Profil instastories

Semua Hal Ada Masanya

Semua Hal Ada Masanya

Oleh: Cicci Ayata

 

.

.

.

 

Sudah lama aku tidak menginjakkan kaki di kota ini. Kota di mana tersimpan berjuta kenangan. Kupelankan laju mobil lalu menurunkan kaca jendela menikmati semilir angin sore membuat jilbabku melambai mengikuti ke mana angin membawa. Tak banyak yang berubah di sini kecuali .... 

Kau tahu, terkadang kita perlu menghilang bukan untuk lari dari kenyataan tapi untuk mendapatkan tenang. Setelah itu kau bisa kembali dengan sedikit beban. 

Kuinjak pedal rem saat sampai di pom bensin. Ada dua tiga kendaraan yang mengantri. Kuputuskan untuk turun dari mobil berjalan ke sisi kiri di mana terdapat taman kecil. Beberapa macam tanaman tumbuh. Ada yang bunganya merekah, beberapa masih menampakkan kuncup dan beberapa sedang berusaha tumbuh besar bahkan ada yang sudah tampak rapuh tapi tetap berusaha bertahan hidup. Memang benar, setiap makhluk, setiap hal di dunia ini memiliki masanya sendiri-sendiri. 

"Mbak!" teriak seseorang melambaikan tangan ke arahku. Rupanya giliran mobilku yang diisi perutnya. 

Aku beranjak setengah berlari. Kurogoh tas berwarna hitam yang sedari tadi menggantung di bahu lalu mengambil uang dan membayarnya. Sekilas kulirik benda mungil di pergelangan tangan menunjuk angka empat lewat sepuluh. 

Tak lupa kuucapkan terima kasih sebelum masuk ke mobil. Belum meninggalkan halaman pom bensin kudengar samar-samar ada yang memanggil di belakang. Terlihat dari kaca spion seorang pemuda bertubuh tinggi, rambut halus menghias di sekitar dagunya sedang melambaikan tangan berusaha mengejarku tapi langkahnya ragu-ragu. "Dindaa!" Namaku diteriakkan dengan begitu jelas. 

Kuinjak rem mendadak membuat tubuhku sedikit terdorong ke depan dan menyentuh setir. 

Aku kembali mengintip dari kaca spion. Mengamati pemuda yang baru saja memanggilku dia terlihat buru-buru menyodorkan uang bahkan uang kembaliannya tidak dihiraukan. Matanya fokus ke arah di mana aku berhenti seolah takut aku pergi. Pemuda dengan kemeja abu-abu itu menstarter motornya lalu menghampiriku. 

Kuparkir mobil agak ke pinggir agar tidak menghalangi pengendara lain. Setelah itu aku turun. Pemuda itu pun demikian, turun dari motornya lalu menghampiriku. 

Sekarang dia berdiri di hadapanku menatapku lekat-lekat membuat waktuku seolah jeda. Lalu melemparku jauh. Sangat jauh ke belakang di mana kutinggalkan kenangan. Tidak kusangka akan bertemu secepat ini. 

"Sam," ucapku lirih. Hampir tak terdengar. 

Bahkan mengucap namanya pun rasanya begitu kaku. Nama yang dulu menjadi tambatan hati, yang sering kurapalkan dalam do'a berharap terkabulkan namun Tuhan tak berkenan. 

Hening.

Dia terlihat semakin kurus.

"Apa kabar?" tanyanya.

"Baik," jawabku. 

Kembali hening. 

Aku sibuk dengan pikiranku. Tidak tahu harus mengatakan apa pada pemuda yang kini harus kusebut mantan. 

"Ke mana saja? Lama sekali perginya."

Hatiku langsung menangkap ada perasaan rindu yang terselip di pertanyaan itu. Sial.

"Lama ya?" kujawab dengan pertanyaan sembari menyungging senyum. 

Di dalam sini berharap ini tidak berlanjut. 

Hening. 

Beberapa pasang mata menatap kami dari balik meja panjang yang ada di warung kopi di seberang jalan depan pom bensin. Lalu saat mataku menangkap tatapan itu orangnya langsung membuang pandangan ke arah lain. 

"Jangan sampai jahitan yang susah payah dijahit terlepas," kataku mengingatkan. 

Kulambungkan pandangan ke  langit yang mulai kekuningan. Awan-awan menggelantung di sana. Ada yang berbentuk mirip seperti angsa, ada yang mirip seperti perahu. Lucu. Dari kecil aku suka sekali memandangi langit di sore hari lalu mengartikan  awan sesuai imajinasiku. 

"Mungkin hanya aku yang terluka di sini," katanya. 

Kudengar Sam menghela napas panjang lalu membuangnya seolah ada beban yang coba dia lepas. 

"Hanya kamu? Lagian kenapa membuka cerita yang sudah lama tamat," balasku sedikit emosi. 

"Lupa? Kamu yang lebih dulu memutuskan hubungan!" 

"Tapi sekarang kamu bahagia, kan?"Aku mencoba menguasai diri agar kaca-kaca bening yang mulai menggenang tidak tumpah. "Selamat," lanjutku. 

"Kamu pikir aku bahagia?" Sam menatapku sinis. 

"Saat seorang pria memutuskan menikah. Aku pikir pria itu bahagia. Buktinya pria itu kini berstatus ayah." Air mataku akhirnya jatuh juga.

Kubalikkan badan lalu buru-buru kusapu dengan punggung tangan. 

"Din, sekali lagi kuingatkan. Kamu yang lebih dulu memutuskan hubungan." 

"Tapi, apa kamu pernah sekali saja bertanya alasan aku mengambil keputusan?" Kusandarkan tubuhku ke badan mobil. Tiba-tiba kakiku terasa tak mampu menopang berat tubuhku. 

"Harusnya kau berusaha mencari tau meski apa pun yang kukatakan padamu waktu itu. Tapi tidak sekalipun kau bertanya, Sam,"  

"Kita masih bisa merajut masa depan sama-sama," katanya. Membuatku sedikit muak mengingat dia sudah menikah.

Ada yang menggenang di pelupuk matanya. Aku tahu kami sama-sama terluka. Di sini aku yang jadi tersangkanya sementara Sam adalah korban. Tapi mungkin Sam lupa bahwa tersangka bisajadi sebenarnya yang paling korban. 

"Din ...." 

Ada yang menghantam-hantam di dalam sini saat dia lirih menyebut namaku. Rasanya aku ingin berlari ke dalam pelukannya tapi aku sadar dia mahrom perempuan lain. Sementara aku? Hanyalah orang asing. Pikiran liar itu buru-buru kutepis. 

"Percuma kita bicara tentang ini. Jika hari ini aku mengatakan alasanku waktu itu. Itu hanya akan membentuk luka baru atau mungkin penyesalan." 

"Tapi, Din." 

"Kamu lebih dulu merajut kehidupan baru. Sekarang giliranku. Doakan semoga berjalan lancar." Seketika terasa ada yang lepas dari dalam sini. 

"Dinda." 

"Aku pamit. Semoga bahagia," kataku menutup pembicaraan. Aku tak ingin ada drama pelakor dalam kisahku. Semoga Allah tetap menjaga hatiku.

Kutekan remot yang ada di genggaman dan langsung membuka pintu mobil perlahan kuinjak pedal gas. Mobil pun melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Dari kaca spion  kulihat Sam mengemudikan motornya. Kami menempuh jalan yang sama dengan tujuan yang kini telah berbeda. 

 

Bumi, 6 Desember 2019

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS