Profil instastories
Ai
Ai

Masih muda

Bicara

Sesampainya dirumah aku melihat ibu dan bapak yang sedang duduk bersila menemani Bima belajar dan menonton tv yang hanya berukuran kecil itu

Aku menyalami tangan mereka dan pergi kekamarku berniat mrrebahkan sedikit lelahku dikasur lepekku, namun bang Arif dengan seenaknya tiduran dikasurku padahal dia juga ada jatah kamar nya, dengan menendang kaki bang Arif walaupun tak ada pergerakan lain selain suara dengkurannya yang keras aku bergegas pergi kekamar mandi setelah membawa handuk dan baju tidurku, yaitu kaos dan celana training panjanku

Selsesai dengan ritual bersih bersihku, aku memutuskan duduk disisi ibu dan mulai nyemil kue buatan ibu, mungkin sisa kue jualan tadi ibu.

"Pak, bu?"

Ragu sebenarnya buat cerita kejadian sore tadi waktu di kafe bang matt, tapi aku mau lihat reaksi apa aja yang ibu dan bapak tunjukan setelah aku cerita ini

"Iya" Ibu dan bapak kompak menjawab

"Tadi nay ketemu mereka di kafe'nya bang matt"

Tanpa berpikir lama siapa yang aku sebut 'mereka' ibu dan bapak langsung bereaksi mereka menatapku ingin tahu kelanjutannya, walaupun kulihat dalam manik mata mereka memancarkan kepasrahan sedikit.

"Mereka gak nyapa nay, waktu nay diem mandang mereka, mereka cepet cepet alihin pandangan mereka, nay sakit hati lagi rasanya bu, pak"

Aku baper dengan ceritaku tak sadar mataku berkaca kaca

Ibu hanya mengusap bahuku saja dan mengalihkan mata yang berkaca kacanya itu, dan bapak memandangku seolah olah harus kuat.

"Bapak'kan udah bilang mau seangkuh apapun mereka dengan tidak menyapa kamu, kamu harus tetep sapa mereka, mereka saudara kamu Nay" perintah bapak yang pasti selalu itu, dan aku kadang melanggarnya seperti tadi sore

Sakit hatiku, sudah bercabang banyak oleh mereka

Ibu tanpa suara dan hanya mengecup keningku cepat cepat membawa Bima pergi ke kamar dengan alasan sudah malam dan harus tidur, yang aku tahu pasti ibu menyamarkan tangisnya dalam tidur pura puranya itu.

Bapak menghela nafas berat mekihat ibu yang seperti itu, bukan sekali dua kali aku melihat ibu terisak dimalam hari.

Awalnya aku tak acuh namun hampir tiap malam ibu seperti itu dan aku baru sadar jika ibu seperti itu jika dari kami menyangkut tentang 'mereka'. Bapak'pun sama dia akan terlihat lebih murung dan tanpa muka riangnya yang ada hanya muka kesedihannya saja.

Aku bingung, dengan ragu aku bertanya 'kenapa' namun hanya jawaban klise tanpa membuat hatiku puas oleh jawaban mereka. Makin lama mungkin sudah saatnya juga aku diberitahu oleh ibu dan bapak, dan aku terkejut apalagi Bang Arif'pun sudah tahu segalanya, psntas saja jika membahas tentang 'mereka' bang Arif selalu menghindar.

'Mereka' itu siapa?, mereka adalah keluarga bapakku, keluarga yang bermargakan 'wijaya' keluarga yang kaya raya, yang mempunyai perusahaan dengan capaian sukses, dan bercabang dimana mana.

Bingungkah kalian, kenapa bapakku dan anak istrinya tidak kaya raya, alasannya simple mereka tidak direstui oleh pihak bapakku, dan mengancam jika mereka tetap bersama bapak tidak akan dapat warisan sepeserpun dari 'oma dan opa ku'. Bapak dia lebih memilih cintanya dengan hidup susah pun bapak berjuang tak mau mengecewakan kekuarga ibu yang sudah menitipkan ibu pada bapak.

Keluarga ibu itu tak seperti keluarga bapak yang kaya raya, 'nini dan aki' sebutan orang tua ibu itu hanya pemilik toko kelontong tanpa ada cabang dimana mana, mereka ramah tanpa angkuh, namun sayang kakak dari ibu yang tak suka ibu pelan pelan medorong ibu agar ibu tak memiliki warisan apapun dari 'nini dan aki'.

Kekejaman tahta dengan uang itu, membuat semangatku untuk bekerja dan membahagiakan bapak dan ibu semakin meluap luap.

Aku ingin ibu dan bapakku bahagia.

"Istirahat nay jangan kemalaman tidur, tidur dikamar abangmu saja, dan jangan lupakan tadi kata bapak"

Bapak pun pamit setelah mengacak rambutku dengan senyuman manisnya, senyuman cinta pertamaku, senyuman keteduhan yang membuatku selalu bangga menjadi anak bapak dan ibu karena kemurahan hati mereka.

*****

Pagi ini aku berangkat pagi pagi tanpa sarapan, dan meninggalkan suara ibu yang lembut penuh kekhawatiran karena aku melewatkan sarapan.

Mau bagaimana aku ada kekas pagi dan sialnya aku kesiangan bangun tidur karena semalam aku tak bisa tidur jika bukan dikamarku.

Aku menstop angkot yang hampir saja melewatkanku, mahasiswi baru yang semoga saja tidak telat dipagi keduaku ini.

"Belum ada dosennya, rin?" Tanyaku ngos ngosan

Bsyangkan aku berlari dari pelataran kampus mencari ruanganku yang kini berada dilantai dua, cape guys!

"Belum, dan lo beruntung nay dosennya telat 10 menit kata kating, dosen ini disiplin banget san lo lagi dapet berkah"

Benar aku masih dapat berkah dipagi ini, walaupun sekarang perutku sudah meronta ingin sarapan karena tadi pagi hanya meminum teh manis milik Bima dengan seteguk saja.

Akhirnya, dosen pergi dari ruangan ini dengan tepat waktu tanpa mengambil jam lain, aku dengan cepat memberaskan barangku karena ingin segera mengisi perutku yang kini cukup sudah perih.

Aku dan Arinda pergi kekantin bersama sebelum nanti ada kelas lagi yang dimulai satu jam'an lagi, cukup untuk mengisi perut.
Dan nanti aku dan Arinda setelah kelas berakhir pergi kerja ke kafe Happy Sweet, dan beruntungnya kami kerja satu shif barengan.

"Rin, aku mau jus alpukat sama nasgor aja"

"Siap, lo milih bangku ya nay"

Aku angguki perintah Arinda dan dengan cepat mengambil duduk dibangku pinggiran aku melihat disebelah bangku ku ada beberapa cowok mungkin kating dan tak sengaja aku melihatnya seorang cowok yang aku kenal, dia seperti cepat cepat mengalihkan tatapannya dariku setelah manik mata kita bertemu untuk sesaat.

Ingin menyapa seperti yang disuruh bapak, tapi dia seperti yang tak kenal padaku dan aku pun akan malu dengan tiba tiba menyapanya nanti dikira aku maba genit atau apalah.

Aku cari aman saja dengan tanpa menyapanya dan maaf kan anakmu ini pak

"Nay, nasgor dan jus alpukatnya" pesananku datang dan dibawa oleh Arinda

"Makasih Arin" ucapku dengan senyuman

Tak berselang lama makana kita habis dengan sesekali diiringi oleh pembicaraan ringan dari Arinda dan aku, nasgorku pun ludes dan perutkupun sudah kenyang dan Atinda pun sudah menghabisi bakso nya yang kini hanya bersisa kuahnya saja.

Sedari tadi aku merasakan seperti diperhatikan namun aku mencoba tak acuh, apakah dia ingin melihat cara saudara miskinnya makan apakah dengan cara elegan atau serampangan begitu?, dan aku bodo amat. Ini hidupku!

*****

"Nay, gue kebelet pipis tungguin ya"

Arinda tanpa aku jawab dia sudah melenggang dengan terbirit birit.

Kita berdua baru saja selsai dikelas akhir hari ini, Aku dan Arinda kini sudah ada diparkiran kampus untuk pergi ke kafe namun ditengah jalan Arin kebelet pipis dan aku menunggunya disini dipohon rindang dekat parkiran.

"Bisa bicara sebentar?"

Suara itu mengagetkanku, kulihat disampingku dia cowok yang dikantin tadi.

Aku jawab dengan anggukan kaku karena merasa heran mau apakah dia berbicara padaku.

"Disini aja" ucapku yang aku lihat dia akan mengajaku entah berbicara dimana. Di mengangguk dan terkihat mulai mengambil nafasnya

"Oma minta keluarga kamu mengahdiri acara makan malam weekend nanti, dan Oma harap jangan tidak datang seperti sebelumnya"

Hanya itu, hanya undangan makan malam yang selalu pasti kacau jika kelurgaku datang, dan kami hanya bisa memilih dengan tanpa ikut gabung makan malam lagi sudah terhitung 4 kali makan malam keluargku menolaknya.

Aku mengangguk membuang nafas kasarku, menatap manik mata cowok itu yang kini dengan pandangan sayu penuh permohonan "kayanya bakal seperti biasanya"

Tau maksud ucapanku dia menarik bahuku memantapkan aku melihat manik matanya yang sama seperti bapak

"Aku harap kamu bilang dulu sama Om Bara dan tante Sita dan ini perintah Oma yang gak bisa diganggu, kalau kalian gak datang kalian bakal dijemput sama bodyguard Oma dan Opa"

"Jadi aku mohon kalian datang, karena Oma ingin membicarakan hal penting"

Aku menunduk dan melepasakan tangannya dari bahuku, mengangguk memgiyakan perintah nya
Aku berbalik tanpa mengucapkan apa apa padanya dan aku menegang setelah dia berucapa itu

"Naya aku rindu sebagai sepupumu, mas Gema"

Aku ingin menangis rasanya mendengar Mas gema bicara seperti itu, ya dia cowok itu sepupuku lebih tepatnya anak dari adik bapakku.

Dulu sewaktu kecil kami sering bermain jika Om Damar berkunjung kebengkel bapak dan membawa Mas Gema kecil, kami akrab kami seting bermain dengan bang Arif juga tapi setelah Oma dan Opa tahu om damar sering berkunjung mereka melarang om damar maupun mas gema berkunjung lagi ketempat bapak dan megamcam dengan bengkel yang akan digusur.

Dari sana aku mulai tak bertemu dengan mas gema, kadang kalaupun bertemu hanya dari pancaran mata saja melepaskan rindu itu.

Kejamnya Oma dan Opa hanya membuatku muak dengan orang yang gila harta dan tahta.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:24 PM - RimaN
Jul 2, 2020, 2:08 PM - Andi widiarti
Jul 2, 2020, 2:07 PM - Alifa Pratiwi Faisal
Jul 1, 2020, 6:04 PM - Junita Safitri
Jul 1, 2020, 5:42 PM - Nanda Fitrya Mujayinatul Faujiyah