Profil instastories

Berbagi tulisan dengan harapan bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Sekolah Alisia

159a9853694df7e5219389999665.jpg

"Sia! Bangun, Nak." Suara keras dengan goyangan di tubuh adalah alarm tiap pagiku. Aku bergeming, menunggu lanjutan kalimat yang selalu ada hampir dua tahun ini. "Kakak harus sekolah agar pintar, kalau pintar bisa kerja. Nanti bisa dapat uang."

Kalimat itu, tanda terakhir sebelum ada sentuhan yang lebih dari sentuhan awal, "Ehmmm baik, Ma."

Gumaman dan gerakan duduk di atas tempat tidur sudah cukup membuat Mama berhenti membangunkanku. Bukan, tapi menggangguku dari istirahat terbaikku. 

Wanita cantik yang rapi dengan pakaian kerja berdiri dengan tangan di pinggang. Matanya tajam melihat ke arahku. Senyuman adalah balasan dari kalimat tidak terucap, cepat bangun.

Kuusap air liur yang mengalir di sudut bibir. Bau khas pagi hari menyeruak ke dalam hidungku. Rambut panjang sepunggung sangat awut-awutan tak teratur. Kedua tangan kurenggangkan ke kanan kiri dengan malas. 

"Alesia ...," ucap ibu muda di depanku dengan lembut, namun bibir berbentuk lurus sudah cukup membuatku tahu. Aku harus cepat turun dari singgasanaku yang berantakan. 

Kakiku melangkah turun dari kasur empuk yang hangat menuju ubin yang dingin pagi ini. Agak berjinjit sekedar menyesuaikan suhu tubuh dengan dinginnya lantai kamar. 

Aku tersenyum, "Aku sudah bangun, Ma."

"Bagus, sekarang Sia mandi." Mamaku berbicara dengan tangan menunjuk ke arah kamar mandi di luar kamar tidurku.

Jalanku seperti zombie yang pernah ku tonton di televisi. Dengan mata sedikit terpejam, aku mulai melangkah. Namun, tanpa ada peringatan. Kaki indahku tersangkut selimut yang tak sengaja jatuh di lantai.

"Aduh."

"Kau tidak apa-apa?"

"Tidak, Ma."

"Berhati-hatilah."

"Kenapa kita harus sekolah sih, Ma," gerutuku sambil mengusap tempurung lutut yang terasa nyeri saat beradu dengan kerasnya ubin.

"Agar pandai."

"Aku sudah pandai, Ma. Membaca dan menulis aku sudah bisa, berhitung juga," jawabku ingin protes dengan kata-kata wanita berambut hitam lurus sebahu.

"Sekarang, Sia akan masuk sekolah dasar. Akan beda dengan TK."

"Beda apanya?" tanyaku saat sudah mampu berdiri dan menghadapkan tubuhku pada tubuh yang dua kali tinggiku.

"Kakak akan diajari pelajaran lebih sulit."

"Kalau begitu, aku malah tidak mau. Kenapa harus susah-susah, Ma. Kalau hanya pintar, aku sudah pintar. Kata Bu Guru Anis dulu, aku pintar karena sudah bisa menyebutkan dan menulis angka satu sampai sepuluh," jawabku dengan intonasi yang cepat. Saat kulihat Mama akan menjawab, aku langsung memotongnya, "Aku juga sudah bisa menyebutkan huruf A sampai Z dengan lancar. Aku sudah pintar, Mama."

"Kakak-"

"Pokoknya aku tidak mau sekolah!" Teriakku yang ditanggapi dengan dahi berkerut wanita di depanku. Matanya menunjukkan kekecewaan dengan sikapku. Namun, sifat keras kepala tidak bisa melihat kesedihan dari perilaku yang kutunjukkan. Tarikan napas berat mungkin langkah Mama agar tidak mengeluarkan suara keras yang sama.

Aku juga tidak bisa terima, sejak dua tahun yang lalu. Alasan Mama selalu sama. Aku sekolah agar pandai. Sedangkan saat di TK dulu, guruku sudah bilang kalau aku sudah pandai. Jadi, seharusnya tidak perlu sekolah lagi. 

Bila aku boleh usul, lebih baik diajari bagaimana bisa bangun pagi tanpa ada rasa malas, mata langsung cerah dan tidak ada air liur bau yang keluar dari sudut bibirku. Karena itu yang aku butuhkan sekarang.

Sebelum Mama mengeluarkan suara, aku mendengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di depan pintu kamarku. Saat ku menoleh, memastikan siapa yang datang. Tubuhku langsung tegang, tengkukku meremang. Kepalaku tertunduk dalam, jari-jari saling bertautan mencari sumber kekuatan dan menyalurkan rasa tidak nyaman. Bibirku terkatup kuat, seakan ada lem kuat yang menyatukan keduanya. Udara sekitarku terasa semakin dingin, namun dadaku terasa panas seakan jantung bekerja sepuluh kali lebih cepat.

Aku bodoh, kenapa aku lupa ada Ayah, batinku dengan rasa penyesalan yang terlambat.

"Ada apa?" Suara berat khas lelaki terdengar oleh indra pendengaranku. Aku semakin merasa kecil dihadapan raksasa hijau. Manik hitamku cepat melirik Mama yang berdiri di sampingku.

"Tidak ada apa-apa, hanya Sia ingin mengatakan kalau dia semangat berangkat sekolah di hari pertamanya." Kalimat Mama sangat melegakanku, pandangan matanya melirikku sebentar dan bibirnya terkembang senyum menenangkan.

"Kalau begitu, aku tunggu di meja makan." Langkah kaki menjauh dari kamarku, bahuku melorot ke arah bawah. Seakan ada beban berat yang telah pergi dari pundakku.

"Terima kasih, Mama. Maafkan kata Sia tadi." Suaraku tulus pada wanita yang melahirkanku itu.

"Pergilah mandi, Ayah sudah menunggu kita."

Tidak menjawab, aku hanya melangkahkan kakiku lebih cepat ke arah kamar mandi. Tidak ingin lelaki di meja makan menunggu terlalu lama hingga membuatnya marah.

Aku bahkan lupa mencari alasan bagus kenapa sekolah itu perlu. Itu sudah tidak penting, mungkin nanti saat sudah di sekolah baruku. Yang dibilang Mama dengan sekolah dasar itu, aku akan menemukan alasan kenapa sekolah itu penting untukku.

Semoga di sana, aku juga menemukan cara bangun dengan anggun, seperti para putri yang sering kulihat di televisi.

Sekarang, kegiatan yang harus kulakukan adalah segera mandi dan berangkat sekolah. 

 

Bersambung

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani