Profil instastories

Sela Dan Cintanya

Suara gemuruh kendaraan memekakan telinga, semburat cahaya yang memaksa menembus awan hitam itu menyentuh kulit seorang gadis yang sedang duduk termenung di bangku panjang yang tersedia di sebuah Taman kota. Dengan jari-jemari memilin tali slinbag yang ia pakai, dan tatapan fokus ke arah tanaman bunga yang terombang-ambing oleh sepoy angin. Hari sedang mendung, tetapi tak menyurutkan aktivitas gadis berambut hitam legam itu untuk setia menikmati keindahan taman kota. Jarang-jarang ada taman seperti ini di kota, taman yang penuh dengan bunga. Walaupun yang mendominasi adalah mawar hitam dan putih. Ahh, mentang-mentang bendera Negara kita merah-putih, Taman itu ikut memiliki bunga merah-putih.

Sebuah Taman yang biasa dikunjungi oleh para ABG labil dengan gandengannya masing-masing. Namun, dengan gadis yang termenung tadi. Ia hanya datang sendiri ke Taman itu. Tak ada rasa canggung sedikitpun dalam dirinya, dan tak ada rasa iri sama sekali terhadap sekelilingnya yang masing-masing memiliki pasangan. Toh, iya tidak peduli. Terserah orang mau berpikir apa tentang dirinys, mau ngatai kek atau mau ngetawai kek. Bodo amat.

Gadis kaku dengan gelar mahasiswi kampus ternama di Jakarta. Gadis yang sering dibicarakan oleh teman-temannya dan gadis yang bodo amat tentang omong kosong yang dibicarakan oleh orang sekitarnya. Gadis yang disangka tidak normal karena tidak pernah terlihat menggandeng seorang cowok. Gadis cantik dengan sejuta cibiran buruk. Sela Sefterona. Gadis jangkung dengan darah sunda yang kental. Gimana tidak kental, kan darahnya gak dicampur sama air;v

Gadis itu, eh maksudnya Sela. Dia menghela nafas gusar. Ada sesuatu yang mengganjal pada hati kecilnya. Sesuatu yang sulit Sela ketahui. Sesuatu yang menjadi teka-teki untuknya. Ini lah Sela, dia tidak bisa membaca hatinya sendiri. Hati yang sulit untuk menerima uluran cinta dan kasih sayang. Jujur saja, Sela belum pernah mencicipi rasanya pacaran. Baru kali ini Ia mendapat sebuah note yang menempel pada buku tugas kuliahnya. Sebuah note yang mengungkapkan perasaan seseorang untuknya. Ralat. Bukan baru, melainkan sudah kesekian kalinya Ia mendapat note dari seseorang yang mencoba menyentuh hatinya. Namun, tak ada yang menarik untuk Sela. Entah type cowok seperti apa yang Ia cari. Hanya saja ini kali pertama hatinya merasakan desiran aneh setelah membaca note tersebut.

"Ambigu! Kenapa mereka selalu mengungkapkan cinta di kertas kecil seperti ini sih!" 

Sela berdecak sebal. Kenapa semua orang selalu menyampaikan sesuatu kepadanya melewati sebuah tulisan di kertas kecil, lalu ditempelkan begitu saja pada bukunya. Kenapa tidak ngomong langsung saja, Sela juga tidak akan memutilasi mereka semua. Dan Sela juga bukan monster garang yang harus mereka hindari. Bukankah berbicara langsung di hadapan orang yang bersangkutan jauh lebih sopan. Sela kembali memperhatikan kertas kecil di tangannya, tanpa sadar Sela bergumam pelan menyebutkan nama seseorang.

"Dirga."

Bukan dari hayalan nama itu muncul, tetapi dari pojok kertas yang ditulis sekecil mungkin. Dirga. Tulisan yang diakhiri dengan emot tersenyum. Sela tampak berpikir sejenak, sepertinya Ia mengenali nama itu. Entah di mana Ia mengenalnya, namun nama tersebut mampu membuat detak jantung Sela berpacu lebih cepat dari biasanya. Belum juga ketemu sama orangnya, Sela sudah terbawa suasana.

"Hanya orang cemen yang gak berani nunjukin dirinya saat berhasil membuat seorang cewek terbawa perasaan."

Jujur saja hati Sela terenyuh ketika tahu siapa pegirim note tersebut. Tanpa mencari tahu, Sela sudah dapat memastikan kalau si pengirim note itu adalah orang yang Ia tunggu-tunggu kehadirannya. Sela menyunggingkan bibir tipisnya hingga membentuk senyuman, matanya menyipit karena tertarik oleh pipi yang membatu bibir untuk tersenyum. Tunggu, mungkin ini pertama kalinya Sela tersenyum tulus seperti itu. Sudah bak orang gila saja Sela ini, dia masih terus menebar senyuman dengan memeluk erat note berwarna biru yang berada digenggamannya.

"Asik banget senyummya, lagi terharu ya?"

Sela terperanjat mendengar suara dari belakang punggungnya. Sela menghentikan senyumannya, lalu berbalik untuk melihat siapa sosok yang mengganggu aktivitas bahagianya.

"Dirga." Belum juga Sela bertanya nama, sudah dijawab saja oleh orangnya.

"Apa kabar? Eh btw lo makin cantik, walaupun terlalu kaku bagi gue." Kali ini Sela membuka lebar kelopak matanya, tak percaya dengan perkataan orang berada di hadapannya.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Empat det__

Sela berhamburan ke dada bidang milik Dirga. Sela menumpahkan air matanya di pundak Dirga. Ya, Sela dan Dirga beda benerapa cm doang. Jadi Sela dapat menumpahkan tangisnya di pundak Dirga. Sela tahu ini terlalu lebay untuknya, untuk dirinya yang kaku. Ini lah yang Sela inginkan, Dirga, ya Dirga yang Sela inginkan. Sudah 7 tahun Sela menunggu kepulangan Dirga ke Indonesia. Dirga, sahabat kecilnya yang selalu beradu pendapat dengan dirinya yang egois, tak mau kalah sedikitpun. Sela sangat tak menyangka jika Dirga akan datang menemuinya dan mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Sudah terbukti, kalau perkataan teman-temannya tentang Sela yang tidak normal itu salah. Dan bukan tidak laku, melainkan Sela hanya sedang menunggu cinta pertamanya yang entah sejak kapan sudah tumbuh. Dan kekakuan Sela mulai hilang sedikt demi sedikit, hanya ada keceriaan dihidup Sela semenjak kedatangan Dirga.

 

Selesai...

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani