Profil instastories

Sepatuku Punya Mulut

Sepatuku Punya Mulut

Oleh: Cicci Ayata 

 

Kuhentikan langkah di bawah pohon besar yang ada di pinggir jalan menuju rumah, memunguti batu-batu kecil banyak-banyak  lalu memasukkannya ke dalam saku celana sampai celana biruku yang tanpa ikat pinggang sedikit melorot menahan beban batu. Tapi tak apa, kali ini aku harus punya persiapan senjata untuk melindungi diri sendiri sebelum memulai perang. Yah, lebih tepatnya perang dengan anjing Lutta teman sekolahku yang kemarin sudah berhasil membuatku lari tunggang langgang dan membuat sepatuku yang hanya satu-satunya rusak. Tiba di rumah bukannya dibelain. Malah dinasihati. “Jangan jadi anak yang penakut,” kata bapak waktu itu sembari menjahit sepatuku yang menganga. Tiap kali aku mengadu tentang perbuatan Lutta terhadapku di sekolah, bapak hanya mengataiku penakut. Aku langsung diam. Entah karena hatiku membenarkan perkataan bapak. 

Dari bawah pohon ini, aku bisa mendengar suara anjing Lutta yang belum lama dibelinya itu. Aku langsung bergidik ngeri membayangkan gigi tajamnya menyantap pantatku dan kuku-kuku tajam itu mencakar wajah yang kata bapak mirip pesepak bola Cristiano Ronaldo. Saat itu aku tertawa. Bukan karena bahagia dengan pujian bapak. Tapi aku sadar meski tiap hari bercermin dengan kaca buram yang ada di jendela kos-kosan tempat kami tinggal, tetap saja aku bisa melihat wajahku mirip bapak.  Ya jelas. Aku anaknya.

Dari jarak kurang lebih dua meter suara anjing itu semakin nyaring terdengar. Sepertinya binatang bergigi tajam itu sudah hapal betul dengan bau badanku. “Anjing dan majikan sama saja.” Aku mencibir pelan. Jangan sampai suaraku terbawa angin dan tembus ke telinga Lutta. Anak gendut itu akan semakin menyusahkan hidupku. Kapan lagi aku bisa memaki? Bibirku hanya mengatup rapat tiap kali diperlakukan semena-mena. Melihatku, anjing itu semakin garang menggonggong. Aku mundur beberapa langkah lalu melemparinya, dalam hati tak berniat menyakiti tapi hanya untuk melindungi diri. Anjing itu bukannya diam atau takut malah semakin menjadi. Pagar besi coba dilompati. Terdengar tawa Lutta dari balik pintu. Aku langsung lari ketakutan. Dan sampai rumah sepatuku kembali menganga. 

***

Sepulang memulung kuceritakan kejadian itu pada Macoa, sahabatku. Macoa tidak kaget dengan ceritaku, karena dulunya dia juga satu SMP denganku dan sama-sama jadi bahan bullyan Lutta dan dua sahabatnya. Hanya saja dia lebih penakut. Ia tidak tahan tiap hari diledekin si kaki pincang.  Ia hanya bertahan selama dua semester. Aku berusaha membujuk agar tetap sekolah. Tapi bapaknya malah mendukung agar berhenti sekolah. 

“Andasa. Keluar saja dari sekolah. Mending ikut aku sama bapakmu memulung. Kalau tiap hari mulung itu enak bisa jajan,” kata Macoa sembari menyeruput minuman es  rasa sirsak yang kami beli di warung kecil yang ada di tepi jalan.

“Tapi aku punya cita-cita ingin jadi presiden,” balasku spontan.

“Hahaha … presiden pemulung,” selorohnya. Macoa tertawa mendengar cita-citaku yang menurutnya mustahil tapi bagiku mungkin. 

***

Subuh yang dingin. Aku sudah harus berangkat sekolah untuk  menghindari anjing dan tuan sialannya itu. Dua jam aku berjongkok di depan gerbang sekolah sebelum penjaga sekolah datang dan membuka gembok.  Bapak berusia kurang lebih 50 tahun itu bertanya, “Kenapa akhir-akhir ini sering datang lebih awal?” Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. 

Bel istirahat berbunyi. Seketika murid berhamburan keluar mengekori punggung ibu guru. Kulirik Lutta yang duduk di kursi depan sedang asik berbincang dengan kedua kawanannya. Pasayu dan Gawa. Aku bergegas keluar untuk menghindarinya tapi nasib malang selalu saja berpihak padaku. Anak kepala sekolah itu sengaja menselonjorkan kakinya ke samping membuatku terjungkal. Suara gaduh dari kursi dan meja yang terdorong oleh tubuhku seketika mengumpulkan siswa yang ada di luar kelas untuk menyaksikanku lagi. Laiaknya tontonan gratis sayang untuk dilewatkan. Mereka tertawa. Beberapa murid melihatku dengan tatapan peduli tapi tak punya nyali untuk menolong. Dan sisanya ikut tertawa atas nasibku. Sepatuku yang sudah menganga karena tidak sempat dijahit oleh bapak makin terbuka lebar menampakkan jari-jari kakiku yang memakai kaus kaki bolong. 

“Sepatumu kenapa Andasa?” sahut Lutta disertai tawa. “Sepatumu punya mulut juga. Kayanya kelaparan dia,” tambah Sayu juga tak kalah heboh. “Mulutnya lebar banget sumpah. Pasti lapar banget itu,” Gawa ikut menimpali. Lalu mereka tertawa terbahak. Aku berusaha berdiri tapi Lutta lagi-lagi menendang sepatuku yang malang. Untuk pertama kalinya, mataku terasa panas seperti ada yang mencoba untuk keluar dari persembunyiannya lalu tumpah. Melihat keadaan sepatuku yang semakin tak berbentuk sepatu. 

***

Perasaanku sedih luar biasa. Aku pulang dengan menenteng sepatu. Sepatu yang dibeli bapak saat aku masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Masih muat sampai sekarang? Tentu saja, karena bapak membeli sepatu dengan ukuran dua kali lipat dari ukuran kakiku. Katanya biar dipakainya lama. Bapak masukkan gumpalan kertas ke dalam sepatu agar tidak longgar. 

Kaki polosku yang menginjak jalan beraspal tak merasakan panas sedikit pun padahal matahari lagi teriknya. Mungkin hatiku saat ini jauh lebih panas. Bahkan aku tak lagi ingat untuk mampir memunguti batu-batu sebagai senjataku. Tidak lagi. Anjing itu kembali menggonggong saat melihatku. Aku memilih melempar sepotong roti yang ada di saku bajuku. Ajaib. Anjing itu langsung diam. Entah karena lapar, tidak diberi makan oleh majikan atau memang anjing itu budak sogokan. 

Sampai di rumah aku menangis sesenggukan. Bapakku hanya berkata, “Sepatumu kan punya mulut. Kalau nanti sepatumu bicara kamu nggak usah ikut-ikutan,” kata bapak sembari mengaduk kopi yang baru diseduhnya. Tangisku berhenti. Aku tidak mengerti dengan ucapan bapak. 

***

“Woy, rupanya si anak pemulung masih tidak punya malu datang ke sekolah!” teriak Lutta. Berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang. Seperti biasa aku hanya diam. Kata bapak, biarkan saja nanti juga capek sendiri. Bapakku keliru. Buktinya Lutta tidak ada habisnya mengejekku. “Dasar anak lalat. Kerjanya kerubutin sampah.” Kembali Lutta melancarkan serangannya. Dia sepertinya geram karena selalu kudiamkan. Tanpa sadar dia sudah ada di depanku menggebrak meja sangat keras. Aku berdiri. menatap bola mata yang dipenuhi kebencian itu, yang aku sendiri tidak tahu apa sebab aku dibenci. “Sepatumu sudah mingkem rupanya. Sepatumu juga takut sama saya. Punya mulut tapi tidak berani ngomong. Dasar penakut!” serunya. Dia mendorongku sampai punggungku membentur dinding dan langsung menginjak sepatuku dengan sangat keras berkali-kali membuat jahitannya kembali lepas. Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba kakiku sudah berada tepat di wajah Lutta. Membuatnya berteriak histeris. Untuk kali pertama kulihat wajah ketakutan Lutta.  Sebagian hatiku langsung bersorak gembira. 

Aku dan Lutta dipanggil ke ruang BP. Dalam hati aku sudah pasrah. Mungkin aku harus menerima nasibku lanjut sekolah sampai di sini saja karena sudah melukai anak kepala sekolah. Di ruangan yang berukuran lima kali lima meter itu aku dan Lutta diintrogasi. Aku menjawab yang sebenarnya. Kalau bukan aku yang lebih dulu memulai melainkan Lutta. Tapi kujelaskan seperti apa pun tetap saja aku yang salah dan harus minta maaf, Lutta langsung menyungging senyum merasa menang seperti biasanya. “Tidak Pak. Aku tidak salah,” kataku. “Kamu tidak lihat bibir Lutta sampai bengkak gitu? Kamu mau kasus ini berlanjut?” Pak guru mengingatkan atas tindakanku yang dirasa berlebihan, padahal jari kakiku pun tidak kalah sakitnya. Lalu bagaimana dengan sakit hatiku selama ini? Aku melirik bibir Lutta yang mirip pisang kelewat matang, masih untung tidak sampai menjatuhkan gigi kebanggaannya. “Tapi Pak, bukan aku pelakunya melainkan sepatuku. Maafkan lah sepatuku, jangan biarkan sepatuku sampai dibawa polisi. Karena sepatuku hanya punya mulut tapi tidak punya otak untuk berpikir. Sementara Lutta punya mulut dan otak untuk berpikir.” Guru BP diam tak berkutik begitu pun dengan Lutta. Wajahnya pucat.

Lutta sendiri yang mengatakan bahwa sepatuku punya mulut. Mungkin itu cara sepatuku berbicara pada orang yang tidak bisa menghargai orang-orang lemah. Yang dialami Lutta itu salah. Aku tahu. Bahkan aku tidak pernah dendam apalagi sampai berpikir untuk membungkam mulut kotor Lutta sampai babak belur. Entahlah.

Sepulang sekolah langsung kutemui bapak, langsung kuceritakan semua kejadian tadi, kali ini bapak hanya diam.

“Apa sepatuku benar-benar punya mulut, Pak?” tanyaku pada bapak sembari membersihkan rumput liar yang tumbuh di atas tanah makam miliknya.

 

Mandar, 03 Desember 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Nurwahidah - Mar 16, 2020, 1:21 PM - Add Reply

Sip deh ceritanya. Ma,nyus

You must be logged in to post a comment.
Cicci Ayata - Mar 17, 2020, 11:52 AM - Add Reply

Terima kasih hihi

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani