Profil instastories

Senja di Kotaku

Masa lalu ialah sesuatu yang kadang dihindari. Pahit, gelap dan berdebu yang bersarang usang di kepala, mengabadi bersama kenangan. Sebab itulah seseorang pergi, berada jauh dari orangtua dan keluarga, menghabiskan banyak waktu di kota orang, menyibukkan diri untuk melupa, meski tak pernah lupa.

"Apakah dengan menyingkirkan semua duri yang ada kau akan terbebas dari luka?"

Ratih geming.

"Apakah dengan pergi jauh masa lalu itu takkan singgah lagi dalam ingatan?"

"Setidaknya aku dapat meminimalisir kemungkinan bertemu dengannya lagi dan tak membuat hati ini semakin porak-poranda."

Dia menarik napas panjang, barangkali tak habis pikir akan tindakan Ratih yang berhenti kuliah tiba-tiba, lalu pergi merantau ke kota orang.

"Tapi kau baik-baik saja di sana, kan?"

"Ya, tentu. Sekalipun dulu aku tak pernah jauh dari orangtuaku, aku bisa mengurus diriku sendiri. Tak usah khawatir."

Percakapan singkat via telepon itu pun usai. Lagu Selepas Kau Pergi mengalun menemani kesendirian dalam kesunyian.

******

"Ternyata ada paparazzi juga ya?"

Seorang lelaki nampak kaget, sedikit menggaruk kelapanya yang tidak gatal.

"Eh, Rara. Ketahuan deh saya motoin Ratih. Jangan bilang-bilang orangnya ya, pelase...."

"Selow aja, Don. Rahasiamu aman."

"Eh, ngomong-ngomong Ratih udah jomblo belum?" tanya Doni pada sahabat karib Ratih.

"Dia punya pacar, Don."

"Dari dulu gak putus-putus?"

Rara menggelengkan kepala. "Ngebet banget pengen pacaran sama Ratih."

"Pengen langsung nikah malah hehe. Dari SMA saya naksir dia sampe sekarang rasa itu gak berubah. Tapi sayangnya saya gak pernah berani ngungkapin rasa itu, apalagi katamu Ratih punya pacar."

"Iya, sayang banget, Don."

"Tapi kok saya gak pernah ya lihat Ratih jalan bareng cowok?"

"Ah... kamu, Don. Ya masa pas Ratih mau jalan sama pacarnya harus bIlang-bilang dulu ke kamu?" jawab Rara sambil sedikit tertawa.

"Iya juga sih. Yaudah, saya pergi dulu, ada urusan."

"Siip. Hati-hati ya, Don," ucap Rara sambil melempar senyum.

Tak berapa lama kemudian sebuah tangan mendarat di pundak Rara, membuatnya menengok perlahan.

"Eh, Ratih..." Rara nampak gugup.

"Tadi itu Doni ya, Ra?"

Rara mengangguk pelan.

"Dia mau ngapain, Ra?"

Rara menggendikkan bahunya. "Nggak tau tuh."

"Kalau aku lihat Doni di taman saat senja, entah kenapa aku suka berharap dia nemuin aku, ngabisin waktu berdua kayak dulu pas SMA, ngerjain PR bareng, meski tanpa bicara banyak hal dan kadang cuma diem-dieman, rasanya itu suatu hal yang menyenangkan."

"Mungkin dia punya kesibukan tersendiri sekarang, dia kan udah kerja."

"Iya, pastinya."

Beberapa bulan kemudian, seorang laki-laki dan perempuan menyambangi rumah Ratih dengan membawa sebuah undangan pernikahan. Dua orang yang amat dia kenal itu nampak sumringah seperti siluet mega merah yang tengah terhampar indah di langit rumah.

"Nanti datang, ya...."

Ratih hanya mengangguk.

"Katanya kamu juga akan menikah, kapan? Sudah lama aku mendengar kabar itu," tanya Doni.

"Menikah? Kata siapa?"

  Akhirnya semua tabir terbongkar, namun semua sudah terlambat. Kini Ratih tidak pernah percaya pada suatu hubungan bernama persahabatan. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani