Profil instastories

Sendu Tak Berujung

   Kegagalan sebuah kata yang sering didefinisikan banyak orang sebagai suatu keberhasilan yang tertunda. Tapi menurutku terkadang kegagalan malah menuntun kita menggapai yang lebih terbaik dari apa yang kita inginkan. 

September menjadi bulan yang paling bahagia bagi sepasang kekasih suami istri. Dibulan  ini mereka dianugerahi seorang anak perempuan nan cantik. Bermata coklat dan berambut hitam pekat bak putri salju. 

Kebahagiaan yang terukir diwajah mereka semakin lama bertambah lebar. Seiring berjalannya waktu sang anak bertambah besar menjadi kebahagiaan tersendiri di keluarga kecil ini. 

Alona Mahera. Gadis itu kini telah tumbuh menjadi gadis yang ceria, namun dibalik keceriaannya siapa sangka ia memiliki berbagai cerita dihidupnya. 

Alona kecil sedang duduk dengan berbagai peralatan lukis. Menggambar sudah menjadi hobi Alona sedari ia berusia 3 tahun. 

"Wah bagus banget gambar kamu sayang," puji sang bunda

"Unda gak boong kan?" tanya Alona kecil dengan polosnya. "Kata teman Ona gambal Ona elek," kadunya pada Rena sang mama.

Rena hanya tersenyum sembari memeluk Alona. "Enggak sayang teman-teman kamu pasti hanya iri, lihat kamu gambarnya bagus," 

"Ayah sama bunda bakalan slalu mendoakan mu sayang." memeluk Alona seraya mencium kening sang anak. 

 

Tak terasa Kini Alona tumbuh menjadi gadis yang cantik dan ceria. Keinginannya dari kecil menjadi seorang desainer tak pernah menyurutkan niatnya walaupun dia sadar bahwa gambar hasil coretannya slama ini tak pernah sempurna. Banyak hinaan bahkan tak sedikit pula yang menjatuhkan dirinya. Tapi ribuan untaian doa dari kedua orang tuanya selalu membangkitkan semangatnya kembali. 

Alona yang kini berusia 16 tahun telah duduk dibangku  kelas XI SMA MERAH PUTIH. Ia memasuki sekolah tersebut dengan jalur beasiswa karena Alona termasuk siswa yang sangat pintar . 

Seperti hari-hari biasanya, Alona hanya bertemankan kesepian. Duduk didalam kelas dengan sebuah kertas dan pensil. Mencoret sesuatu yang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. 

Sesering apapun hal yang ia lakukan, malah tak pernah merubah apapun yang terjadi. Coretannya hanyalah sebuah imajinasi yang tak akan pernah sempurna. Menurut sebagian temannya hasil lukisannya hanya sebuah hal yang gak berguna, yang hanya menghabiskan masa luang saja. Tapi menurutnya hal itu bukan hanya sekedar hal tak berguna melainkan sesuatu yang bisa berguna untuk sebagian orang di masa depan. 

Tetapi ntahlah kapan hal itu bisa terwujud. Hari-hari berlalu bulan berganti tahun pun hampir bertambah. Kini hamparan putih abu sudah berubah, mendekatkan sedikit impianku tercapai. 

Tapi takdir berkata lain, aku Alona gadis yang bermimpi menjadi seorang desainer harus mengubur impian ku dalam. Sebuah fakta mengejutkan bahwa aku di diagnosis memiliki penyakit yang membuat diri Alona tak dapat banyak bergerak. 

Kini aku hanya terbaring diatas kasur berdindingkan cat putih dengan khas bau obat. Satu hal yang kini hanya bisa kulakukan adalah semakin giat dengan hobi ku sedari dulu. 

Di sisa umur ku yang tak tau kapan berakhir, aku meminta ayah dan bunda ku mengirimkan hasil karya ku slama ini untuk mengikuti event yang sama ini aku impikan.

 

Sudah seminggu berlalu. Aku tak sabar menunggu hasil karya ku walau ku tau semua tak akan pernah berubah. 

Dengan berurai air mata bunda memelukku dan mengatakan bahwa allah belum mengizinkanku untuk menjadi apa yang ku inginkan mungkin allah ingin menuntunku ke arah yang lebih baik lagi. Mengukir senyuman terpaksa itulah satu hal yang kini bisa kulakukan. 

Hari-hari ku semakin memburuk, menjadikan uraian air mata kedua orang tuaku slalu mengalir walaupun secara sembunyi-sembunyi. Terlintas didalam fikiran ku meninggalkan sebuah kenangan yang membanggakan untuk kedua orang tuaku. 

Ditemani bersama laptop dan bukan lagi secarik kertas dan pensil menjadi satu tanda tanya dibenak kedua orang tuaku. Tapi mereka hanya tersenyum. Mungkin mereka susah pasrah dengan hidupku, jadi mereka membiarkan apapun yang aku lakukan. 

Aku mulai menulis, merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat tentang hidupku. Aku berharap kisah ku ini bisa menjadi inspirasi banyak orang. Ya imajinasiku memang sangat tinggi. Bodoh. Satu kata yang pas untuk diriku, siapa yang akan menjadikan kisah seorang gadis yang gagal dalam meraih cita-cita dan ditakdirkan memiliki penyakit. Malah kisah hidupnya dijadikan motivasi. 

Setelah lebih seminggu aku berkutat bersama laptop, kini projek ku siap. Aku memandangi hasil kerjaku dengan puas. 

 

Mungkin ini adalah sesuatu hal yang Alona berikan pada kedua orang tuanya. Dengan mengucap bismillah, Alona sudah memantapkan hatinya untuk mengikuti permohonan dari kedua orang tuanya untuk melakukan sebuah hal yang dianggap sebagian orang merupakan cara untuk menyelamatkan hidupnya. Ia hanya pasrah karena hanya kemungkinan kecil saja ia dapat selamat. Berulang kali ia menolak dengan alasan cepat atau lambat pasti ia akan pergi. Tapi Alona tidak ingin pergi dalam keadaan menjadi anak durhaka ia ingin melihat wajah kedua orang tuanya tersenyum . 

Sudah dua minggu ini Alona menjalani perawatan yang membuat tubuhnya semakin  tak berdaya. Dirinya sudah seperti mayat hidup yang hanya bisa bernafas tanpa bisa melakukan apapun lagi.

Alona sudah lelah dengan semua yang terjadi pada dirinya. Lelah dengan pemandangan yang dilihatnya setiap hari, hanyalah tetesan air mata tanpa henti. Alona  berharap ia bisa menutup dengan cepat kran air mata yang mengalir karena dirinya. 

Sudah hampir dua bulan Alona tak pernah menangis, walaupun semua orang tau betapa sakitnya apa yang Alona alami, ia hanya tersenyum penuh makna.. 

Hari ini tepat dimana dirinya dilahirkan tujuh belas tahun yang lalu. Hari bulan yang menjadi penantian bagi kedua pasangan orang tuanya. Dan dihari ini pula Alona meneteskan air mata, yang dianggap semua orang yang berada disisinya suatu rasa syukur malah menjadikan hari terakhir ia menatap indahnya dunia. 

Tepat setelah orang terdekatnya merayakan ulang tahunnya, dan dirinya memohon doa yang hanya ia dan allah lah yang tau ia menghembuskan nafas terakhir dan meninggalkan semua orang terdekatnya untuk slamanya. 

Sebulan telah berlalu, semenjak kepergian Alona  Suasana masih saja sama Rena dan Andri hidup dengan diselimuti keheningan. Tak ada lagi canda tawa dari sang putri tercinta. Hanya lukisan yang tak bermakna bagi sebagian orang lah yang masih menghiasi dinding-dinding kamar Alona. 

Ditengah keheningan yang terjadi, ketukan pintu membuyarkan lamunan kedua orang ini. Melihat seseorang datang membawa sebuah paket. Segera mereka menerima dan membuka isi paket tersebut. 

 

Mereka kembali dibuat menangis ntah sudah yang keberapa kali. Melihat apa yang ada ditangan mereka. Sebuah buku berjudul Sendu Tak Berujung yang ditulis oleh Alona yang mengisahkan tentang hidupnya, berharap menjadi motivasi untuk semua orang.

Orang tua Alona berharap anaknya dapat tersenyum disana, karena impian terakhir telah terwujud. Menghadirkan satu buku menciptakan jutaan tetesan air mata saat membaca  dan menjadikan kisah hidupnya menjadi motivasi bagi semua orang. 

Kini Kedua orang tua Alona dapat sedikit mengukir senyuman, mengingat perkataan media menjadikan hal tersendiri bagi mereka berdua. Sebuah kata yang selalu terbayang didalam otak mereka   "Alona Mahera penulis buku Sendu Tak Berujung menciptakan karya pertama untuk terakhir dalam hidupnya dan menjadikan dirinya slalu untuk dikenang."

Tak ada yang menyangka bahwa Alona memiliki bakat terpendam menjadi seorang penulis. 

Sudah cukup, kisah seorang Alona Mahera yang gagal dalam mencapai cita-cita. Meninggalkan semua orang tercinta untuk slamanya. Memulai hidup baru di alam yang berbeda. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.