Profil instastories

Selembar Kain

Selembar Kain

Selembar kain yang tidak pernah tersentuh, tidak pernah terpakai kini telah mengubah kehidupanku.

.

Aku seorang wanita berumur 20 tahun. Mataku buta dan telingaku tuli, tidak pernah menyadari posisiku sebagai muslimah.  Aku terlahir dari keluarga yang mungkin harmonis. Setiap hari ibu selalu menyiapkan makanan sehat untuk kedua anaknya. Aku dan kakak perempuanku. Kami terpaut umur 5 tahun. Dia sudah bekerja di luar kota, tak jarang dia tidak pernah pulang ke rumah. Hanya sesekali itu pun jika dia diberi hari libur.

Idul fitri menjadi momen paling berharga. Setiap tahunya kami sering menghabiskan waktu bersama dengan keluarga besar walaupun tanpa seorang ayah. Yah, ayahku sudah meninggal sejak aku masih berumur 10 tahun. Beliau meninggal akibat penyakit jantung yang merenggut nyawanya. Semenjak itu aku tumbuh menjadi seorang anak remaja tanpa kasih sayang dari sosok seorang ayah.

Menjalani hidup seperti yang ku mau.

Gelapnya duniaku tidak seterang langit di siang hari. Aku berada dalam pekatnya langit malam, menjadi seorang remaja tanpa mengindahkan kodratku sebagai seorang wanita dan muslimah. Seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59 bahwa sejatinya seorang wanita muslim wajib mengenakan hijab. Aku tidak pernah memperhatikannya sedikit pun.

Aku buta tidak melihat kebaikan yang telah Allah berikan. Aku tuli tidak mendengarkan apa yang Allah perintahkan. Dan hal itu untuk kebaikanku sendiri. Aku begitu terlena dengan gemerlapnya lampu dunia.

Sampai pada satu titik Allah menyadarkanku. 1 malam mengubah hidupku menjadi luar biasa.  Malam itu terasa lebih hening. Aku duduk bersandar ditempat tidur. Tertawa bersama ponsel yang setiap saat selalu menemani kemana pun aku pergi. Bercerita banyak pada sahabatku satu-satunya.

“Ya udah kalau gitu kamu tidur gih..” Kata temanku disebrang sana. Kami tengah telponan malam itu, Rana mengakhiri panggilannya. Ku letakan ponsel disamping kanan. Pandanganku tertuju pada buku dimeja belajar yang sama sekali tidak pernah ku sentuh. Ada perasaan ingin mengambil dan membacanya. Namun, ku urungkan dan lebih memilih berbaring menjemput mimpi indah.

‘Hidupmu tidak abadi. Tuhan bisa mengambilmu kapan saja. Apa yang kamu banggakan selama ini? Sejatinya dunia hanyalah sementara’

Aku terbangun. Duduk bersila di atas tempat tidur. Keringat dingin membasahi dahi. Nafasku terasa sesak, aku pun beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Ada sesuatu yang mendorongku untuk mengambil air wudhu kala itu. Aku merasakan kesejukan yang seketika menghapus rasa kantuk.

Jam masih menunjukan pukul 2 dini hari. Ku bentangkan sejadah dan melakukan sholat 2 rakaat yang sebelumnya tidak pernah ku lakukan. Seolah ada cahaya terang menembus sanubariku. Kembali, tatapanku mengarah tepat pada buku itu. Aku pun mengambilnya, membuka acak halaman di buku tersebut.

Al-Ahzab ayat 59.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Air mata tidak bisa dibendung, tumpah ruah mengalir deras dikedua pipi. Aku tertampar dengan tangan tak kasat mata. Sakit, kecewa menjadi satu. Ternyata sesuatu yang Allah perintahkan adalah yang terbaik untuk kehidupanku. Mimpi itu menjadi pertanda jika hidup yang selama ini aku jalani berada di jalan yang salah. Kegelapan hilang berganti dengan cahaya terang. Perlahan kehidupan yang selama ini ku jalani dengan kenyamanan dan hanya mengharapkan dunia perlahan ku tinggalkan.

Gemerlap cahaya dunia hanya sementara, cahaya hidayah dari Allah mengubah semuanya. Hanya dengan 1 malam. Semua yang ku kerjakan berganti dengan kebaikan. Aku sadar dengan posisiku sebagai seorang muslimah. Sejak hari itu aku mulai mengubah kebiasaanku, cara bicara, bergaul, dan penampilan. Prosesnya memang tidaklah mudah, tapi aku menikmatinya. Banyak cibiran yang datang padaku saat pertama kali mengenakan jilbab lebar ini. Tapi aku yakin itu salah satu proses menjadi lebih baik.

Setiap cobaan yang Allah berikan telah menyadarkanku.

‘Kini selembar kain itu tidak pernah ku lepaskan lagi. Hanya dengannya aku bisa melihat dunia, dan memperlihatkan jati diriku sebagai muslimah. Aku bangga dengan perubahan yang terjadi dalam diriku ini. Aku merasa sangat nyaman, dan juga terlindungi. Karna sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah.’

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani