Profil instastories

Senja Terakhir

Senja Terakhir

"Woi Naira!"

Gadis berseragam putih abu-abu itu berbalik tatkala namanya disebut. Tepat saat berbalik, Naira mendapati wajah Wildan sahabatnya. Senyum seketika mengembang di wajah Naira, dia sangat rindu dengan sahabatnya itu. Sudah seminggu lebih Wildan tidak masuk sekolah, tentu saja itu membuat Naira khawatir.

"Wildan, kamu kemana aja selama seminggu? Kok kamu jahat sih gak ngabarin aku? Kamu bolos ya? Parah ish! Pokoknya aku gak mau minjemin catatan selama seminggu itu. Bodo amat situ, gak peduli!" Naira langsung menimpali dengan beberapa pertanyaan. 

Wildan mengerutkan dahinya, Nairanya selalu saja bawel. Dengan cepat ia merangkul Naira dan melangkah santai. Tidak peduli wajah Naira sudah kesal, siapa suruh masih pagi sudah berisik. 

"Lepas, Wil!" 

"Gak."

"Ish aku gigit nih!"

"Gak takut."

Naira semakin gondok dibuatnya, dia mulai menggigit tangan Wildan. Namun sebelum itu terjadi Wildan sudah mencubit pipi Naira dengan sebelah tangannya yang lain. "Dasar bawel," ujarnya yang langsung berlari menjauhi Naira.

Sementara Naira terdiam sesaat, istilahnya dia masih cengo. Namun saat kesadarannya kembali, Naira berlari mengejar Wildan yang sudah jauh di depannya. Mereka memang seperti itu, selalu seperti anak kecil. Namun, persahabatan mereka begitu kuat. Dan mungkin mereka akan terus bersama sampai tua nanti, atau justru sebaliknya. Entahlah.

***

Pancaran sinar senja masuk dari sela-sela jendela. Membangkitkan semangat gadis berwajah manis itu. Segera dia membuka tirai dan menampakkan pantulan sinar sang mentari yang begitu indah terlihat dari pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon kamarnya. Matanya berbinar senang melihatnya, dia membuka pintu kaca tersebut dan seketika rambutnya menari-nari diterpa angin.

Senja.

Begitu klise dan mainstream memang. Banyak orang pula yang menyukai senja dan Naira adalah salah satunya. Naira merentangkan tangannya dengan wajah mendongak menatap keindahan senja. Naira Evelyn, gadis polos pencinta senja. Bukan tanpa alasan Naira menyukai senja. Hidupnya begitu jauh dari kedamaian, karena orang tuanya sering sekali bertengkar dan selalu memecahkan barang-barang yang ada di kamar mereka. 

Tentu saja itu membuatnya kehilangan kedamaian, dan dengan senja dia bisa merasakan damai yang jarang ia rasakan. Naira menyukai senja berawal dari Wildan, Kedatangan Wildan dalam hidupnya mengubah segalanya. Membawa kehangatan, kedamaian, dan kebahagiaan untuknya.. Dan Naira bersyukur pernah mengenal Wildan.

"Gak bosen apa lo nontonin senja mulu." suara yang Naira kenali membuatnya menoleh ke depan. Di situ terdapat Wildan yang tengah berdiri di balkon sembari menyilangkan tangannya. Rumah mereka yang berhadapan membuat Naira atau Wildan bisa melihat satu sama lain.

"Enggak!" sahut Naira setengah berteriak.

Di depan sana, Wildan tersenyum memperlihatkan dua lesung pipi yang membuat wajah tampannya terlihat manis. Sudah tampan, manis, perpaduan apa lagi yang kurang. Fix, Naira mulai berpikiran ngawur. Dia kembali memandang ke depan.

"Nai, selama ini kita sering nonton senja bareng kan? Kalo nanti lo nonton sendiri, jangan pernah ngerasa sendiri ya. Walaupun mungkin gak ada gue, lo bisa ngerasain kehadiran gue di hati lo."

Deg!

Entah kenapa Naira ingin menangis. Apa-apaan ini? Lelucon Wildan kali ini  tidak lucu. 

"Halah, udah deh. Gak lucu tau," sanggah Naira menatap tajam Wildan.

Wildan tiba-tiba saja tertawa. Lalu kemudian dia berlalu masuk ke kamarnya. Naira mengerutkan dahinya melihat tingkah Wildan yang aneh. Dia berusaha tidak perduli dan kembali memandang keelokan senja. Matanya perlahan menutup untuk menikmati lebih dalam lagi kedamaian di hatinya.

Jrengg...

Suara alunan gitar membuat mata Naira kembali terbuka. Dia berbalik dan mendapati wildan yang sudah duduk memangku gitar kesayangannya. Naira masih bergeming karena tiba-tiba saja Wildan sudah ada di balkon kamarnya. 

Kau.. Diam-diam aku jatuh cinta kepadamu...

Ku ...bosan sudah ku menyimpan rasa kepadamu..

Tapi tak mampu ku berkata di depanmu

 

Aku tak mudah mencintai,,,, tak mudah bilang cinta

Tapi mengapa kini denganmu aku jatuh cinta..

Tuhan tolong dengarkanku,,, beri aku dia..

Tapi jika belum jodoh... Aku bisa apa

Naira terdiam mendengar lantunan suara merdu Wildan. Baru pertama kali dia mendengar Wildan bernyanyi. Jadi, jujur saja dia agak gugup mendengarnya. Apalagi suara Wildan enak di dengar dan yang membuatnya gugup ialah lagu yang Wildan bawakan. Itu cukup membuatnya tidak bisa berkutik, ditambah pandangan mata Wildan yang menatapnya sembari tersenyum.

Tahan Naira! Jangan baper. Wildan cuma nyanyi doang bukan nyatain perasaan.

Batinnya terus berkata itu untuk menguatkan Naira agar tidak terlalu terbawa perasaan. Naira menatap Wildan yang kali ini sudah selesai bernyanyi. Cowok itu menaruh gitarnya di sampingnya, setelahnya dia berjalan menghampiri Naira. Jujur saja jantung Naira masih berdegup kencang saat ini.

"Gue makin ganteng ya, kalo nyanyi sambil main gitar." Wildan menaik turunkan alis tebalnya.

Naira menatap datar Wildan. Tapi di satu sisi dia bersyukur Wildan bisa mengalihkan rasa gugupnya. "Gak, biasa aja tuh." Naira menyilangkan kedua tangannya.

"Helehh, ngeles aja lo. Btw, tadi muka lo keliatan merah tau. Pasti lo baper ya," goda Wildan.

Naira terdiam kaku. Apa iya wajahnya memerah saat Wildan bernyanyi sembari memandangnya. Kalau iya, rasanya ingin sekali ia kabur ke planet Mars agar Wildan tidak melihatnya lagi.

"Hayoo, ngaku lo! Baper kan lo sama gue." Wildan semakin menggoda Naira. 

Siapapun tolong buat Wildan lupa ingatan sekarang. Atau tenggelamkan saja ia ke sungai amazon. Tapi tunggu dulu, jangan sungai amazon deh. Masa hidupnya harus berakhir secepat itu hanya karena malu. Oke, Naira semakin ngaco.

"Enggak, jangan geer deh. Aku bapernya kalo dinyanyiin Shawn Mendes, inget! Bukan kamu," sanggah Naira.

Wildan menatap sinis Naira. "Udah ah, capek gue." Wildan kembali duduk di tempat yang tadi. Cowok itu memainkan gitarnya lagi. Sementara Naira ikut duduk di sebelah Wildan. 

"Nai, besok gue gak sekolah dulu."

Naira menoleh cepat ke arah Wildan. Sudah seminggu Wildan tidak masuk dan baru masuk sehari, tiba-tiba besok dia sudah tidak masuk lagi. 

"Kamu mau bolos lagi?!"

"Enggak, gue besok ada urusan. Sebagai gantinya sore ini gue nemenin lo sampe orang tua lo pulang."

Naira terkekeh pelan. Bukankah hampir setiap hari Wildan main ke rumahnya sampai orang tuanya pulang. Namun tak urung Naira menurutinya. Mereka berdua bernyanyi bersama tatkala Wildan memetik senar gitar. Suara merdu mereka mengalun dan membuat siapa saja ikut terhanyut. 

"Selamanya kita akan bersama,,, melewati segalanya yang dapat pisahkan kita berdua... Selamanya kita akan bersama,,, tak kan ada keraguan kini dan nanti...percayalah...." Mereka berdua tersenyum di akhir lagu. Sinar senja yang hampir tenggelam sempat bersinar terang di antara mereka.

Entah kenapa, Naira selalu bahagia jika di dekat Wildan. Cowok itu selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum. Naira cuma bisa berharap mereka bisa bersama selamanya sampai akhir hayatnya nanti.

***

Seorang laki-laki muda terbaring lemas di rumah sakit dengan beberapa alat yang melekat di tubuhnya. Rasanya ia sudah sangat lemas. Sakit, sudah tidak ia rasakan lagi. Karena itu sudah sering ia rasakan sampai rasanya tubuhnya mati rasa. Untuk bernafas pun dia memerlukan alat bantu pernapasan.

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, dia harus merasakan sakit dan mengharuskannya bolak-balik rumah sakit untuk sekedar terapi. Tapi nyatanya itu tidak menyembuhkannya, hanya bisa membuatnya bertahan hidup lebih lama. Putus asa sudah pernah ia rasakan, namun sebisa mungkin dia berusaha semangat untuk orang-orang yang ia sayangi.

"Wildan, nih bunda baru beli buah. Kamu mau?" tanya seorang wanita paruh baya yang membawa sekeranjang buah.

Wildan hanya menggeleng lemas. 

Farah~bunda Wildan menatap anak semata wayangnya dengan sendu. Sosok ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Kalau bisa tentu saja Farah lebih memilih dia saja yang ada di posisi Wildan, dan biarlah Wildan yang sehat.

Tangan Wildan bergerak membuka masker NRBM. Farah yang ingin menghentikan Wildan tak kuasa karena Wildan menahan tangannya.

"Bun... Mau janji gak?" tanya Wildan dengan suara serak.

"Janji apa?"

Wildan menghela nafas pelan. "Janji kalau Bunda gak akan nangis berlebihan saat kepergian Wildan nanti. Dan janji kalau Bunda mau terus melanjutkan hidup, walaupun Wildan gak ada. Wildan gak mau Bunda terpuruk nantinya."

Satu tetes air mata lolos dari mata Farah. Sesak sekali mendengar ucapan anaknya. 

"Bun, Wildan mohon...." Wildan menatap sendu Farah.

Dengan berat hati Farah mengangguk. Lagi-lagi air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. 

"Bun, Wildan juga minta Bunda jagain Naira, ya. Kasian dia pasti kesepian, apalagi orang tuanya itu gak peduli sama dia."

Untuk kedua kalinya Farah hanya mengangguk tanpa bisa mengeluarkan suara. Karena dia takut jika bicara, hatinya semakin sedih.

"Makasih, Bunda... Wildan sayang banget sama Bunda, dan Wildan yakin suatu hari nanti kita bakal kumpul lagi, tapi di tempat yang lebih indah." Wildan tersenyum.

Tiba-tiba saja dada Wildan begitu sesak. Farah dengan sigap memasangkan masker NRBM kembali. Namun kondisi Wildan terlihat semakin memburuk. Farah yang panik segera berlari keluar. Dia berteriak memanggil Dokter untuk menanganI Wildan. Setelah Dokter dengan seorang suster datang, dokter itu langsung menyuruh Farah untuk menunggu di luar.

Farah berjalan mondar-mandir dengan panik. Air matanya semakin deras mengalir, di hatinya dia hanya berharap satu. Yakni keselamatan Wildan. Jujur, dia masih belum siap kehilangan Wildan.

Di tempat lain Naira merasakan jantungnya yang berdetak kencang tiba-tiba. Rasanya gelisah sekali. "Sebenernya ada apa?" tanya Naira pada dirinya sendiri cemas.

Seketika ingatannya jatuh pada Wildan. Entah kenapa dia merasakan hal buruk terjadi pada Wildan.

"Nindy, aku boleh minta tolong izinin ke Bu Siska gak? Sekarang aku mau ke rumah Wildan dulu."

Nindy yang masih bingung buru-buru mengangguk. Setelahnya Naira berlari keluar kelas. Dia menghentikan angkutan yang lewat. Lima belas menit kemudian Naira turun tepat di depan rumah Wildan. "Assalamu'alaikum, Wildan!" teriak Naira panik.

Pintu pagar seketika dibuka oleh Budhe Inem sang asisten rumah tangga Wildan. "Wa'alaikumussalam, eh neng Naira. Den Wildannya lagi gak ada neng."

"Kemana Budhe?"

"Ke rumah sakit Melati neng," balas Budhe Inem.

Setelah mengucapkan terima kasih Naira berlari ke rumahnya untuk mengambil motornya. Dengan kecepatan diatas rata-rata dia melajukan motor maticnya ke Rumah Sakit Melati. Tak butuh waktu lama, Naira memarkirkan motornya dan kembali berlari di area rumah sakit.

"Sus, kamar atas nama Wildan Wijaya dimana ya?" tanya Naira.

"Sebentar ya saya cek dulu."

Naira menunggu dengan harap-harap cemas.

"Owh ada di kamar 203." setelah Suster memberitahu kamar Wildan. Naira langsung melangkah ke tempat yang ia tuju.

Tepat di depan kamar 203 Naira melihat Bunda Wildan yang tengah duduk dengan wajah yang ditutupi kedua tangannya.

"Bundaaaa!" seru Naira yang langsung memeluk Farah

"Lho Naira, kok kamu bisa ada disini?" tanya Farah bingung.

"Panjang ceritanya, Bun. Sekarang gimana keadaan Wildan, Bunda?"

Baru saja Farah ingin menjawab, pintu kamar Wildan terbuka. Mereka berdua langsung menghampiri dokter yang sudah berdiri dengan wajah sendu.

"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Farah menahan tangis.

"Maaf bu, saya dan para tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain," ujar Dokter itu dan segera berlalu.

Naira yang mendengar itu tiba-tiba saja pingsan. Samar-samar ia mendengar Farah memanggil namanya. Hingga akhirnya semuanya menjadi gelap dan Naira pun hilang kesadaran.

***

Dua hari kemudian....

Naira memandang foto Wildan dengan wajah datar. Dia merasa tidak lagi mempunyai gairah. Dan kini hidupnya kembali sepi seperti dulu. Jari lentiknya mengusap pigura foto Wildan dengan gemetar. Tak ada lagi kini senja bersama Wildan. Karena senja itu sudah lewat dan menjadi senja terakhirnya bersama Wildan.

Naira teringat sesuatu. Dia membuka laci kecil yang ada di sebelah tempat tidurnya. Ada secarik kertas yang masih bersih. Ya, surat itu dari Wildan yang diberikan Farah tepat sehari setelah Wildan dikebumikan, dan belum sempat Naira baca sampai sekarang. Dengan perlahan dia membuka kertas tersebut. Tulisan-tulisan rapih dan miring-miring khas Wildan menyambut penglihatannya.

Dear Naira...

Mungkin saat lo baca surat ini, gue udah gak ada lagi. Eh, tapi jangan khawatir. Karena Wildan si cowok ganteng ini bakal selalu ada di hati lo. Dan tiap kali lo kangen sama gue, lo bisa liat indahnya mentari senja. Karna di saat itu ada gue yang lagi ngeliatin lo. Kok gue berasa lebay  pake segala nulis surat hehe:D tapi surat ini khusus buat lo Nai....

Owh ya, lo tau gak Nai. Selama ini  gue mendem rasa sama lo, tapi gue takut lo malah ngejauh pas gue ngomong ke elo. Yaudah jadinya gue pendem aja. Dan baru sekarang gue bisa ungkapinnya, karena kalaupun lo marah, gue udah gak ada disitu lagi kan hehe.

Gue sayang banget sama lo Nai, dan gue harap lo bisa ngejalanin hidup lagi walau tanpa gue. Masa depan lo masih panjang Nai, jangan sampe lo malah stuck disitu-situ aja cuma gara-gara gue. Wujutin impian lo, Nai. Gue yakin lo cewek yang kuat, yang bisa ngejalanin semuanya sendiri. Jadi, gue titip pesen sama lo buat raih apa yang lo impiin Nai. Kalo masalah gue, lo gak perlu terlalu pikirin. Karena gue bakal selalu ada di hati lo:)

Dari Wildan yang paling ganteng.

Naira tersenyum namun juga menangis membacanya. Ia tak tau jika selama ini Wildan menyukainya. Naira pun juga merasakannya, tapi sayangnya mereka tetep tidak bisa bersatu walau mereka saling mencintai. Naira menghapus air matanya, benar kata Wildan. Walau tanpa dia, hidup akan terus berjalan. Naira tersenyum, setidaknya dia masih bisa merasakan kehadiran Wildan saat senja datang.

Makasih Wildan, karena kamu udah ngubah hidup aku. Dan aku janji aku bakal terus ngejalanin apa yang aku mau, aku akan berusaha menggapai impianku. Aku tau kita udah gak bisa bersama lagi, tapi aku bakal buktiin kalo aku bisa ngejalanin semuanya. Aku sayang sama kamu, Wil. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani