juga. Apa ada yang ingin kalian

sampaikan?"

 

Temanku mengangguk mantap. "Terkait

amanat Bapak tadi, saya ingin bertanya

sesuatu," katanya.

 

Aku sedikit memandangnya, menyikut

lengannya. Tapi temanku itu sepertinya

tetap yakin akan apa yang dilakukannya.

Senyumannya terlihat mengembang.

 

"Silakan," kata kepala sekolah.

 

"Apa di dalam laut ada batu, Pak?"

 

"Tentu ada."

 

"Asin gak?"

 

"Nggak tahu, bapak gak pernah nyoba."

 

"Kalau nggak asin, saya mau jadi batu di

lautan aja, supaya bisa tetap ada di zona

nyaman tanpa perlu berhadapan dengan

predator/pemangsa. Kalau ikan nanti

dijaring manusia, dimangsa ikan yang lebih

besar, itu sama aja gak bebas. Batu bebas

diam, bebas menononton kehidupan

lautan," katanya. Entah apa yang

dipikirkannya saat itu. Aku baru tersadar

kalau sejengkal saja dia salah berpikir, kami

akan berada dalam masalah. Namun aku

tahu temanku itu pintar, jadi aku hanya

diam saja, persis seperti batu.

 

Mata kepala sekolah membesar, aku pun

bersiap-siap untuk lari jika tiba-tiba

emosinya meledak.

 

"Itu sama aja mati," jawabnya.

 

"Abisnya saya gak bisa berenang, gimana

mungkin jadi ikan?" temanku berkilah.

Perasaanku mulai tidak enak.

 

"Buat apa tiap semester ada praktek

olahraga berenang kalau kamu masih gak

bisa berenang juga? Nama kalian siapa?

Kelas berapa? Jurusan apa?"

 

Deg! Jantungku berdebar.

Kulihat wajah temanku yang mulai

kebingungan. Senyum yang tadi

mengembang kini hilang tanpa bekas.

 

"Kalian lagi apa di sini?" tanya guru B.

Indonesia yang baru saja keluar dari kantor

hendak menuju kelas kami untuk memulai

perlajaran pertama.

 

Kami masih terdiam.

"Kami lagi nanya ke kepala sekolah, Bu,"

jawabku sambil mencoba menyunggingkan

senyuman.

 

"Kan kata Bu Guru kalau malu bertanya

sesat di jalan." Temanku menyambung

jawabanku.

 

Guru B.Indonesia pun tersenyum, "Ya

udah, ayo cepat masuk ke kelas bareng

ibu."

 

Aku dan temanku mengangguk, "Kami

permisi dulu, Pak," ucap temanku. Aku

bersorak dalam hati. 'Selamatlah kami'.

Kami berdua berjalan mengikuti langkah

guru B.Indonesia.

 

Entah kenapa sejak saat itu kata-kata

tentang laut dan ikan tidak pernah

diucapkan kepala sekolah lagi saat upacara.

Namun para murid selalu ingat dengan

amanat itu, abadi dalam kenangan meski

sudah tak mengenyam bangku sekolah di

sana.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani