Profil instastories

Penulis lahir dibanjarmasin, 20maret 2003. Penulis mulai gemar dunia menulis sejak duduk dibangku sekolah dasar. Sekarang penulis menempuk pendidikan di MAN 2 tabalong. Penulis merupakan anak kedua dari bapak Harun Rasid dan ibu Harini.

SEMANIS KURMA

"Libur telah tiba!" suara teriakan anak-anak itu memecahkan konsentrasiku. Kulihat mereka berhamburan berlari keluar pagar sekolah dengan seragam putih merah. Mereka sangat girang ketika musim libur saatnya tiba.  Yah! Begitulah anak-anak di kota ini, kota yang dikenal dengan julukan Kota Seribu Sungai. Di kota inilah aku dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta, tepatnya di Desa Murung Karangan. Sebuah kampung yang banyak menyimpan kenangan.  

    Mak dan Abah hanyalah seorang petani. Beliau selalu sabar dan ikhlas membesarkan anak-anaknya agar menjadi orang yang berguna di masa depan. 

 

Aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku perempuan, dia sudah menikah satu tahun yang lalu dan tinggal bersama suaminya. aku masih berstatus sebagai Pelajar, namun tempatku menuntut ilmu sangat jauh dari tempat tinggalku. 

    Ya... Sangat jauh! Karena harus memerlukan perjalanan kurang lebih sepuluh jam. 

Sekolahku terletak di Martapura, semua orang pasti sudah mengenalnya. Namanya Pondok Pesantren Darussalam, sebuah Pesantren yang didirikan pertama kali oleh K.H Jamaluddin, seorang Ulama yang sangat terkemuka di Kalimantan selatan ini. 

      Aku mondok di sana sudah hampir dua tahun, anggaplah seangkatan dengan kelas dua belas. Oh iya! aku lupa menyebutkan namaku. Hehe 

Namaku Muhammad Anshari, akrab disapa Ary. biar ada gaul dikit lah! Hehe

 

      Terik cahaya matahari selalu mengikuti langkahku. Tak berasa keringat demi keringat bercucur dipelipisku. Huhh.. panas sekali! keluhku dengan menghembuskan napas lelah. Segeraku bersihkan dengan tangan kanan. Sudah hampir satu jam aku mencari angkotan menuju Desa Murung karangan, tetapi tak ada satu pun yang dapat kutumpangi. Aku memutuskan untuk istirahat sejenak di halte yang berada di kecamatan Kelua ini. Pikiranku seketika tertuju pada mak dan abah, mereka pasti terkejut aku pulang kampung. Sengaja takku beri kabar, untuk memberi kejutan pada beliau.  Betapa rindu sekali aku, qalbuku semakin bergejolak ingin segara bertemu, bersenda gurau, dan bercerita dengan mereka.

      Rinduku juga akan kampung halaman, apa kabar teman-temanku yang di sana?  memang enak tinggal dikampung jauh dari hiruk pikuk metropolitan dan kebisingan. 

 

Allahuakbar... Allahuakbar...

Ya Allah, sudah masuk waktu dzuhur. gumamku, langsung menuju mesjid terdekat. 

Selesai wudhu aku segara melaksanakan Ibadah sholat dzuhur berjamaah.

  Selesai sholat, aku duduk di koridor mesjid sambil minum air mineral dan makan sebungkus roti yang aku beli waktu di terminal bus Amuntai tadi. 

Tiba-tiba terdengar suara dari arah dalam mesjid. 

"Ry, Ary." Spontan aku menoleh, dia menghampiriku. Ry, masih ingat tidak 

dengan aku?"tanyanya penuh harap. Aku pura-pura berpikir sebentar.

 

"Oohhh.... Kamuu Baim kan, Ibrahim teman aku waktu SD dulu?" jawabku 

seakan-akan baru mengingatnya. Padahal aku sama sekali tak pernah melupakan teman-temanku. 

 

"Iya ry, Kamu apa kabar Ary? udah lima tahun kita tidak bertemu."ujar Ibrahim 

sembari menjabat tanganku. Memang Ibrahim itu temanku semasa sekolah dasar dulu. Ia termasuk teman baik yang selalu menemaniku waktu masih dibangku sekolah dasar. Setelah lulus ia ikut orang tuanya keluar kota dan sekolah disana. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya.

 

"Alhamdulillah Im, aku baik-baik saja.. Kamu sendiri bagaimana?" jawabku 

 

"Aku juga baik Ry alhamdulillah. Oh ya sekarang kamu sekolah dimana?" tanya Ibrahim sambil merapikan pecinya. 

Tak terasa sudah hampir lima belas menit aku berbincang-bincang dengan Ibrahim. Kami asyik bertukar cerita tentang sekolah sampai aku lupa keinginanku untuk pulang. 

 

"Maaf nih aku harus pulang, soalnya sudah rindu dengan keluarga. Hehe... 

Oh ya Im, pangkalan ojek atau angkotan umum dekat mana ya? Soalnya aku sudah lupa lokasi disini." ujarku menandakan bahwa aku ingin cepat pulang. 

 

"Oh kalau jam segini sudah tidak ada lagi ojek yang mangkal. Gimana kalau 

aku antar Ry? tujuanku sama kok, aku ingin kerumah pamanku di desa murung karangan itu, untuk beberapa hari selama ramadhan ini."tutur Ibrahim.

 

"Oh boleh deh Im, makasih ya.."

Aku dan Ibrahim langsung meluncur dengan kecepatan sedang. 

Diperjalanan, kulihat sudah banyak yang direnovasi. Baik itu rumah, jalan, halaman bahkan sudah ada pembuatan jalan tol. Padahal aku pulang hanya satu tahun sekali. Begitu cepat perubahan dengan kampung ini. 

    Tak menunggu waktu lama, aku tiba di depan rumah. Hati ini sudah sangat menggebu-gebu ingin bertemu mak dan abah. Kucoba mengetuk pintu dengan mengucapkan. "Assalamu'alaikum" 

Abah pun segara membuka kan pintu, aku tersenyum menatap beliau. Abah langsung memeluk, saat bersamaan mak keluar dari dapur dan melihatku. Segera pula beliau memeluk sambil menangis haru, mendapati kepulanganku. Hmm... Begitulah yang namanya orangtua selalu merindukan kepulangan anaknya. 

 

   Waktu berlalu kian cepat. Malam ini akan dilaksanakan sholat Tarawih pertama di Bulan Ramadhan ini. Aku sangat bergairah melaksakan sholat tarawih dikampungku yang tercinta ini. Sudah berbulan-bulan akhirnya aku masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah di mesjid jami' kebanggaanku. 

Adzan segera dikumandangkan dengan khidmat. Rakaat demi rakaat dijalankan begitu khusyu', imam pun terdengar lihai dan merdu dalam melantunkan surah-surah beserta dengan tajwidnya. 

   Ditengah kekhusyu'kan, terdengar suara bising, dan ribut. Suara anak-anak itu hampir membuyarkan kekhusyu'kanku. Untung saja aku segera memperjelas bacaanku, agar khusyu'ku  tidak pecah. 

Dua jam telah berlalu, selesai sholat tarawih aku keluar sejenak untuk merenggangkan badan. 

Sayup-sayup mataku terfokus pada Pak imam dan sekumpulan anak-anak. kucoba mendekati, tidak terlalu dekat tapi aku bisa mendengar obrolan mereka. 

Terdengar jelas sekali pak imam sedang memarahi mereka yang bermain-main disaat sholat tarawih dilaksanakan, dianggap mengganggu kekhusyu'kan para jama'ah. Mereka semua tertunduk malu, mungkin menyadari kesalahannya. 

Satu hari berpuasa telah kulakukan dengan baik, tidak ada kendala sedikit pun, hanya saja tidak seperti sholat tarawih. 

     Ya, malam ini mungkin anak-anak itu sudah tak ada lagi yang berbuat seperti malam kemarin. Pikirku 

Namun dugaanku salah besar, justru malam ini mereka semakin banyak dan semakin mengganggu kekhusyu'kan jama'ah. Pak imam masih sabar mengingatkan Mereka. Rupa-rupanya diantara mereka tak ada satupun yang mengerti, semua membantah selama tiga hari berturut-turut. Pak Imam semakin geram, akhirnya beliau memutuskan untuk pindah tempat ke mesjid kampung sebelah. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dibenakku. Siapa yang akan jadi imam? siapa yang akan menggantikan beliau? Apakah beliau sanggup?

Pertanyaan itu berkecamuk dikepalaku. Usai sholat subuh, pak Kades menemuiku, dan beliau memintaku untuk menggantikan Imam tarawih untuk sementara waktu. Deg, jantungku seakan ditusuk pedang. Aku berusaha untuk menolak, tetapi beliau sangat berharap padaku. aku tak punya pilihan. Malam ini pun aku akan memimpin sholat tarawih, rasa cemasku akan kekhusyu'an terganggu dengan anak-anak itu, bagaimana jika saat aku jadi imam aku lupa surah, atau lupa ayat bahkan lupa rakaat. Huh mengerikan sekali! Untung saja aku pernah dengar cerita temanku, cara mengatasi anak anak yang berisik saat sholat tarawih. 

      Usai melaksanakan sholat magrib, aku pulang sebentar kerumah untuk mengambil satu kantong kurma, dan mambawanya kemesjid. 

"Adik-adik coba kesini, kakak ada permainan baru untuk kalian."ujarku sambil tersenyum ramah. 

 

"Permainan apa memangnya kak?"Tanya salah satu anak itu, sebut saja namanya Udin. 

 

"Nah, lihat ini! kalian tau ini apa?"tanyaku sembari memegang satu biji kurma. 

 

"Ya itu kurma kak, masa petasan. hehe…"sahut anak berambut kriting itu, 

panggil saja namanya Amin. Mendengar jawaban dari Amin, mereka semua tertawa. 

 

"Nah jadi cara mainnya begini adik-adik, nanti setelah sholat isya, kalian harus menghitung berapa jumlah rakaat sholat tarawih dengan biji kurma ini. Ada yang tahu tidak  disini jumlah rakaat sholat tarawih berapa? (Mereka semua menggelengkan kepala) Nah maka dari itu, kalian harus makan kurma ini dan bijinya kalian kumpulkan sebagai alat untuk menghitung jumlah rakaatnya.

Siapa yang paling banyak mengumpulkan biji nya dia pemenangnya. dan yang menang kakak punya hadiah spesial nanti. Gimana kalian faham tidak?"

"Kapan kami makan kurmanya dan mengumpulkan bijinya kak?" 

 

"Nah Jadi startnya sehabis rakaat sholat tarawih ya, dan kalian harus ikut 

sholat tarawih juga, semampu kalian. finishnya sampai selesai sholat tarawih."

 

"Oh kalau seperti itu sih, gampang. Sudah pasti aku pemenangnya."Sambung 

Udin, sambil belagak sombong. 

 

"huuuu kebanyakan mimpi kamu din. Haha." sahut teman-temannya yang lain.

 

"Sudah sudah, nah jadi syaratnya kalian harus bisa tertib ya, jangan berebut, 

jangan berisik, jangan ngomong dengan suara yang keras, jangan teriak-teriak. Makannya harus dengan tenang, kalau mau bicara, pelan pelan aja ya. kalau tidak, nanti dia kakak anggap sudah gugur, dan tidak ada harapan untuk menang."

 

"iya kak."jawab mereka serentak.

 

"Nah kalau gitu, kalian ikut kakak sholat isya dulu ya!" Mereka pun aku ajak 

mereka untuk sholat isya berjamaah dan aku imamnya. Setelah sholat Isya, mereka bergegas-gegas mengatur shaf sholat tarawih, agar bisa memainkan permainan dariku tadi. Aku tersenyum tenang "semoga saja mereka bisa berubah"gumamku dalam hati. 

 

   "Allahu akbar" seruku sembari mengangkat takbir. Para makmum mengikuti. Rakaat pertama dan kedua tak ada gangguan apapun, rakaat ketiga dan keempat juga masih stabil. Rakaat kelima dan enam aku merasa tak ada gangguan lagi. Sampai seterusnya, dan sampai rakaat terakhir benar-benar tidak terdengar suara bising itu lagi. Para makmum juga terlihat khidmat dan khusyu'. 

"Alhamdulillah rencanaku berjaya." Kata hatiku

 

   Sholat tarawih malam ini dilaksanakan dengan sangat khusyu' tidak ada lagi suara-suara pengganggu. Usai sholat tarawih, aku segera menghampiri anak-anak tadi. 

 

"Adik-adik gimana, berhasil ngumpulkan biji kurmanya?" 

"Sudah kak."Sahut mereka serentak.

"Ayo sini! Kita hitung sama-sama ya."ajakku sambil menaruh pantat dilantai koridor mesjid.

Aku langsung menghitung dengan teliti satu per satu biji yang telah mereka kumpulkan itu.

Sekitar sepuluh menit waktu aku menghitungnya, dan semuanya pun sudah disusun rapi sesuai biji masing-masing. Tinggal memutuskan siapa yang jadi pemenangnya 

 

"Kak Ary, siapa kak pemenangnya?" tanya salah satu dari anak-anak itu.

 

"Emm… Siapa ya?"Jawabku pura-pura berpikir. 

 

"Tapi nanti janji ya sama kakak, kalau ada yang menang, kalian tidak boleh marah, dan tidak boleh ngeluh, ya! Jadi, pemenangnya adalah Amin."

 

"Horee…"sahut Amin kegirangan.

 

"Lah kok Amin sih kak? kan amin bijinya cuma sedikit." Protes Udin.

 

"Jadi begini adik-adik, sebenarnya yang jadi pemenangnya itu adalah yang bijinya lebih sedikit kenapa? Karena Amin lebih banyak sholatnya dibanding dengan Makan kurmanya. kakak tau kalian pasti terburu-buru sholatnya dan tidak khusyu' karena ingin cepat-cepat makan kurmanya kan, dan mengumpulkan bijinya sebanyak mungkin, untuk bisa menang. Justru itu padahal yang akan membuat kalian tidak dapat apa-apa. Tapi kalian tidak memahami itu!"

 

"Terus kak hadiah spesialnya apa?" 

 

"Karena Amin pemenangnya, jadi nanti kakak akan mentraktir Amin makan sepuasnya."

 

"Terus kita ga dapat apa-apa dong kak?" Ucap Udin dengan wajah kecewa.

 

"Siapa bilang kalian ga dapat apa-apa, kakak hargai sekali usaha kalian tadi. jadi sore besok kalian bisa datang kerumah kakak untuk buka bersama ya, silahkan disana kalian makan sepuasnya." 

 

"Yee horeeee" teriak mereka sangat gembira.

 

"Nanti kakak akan mengadakan permainan lagi, tapi kalian harus janji ya sama kakak. Jangan ada lagi yang bercanda dengan suara keras dan bermain-main disaat sholat tarawih, karena itu akan mengganggu khusyu'  para jam'ah. Kalian tidak mau kan kalian berpuasa sebulan penuh tetapi kalian tidak dapat pahala apa-apa? Jadi kakak minta sama kalian jangan lagi ada yang sampai keras suaranya. Kalian boleh bicara, boleh main-main. Asal suaranya pelan saja ya!"

 

"Baik deh kak, kami minta maaf jika gara gara kami orang orang terganggu sholatnya."

 

"Ya sudah tidak apa-apa. Sekarang kalian boleh pulang ya."

 

"Iya kak."

 

Mereka semua bubar dan kembali kerumah masing-masing. Lega rasanya aku dapat memberi pengertian pada mereka. Sejak saat itu tidak ada lagi suara bising yang menghambat kekhusyu'an. Para jama'ah pun ikut lega dan terimakasih padaku. Memang bermain adalah salah satu alat penghibur hati bagi anak-anak seusia mereka. Tapi kita tidak bisa melarang mereka untuk bermain. Dimana saja mereka tak peduli yang terpenting hati mereka gembira. Aku, kalian, kita semua pasti pernah berada diposisi mereka. Jika karena cara mereka bermain mengganggu suasana kita. jangan sekali-sekali memarahi dengan nada keras atau bahkan melarangnya. Itu akan membuat mereka semakin rudal. Apalagi ini adalah bulan suci Ramadhan yang penuh berkah. Kita harus bisa membimbing, menasehati, memberi arahan, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Aku yakin mereka pasti mau mengerti dengan kita, apabila kita juga mengerti dengannya. Tegurlah mereka dengan suara yang lembut dan berikan senyuman yang manis, semanis kurma. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani