Profil instastories

Nama: Uun Fadillah Asal: Bima NTB Umur: 18 tahun

SEKAPUR SIRIH


Indonesia adalah Negeri yang memiliki budaya yang begitu beragam, adat istiadat yang bermacam-macam dan bahasa yang berbeda. Namun, itulah yang membuat Indonesia terlihat unik bagi Negara belahan dunia lainnya.

Keramahan orang-orangnya, tata kramanya dan bahkan unggah-unggah dalam bersikapnya. Wisatawan Manca Negara bahkan menjajahkan kakinya di Indonesia bukan lagi untuk berperang, melainkan untuk menikmati pesona yang dimiliki oleh Negeri seribu pulai ini. Bukan hanya alamnya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, melainkan budayanya yang begitu unik dan beragam.

Serly Kartika yang akrab dipanggil Serly, adalah salah satu pemudi yang tergabung dalam suatu sanggar tari sekapur sirih. Serly menjadi penari sekapur sirih semenjak dia duduk di bangku SMA. Ayahnya yang seorang pemandu dan Ibunya seorang pelatih tari khusus perempuan di sanggar, tempat Serly latihan. Tidak ada kata bosan, jenuh ataupun malu, bahkan Serly bangga menjadi penari Sekapur Sirih yang ditoton oleh para penikmat dari penjuru dunia. Tidak hanya paksaan dari orangtua untuk Serly bergabung dalam grup penari sekapur sirih, itu semua murni dari hati dan keingingannya.

"Serly, nanti datang lebih awal, kata Bu Dina ada tamu dari Rusia," ujar Ayu sahabat Serly yang juga penari Sekapur sirih. Serly yang sedang mencuci bajunya, meletakan sikat ke dalam loyang dan menatap Ayu.

"Bukannya aku selalu datang lebih awal, tamu penting?" tanya Serly sambil menyikat kembali bajunya.

"Kita kedatangan tamu penting hari ini Ser, bisa apa enggak?" tanya Ayu dengan raut wajah cemas. Dia khawatir jika Serly sudah memasang wajah datarnya.

"Nah, kamu jadi cerewet banget sih Yu," sungut Serly sambil mengibas tanganya kearah Ayu. Ayu terkekeh lalu menepuk bahu Serly sebagai tanda pamit.

Mungkin malam ini, Serly kembali pulang malam. Bagaimana tidak? Setiap ada tamu dari luar Negeri, dia akan ditunjuk oleh Bu Dina untuk menjelaskan kesenian yang ditampilkan. Hal itulah yang akan mengulur waktu Serly untuk terlambat pulang. Bukan karena dia takut kepada orang taunya. Namun, Serly tidak ingin kekurangan waktu istirahat. Sebab jam berapapun dia tidur, pukul lima pagi sudah harus bangun. Itu menjadi rutinitas Serly karena dia harus berolahraga, memasak dan melakukan pekerjaan rumah dan bekerja.

Bekerja sambil kuliah. Itulah yang dilakukan oleh Serly. Namun, sekarang, sedang masa liburan jadi Serly bisa tenang dan sedikit bernafas lega. Pasalnya, menjalani dua pekerjaan sekaligus apalagi dengan kuliah, sungguh sangat susah. Tapi Serly bisa melewatinya dengan baik, apalagi prestasi yang dicapainya. Terbukti dia tetap mempertahankan Ipknya yang hampir sempurna hingga semester 5 kemarin. Kedua orang tuanya sangat bangga kepada Serly yang tetap semangat kuliah sambil bekerja.

Mungkin nanti di semester 6, Serly akan memgurangi kegiatan menarinya supaya lebih fokus pada tugas-tugas kuliah dan menjelang skripsi. Untung saja, jurusan yang dipilihnya masuh seputar pekerjaan yang dia geluti, jadi Serly tidak harus bersusah payah untuk menguras otaknya. Apalagi, Ayah dan Ibunya juga pasti akan membantu Serly nantinya.

Malam hari. Benteng Marlborough begitu ramai oleh pengunjung. Apalagi di depan benteng. Di sana terlihat penampilan berbagai tarian yang dipersembahkan. Hal itu membuat riuh para penonton yang ada. Tarian Sekapur sirih yang berisikan para perempuan sejumlah lima orang yang sudah di make up yang menjadikan mereka memukau. Gerakan tarian yang membuat mereka menjadi indah dipandang mata.

Setelah semuanya selesai, para pengunjung biasanya berfoto dengan penari tanpa terkecuali Serly. Diantara para penari sekapur sirih, dia memang menjadi pusat perhatian para kaum adam. Banyak yang meminta foto dengannya entah itu wisatawan lokal atau mancanegara. Rasa lelah Serly belum juga selesai saat Bu Dina meminta dirinya untuk menjelaskan kesenian kepada tamu dari Rusia. Dengan penuh sabar dan ramah, Serly menjelaskan dalam bahasa inggris yang fasih. Sampai akhirnya percakapan itu berakhir barulah Serly meninggalkan tempat untuk segera berganti baju. Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.

"Serly!" panggil Ayu saat Serly hendak naik sepeda motor merahnya.

"Ada apa?" tanya Serly sambil memakai helmnya.

"Lusa datang latihan untuk acara di Pantai panjang,"  peringat Ayu. Serly berfikir sejenak mengingat acara di hotel horizon yang berada tepat di depan Pantai panjang.

"Iya aku latihan, Aku pulang dulu Yu." Pamit Serly.

"Hati-hati pulangnya," seru Ayu. Serly mengangguk dan mulai melajukan motornya pelan-pelan sambil menyapa temannya yang berjalan kaki. Dia mengendarai motornya sambil bersenandung kecil. Untung saja cuaca malam ini begitu indah dengan taburan bintang.

Setelah Serly memberikan tiket parkirnya, dia kembali melajukan motornya dengan pelan. Karena sudah malam, Serly melajukan dengan sangat cepat motornya dikarenakan takut terjadi apa-apa karena dia adalah seorang perempuan walaupun dia sudah sering pulang malam seperti ini tapi ia tetap berjaga.

"Aghhhhh!" teriak Serly. Dia menabrak pohon, dikarenakan dari arah belakangnya ada kendaraan bermotor yang berlari sangat kencang dan mendorong motor Serly agar terjatuh. Dan benar Serly terjatuh dan kemudian tidak sadarkan diri.

*********

Serly membuka matanya dengan pelan, pertama yang dilihatnya adalah tembok-tembok yang berwarna putih dan bau obat-obatan yang sungguh menyengat indra penciumannya. 

"Kamu di rumah sakit Sayang, kamu mengalami kecelakaan pas pulang dari acara kamu," jelas Ibunya Serly.

"Ao," jerit Serly ketika merasakan sakit dibagian kakinya.

"Jangan gerak Serly, kaki kamu patah dan tidak bisa bergerak," seru Ayahnya Serly.

"Terus gimana sama acara Serly minggu depan Yah, Bu, Serly masih ada acara tari lagi," jelas Serly. Air matanya mulai turun, dia sekarang tidak bisa menari lagi seperti biasanya, kakinya patah akibat dia terjatuh semalam.

"Gak pa-pa Sayang, kalo udah sembuh kaki kamu, nanti masih bisa kok," ujar Ibunya Serly.

Serly mulai menghapus air matanya dan ia harus kuat agar kakinya cepat sembuh.

********

Acara pun dimulai. Malam ini sungguh banyak sekali pengunjung yang datang. Suara deru pantai yang kencang membuat suasana semakin bagus. Namun, tidak untuk Serly, dia merasa sekarang dia tidak bisa menari lagi, kakinya sudah patah dan butuh waktu cukup lama untuk bisa sembuh.

Ayah dan Ibunya selalu menguatkannya dan Serly harus bisa kuat, ini salah satu cobaan untuknya. Ayah dan Ibu Serly mendorong kursi roda Serly. Serly bisa melihat teman-temannya menari dengan sangat lincah membuat Serly sangat merindukan tariannya, merindukan gerakan-gerakannya.

Dia tersenyum melihat Ayu yang tersenyum kepadanya. Serly memberikan semangat kepada Ayu agar tidak mengecewakannya dan bisa menampilkan yang terbaik.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS