Profil instastories

Sekecil

Sekecil

Fina menatap layar Hpnya dengan bosan. Beberapa kali  ia menyentuh layar handphone-nya untuk menghilangkan kebosanannya itu. Libur semester yang paling dinanti akhirnya tiba. Berkali-kali ia membolak-balikkan badannya di kasur. Cuaca saat itu sangat murung. Angin dingin yang tak bersahabat mencoba mengajak orang untuk bermalas-malasan. Tak ada cahaya sang mentari yang menyentuh daratan saat itu. 

“ Finaaa,” suara seorang wanita terdengar dari balik dapur. 

“ Ya Ma,” saut gadis muda itu.

“ Kamu sedang apa? Kalau tidak sibuk, ayo bantu Mama, ” pinta ibu.

“ Fina tidak sibuk kok, mau bantu apa Ma? ” 

“ Bantu Mama membersihkan semua piring ini. Besok antarkan ke rumah Bibi Anita. Dan lusa kita pergi ke rumahnya untuk membantunya masak. Kamu tahu,kan anaknya akan menikah? ”

“ Iya, Fina tahu Ma. ”

“ Sesudah itu, ada acara juga di rumah Pamanmu, lalu tetangga depan kita dan saudara kita yang di- ”

“ Tunggu, tunggu Ma, kenapa banyak sekali acara pada sepekan ini? Fina datang untuk liburan lo. Bukan untuk menghabiskan waktu di dapur orang, ” celetuk Fina.

“ Ya, mau bagaimana lagi Fin. Mereka mengadakannya secara beruntun. ”

“ Ya sudahlah, besok dan lusa Fina akan ke sana. ”

Keesokannya, disaat mentari masih belum bisa bangun dari hasutan angin dingin. Fina yang masih berbungkus selimut tebal merasa malas untuk bangun pula. Berkali-kali ia membalikkan badannya. Menggeliat, namun tak kunjung menemui kenyaman untuk melanjutkan tidur. Walau selimut yang digunakannya cukup tebal. Tetapi, masih tak mampu untuk melawan angin dingin  fajar  saat itu.

“ Kenapa dingin sekali? Brr. Aku tak sanggup untuk melanjutkan tidurku. ”

Fina bangun dari kasurnya dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Rupanya air tak mau kalah dingin dari sang angin. Sentuhan lembut air memberikan kesejukan di kulit Fina. Selesai wudhu, ia kembali ke kamar untuk melaksanakan shalat. Tiba-tiba…

“ Tunggu, aku mau shalat apa? ” sebuah pertanyaan ia lontarkan pada dirinya sendiri.

Shalat, mandi, menyapu rumah dan menyiapkan sarapan sudah ia lakukan untuk menyambut kedatangan sang mentari. Tetapi, hingga pukul tujuh mentari tak kunjung menampakkan wajahnya. Hal itu tak menyurutkan niat Fina untuk mengantarkan piring ke rumah saudaranya.

“ Ma, Fina berangkat dulu. Assalamu’alaikum. ”

“ Ya hati-hati. Wa’alaikumsalam. ’’

***

“ Ma, aku harus mengerjakan apa? ” Tanya Fina saat acara di rumah bibinya akan dilaksanakan.

“ Nanti kamu akan tahu apa yang akan kamu kerjakan, ”Jawaban yang  singkat dari sang ibu membuatnya sedikit kesal. Fina berputar mengelilingi rumah bibinya itu untuk mencari hal yang bisa dibantunya.

“ Yaah, sepertinya aku yang paling muda di sini. Yang lainnya hanya ada orang tua. Lebih baik aku membantu Mama  membuka kulit buah nangka yang sudah direbus. ”

 Fina berjalan menuju ibunya. Setelah menjumpainya, ia duduk dan membantu pekerjaan ibunya itu.“ Bi, apa ada pekerjaan lagi untukku? Semuanya sudah beres, ” Tanya seorang lelaki bujang pada ibunya Fina.

“Jika sudah tidak ada, pulang saja. Besok pagi ke sini lagi, ” ucap ibunya Fina.

Lelaki yang merupakan sepupu Fina mengangguk namun  tetap tak beranjak dari tempat itu. Ia melihat kerja kedua saudaranya itu. Beberapa orang di sekitar mereka berbicara dengan menggunakan bahasa suku mereka. Sepupu Fina yang  bernama Sukri itu tampak kebingungan dengan apa yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.

“ Yang tidak mengerti harap bersabar, ” gurau Fina pada saudaranya.

“ Kamu mengerti apa yang mereka katakan? ” tanya Sukri.

“ Tentu saja dia mengerti. Di sini, bahasa yang digunakan mereka itu tidaklah asing lagi, ” Jelas sang ibu.

Sukri mengangguk. Ya, keluarga Fina merupakan keluarga rantauan. Ayah Fina berasal dari tempat yang mereka tinggali saat ini. Sedangkan Fina, ia terlahir di tanah rantauan ibunya itu. Namun, perbedaan bukanlah alasan bagi mereka untuk berpisah. 

“ Oh iya Bi, jika dilihat daerah ini. Banyak sekali terdapat orang China. Kenapa? ” Tanya Sukri.

“ Karena kita tinggal di Indonesia, ” Dengan spontannya Fina menjawab.

“ Apa karena Indonesia terletak digaris khatulistiwa? ” Tanyanya lagi.

“ Maksudnya? ” Tanya Fina.

“ Ya. Itulah istimewanya Indonesia. Kita benar-benar beruntung tinggal di sini. Kita memiliki banyak suku, agama, dan bentuk fisik yang berbeda. Ada yang putih dan ada yang hitam. Ada yang pesek dan ada yang mancung. Ada yang gemuk dan ada yang kurus. Dan, akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang menimpa Negara kita ini. Baik masalah dari kita sendiri, maupun masalah yang berasal dari alam. Tetapi, secara bersama kita membangun dan saling memberikan dukungan. Hal seperti itu mungkin jarang akan kau temui di Negara lain, ’’ Jelas ibu Fina.

  “ Benar juga ya, aku sangat bangga bisa lahir di Indonesia, ” gerutu Fina.

“ Benar juga ya Bi, jika Sukri perhatikan daerah ini sangat unik. Daerah ini memang tidak seperti tempat kelahiran Sukri yang jauh lebih memiliki keindahan alam dengan pegunungan dan pemandangan yang indah. Daerah ini memiliki keindahan tersendiri. Daerah ini banyak terdapat pohon karet dan sagu yang tidak bisa Sukri temukan di sana. ”

“ Bibi harap kau tidak akan men yesal datang ke sini. ”

“ Oh ya. Adat di sini benar-benar  berbeda dari adat di kampung kita di sana. Jika di sana hanya bisa ditemukan satu jenis adat pernikahan, sedangkan di sini kita bisa menjumpai dua adat yang berbeda, dan orang –orang di sini sangat erat sekali. Berbeda suku dan budaya tetapi tetap bersatu bahkan disaat acara-acara seperti ini,” balas Sukri.

“ Bukannya tadi Mama sudah menyuruh Kak Sukri untuk pulang?”

“ Iya. Nanti saja.”

“ Tidak perlu menunggu kami pulang. Pulang saja dulu. Kami masih lama di sini. Pulang cepat dan beristirahatlah untuk besok. Besok kita akan ke sini lagi untuk membantu kerja yang belum dikerjakan,” perintah sang bibi langsung ia lakukan. Sukri segera beranjak dari tempat itu.

“ Ma, kenapa mala mini cukup sepi? Biasanyakan selalu ramai saat-saat seperti ini.”

“ Acara kali ini dibuat tidak semeriah acara di rumah orang lain. Lagian, acara ini hanya difokuskan pada acara pagi.”

Tiga puluh menit berlalu. Fina dan ibunya telah selesai melakukan pekerjaannya. Mereka membersihkan beberapa alat dan akan pulang menuju rumah mereka yang tak jauh dari tempat itu.

“ Fina, ayo pulang. Hari sudah hamper larut. Kita besok harus ke sini lagi.”

“ Baik Ma. Sebentar.”

***

Hari besar pernikahannya hanya tinggal satu fajar lagi. Namun, sang mentari masih malas untuk muncul sehingga menyebabkan  langit tampak abu-abu kehitaman. Udara yang masih sejuk terus membelai tubuh agar terus bermalas-malsan.

"Acaranya besok pagi. Sedangkan hari masih seperti ini. Apa akan berjalan lancar?" Tanyanya sendiri.

  Fina bersandar pada terali yang ada di jendela kamarnya. Ia menatapi rerindangan hijau yang mencoba menyatu dengan abu-abunya langit.

" Fina. Ayo bersiap-siap kita akan pergi lagi ke sana," perintah mama.

" Baik Ma, Fina bersiap-siap dulu ya."

" Padahal liburan ini ingin kuhabiskan untuk bersantai-santai. Malah menjadi seperti ini. Susah-susah membantu orang juga. Bukan dapat  gaji malah dapat letihnya saja," gerutu Fina.

Tiba-tiba ibu Fina muncul. Ia tampak mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya tanda tak senang dan tak setuju dengan apa yang dikatakan Fina.

" Fina, tidak boleh mengeluh dan membuat banyak alasan seperti itu. Mama tidak suka mendengarnya, terlebih kalimat itu keluar dari mulutmu. Siapa yang mengajarkanmu untuk mengucapkan kalimat tak berguna seperti itu? Mama mau hari ini kamu serius membantu agar kamu sadar kalau kebersamaan itu penting," ucap ibunya berang.

Fina menunduk malu. Ia menyesal dengan apa yang diucapkannya.Setelah selesai berpakaian ia segera menyusul ibunya yang sudah menunggunya dari tadi. Dalam perjalanan, Fina mencoba untuk meminta maaf kepada ibunya.

" Ma, Fina minta maaf ya atas apa yang Fina ucapkan tadi."

Ibunya tampak diam. Fina terus menunggu jawaban dari sang ibu. Ibunya menghela napas dengan panjang. Ia tersenyum dan memandang ke arah putri tunggalnya itu. Ia menghelus kepala anaknya itu sambil berkata.

" Mama tahu kau ingin istirahat setelah jadwal sekolahmu yang padat itu. Tapi karena itulah Mama mengajakmu pergi juga agar kau belajar bergaul. Kita hidup di Indonesia, kita hidup di negara yang menjunjung tinggi solidaritas dan kebersamaan. Jika tidak sekarang kau belajar bersosialisasi kapan lagi? Mungkin di sekolahmu banyak anak rantauan, tetapi cara bergaul dengan orang seumuran dan orang yang lebih tua itu berbeda. Setidaknya bertahanlah sampai acara ini selesai..."

Ibunya berhenti berbicara saat menjumpai temannya. Fina terpana dengan apa yang dilihatnya. Banyak orang yang tidak dikenalnya di tempat itu. Terutama keluarga besar dar imempelai laki-laki. Ia mengekor ibunya karena malu.

" Mama mau membantu apa?"

" Di belakang ada yang harus dibungkus. Bantu Mama ya."

"Baik Ma."

  Fina terus mengikuti ibunya itu sampai ibunya berhenti.

" Fina, ambil pelastik itu dan bawa kemari. " Fina menurut dan membantu ibunya membungkus kerupuk yang belum dibungkus satupun.

" Ma, banyak juga ya saudara dari mempelai laki -lakinya. Banyak yang tak Fina kenal. "

" Tentu saja, inilah guna acara ini dilaksanakan. Agar kita bisa saling mengenal. Acara ini bukan hanya sekedar perayaan pernikahan. Tetapi juga merupakan jalan bagi kita untuk bersilaturahmi dengan sanak  saudara kita yang jarang bersua. Bahkan pada orang yang belum kita kenal sekalipun bisa kita ajak bercengkrama satu sama lain. Kita yang berasal dari daerah yang berbeda dan suku berbeda bisa menjalin ikatan persaudaraan disaat-saat seperti ini. Karena itu jangan lewatkan kesempatan kecil ini. Dan jangan menganggap remeh hal sekecil apapun. Walau hal itu adalah hal yang paling kamu benci. Ingat pesan Mama ya Fina! "

" Baik Ma, mulai saat ini Fina tak akan meremehkan apapun lagi. Dan Fina akan terus mendengarkan apa yang Mama katakan. Terima kasih Ma. "

  Fina yang disadarkan oleh ucapan ibunya merasa sangat malu dengan apa yang telah diucapkannya. Ia bertekad untuk tidak mengeluh lagi, karena ia sadar kalau bersulaturahmi lebih sulit dibanding berkhianat. Dan ia sadar agar tak meremehkan hal sekecil apapun itu.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani