Profil instastories

Senja Kehidupan

Pernahkah kalian menangis kesakitan karena tangan tersayat pisau? Tahukah kalian apa yang lebih menyakitkan dari itu? Adalah ketika hati terluka hanya karena kata-kata.

Benar. Kata-kata. Ya Tuhan, mengapa hati ini lemah sekali --mudah terluka oleh kata-kata yang bahkan tak memiliki rupa.

Wahai kalian, pernahkah berpikir atau mungkin berharap jika di dunia ini tak ada kata-kata. Semua orang bisu. Bukankah itu adil. Bukankah itu bagus. Manusia berkomunikasi lewat tatapan mata, gerakan tubuh, pikiran dan hati.

"Nak, pulanglah. Ayah-ibumu menunggu di rumah." Lihat? Dengar? Tidak ada yang salah dengan kata-kata itu. Sama sekali tidak. Tapi, ada seberkas rasa sakit yang menyayat hatiku hingga berbekas sampai bertahun-tahun ketika mendengar itu. Bagai anak panah yang melesat cepat menusuk jantung. Mati. Menyisakan jiwa kesakitan.

Nanti. Nanti kalian akan tahu mengapa kata-kata itu mampu melukai hatiku.

Sekarang, biarkan aku yang sudah berumur ini menceritakan semuanya. Mengenang masa lalu itu. Biarkan. Biarkan manusia tua kesepian yang hidup dalam kebosanan ini memberitahu betapa pentingnya menjaga tutur kata, betapa harusnya melindungi diri dari pergaulan bebas.

Biarkan hujan lebat di luar sana mengguyur bumi. Biarkan angin dingin menyelimuti tubuhku.

Biarkan ....

Aku berlari tergesa-gesa menuju rumah. Keringat membasahi seluruh tubuh. Seragam sekolah merah-putihku sudah basah dan kotor, tadi sekali dua jatuh karena tak fokus melihat jalan becek sehabis hujan. Aduh, celaka. Bisa lolos dari kejaran banteng liar malah masuk jurang ular berbisa.

Jangan salah paham, yang kumaksud banteng liar adalah temanku. Aku membuatnya marah. Bagaimana tidak, anak mana yang tidak marah bila pipinya dipukul. Siapa suruh tadi tidak mau berbagi jawaban ulangan denganku, padahal kan jawaban yang dia punya juga hasil mengintip diam-diam dari lembar jawaban teman sekelas paling pintar. Huh, tidak adil.

Selama itu aku manahan kesal. Maka, setelah bel pulang berbunyi langsung kupukul pipinya lalu kabur.

Tentu saja dia mengejar. Larinya cepat sekali. Sampai-sampai aku hampir kewalahan. Tapi, secepat apa pun, tetap lariku paling cepat. Untunglah aku selamat. Hei, selamat? Tidak. Aku tidak selamat.

Masalah dengan temanku sih hanya berlangsung dua hari, satu hari berikutnya kami sudah berbaikan.

Sesampainya di rumah kakiku mematung. Kedua mataku menunduk, melirik apa saja yang bisa kulihat.

"Buan, harus berapa kali Paman bilang, angkat kepala dan tataplah mata orang yang sedang berbicara denganmu."

Dan ini. Ini adalah salah satu hal dari beribu-ribu juta hal yang tak akan pernah kulupa.

"Mata bisa berbicara, Buan. Kau harus tahu. Lewat mata kau bisa melihat cinta, meskipun mulut tak sedang membicarakan cinta. Mata bisa mengartikan segalanya. Mata punya penjelasan."

Benar. Kalimat itu akan selalu kuingat. Mata tak akan pernah bisa menyakiti hati seperti kata-kata.

"Mana. Biar aku lihat, apakah di matamu masih ada cinta meskipun Paman sedang marah?"

Kuangkat kepala dengan perlahan. Menatap matanya yang bercahaya. Seperti mentari pagi yang menyejukan. Selayaknya senja yang tentram bila dipandang.

Paman tersenyum.

Ya Tuhan, demi melihat senyumnya yang amat tulus dan menyejukan hati itu, berilah Paman kebahagian selalu.

Paman, maafkan aku. Maafkan aku yang tak tahu diri. Maafkan aku yang membuat hatimu terluka. Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu. Maafkan aku ....

Hari itu aku dimarahi bukan karena seragam sekolah yang kotor. Bukan. Bukan sama sekali. Paman marah setelah kujelaskan semua kejadian. Maka, satu minggu penuh otakku diperas habis-habisan oleh soal matematika rumit sebagai hukuman.

Sampai sini, adakah dalam benak kalian pertanyaan mengapa aku tinggal bersama Paman? Kemana Ayah dan Ibuku?

Nanti. Nanti kalian akan tahu.

Dan waktu berjalan tanpa terasa. Melesat bagai anak panah yang dilepaskan tanpa arahan. Cepat sekali.

Umurku tak bisa lagi dibilang anak-anak. Bukan seorang anak berseragam merah putih. Bukan lagi bocah ingusan. Usiaku sekarang 16. Masa-masa remaja tanggung.

Masa ketika hati berdebar-debar dan seluruh tubuh bergetar saat bersitatap dengan lawan jenis.

Ya Tuhan, aku jatuh cinta.

Hylin namanya. Pemilik mata bening bercahaya. Pemilik senyum paling manis di dunia.

Lihatlah, bahkan senyumnya lebih indah dibanding senja yang menghias langit sana. Rambut hitamnya menggantung beterbangan ditiup angin sore.

Sedetik pun tidak kulepaskan pandangan dari wajahnya. Saat ini adalah waktu yang sering kunantikan. Punya kesempatan untuk berduaan.

Tangan Hylin manari lihai di atas papan lukis.

Ayo, bukalah mulutmu, Buan. Bukalah. Katakan apa yang ingin kamu katakan.

Tapi mulutku kelu. Hingga berjam-jam tak ada satu kata pun yang terucap.

Ya Tuhan, mengapa harus dengan kata-kata. Mengapa kata-kata itu ada. Seharusnya Hylin tahu aku jatuh cinta tanpa harus berkata-kata.

Sepanjang waktu aku memandang Hylin yang sedang melukis. Diam.

"Buan." Hylin berkata.

"Ya." Aku tersenyum. Akhirnya pembicaraan ini dimulai.

"Tahukah kau mengapa aku suka melukis?"

Aku berpikir, kemudian menggeleng. Aku tidak tahu.

"Ayah dan Ibuku penyebabnya. Bukankah kau akan melakakukan apa saja demi Ayah dan Ibumu?"

Demi mendengar kata-kata itu, hatiku yang sedari tadi berdebar mendadak terhenti. Entahlah. Perasaan yang sedari tadi bergetar tak karuan hilang, digantikan perasaan yang sulit dijelaskan.

Demi mendengar kata-kata itu, maka urusan ini menjadi rumit.

Aku pulang dengan membawa perasaan bingung. Marah. Kecewa. Cinta. Benci. Dan entah selainya semua menjadi satu.

Wahai kalian, berhentilah melakukan segala sesuatu jika dalam situasi seperti ini. Nanti menyesal. Seperti aku. Seharusnya tidak kuminta Paman untuk menceritakan semuanya. Tidak.

Paman, maafkan aku. Maafkan aku yang tak tahu diri. Maafkan aku yang membuat hatimu terluka. Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu. Maafkan aku ....

Mata bercahaya Paman menatapku.

"Segera bilang Paman. Aku ingin tahu segalanya. Ke mana Ayah dan Ibuku? Berhenti mengatakan mereka telah pergi. Bertahun-tahun Paman hanya mengatakan itu. Tanpa mau menjelaskan siapa dan ke mana mereka pergi."

Paman tersenyum. "Buan-ku, sayang. Kau sudah kuanggap seperti anakku. Tidakkah kau anggap aku ini sebagai orang tuamu?"

Kutatap mata Paman lebih dalam. Cahaya matanya menentramkan jiwaku. Entahlah. Semua perasan tak karuan berubah menjadi tenang. "Aku menyayangimu, Paman. Selalu. Aku mencintaimu. Lebih dari apa pun. Tapi aku berhak tahu Ayah dan Ibuku. Aku hanya ingin tahu. Sudah. Itu saja."

Paman nengalihkan pandangannya. Ada hal yang tidak kusadari ketika itu. Tatapan matanya kosong. Berair. "Tidak baik membicarakan masa lalu. Semua itu sudah tertinggal jauh di belakang. Tetapi kau benar, Buan. Kau berhak tahu segalanya. Semuanya."

Tibalah pada penjelasan itu. Penjelasan yang membuatku menyesal selamanya.

Semestinya aku mengerti lebih awal, tenggelam dalam ketidaktahuan kadang-kadang lebih baik daripada menerima penjelasan. Bukankah amat menyakitkan jika ternyata penjelasan itu tak sesuai dengan harapan?

"Ketika kau lahir usia ibumu genap 18. Benar. Masih sangat muda." Paman tersenyum melihat reaksi wajahku sedetik kemudian. "Ibumu larut dalam pergaulan bebas. Hanyut dalam hubungan terlarang." Mulutku membulat.

"Sementara Ayahmu satu tahun lebih muda darinya. Mereka menikah demi menjaga aib keluarga. Dengan perjanjian bercerai setelah kau lahir --yang hanya diketahui oleh aku, Ibu dan Ayahmu."

Nafasku tertahan. Bulir air mata menetes melewati wajah Paman. Suaranya serak.

"Lalu apa peranku dalam kisah Ayah-Ibumu, Buan? Biar kuberitahu kau, aku penjahat. Ya Tuhan, semua yang terjadi malam itu benar-benar salahku."

Paman terisak.

"Ayahmu adalah temanku. Ibumu juga. Kami benar-benar gila. Malam itu adalah ulang tahunku. Malam itu, setan merasuki kami. Tahukah kau, Nak, apa yang terjadi malam itu? Benar. Kami melakukan dosa besar. Kami bertiga melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan. Ya Tuhan, ini salahku. Aku memaksa meraka."

Aku menangis. Penjelasan ini begitu menyakitkan. Terdengar menjijikan malah.

Paman tersenyum getir. Menghapus air mata di pipinya. "Tidak, Buan. Diamlah. Aku sudah terlanjur menceritakannya. Dengarkan sampai usai."

"Hingga suatu hari ibumu mengabarkan dia hamil. Entah benih siapa yang dia kandung. Aku tidak tahu. Kami melakukannya bersama, bertiga. Dalam kebingungan mengatasi situasi akhirnya kami memusutuskan untuk bertanggung jawab dengan cara masing-masing. Biarlah. Biarlah Ayah dan Ibumu yang menikah. Biar aku yang merawat bayi itu."

Lagi-lagi kulihat Paman tersenyum.

"Satu hal yang tidak diketahui siapa pun. Sekali pun Ayah dan Ibumu. Tidak ada yang tahu betapa aku sangat berharap bahwa kau adalah anakku. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan menghukumku dengan cara baik. Hasil test mengatakan kau sama sekali bukan anakku."

Aku menunduk. Tersedu.

"Mana. Angkatlah kepalamu, Nak. Biarkan aku melihat masihkah ada cinta di kedua matamu?"

Aku menggeleng. Tidak.

"Ijinkan aku melihatnya, Buan. Ijinkan aku. Meskipun itu adalah yang terakhir."

Perlahan kuangkat kepalaku. Mata berairnya masih bercahaya, namun kali ini sendu. Senyum dibibirnya perlahan menghilang.

Paman mengerti sebelum aku mengatakannya.

"AKU BENCI KAU!"

Kata-kata itu meluncur begitu saja. Menyayat hati seseorang tanpa perasaan.

Hei, pernahkah kalian menangis kesakitan karena tangan tersayat pisau? Tahukah kalian apa yang lebih menyakitkan dari itu? Adalah ketika kata-kata yang kalian ucapkan menyakiti hati seseorang. Untuk urusan ini ajaib sekali, sakitnya akan terasa setalah beberapa saat. Beberapa hari, minggu, bulan atau mungkin beberapa tahun. Berbekas selamanya.

Kata-kata. Ya Tuhan, mengapa kata-kata harus ada bila untuk menyakiti hati yang telah Kau cipta begitu sempurna?

Kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Paman mengubah segalanya. Tidak lagi kupanggil Paman dengan sebutan Paman. Hubunganku dengan lelaki itu menjadi canggung. Renggang.

Egoku yang terlalu besar membutakan mata hatiku untuk melihat sedikit saja hal baik.

Setelah lulus sekolah, aku memutuskan pergi. Kabur. Meninggalkan Paman tanpa pamit. Tidak pernah kulihat lagi Paman setelah hari itu.

Ya Tuhan, aku menyesal.

Paman, maafkan aku. Maafkan aku yang tak tahu diri. Maafkan aku yang membuat hatimu terluka. Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu. Maafkan ....

Aku menggigil. Embusan angin sempurna sudah membunggus tubuh rentaku.

Ya Tuhan, ijinkan aku melihat senyum Paman. Senyum tulus itu. Ijinkanlah. Sekali pun itu adalah yang terakhir.

Dan beberapa detik kemudian Tuhan menunjukan keajaibannya. Tuhan maha baik. Terima kasih, Tuhan.

Aku tersenyum. Memandangi kaca jendela yang terbias air hujan. Lihatlah, di sana terukir bayangan senyum Paman.

Ya Tuhan, lihat, senyum tulus yang sudah bertahun-tahun kurindukan.

Aku tersenyum.

Perlahan, bayangan itu menghilang. Seiring dengan menutupnya mataku.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani